Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 117 ~ Paman Adi


__ADS_3

Ayu sangat terkejut dengan kabar yang diberikan oleh anggota di Perancis, dia terdiam beberapa saat dan kembali menelepon. 


"Apa maksudmu? Bukankah kita sudah memberikan kualitas premium terbaik?" 


"Itu, benar nona. Kami cukup terkejut jika perhiasan ini mengandung racun."


"Baiklah, untuk saat ini hentikan produksi sementara, aku akan ke sana dan memastikan segalanya dengan sangat baik."


"Kami menunggu kedatanganmu, nona."


"Hem." 


Ayu mematikan sambungan telepon, menghela nafas dengan kasar dan menutup kedua matanya sejenak. Memikirkan permasalahan yang ada, beberapa dugaan saja tak akan cukup, melainkan harus melakukan riset. 


"Masalah ini nampaknya semakin membesar," batin Farhan yang sedari tadi menunggu. "Bagaimana hasilnya?" desaknya yang sudah tak sabar. 


Ayu menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, sedikit mengurangi beban di pundak. Dia menatap wajah tampan dari bos yang berada di sebelahnya. "Hasilnya sama, perhiasan di Perancis juga mengandung zat beracun." Jawab Ayu. 


"Bagaimana mungkin?" Farhan tersentak kaget, tak memahami situasi apa yang akan mereka hadapi saat ini. 


"Entahlah, aku juga tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, yang jelas jika perusahaan sedang menurun akibat masalah ini." Ayu tak bisa berpikir lagi, kepala yang pusing, dan beban yang sangat berat. 


"Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi."


"Hem, kau benar. Sepertinya aku harus turun tangan," ucap Ayu yang merasa tak punya pilihan lain. 


"Apa maksudmu?" Farhan menautkan kedua alisnya menatap Ayu penasaran. 


"Aku ingin meninjaunya secara langsung ke Perancis." 


"Kau tidak boleh pergi sendiri ke sana!" tolak Farhan dengan mentah-mentah. 


"Kita tidak punya pilihan lain lagi, aku perlu mencari akar dari permasalahan ini, dan melihat penyebab zat radioaktif ada di perhiasan." Jelas Ayu yang berusaha untuk meyakinkan pria itu. 


"Tapi aku tak ingin jika kau kenapa-napa!" jujur Farhan yang sangat cemas. 


"Tenanglah, itu tidak akan terjadi. Kau uruslah di sini, sementara aku mengurus pabrik cabang di Perancis." 


"Apa kau yakin ingin ke Perancis?" tanya Farhan sekali lagi, memegang tangan Ayu dengan tatapan kekhawatiran terpancar dengan jelas. 

__ADS_1


"Yap, itu benar. Aku akan pergi ke Perancis, masalah ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama." Ujar Ayu yang sangat yakin mengenai keputusannya untuk pergi ke pabrik cabang. 


"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri, aku akan pergi denganmu," celetuk Farhan yang tak ingin jika wanita itu dalam masalah. 


"Apa kau yakin? Bagaimana dengan perusahaanmu disini?" Ayu memiringkan kepalanya, menatap pria tampan itu untuk mengambil keputusan dengan benar. 


"Masalah di sini biarkan diatasi oleh asisten Heri. Aku juga pergi ke Perancis bersamamu." Putus Farhan yang tak ingin di pertanyakan lagi. 


"Baiklah, terserah kau saja." 


"Sebaiknya kita membicarakan ini di ruanganku saja!" ajak Farhan yang menarik tangan sekretarisnya. 


"Kau benar!" Ayu menganggukkan kepala dan pergi dari tempat itu. Keduanya segera menuju ke ruangan dan membicarakan mengenai keberangkatan ke Perancis, Farhan memaksakan diri untuk bersama dengan Ayu, tak ingin jika wanita itu menghadapi masalah sendirian di Perancis. 


"Kapan kita akan berangkat ke Perancis?" tanya Ayu dengan penuh tekad. 


"Tidak lama lagi, kau tunggu saja!" 


Mereka terdiam beberapa saat. "Heri!" panggil Farhan yang meninggikan suara. 


"Saya, Tuan." Sahut asisten Heri saat mendengar namanya di panggil. "Ada apa, Tuan memanggil?"


"Persiapkan konferensi pers di siang nanti!" 


Ayu melihat kepergian asisten Heri dan mengerutkan kening. "Kenapa kau mengumpulkan konferensi pers?" 


"Saat ini kita memerlukan itu, karena reputasi perusahaan sangat buruk sekarang." Jawab Farhan yang merasa jika tindakannya sudah benar. 


"Hem, semoga saja tindakanmu benar untuk memperbaiki suasana saat ini." Ayu berdiri dari duduknya dan ingin keluar dari tempat itu. 


"Kau mau kemana?" tanya Farhan yang memijat pelipisnya. 


"Aku ingin keluar dari ruangan mu, masalah ini sangatlah sulit. Kita tak bisa berdiam diri di sini tanpa melakukan tindakan apapun." Ayu segera melangkahkan kalinya keluar dari ruangan itu, dan tak sengaja berpapasan dengan wakil presdir perusahaan Liberty. 


"Sepertinya aku mengenal pria itu, dia wakil presdir di perusahaan Liberty. Tapi kenapa kenapa dia ada di sini? Ada urusan apa di menemui Farhan." Batin Ayu yang berpikir keras. 


Seorang pria paruh baya yang masuk ke ruangan milik Farhan, dan tersenyum tipis. "Bagaimana kabarmu, keponakanku?" ucap Adi, pria paruh baya yang seusia dengan mendiang sang ayah. 


Farhan menatap pria itu dengan terkejut dengan kedatangan Adi. "Paman Adi?" 

__ADS_1


"Ya, ini aku." Ucap pria itu mendudukkan dirinya di kursi, berhadapan dengan sang keponakannya. 


Adi merupakan anak angkat dari kakek Hendrawan, pria paruh baya dengan ambisi yang sangat kuat. Farhan mengenal pamannya dengan sangat baik, tak ingin jika dia terpengaruh dengan pria licik itu. "Kenapa kau ada di sini?"


"Sepertinya kau tidak senang dengan kedatangan ku?" sindir Adi yang tersenyum. 


"Apa yang membuatmu datang ke kantor?" tanya Farhan dengan tatapan tak suka. 


"Karena aku datang untuk mencarimu," jawab Adi. 


"Mencariku?" Farhan menautkan kedua alisnya karena penasaran. 


"Ya, aku mendengar kabar jika perusahaanmu tercemar dan berakibat saham perusahaan yang turun drastis." Jelas Adi dengan semangat. 


"Kau cukup perhatian pada perusahaan ku," sindir keras dari Farhan membuat Adi merasa kesal. 


"Jika tak ingat dengan tujuanku kesini, aku juga tak sudi untuk datang." Batin Adi yang mengumpat. "Tentu saja, kau masih keponakanku."


"Katakan kenapa kau ada di sini?" tanya Farhan dengan tatapan tajam. 


"Aku ingin kau memecat sekretarismu yang bernama Ayu."


"Perkataanmu tak beralasan, untuk apa aku memecat Ayu?" Farhan mencoba memahami maksud dan tujuan dari pamannya. 


Ada tahu ini akan terjadi, Farhan sangat pintar jika menanyakan alasan untuk membuatnya percaya. Dia berusaha menjadikan Ayu kambing hitam dalam permainannya, menyerahkan sebuah dokumen pada Farhan. "Kau baca saja sendiri!" ucapnya yang tersenyum puas. 


Farhan membaca laporan, memijat pangkal hidungnya melihat dokumen yang berisi perintah dari anggota direksi. Kepalanya seketika sangat pusing, saat mengetahui ibunya menjadi pelopor. "Astaga, kenapa mama melakukan ini?" batinnya yang tak menduga hal itu. 


"Bagaimana?"


Farhan melempar dokumen itu dengan kasar, menatap pria paruh baya tajam. "Aku menolaknya, kau tidak akan bisa mempengaruhiku dengan dokumen itu. Sekarang pergilah dari ruangan ini!" 


"Setidaknya aku mengeluarkanmu dari permasalahan ini, akar permasalahan mu berpuncak pada wanita itu." Ucap Adi yang berusaha membujuk Farhan untuk memecat Ayu. 


"Aku bisa mengurus masalahku sendiri dan kau tak perlu ikut campur dalam masalah perusahaanku." Tegas Farhan dengan rahang yang kuat, tatapan tajam yang mengarah pada pria paruh baya itu. "Security…security!" panggilnya yang berteriak. 


"Iya, Tuan." Sahut salah satu security yang datang. 


"Cepat usir pria ini dari ruanganku!" 

__ADS_1


"Baik, Tuan."


  


__ADS_2