Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 221 ~ Penjelasan Alvaro


__ADS_3

Akhirnya telepon itu tersambung membuat Alvaro tersenyum karena akan memberitahu hal penting dan akan bertemu dengan Ayu.


"Halo."


"Iya, ada apa?" 


"Ck, sepertinya kau tidak suka saat aku menelponmu."


"Oh ayolah, jangan memulai drama rongsokanmu."


"Hah, kau selalu saja mengejekku."


"Aku sedang sibuk, tumben sekali kau meneleponku?"


"Aku datang dari jauh, dan ini balasan dan sambutan untukku?"


"Jangan membohongiku!"


"Pria tampan sepertiku selalu berkata jujur, aku akan kirimkan lokasiku. Cepat jemput atau aku akan kembali dimana aku tinggal!"


"Baiklah, tunggu di sana."


"Hem, cepatlah."


Ayu sangat gembira dengan kedatangan temannya itu, bahkan gak bisa menutupi rasa bahagia yang terpancar di wajah. Namun, dengan cepat dia menutupi sebelum pria di hadapannya mengetahui langkahnya dalam bertindak. "Maafkan aku yang menolak tawaran mu, Tuan. Kita sangatlah berbeda, aku hanyalah wanita miskin dan perbedaan kasta yang sangat jauh."


"Tapi, aku hanya ingin berteman denganmu. Perbedaan kasta tak aku permasalahkan, anggap sebagai rasa terima kasih karena pernah menyelamatkanku waktu itu." Ujar Leon yang membujuk.


"Maaf karena lancang, kenapa Tuan sepertinya memaksaku?"


"Karena aku tertarik padamu."


"Aku merasa terhormat dengan ucapanmu, Tuan. Maaf, aku tak bisa menjadi rekan ataupun temanmu. Aku pamit dulu!" Ayu segera melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu, memesan taksi online menuju ke tempat yang sudah di lokasikan oleh sang Hacker. 


Di sepanjang perjalanan untuk menjemput Alvaro, berpikir alasan pria itu datang menghampirinya. "Mengapa dia tiba-tiba datang kesini? Apa itu sangat penting hingga tak bisa dibicarakan lewat telepon?" gumamnya sambil menghela nafas, terpaksa menanyakan secara langsung agar rasa penasarannya menghilang. 


Mobil berhenti, Ayu segera keluar dan melihat lokasi yang benar. Sudut pandangnya mengarah pada seorang pria seusia dengannya tengah mendengarkan musik lewat 

__ADS_1


Headset yang terpasang di telinga, memakai hoodie hitam dan menggerakkan tangannya yang begitu menikmati alunan musik indah. 


"Dia tidak terlihat seperti hacker," gumamnya yang berjalan menghampiri. 


Ayu mencopot headset yang bertengger di telinga pria itu, hingga sang empunya segera menoleh setelah merasa terusik. "Hah, kau menggangguku," keluhnya yang kembali memasang headset di telinganya. 


Ayu kembali menyentak dan bertolak pinggang, tingkah pria yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. "Apa kau datang hanya mendengarkan musik saja? Ikut denganku atau kau aku tinggal!" ancamnya tak punya pilihan.


"Ya…ya, baiklah. Kau selalu saja mengancamku, karena aku tak ingin mengurangi kadar ketampananku dan juga malas berdebat. Apa ini sambutan darimu, hah?" keluh Alvaro yang mendapat jitakan panas di kepalanya. "Auh, kau kasar sekali."


"Jangan mengeluh, masuklah ke dalam mobil."


Kedua orang itu segera masuk ke dalam mobil, menuju tempat kediaman Ayu. Di sepanjang perjalanan, keduanya saling melepas rindu sesama teman dekat. Mencurahkan seluruh perasaan di saat jauh, dan tak lupa untuk bergosip. 


Sesampainya di apartemen, Ayu mempersilahkan pria itu untuk masuk ke dalam karena ingin membicarakan banyak hal mengenai bukti yang akan disampaikan oleh Alvaro. 


"Kau tinggal di sini?" tanya Alvaro yang melihat seisi ruangan itu, menyusuri setiap inci dekorasi yang terpajang.


"Ya, ini tempatku. Semoga kau nyaman!" 


"Tempatnya sangat kecil dan juga sederhana, membuat kedua mataku sakit melihatnya," ejek Alvaro.


"Ck, bahkan tikus juga tak mau tinggal di sini."


"Astaga…apa maumu?" tanya Ayu menolak pinggang, tatapan kesal ingin membenturkan kepala pria di hadapannya.


"Apa orang kaya sepertimu mendapatkan kekayaan dengan hidup hemat?" ucap Alvaro sembari melihat beberapa foto Ayu.


"Ya, itulah sebabnya aku kaya. Tapi kau memanfaatkan kepolosanku dan menguras hartaku!" balas Ayu tak ingin kalah.


"Kau menginginkan jasamu, sedangkan aku menginginkan uangmu. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Kau dan aku sama-sama bahagia, apa itu belum cukup?" 


Ayu tersenyum masam, karena pria itu selalu saja menjawab perkataannya yang pasti membuat hati terasa gatal untuk mencubit pria yang berada di hadapannya. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, mengatur emosinya tidak membuncah keluar. 


"Apa alasanmu kemari? Apa sudah menemukan bukti itu?" tanya Ayu mulai serius.


"Benar, ayo duduklah!" Alvaro menarik tangan Ayu dan membawanya untuk duduk di sofa, mengeluarkan beberapa foto dari tas yang dia sandang. Mengeluarkan semua yang dia dapatkan, memperlihatkan kepada wanita di sebelahnya. "Kau lihat itu?" 

__ADS_1


Ayu menatap dengan teliti, menemukan foto Kira bersama dengan dua orang pria. "Aku melihatnya."


"Itu foto Kira dan dua rentenir, dua orang pria yang mengejar wanita itu dan dengan sengaja menabrakkan diri di mobil Farhan." Jelas Alvaro serius.


"Benarkah? Apa ini terjadi saat pertunanganku?" ujar Ayu yang sangat penasaran.


"Yap, mereka bekerjasama." Jawab Alvaro santai sembari mengeluarkan laptop dan juga ponselnya, kembali berkutat pada benda pipih itu untuk memperlihatkan sesuatu. 


"Apa yang sedang kau lakukan?" 


"Menguak informasi yang aku dapatkan, sesuai perintahmu." 


"Bagus, aku ingin kamu memeriksa hubungan Kira dan juga Leon. Apa mereka juga saling bekerja sama?"


"Baiklah, tapi mengapa kau ingin memeriksa Leon?" 


"Aku tahu, bahwa harga penawaran kali ini pasti akan bocor. Aku tak bisa percaya pada wanita itu, mungkin saja dia suruhan atau mata-mata perusahaan lain, bekerjasama dengan Leon, Ceo dari Sky Grup." Jelas Ayu mengungkapnya.


"Itu cukup masuk di akal, akan aku periksa." Alvaro sangat fokus memainkan keyboard dengan kode rahasia, memeriksa kejanggalan perusahaan HR Grup. Keduanya sangat terkejut, setelah Ayu dan Farhan memutuskan penawaran. "Wanita itu tahu, dan dia telah menyentuh komputernya." 


"Jadi, dialah pelakunya?"


"Hem, kau harus berhati-hati dengan rubah itu." Sahut Alvaro membenarkannya.


"Pasti, dia tidak akan menang melawanku." Ayu tersenyum tipis, membayangkan rencana yang sudah tersusun dengan cepat.


****


Dalam penawaran berikutnya, Farhan bersiap-siap dengan persiapan lengkap, berharap jika perusahaannya menang. Tapi harapan itu pupus, saat dia kalah dalam penawaran. Wajah yang terlihat sangat marah, kali pertama dia gagal dalam penawaran. "Mengapa aku bisa kalah?" gumamnya yang berpikir keras.


Kira datang dan memegang tangan Farhan dengan genit, seakan tak ingin melepaskan pria di sebelahnya. "Mungkin usaha dan persiapan mu belum sepenuhnya siap," ucapnya seraya mengelus lengan kekar, memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk pria itu. 


"Ini kali pertama aku kalah dalam penawaran, seperti ada yang janggal." Farhan segera melepaskan kedua tangan yang bertengger di tangannya, sambil berpikir mengapa dia kalah. "Cukup mencurigakan."


"Mungkin saja ada yang membocorkan."


"Ya, kau benar."

__ADS_1


Kira tersenyum dan kembali menempel bagai permen karet. "Jangan biarkan orang itu hidup bebas, kau harus memberinya hukuman yang sangat berat." Ucapnya yang terus mengompori.


   


__ADS_2