Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 135 ~ Ajaran Riko


__ADS_3

Vanya tersenyum dan segera menghampiri Raina yang sedang bergandengan mesra, tersenyum samar saat menghampirinya. "Aku tak sengaja melihatmu di sini, apa sekarang kau berganti profesi?" ucapnya seraya melirik pria paruh baya di sebelah Raina. 


"Bukan urusanmu." Ketus Raina menatap Vanya dengan sinis. 


Vanya tak peduli, melirik pria paruh baya di sebelah Raina. "Wah, aku tak menyangka jika kau juga berada di sini. Benar kata pepatah, dunia tak selebar daun kelor." 


Raina memutar kedua matanya dengan jengah, tak tertarik untuk mendengar omong kosong dan tidak berfaedah, karena dirinya lebih mementingkan karir dengan menggunakan jalan pintas. "Aku tidak peduli, kita tidak ada urusan!" 


"Jangan katakan itu, aku kesini juga tak sengaja melihatmu bersama dengannya. Bagaimana keadaanmu?" Vanya kembali melirik pria paruh baya yang tersenyum penuh hasrat. "Pria ini selalu saja menatapku, sangat menjijikkan!" batinnya mendelik. 


"Hem, cukup masuk akal. Aku baik seperti yang kau lihat sekarang!" 


"Siapa pria ini? Apa dia kekasihmu?" 


"Bukan, dia sutradara yang akan membantuku menjadi pemeran utama. Bukankah itu sangat menarik?" Jawab Raina penuh semangat. 


"Itu bagus, apa kita bisa bicara empat mata?" sambung Vanya dengan harapan, telah menyiapkan rencana licik untuk kembali menumbangkan wanita kampung yang berani mendekati pria yang dia sukai. 


Raina menganggukkan kepala setelah memberikan isyarat kepada sutradara yang akan membantunya lewat jalur pintas, menjajakan tubuh setelah putus dari Raymond. Dengan cepat, Vanya menarik tangan wanita yang menjadi lawan bicara, menuju masuk ke dalam kamarnya. 


"Kita sudah ada di dalam kamar, katakan ada apa kau menyeretku ke sini?" Raina melipat kedua tangannya ke depan dada, keangkuhan di dalam diri wanita itu tidak akan hilang dengan cepat. 


"Bagaimana kabarmu? Dan hubunganmu dengan tuan Raymond?" tanya nya yang berbasa-basi, sebenarnya dia sudah mengetahui kabar terkini dari mantan kekasih Raymond yang berselingkuh. 


"Apa sekarang kau mengejekku dengan kata-kata manismu atau ingin menertawakan aku?"


"Jangan salah paham, aku pikir kau memperbaiki kesalahanmu dan tuan Raymond menerima mu kembali." Vanya berpura-pura simpati, seakan memahami hati wanita itu. Raut wajah yang di buat-buat semakin membuat aktingnya terlihat meyakinkan. 


"Ya, jika saja aku masih bersama Raymond, mungkin hal ini tak terjadi, pergi ke Perancis hanya ingin mendapatkan peran utama." Jelas Raina yang terlihat guratan kesedihan, kekecewaan, dan juga kemarahan kepada satu orang yang membuah hubungannya hancur berantakan. 


"Aku melihat bagaimana kau sangat sedih setelah perpisahan kalian." 


"Ya, jika saja wanita itu tak ada, mungkin sekarang aku masih bersama dengan Raymond." Raina memalingkan wajah, menyeka air matanya saat tambang emas telah pergi karena Ayu. 


"Nasib percintaan mu sangat malang sekali, bahkan kau kalah dari wanita yang berasal dari kampung." Ucap Vanya yang terus menyalakan api di hatihati mantan kekasih Raymond. 


Raina meremas gaunnya dengan kesal, kemarahan yang belum terlampiaskan saat sasaran masih keluyuran di luar. "Berhentilah membahas itu, kau kembali mengingatkan mimpi buruk itu." Ketusnya dengan sarkas. 

__ADS_1


"Apa yang kau dapatkan dengan ini? Menjual tubuhmu kepada pria yang pantas menjadi ayahmu, kembalikan harga dirimu dengan membalas Ayu."


"Jangan menyebut namanya!" teriak Raina menutup kedua telinganya,  tak ingin mendengar nama yang pernah menghancurkannya. 


"Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini, bahkan hatimu pun juga bertolak belakang." Vanya terus memanasi hati agar semua rencananya berjalan berjalan dengan lancar juga berhasil. 


"Hah, entahlah!" 


"sebaiknya kau membalaskan dendam."


"Aku sudah mencobanya, tapi wanita itu selalu saja beruntung dan rencanamu itu malah berdampak padaku." 


"Aku yakin, jika kali ini kau berhasil!"


"Hem."


"Jika kau tertarik membalaskan dendam, aku punya rencana." Ujar Vanya yang tersenyum simpul. 


Raina sangat bingung, hingga memutuskan untuk melanjutkan balas dendam kepada Ayu setelah berpikir panjang. 


"Baiklah, aku setuju."


****


Malam ini, seseorang terus saja mencoba untuk tertidur. Tapi kedua mata tak bisa terpejamkan, mencoba berbagai cara dan tidak berhasil. Ayu membaringkan tubuhnya ke samping kiri dan kanan, di pikirannya saat ini adalah Farhan. "Ya tuhan, kenapa aku selalu memikirkan pria itu." Geramnya sambil mengacak-acak rambutnya. 


Karena tak bisa tidur, membuat Ayu menghubungi sahabatnya bernama Riko. 


"Halo."


"Tumben kau menelponku, tapi sebelum itu pastikan dulu jika pawang mu tidak ada di sana, karena aku tak ingin bermasalah dengannya."


"Kau ini sangat cerewet sekali, aku tidak bisa tidur dan menghubungimu."


"Wow, suatu kebanggaan besar saat nyonya Farhan Hendrawan meneleponku."


"Apa kau ingin aku hajar? Seriuslah!"

__ADS_1


"Baiklah-baiklah, katakan apa yang kau inginkan!"


"Temani aku ke Bar."


"Wajahmu terlihat polos tapi kau malah mengajakku ke Bar."


"Jangan banyak bicara, ya atau tidak!"


"Baiklah."


"Jemput aku!"


"Baik, tuan putri." 


Setelah memutuskan telepon, Ayu segera pergi menuju hall. Mereka membuat temu janji, tak butuh waktu lama Riko datang menjemput di tempat itu. Tak sengaja Raina melihatnya dan berniat untuk mengikuti karena sangat penasaran. "Akhirnya aku menemukannya, semoga saja aku tidak kehilangan jejak." Gumamnya. 


Di dalam Bar Riko menatap Ayu yang meneguk beberapa alkohol di gelas kecilnya, sangat yakin jika sahabatnya mempunyai masalah serius. "Wajahmu terlihat sangat kusut, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Aku sangat dilema, jika sewaktu-waktu Farhan direbut oleh Kira, gadis masa kecil yang pernah menyelamatkannya." Ungkap Ayu. 


"Kau tidak perlu memikirkan itu, nikmati waktu sekarang tanpa terbayang-bayang masa lalu. Minumlah, dan bebanmu sedikit berkurang!" Riko mengangkat gelas kecil dan meneguknya hingga habis, memberikan jawaban sesat sebagai seorang teman. 


"Heh, percuma saja aku mengatakan ini padamu. Kau malah memberiku jawaban yang sesat!" sarkas Ayu. 


"Ambil baiknya, simpan buruknya!" Riko tertawa lepas sembari melihat raut wajah sang sahabat yang cemberut. "Aku pernah mengatakan ini padamu, tapi kah sendiri malah menganggapnya sepele. Tapi kau tenang saja, aku akan menjelaskannya lagi!"


"Kau terlalu berbelit-belit, cepat katakan!"


"Sadar atau tidak sadar, kau mencintai Farhan. Hatimu yang beku itu telah diisi olehnya, berikan dia kesempatan! Kau cemburu saat bayangan gadis masa lalunya masih menari di pikiranmu saat ini."


"Heh, percuma saja aku berbicara hal ini. Sebaiknya kita tidak membicarakannya!" tekan Ayu yang kesal. 


"Baiklah, ada acara lelang studio besok malam. Apa kau bersedia untuk ikut?" Riko mengalihkan perhatiannya, dia tak ingin jika wanita yang berada di sebelahnya semakin kesal. 


"Baiklah, sepertinya itu sangat menarik! Aku akan ikut ke acara itu, siapa tahu menemukan sesuatu yang membuatku tertarik." Antusias Ayu yang sudah tak sabar ke acara pelelangan. 


"Itu bagus!" Keduanya kembali meneguk alkohol dan membicarakan hal yang ringan. 

__ADS_1


Sementara Raina celingukan mencari keberadaan Ayu di dalam Bar. 


Bersambung..


__ADS_2