
Ayu menetap manajernya dengan mata yang redup, mengenai apa yang terjadi tak membuatnya merasa putus asa. "Entahlah, aku juga tidak tahu dan aku juga tidak peduli apa komentar mereka mengenai ku."
"Begitu banyak kesulitan yang kau hadapi, tapi aku merasa bersimpati dengan apa yang kau lewati."
Ayu membalasnya dengan senyuman dia tak ingin jika sang manager hanya menambah beban di hatinya. "Lupakan saja!" getahnya dengan tegas.
"Hem, baiklah. aku juga tidak akan memaksamu untuk membagi segalanya, tapi aku sedikit aneh dan rasa ada kejanggalan."
"Kejanggalan?" ulang Ayu yang mengerutkan dahi menatap sang manajer dengan penuh penasaran.
"Apa kau tidak merasa janggal mengenai kehadiran wanita itu? Aku tidak tahu, apakah dia Kira yang asli atau yang palsu!"ungkap sang manajer yang masa ada kejanggalan di hatinya.
Ayu tampak berpikir dan terdiam dengan lamunannya karena apa yang dikatakan oleh sang manajer memang benar adanya. "Kau berkata benar, karena aku juga merasakan apa yang kau rasakan." balasnya yang juga memikirkan hal yang sama.
"Logikanya saja! Farhan sudah mencari nya beberapa tahun yang lalu, tapi dia tidak pernah menemukan dimana keberadaan Kira. Tapi tiba-tiba saja wanita itu datang, dan mengaku sebagai cinta masa kecil dari mantan calon tunanganmu." Jelas sang manajer.
"Kau sependapat denganku, bahkan aku juga telah mencari tahu mengenai identitas dari wanita lewat hacker kepercayaanku itu, tapi tidak menemukannya."
"Ini sangat mencurigakan, wanita itu bisa menipu Farhan tapi tidak dengan kita, sebaiknya kau mencari tahu identitas aslinya!" terus sang manajer yang sangat yakin dengan perkataannya.
"Bahkan hacker yang sangat ahli IT tidak bisa menemukan identitasnya, siapa wanita itu sebenarnya?" ucap Ayu yang merasa ada yang ditutupi oleh Kira dan segera membongkarnya.
"Aku sangat heran, kenapa Farhan mempercayai wanita itu dengan sangat mudahnya tanpa menyelidiki terlebih dulu."
"Entahlah, aku tidak tahu masalah itu, mungkin saja Kira memberikan beberapa petunjuk dan bisa meyakinkan Farhan dengan begitu mudahnya," jawab Ayu yang menghela nafas dengan berat, dia sedikit kecewa dengan mantan calon tunangannya.
"Identitasnya sangat rahasia, dan bahkan kedatangannya juga penuh dengan teka-teki. Ada niat terselubung dengan kehadirannya, aku sangat yakin jika dia ingin memisahkan kalian dan menciptakan permasalahan." Ucap sang manajer dengan antusias dan juga bersemangat karena dugaannya yang masuk dalam logika.
Suasana kembali hening beberapa saat, berpikir keras dengan teka-teki yang akan mereka pecahkan, mengenai identitas kira yang masih belum diketahui. Sang manajer menatap atasannya dengan raut wajah yang serius, dan kembali meyakinkan dengan perasaan yang tumbuh dari Ayu dan juga Farhan. "Aku ingin kau tidak menyerah untuk mendapatkan Farhan, karena wanita itu hanyalah Kira palsu."
__ADS_1
"Farhan begitu mempercayainya, bagaimana aku bisa meyakinkan dia?" sahur Ayu dengan jengah.
"Kejar cintamu dan jangan biarkan orang lain menguji rasa cinta kalian, dan kau harus buktikan jika wanita itu bukanlah Kira. Jangan menyerahkan Farhan begitu mudahnya, hubungan kalian adalah takdir yang akan disatukan oleh Tuhan, dan kalian merupakan pasangan yang sangat serasi. Aku berdoa, agar kalian bersatu untuk selamanya!"
Ayu tersenyum mendengar ucapan dan ketulusan dari hati sang manajer, dia menganggukkan kepala dengan pelan. "Aku pasti akan menyelidiki siapa dia sebenarnya, tapi bukan sekarang. Pikiran dan tujuanku saat ini hanyalah kakek Hendrawan, aku ingin kakek segera sembuh karena permasalahannya muncul disebabkan oleh keputusanku yang memutuskan pertunangan."
"Aku sangat yakin! Jika kau pasti menemukan keberadaan dari dokter Zaki."
"Aku berharap begitu, semoga saja aku menemukan dokter jenius itu."
Mereka terus ngobrol masalah Hendrawan, kakek dari Farhan, dan juga Kira. Permasalahan yang mereka hadapi saat ini sangatlah misteri dan penuh teka-teki.
Akhirnya mereka sampai ke sebuah desa kecil di kota A, menjejakkan kaki ke tempat itu dan menyusurinya. Tidak ada rasa lelah yang dialami oleh keduanya, mereka terus mencari keberadaan tempat tinggal dokter Zaki.
Ayu dan manajer terus berjalan mencari beberapa orang penduduk untuk bertanya, jalanan becek dan penuh lumpur tak memudarkan semangat keduanya. Hingga sedikit ada celah saat melihat dua orang wanita yang baru pulang dari kebun, dengan membawa sebakung hasil kebun yang ada di gedongan mereka.
Dua orang wanita saling melirik satu sama lain, menatap heran kearah Ayu dan juga manajer dan menatap mereka secara bergantian. "Tentu, kau boleh bertanya."
Ayu dan manajernya tersenyum, mendapat sambutan bayi dari dua orang wanita itu. "Kami ingin mencari keberadaan dokter Zaki, kami mendengar jika dokter itu tinggal di daerah sini."
"Dokter Zaki? Sepertinya aku mengenal nama itu." Sahut salah satu dari dua orang wanita yang membawa bakul.
"Iya, aku bahkan juga mendengar nama itu. Tidak salah lagi, jika dokter Zaki tinggal di hutan."
"Apa kau yakin?" tanya sang manager untuk meyakinkan diri.
"Tentu saja! Kau boleh mencoba untuk mencarinya, dia tinggal di tengah hutan."
"Baiklah, terima kasih atas waktu dari kalian berdua. Kami pamit dulu!" ujar sang manajer yang segera menarik tangan Ayu.
__ADS_1
"Sama-sama." Jawab mereka dengan serentak.
"Tunggu dulu!" cegat salah satu wanita yang membawa bakul, menghentikan langkah kaki Ayu dan juga manajernya yang segera menoleh.
"Iya, ada apa?" tanya Ayu yang penasaran, mengerutkan dahinya dan menatap dua orang penduduk desa.
"Sebaiknya kalian tidak pergi ke tengah hutan, karena jalan ke sana sangatlah sulit. Apalagi di sini selalu musim hujan, tidak menutup kemungkinan jika kalian akan menghadapi kesulitan nantinya."
Ayu dan manajernya terdiam, mengingat saran yang diberikan oleh penduduk desa tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Tapi kami ingin menemui dokter Zaki secepatnya," jawab sang manajer.
"Kami tidak melarang kalian untuk pergi, hanya memberikan saran saja. Jalanan di sana sangatlah licin, diakibatkan beberapa hari turun hujan. Menginap lah dan tinggallah di sini, selama beberapa hari dulu! Tunggu hingga jalanan sedikit kering," ucap salah satu wanita itu.
Sang manajer menetap atasannya, karena apa yang disarankan oleh penduduk desa tidak bisa dianggap enteng. "Mereka berkata benar, sebaiknya kita menginap beberapa hari hingga jalanan sedikit kering."
"Terima kasih telah memberikan kabar ini," ucap Ayu yang tersenyum ke arah dua wanita dari penduduk desa.
"sama-sama." Jawab dua penduduk desa yang berlalu pergi dari tempat itu.
setelah kepergian mereka sang manajer menatap Ayu, sembari menyipitkan kedua matanya. "Apa yang kau pikirkan?"
"Pergilah cari tempat penginapan, aku tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Kakek membutuhkan pertolongan dari dokter Zaki!"
"Jangan katakan jika kau ingin pergi ke hutan sendirian?" tebak sang manajer yang mendapat anggukan kepala dari kayu karena apa yang dikatakan memang benar.
"Sudah menjadi keputusan ku, dan tidak bisa diganggu gugat. Aku ingin menemui dokter Zaki secepatnya apapun resikonya, kesembuhan kakek Hendrawan."
__ADS_1