
Farhan menatap Kira, wajahnya menghitam saat terungkapnya sedikit mengenai kebenaran. "Apa hubunganmu dengan dua orang itu?" tanyanya dengan penuh menyelidik.
"Ini hanya jebakan, Farhan. Aku tidak melakukan apapun, dan juga tak berhubungan dengan dua orang pria itu. Ayu hanya berusaha untuk menuduhku untuk menutupi sifatnya yang licik." Sangkal Kira yang masih menjelekkan rivalnya.
"Dalam keadaan terjepit, kau masih saja menuduhku. Kau ini wanita seperti apa, hah? Kau licik dan menyimpannya di balik wajahmu yang terlihat lugu."
"Diam kau!" pekik Kira.
Ayu segera menggosok telinganya dengan santai. "Pelankan suaramu, aku masih bisa mendengar dengan sangat baik, tidak perlu berteriak ataupun memekik di hadapanku."
"Apa hubunganmu dengan dua pria gendut itu?" tanya Farhan dengan tatapan datarnya, menyelidiki wanita itu untuk mengorek kebenaran.
"Mereka hanya rentenir, karena aku terjerat hutang dan untung saja kau ada, membayarkan seluruh hutangku termasuk bunganya." Elak Kira.
"Dengan penjelasannya itu, apa kau masih percaya ucapannya?" sela Alvaro yang ikut menyudutkan Kira.
"Jangan ikut campur," ketus Kira yang melotot.
"Hei, kondisikan matamu. Apa kau sudah bosan dengan bola matamu?" balas Alvaro yang kembali dengan jati dirinya, tak terima jika sahabatnya diperlakukan dengan tidak adil oleh si rubah.
"Katakan yang sejujurnya? Ada hubungan apa kau dengan dua preman itu?" bentak Farhan membuat semua orang tersentak kaget, kali ini dia tidak bisa mengabaikan bukti yang ditunjukkan oleh sekretarisnya.
"Dia tidak akan menjelaskannya padamu, aku yang mewakilinya." Celetuk Ayu menarik perhatian semua orang.
"Apalagi yang akan diungkapkan olehnya?" pekik Kira yang meringis di dalam hati, satu persatu segera terbuka.
"Berikan padaku!" tutur Ayu tanpa menoleh.
"Apa?" tanya Alvaro tak mengerti dengan tangan yang terus mengarah padanya.
"Bukti itu ada padamu, cepatlah sedikit!" sergah Ayu geram dengan sang hacker yang selalu memancing emosi.
__ADS_1
Alvaro mengeluarkan dan menunjukkan bukti biaya transfer untuk membayar dua orang preman. "Dalam kertas ini ada bukti transfer uang sejumlah lima puluh juta, bukan meminjam uang kepada dua orang preman itu melainkan membayar jasa mereka."
"Apa? Berani sekali kau berbohong padaku!" Farhan mencengkram lengan Kira dengan sangat erat, dia tidak suka ada yang mempermainkannya dan memanfaatkan kebaikannya oleh orang lain.
"Itu semua palsu, mereka hanya menjebakku. A-aku hanya dijebak!" sanggah Kira yang sangat khawatir, tidak bisa menutupi kegugupan dan juga kegelisahannya.
"Itu tidak bisa di sebut jebakan, semua orang bisa menilainya." Kata Ayu yang tidak hanus pikir dengan Kira, selalu saja mengelek dan mengelak. "Dimana keberanianmu yang sudah menuduhku? Nyalimu bahkan menciut dengan bukti transfer uang yang jumlahnya sangat banyak."
"Farhan, percayalah padaku. Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" Kira membela dirinya, berusaha untuk melepaskan lengan nya dari cengkraman pria tampan di hadapannya.
Ayu semakin menyukai permainannya yang cukup mudah membalikkan keadaan berkat batuan sahabatnya yang ahli meretas, menghargai kemampuan Alvaro yang tak perlu di ragukan lagi. "Bagaimana itu terjadi? Kau tidak perlu tahu, semua sudah jelas. Menabrakkan diri di mobil dengan alasan di kejar dua orang preman, membayar mereka untuk menggapai tujuanmu. Dan dengan bodohnya Farhan mempercayai semua itu!"
Farhan terdiam, karena apa yang di katakan oleh mantan calon tunangannya benar, mempercayai wanita itu dengan sedikit intrik licik.
Ayu mencengkam sebelah lengan wanita itu, menatap tajam seakan memergoki sang tersangka yang sudah tertangkap basah. Sangat marah dengan wanita yang mengaku-ngaku sebagai Kira, dia sangat yakin jika wanita itu bekerja sama dengan orang lain.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Bohong, kau pasti orang lain dan hanya mengaku-ngaku."
"Aku Kira!" pekiknya yang histeris, membuat semua orang hampir terkejut.
"Farhan!" panggil Ayu membuat sang empunya nama menoleh.
"Iya."
"Apa kau tidak curiga dengan kedatangannya? Muncul di saat kau menuju lokasi pertunangan kita, dia tiba-tiba hadir dan mengaku sebagai Kira." Pada saat yang sama Ayu mengeluarkan bukti baru menambah suasana semakin menarik untuk disimak, satu persatu keburukan musuhnya terungkap pada semua orang. "Bukan hanya itu saja, aku mempunyai foto lain."
Semua orang tampak berpikir, sangat penasaran hal menakjubkan apalagi yang terungkap. "Ayu bertindak dengan sangat cepat," batinnya mengagumi sang sekretaris sekaligus mantan calon tunangannya.
Ayu melirik Alvaro seakan mengirimkan sinyal untuk membongkar keburukan Kira dan kedatangannya yang misterius. Semua orang sangat shock terutama Farhan yang tak menduga hal itu terjadi, kedua pupil mata membesar saat melihat sebuah foto dan segera meraihnya di tangan sang sekretaris. "Bukankah ini__."
__ADS_1
"Ya, itu foto Kira dan juga pamanmu, Adi." Ungkap Ayu yang membenarkan maksud dari Farhan.
"Mereka bekerja sama?" Farhan hampir tak percaya, jika pamannya yang licik bekerja sama dengan Kira. Kemarahannya semakin melebar, menatap wanita itu dengan penuh amarah. "Berani sekali kau mempermainkanku, Kira!"
"Tidak…aku tidak mengenal pria yang ada di foto, pasti foto itu hanya editan. Jangan percaya dengan semua itu," jelas Kira yang tak bisa membela dirinya.
Plak
Terdengar suara yang terdengar nyaring di telinga, melihat secara langsung bagaimana Farhan melayangkan tangan mengenai pipi kiri Kira dengan keras. Dia tidak bisa menahan dirinya karena rasa amarah yang menjalar di seluruh tubuh, merasa telah di permainkan.
Kira menutupi bekas merah akibat tamparan itu, dia menangis sembari menatap Farhan sendu. "Kau menamparku?"
"Kau pantas menerimanya, kau sudah merusak kepercayaanku selama ini. Bekerja sama dengan pria itu? Kau sungguh mengejutkanku, apa yang sebenarnya kau inginkan?"
"Jadi terbukti, jika Kira dan Adi telah bekerja sama. Membocorkan harga penawaran yang membuatmu kalah kali ini, dialah biang keladinya." Sela Ayu.
"Mengapa kau merusak kepercayaanku?" bentak Farhan.
Kira hanya terdiam dalam tangisan, enggan untuk menjawab. Namanya dan juga rencananya telah terbongkar, mempunyai niat tak baik pada perusahaan.
"Jangan diam saja, mengapa kau melakukan ini?" tegas Farhan dengan kedua mata memerah menahan amarah yang sekali lagi ingin menampar wanita itu.
"Ya, itu semua karena ku. Aku melakukannya karena mencintaimu, Farhan. Aku mencintaimu…aku mencintaimu!" pekiknya dengan sangat keras, mengakui perasaannya pada semua orang, berharap mendapatkan simpati pria itu.
"Itu bukan cinta melainkan obsesi semata," celetuk Ayu yang memperburuk suasana hati Kira.
Kira menatap tajam musuh sekaligus rivalnya, rencananya terbongkar di hadapan semua orang. Kedoknya terbuka dan tak bisa mengelak lagi, dendam di hati membenci dan mengutuk Ayu. "Karena dirinya, Farhan menamparku!"
Kira sangat marah, mencari kesempatan dan melihat pisau di atas meja kerja. Dia segera mengambil pisau dengan secepat kilat setelah melepaskan tangan Farhan yang mencengkramnya untuk menikam Ayu sebagai target.
__ADS_1