
Kedua bola mata tampak berkaca-kaca, bulir cairan bening yang lolos melewati kedua pipi. Perasaan yang sangat takut dan masih trauma dengan tempat gelap, membuat phobia nya tidak bisa dikontrol. Wajah pucat pasi, tubuh yang gemetaran dan dada seakan terasa sesak. Ayu berdiam diri dengan perasaan yang sangat bahagia, dan juga ketakutan bercampur menjadi satu. Pertemuan dengan Farhan benar-benar membuat perasaannya menjadi lega, namun kesan trauma yang masih sedikit tertinggal di hati.
Tidak tahu betapa besarnya kerinduan di hati Farhan, keyakinan yang dia pertahankan berbuah dengan manis saat bertatapan langsung dengan wanita yang sangat dirindukan. Tatapan keduanya saling bertemu satu sama lain, mempunyai makna yang sangat besar dalam pandangan mata, mereka tersenyum haru. Pertemuan dengan usaha kerja keras dari pria itu untuk menemukan lokasi Ayu yang sekarang berada di hadapannya.
Farhan segera menghambur ke pelukan karena sangat merindukan sekretarisnya itu sekaligus mantan calon tunangannya, wanita yang berhasil membuatnya frustasi saat keberadaan Ayu tidak ditemukan.
Ayu memejamkan kedua matanya merasakan pelukan hangat yang selalu dirindukan, tidak bisa digambarkan betapa bahagianya pertemuan ini. Dia juga membalas pelukan itu dengan sangat erat menandakan tidak ingin melepaskan Farhan ataupun memberikannya kepada orang lain. "Ka-kau datang!" lirihnya dengan pelan disertai air mata yang berlinang.
"Sttt…jangan katakan apapun." Farhan segera menghentikan perkataan Ayu, melepaskan pelukan itu seraya menyeka air mata yang membasahi pipi mantan calon tunangannya.
"Kau tahu? Aku berpikir jika kau tidak akan menyelamatkanku, aku sangat putus harapan. Tapi, sekali lagi kau berhasil mematahkan keyakinan dan menemukanku."
"Yang penting kau aman bersamaku, jangan pergi lagi seperti ini. Aku sangat cemas dan mengkhawatirkan kondisimu." Farhan kembali memeluk Ayu dengan sangat erat, seakan tak ingin melepaskan wanita itu dari pelukannya.
"Farhan, aku sangat takut…aku sangat takut." Ayu kembali membayangkan kondisi Goa yang terlihat sangat gelap dan juga lembab, setengah kesadarannya masih tertinggal di tempat yang sangat membuatnya ketakutan. Dia memeluk tubuh pria tampan itu dengan sangat erat, kejadian ini berhasil membuatnya trauma.
"Kau tidak perlu cemas, aku ada disini dan akan selalu bersama denganmu."
Ayu sangat senang mendengar hal itu, ketakutan yang sedikit berkurang dan sekarang wajahnya tersenyum bahagia. Beberapa orang yang melihat momen haru di antara dua sejoli membuat mereka sangat senang, seakan mendapatkan tontonan gratis dalam serial drama romantis.
Sang manajer melihat hal itu dari kejauhan, perasaan cemas berubah menjadi perasaan yang lega, tak henti-hentinya dia bersyukur kepada Tuhan, tak sengaja tetesan air mata terjatuh. "Mereka sangat romantis sekali, aku ingin sekali mempunyai kekasih yang sangat romantis seperti mereka." gumamnya seraya menyeka air matanya, mengelap cairan yang keluar dari hidungnya, tersenyum haru menghiasi wajah cantiknya.
"Hei, ini jasku bukan sapu tangan!" cetus asisten hari yang tersenyum masam.
"Aku terharu dan juga bahagia untuk mereka, tapi kau malah menghancurkannya." Balas sang manajer yang membentak pria di sebelahnya.
"Setidaknya pikirkan situasi dan juga kondisinya, tidak perlu mengelap ingusmu di jasku. Kau wanita yang sangat jorok!" cibir asisten Heri.
__ADS_1
Seketika sang manajer tersadar, dia cengengesan dan segera membersihkan sisa cairan hidung yang menempel di jas. "Kenapa kau marah? Aku tidak sengaja, akan aku bersihkan." Dia segera membersihkan menggunakan kain seadanya.
"Dasar wanita ceroboh! kain yang kamu gunakan itu sangat jorok." Ketus asisten Heri yang melepaskan jasnya, membuangnya sembarang arah, dan menatap wanita di sebelahnya dengan kesal dan juga jengkel. Sedangkan sang manajer hanya tersenyum cengengesan, menggunakan raut wajahnya begitu polos.
Farhan dan Ayu saling melepaskan rindu satu sama lain, seakan dunia ini hanya milik berdua. Tidak menghiraukan keberadaan orang lain yang memperhatikan mereka sedari tadi dan menjadikan momen romantis sebagai pertunjukan.
Farhan melepaskan pelukan yang cukup lama, dan menatap dalam dua manik mata indah yang disuguhkan di hadapannya. Meletakkan tangan di belakang tengkuk kepala mantan calon tunangannya, dan memiringkan sedikit wajahnya. Ayu memejamkan kedua matanya merasakan hembusan nafas yang beraroma mint, menikmati momen haru mereka dengan begitu baik.
Farhan mendekatkan wajahnya hendak mencium Ayu, tapi seseorang tiba-tiba datang dan mengganggu kebersamaan mereka.
"Aku pikir kau tidak selamat, apa ada yang terluka?" Kira segera memeluk Ayu dan mencemaskan wanita itu, jauh di lubuk hatinya yang sangat marah dan mengetahui jika keduanya ingin berciuman di hadapan semua orang. "Hah, untung saja aku datang tepat waktu, atau mereka akan berciuman di hadapanku. Ck sangat menjijikkan!" gumamnya di dalam hati, jujur saja dia tidak ingin memeluk wanita itu, tapi keadaanlah yang memaksa.
Farhan kesal dengan momen romantis yang terganggu oleh Kira, dia terdiam dengan rasa jengkel. Sedangkan Ayu kebingungan dan mulai mencerna maksud dan tujuan dari wanita itu, dia melepaskan pelukan dengan kasar.
"Apa kau terluka?" ucap Farhan yang sangat mengkhawatirkan kondisi Ayu.
Kira yang mundur terpaksa dia memanggil nama Farhan, membuat Ayu menjadi diam. dia melangkah maju, tersenyum ke arah rivalnya dengan bersikap elegan. "Syukur jika kau selamat, kami sudah mencarimu seharian."
"Kau di sini?" tanya Ayu yang mengerutkan dahinya.
"Tentu saja, dimanapun ada Farhan di situ Kira."
Sebuah perkataan yang terselip kata menyirat pada hubungan Farhan dan Kira, sebuah makna dengan niat terselubung. Seakan hubungan mereka sangat baik, dan bahkan dekat.
"Wanita ini sepertinya memamerkan hubungannya dengan Farhan," batin Ayu yang menatap Kira jengkel, tapi berhasil menutupinya dengan cepat. "Benarkah? Sepertinya kau ahli dalam hal ini, aku terkesan."
"Hem, tentu saja dan terima kasih mengenai pujiannya. Kau tahu? Hubunganku dan Farhan sangat dekat."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ayu berpura-pura percaya dan melirik Farhan sebagai target utama.
"Itu tidak benar, dan kau jangan menambahkan cerita!" sanggah Farhan yang berkata jujur, segera dia mengalihkan pandangannya menatap tajam Kira agar tidak melebihkan cerita.
Kira merasa dirinya terancam, dia memikirkan sebuah cara yang terselip di pikiran kotornya.
Ayu tersenyum kepada Farhan dan ingin melanjutkan keromantisan mereka, tiba-tiba Kira pingsan.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Farhan yang meletakkan kepala wanita itu di pangkuannya, dia sangat khawatir dan berpikir jika Kira kelelahan.
Hal itu terlihat jelas dimata Ayu dan menjadi kecewa, dia cemburu jika Farhan membagi perhatian dengan wanita lain. "Sekali lagi Farhan berhasil membuatku kecewa," gumamnya dengan guratan kesedihan di wajah. Dia mengetahui ilmu medis dan bisa melihatnya, jika Kira hanya berpura-pura pingsan untuk mendapatkan perhatian.
"Asisten Heri!" teriak Farhan sembari menepuk-nepuk pipi wanita yang ada di pangkuannya.
"Iya, Tuan." Jawab asisten Heri yang menghampiri atasannya, jujur saja dia tidak ingin terlibat mengenai urusan dengan wanita seperti Kira.
"Kau antarkan Kira ke rumah sakit menggunakan helikopter!" titah Farhan.
"Saya, Tuan?"
"Ck, tentu saja."
"Baiklah, laksanakan Tuan."
"Tidak perlu membawanya ke rumah sakit, aku tahu caranya agar dia segera." Celetuk Ayu yang tersenyum tipis.
"Bagaimana caranya?" Ucap Farhan dan asisten Heri serempak.
__ADS_1
Ayu mengetahui jika Kira hanya berpura-pura pingsan, dan mendekati wanita itu tak lupa dengan senyuman manis di wajah. Namun hal tak terduga terjadi, saat dia dengan sengaja meninju dada kira satu kali.