
Asisten Heri sangat senang bisa bertemu kembali dengan bosnya, walau tak bisa di pungkiri jika hatinya sedikit gelisah saat berbicara lewat telepon.Kemungkinan terjadi adalah gajinya akan dipotong beberapa persen, mengingat sang bos yang selalu menindasnya. "Tidak masalah jika gajiku di potong, setidaknya aku bisa membalas perbuatan bos laknat itu." Monolognya sembari mengemudikan mobil, menarik dua sudut bibirnya ke atas.
Mobil berhenti, dengan cepat dia turun untuk membukakan pintu sebagai seorang bawahan yang baik dan teladan. "Senang bertemu denganmu, Tuan!" tak lupa senyuman di wajah yang dipaksakan.
"Kau terlambat dua menit, berbicara kurang sopan lewat telepon, dan senyuman yang dipaksakan." Jelas Farhan yang mengkaji kesalahan tangan kanannya.
Asisten Heri tetap tersenyum, tidak ingin memperlihatkan raut wajah ketakutan atau bosnya akan bertindak dalam menindasnya. Setelah memastikan dua orang yang masuk ke dalam mobil, dia menutup pintu mobil dengan kuat, membuat Farhan dan Ayu tersentak kaget.
Farhan menatap asistennya yang masuk ke dalam mobil. "Sepertinya kau sudah bosan hidup?" ucapnya dingin.
Asisten Heri tersenyum saat menoleh ke kursi penumpang. "Jangan salah paham, Tuan. Mobilnya sedikit bermasalah."
"Jika berbohong? Gajimu bulan ini aku potong!" ancam Farhan. Sementara Ayu menahan tawa, mengerti maksud dari tindakan asisten Heri yang ingin memberontak demi menjaga reputasinya sebagai seorang korban penindasan.
"Apa dayaku? Tuan selalu saja memotong gajiku jika berbuat kesalahan. Aku menjadi pria miskin, dan bahkan membenarkan mobil saja aku tak mempunyai biaya." Asisten Heri berakting menjadi seorang pria yang sangat menyedihkan agar terhindar dari potongan gaji.
"Ck, kau sangat menggelikan. Baiklah, aku tidak akan memotong gajimu," ucap Farhan yang sedikit prihatin.
"Terima kasih dengan kemurahan hatimu, Tuan."
"Jangan banyak bicara, jalankan mobilnya!"
"Tentu." Asisten Heri sangat senang, bisa mengelabui atasannya dengan sedikit intrik.
"Bagaimana kabar di luar sana?" celetuk Ayu yang menatap punggung pria yang menyetir.
"Awalnya, semua baik-baik saja. Namun besok harinya, tuan Adi mengatakan jika kakek masuk ke rumah sakit karena tiba-tiba terkena serangan jantung." Ungkap asisten Heri serius.
"Apa yang menyebabkan kakek masuk ke rumah sakit?" Ayu sangat penasaran, mewakili pertanyaan dari pria di sebelahnya.
"Aku juga tidak tahu penyebabnya."
"Bagaimana keadaan kakek sekarang?" sela Farhan yang sangat mengkhawatirkan kakeknya, ingin sekali dia bertemu secara langsung.
"Kakek baik-baik saja, tapi aku tak bisa masuk untuk membesuk."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena tuan Adi selalu saja menghalangiku."
Pikiran Farhan menjadi tidak tenang, memikirkan kenapa anak angkat sang kakek melakukan hal ini pada asistennya. "Sangat mencurigakan," ucapnya pelan.
Mobil berhenti di Villa yang berada di pinggiran kota, mereka segera masuk ke dalam untuk mendiskusikan masalah yang terjadi setelah insiden pesawat jatuh. Di saat ini, mereka bertiga tengah duduk di sofa untuk mencari solusi dari akar permasalahan yang terjadi.
"Ternyata keadaan sangat kacau setelah kepergian kami beberapa hari yang lalu," gumam Farhan.
"Itu benar, Tuan. Sepertinya tuan Adi sudah merencanakan ini dengan sangat baik tanpa kehilangan jejak."
"Hem, darimana kau mengetahui keadaan kakek? Sedangkan pria paruh baya itu tidak mengizinkan mu untuk menjenguk kakek?" Menatap asistennya dengan penuh selidik.
"Tuan besar diam-diam menyuruh seorang perawat untuk mengirimkan pesan kecilnya, dan memberikannya padaku. Itu artinya, tuan besar di sekap dengan dalih kesehatan menurun."
Farhan memukul meja di hadapannya, melampiaskan kemarahan yang dari tadi di tahan. Perasaan cemas kembali menyelimutinya, pikiran yang selalu tertuju pada sang kakek. Ayu menggenggam tangannya dengan lembut, mencoba untuk memberikan rasa tenang.
"Tidak mungkin pria licik itu bisa meloloskan perawat yang mengantarkan surat, aku sangat mengenalnya."
"Apa yang ditulis kakek?" sela Ayu yang sangat penasaran.
"Tuan besar menyuruh kita untuk berwaspada dengan anak angkatnya dan memintaku untuk mencari keberadaan tuan Farhan dan Nona." Jawabnya penuh keyakinan.
Farhan terdiam beberapa saat, mencerna semua perkataan sang asisten yang masuk dalam logikanya. "Aku sangat yakin, jika pria licik itu menginginkan perusahaan ini. Kecelakaan pesawat, bukanlah kecelakaan murni melainkan di sengaja. Dia mengincarku juga perusahaanku!" gumamnya di dalam hati.
"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku?" Ayu menoleh menatap wajah pria tampan di sampingnya.
"Ya, aku sangat yakin sepenuhnya. Jika kecelakaan pesawat itu disengaja, dan dalangnya adalah anak angkat kakek yang bernama Adi."
"Bukan hanya itu saja, dia juga berusaha membujukku agar berkhianat padamu, Tuan. Di iming-iming dengan uang dan keuntungan yang sangat menggelapkan mata, untung saja jiwa dan iman ku sangat tebal, walau Tuan selalu saja memotong gajiku." Jelas asisten Heri gang membusungkan dada, tidak lagi menggunakan bahasa formal.
Farhan tersenyum tipis dan melemparkan bantal kecil yang ditangkap oleh asistennya, bangga akan kesetiaan asisten Heri. "Berhentilah memperlihatkan topengmu!"
"Aku hanya mengutarakan perasaan ku saja!" sahut asisten Heri dengan santai, lalu tersenyum seraya menghamburkan pelukan pada bosnya. "Aku sudah mengerahkan kemampuanku untuk mencari keberadaanmu, Tuan. Hampir saja aku berputus asa, namun saat kau menelepon membuat hatiku menjadi tenang."
__ADS_1
Farhan terus mendorong tubuh asistennya agar segera melepaskan pelukan. "Aku tahu kau sedih, lepaskan pelukan ini atau calon tunanganku meragukan diriku."
Asisten Heri tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih dan juga rapi. "Bagaimana lagi? Tuan bukanlah orang asing bagiku." Sahutnya yang melepaskan pelukan.
"Oho, itu sebabnya kau membangkang?"
"Tidak, Tuan. Jangan salah paham!"
"Aku hanya bercanda."
Ayu mendengar informasi dari tangan kanan calon tunangannya, dengan tenang menganalisis keadaan sekarang. "Ini sangat menguntungkan untukmu, Farhan. Apalagi pria itu belum menemukanmu dan mengira jika kita sudah mati."
"Kau berkata benar, posisi ini sangat menguntungkan. Untuk beberapa saat, kita akan menghilang dan menyerangnya dikala lengah."
"Apa yang harus kita lakukan?" sela asisten Heri yang menatap dua orang di hadapannya secara bergantian.
"Kau kumpulkan semua bukti yang bisa di temukan, awasi pergerakannya dengan mengiyakan permintaan Adi!" ucap Farhan dengan ide yang sempurna.
"Aku siap melakukan apapun, ini pasti sangat seru! Aku menjadi seorang mata-mata." Jawab Asisten Heri yang antusias.
"Apa kau sudah selesai?" ucap Farhan jengah.
"Sudah, Tuan."
"Kalau begitu, pergilah dari sini!"
"Tuan mengusirku?" asisten Heri mendelik kesal, sifat lama bosnya kembali lagi.
"Yap."
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian asisten Heri, Ayu membuka ponsel dan melihat banyak berita yang melaporkan kecelakaan pesawat milik Farhan. Dia tidak menduga, jika insiden itu menjadi trending topik. "Beritanya tersebar luas," gumamnya yang masih terdengar di telinga Farhan.
Kemudian, keduanya mulai membahas permasalahan terjadi dan menyangkut pautkan dengan Adi, anak angkat dari Hendrawan.
__ADS_1