Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 143 ~ Berenang


__ADS_3

Farhan terus memberikan semangat dan menghibur Ayu sebisanya, apalagi situasinya mulai tak bisa dikendalikan. Arah angin yang sangat kencang, membawa mereka ke hamparan lautan biru. Mereka pasrah kemana nasib membawa, hanya perlu mempersiapkan diri. 


Farhan melirik kalung yang dikenakan oleh Ayu, dia sangat yakin jika itu sebuah kalung yang sangat mahal dan bahkan hanya ada beberapa saja di dunia. "Siapa Ayu sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa menemukan data mengenai identitas dirinya?" batinnya yang terus bergelimang dengan rasa penasaran. Kalung yang bertengger di leher jenjang wanita itu membuatnya menjadi curiga dengan identitas asli dari Ayu. 


Hati yang terus bergelut dengan pikirannya, hingga tatapannya menangkap sebuah pulau kecil yang tak berada jauh. "Di sana ada pulau!" ucap Farhan dan Ayu serempak memecahkan keheningan. Mereka saling melirik sepersekian detik saja dan mulai tersenyum. 


"Wah, kita menjawabnya begitu serempak, kau dan aku." Goda Farhan, terlihat rona pipi Ayu yang memerah seperti udang rebus. 


"Jangan menggodaku!" cetus Ayu tampak malu. 


"Tapi aku menyukai raut wajahmu itu!" 


"Fokuslah kemana kita mendarat." Jawab Ayu yang tak ingin jika pria itu terus menggodanya dan melupakan mereka yang sedang berada di atas udara. Pikirannya kembali bertaut saat memikirkan bagaimana caranya mereka bisa bertahan hidup berada di pulau kecil itu. Sedangkan Farhan melihat ke sekeliling pemandangan laut di bawah mereka. "Apa kau bisa berenang?" tanyanya sekali lagi untuk meyakinkan diri. 


"Jangan cemas! Aku bisa berenang." Sahut Ayu yang membuat Farhan bisa bernafas dengan lega. 


"Itu bagus, sudah aku perkira kan, jika kita akan mendarat di lautan dan setelah itu berenang menuju pulau kecil. Kemudian, kita bisa memikirkan rencana berikutnya." 


"Ya, memang seharusnya begitu. Apa lagi, kita tidak punya pilihan kedua," sambung Ayu yang sudah bersiap untuk bisa bertahan. 


"Kita tidak punya pilihan kedua, cepat periksa di dalam tas yang berada di punggungku!" ucap Farhan.


"Baiklah," Ayu segera memeriksa tas, dia menemukan dua jaket pelampung. "Sudah!" tunjuknya yang bersemangat. Farhan melepaskan pegangannya untuk mengendalikan parasut. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia mengambil satu jaket pelampung dan memasangkan pada wanita yang berada di hadapannya. Setelah selesai, dia memasang jaket pelampung di tubuhnya. 


Beberapa detik kemudian, Farhan melepaskan diri dari parasut dan jatuh ke dalam air laut bersama Ayu. "Apa kau terluka?" tanya nya dengan penuh kasih sayang, berharap jika wanita bersama dengannya baik-baik saja.


Ayu tak menjawab karena tersedak, entah berapa teguk dia meminum air laut hingga terbatuk. Farhan mulai berperan dalam membantu wanita itu untuk segera pulih. 


"Apa sekarang kau sudah baikan?" tanya Farhan yang sangat cemas. 

__ADS_1


Ayu diam dan membalasnya dengan anggukan kepala, setidaknya mengirimkan bahasa isyarat, karena kejadian yang mereka lewati bersama hampir saja melayangkan nyawa. 


"Syukurlah, jika kau baik-baik saja." Farhan melihat ke sekeliling lautan seraya menyipitkan kedua matanya, bermaksud mencari letak pulau kecil yang dilihatnya tadi. "Hah, jarak antara posisi dan pulau itu sangatlah jauh. Ini butuh waktu yang sangat lama untuk bisa mencapainya." Gumamnya di dalam hati. 


"Ada apa?" tanya Ayu yang mendengar sayup. 


"Bukan apa-apa, sebaiknya kita berenang untuk mempersingkat waktu." Ajak Farhan bijak. 


"Kau benar." Keduanya berenang bersama, sesekali tersenyum saat wajah mereka saling bertatapan. Tapi, Ayu sedikit bingung dengan ekspresi yang dilihatnya dari raut wajah Farhan. Seakan pria itu menyimpan sesuatu yang tidak ingin diberikan kepadanya. 


"Ada yang tidak beres darinya, apa yang berusaha ditutupi?" batin Ayu sambil berenang. 


Farhan menahan rasa sakit di tangannya, tak ingin memperlihatkan apa yang dialami olehnya. Luka di tangannya baru saja sembuh, luka yang diciptakan oleh Raina saat ingin mencelakai Ayu dan dia berhasil cekal. "Semoga saja dia tidak mencurigaiku!" batinnya. 


Farhan berusaha untuk bersikap netral, tak ingin menimbulkan kecurigaan. Namun lukanya kembali terbuka saat memaksa untuk berenang di air asin itu. "Aku harus kuat, apapun yang terjadi! Ayu akan selamat." Tekadnya dan keteguhan hati, tak masalah jika mengorbankan nyawanya sendiri. 


"Bertahanlah, tinggal sedikit lagi."


"Pulau itu masih sangat jauh," ucap Ayu sangat pelan, dan mengatur nafas yang terengah-engah. 


Farhan mengukur jarak di pulau itu menggunakan tangan, memperlihatkannya pada wanita di sebelahnya. "Kau lihat ini!"


"Apa?" 


"Perhatikan tanganku!" 


"Ya, aku sudah melakukannya. Lalu?" Ayu sangat bingung dan tak mengerti maksud dari pria tampan itu. 


"Kau tenang saja, jarak kita hanya sebesar telapak tangan. Ayo, bersemangatlah!" ucap Farhan yang kembali berenang, sedangkan Ayu merasa tertipu dan tertawa mengenai kebodohannya sendiri. 

__ADS_1


"Aku terlihat seperti orang bodoh!" gumamnya dan berenang mengikuti Farhan. 


Farhan dan Ayu terus menggerakkan tangan dan kaki untuk segera sampai ke tepian, mereka saling menyemangati satu sama lain. Tetapi, usaha mereka sedikit redup saat arus yang berlawanan arah. Jarak antara mereka berdua semakin jauh dari pulau, dan memutuskan untuk kembali beristirahat. 


"Sepertinya kondisi alam tak mendukung kita untuk segera sampai ke pulau," celetuk Ayu yang sedikit kecewa, apalagi mereka sudah berusaha berenang sekuat tenaga. 


"Ini bisa terjadi, karena posisi kita sekarang berada di air laut, bukan di danau."


"Hah, kau berkata benar." Lirih Ayu dengan tatapan nanarnya. "Berapa lama kita akan beristirahat?" ucapnya seraya menoleh ke samping. 


"Kita tidak bisa melanjutkannya sekarang, istirahatlah sebentar. Kau pasti sangat lelah!"


"Hem, baiklah."


Berenang di lautan cukup lama membuat tenggorokan keduanya terasa sangat kering, mereka sangat haus. Farhan melihat bibir Ayu yang kering, dan segera membongkar isi tas di belakang punggung yang masih melekat. 


"Kau sedang apa?" tanya Ayu sambil mengerutkan dahinya. 


Farhan tak menjawab, sibuk mencari sesuatu di dalam tas. "Ini ambillah!" ucapnya antusias, memberikan sebuah botol kecil yang berisi air mineral. 


Kedua mata Ayu berbinar cerah saat melihat air mineral, segera dia mengambilnya dan membuka penutup botol. Saat hendak meminumnya, terhenti saat mengingat jika Farhan juga membutuhkan air mineral. "Tidak, kau minum saja!" ucapnya kembali menyerahkan botol kecil yang berada di tangan. 


"Tidak, kau minum saja." Tolak Farhan dengan tersenyum, karena sumber daya terbatas, dan dia hanya ingin menghemat air mineral. 


Ayu pasrah dan meneguk sekali tegukan untuk menghemat air, sedangkan Farhan tersenyum tipis. 


Setelah beberapa lama, saat angin dan ombak tidak terlalu besar. Farhan segera meminta calon tunangannya kembali bersiap untuk berenang ke pulau kecil itu. Ayu mengangguk setuju, dan tak sengaja menyentuh luka di tangan Farhan. 


      

__ADS_1


__ADS_2