
Di malam hari, Aluna bersiap-siap mengenakan gaun yang berwarna merah maroon, kulit putih yang dipadupadankan dengan gaun dan itu terlihat sempurna. Tak lupa dia juga mengenakan aksesoris sebagai tambahan dan juga polesan make up tipis untuk menambah kepercayaan diri dalam menghadiri acara tahunan antara beberapa perusahaan ternama, tak lupa pula dengan dompet yang berwarna senada menambah kesan mewah.
Baru saja dia berjalan menuju pintu dan membukanya, terlihat seorang pria tampan yang mengenakan setelan jas berwarna hitam melemparkan senyuman manis. "Kau datang paling awal," ucapnya yang mencairkan suasana, tersenyum tipis dan terkesan di paksakan.
"Hem, pekerjaanku selesai dengan cepat. Kau sudah siap?" Mars menarik lembut tangan Aluna saat mendapatkan anggukan kepala, sangat antusias dalam acara tahunan.
"Hem, aku sudah siap. Aku tidak bisa menjamin untuk berdiam diri disana, aku ingin kau tidak mengekang ku dan ingatlah kalau kita hanyalah terikat perjanjian." Aluna berusaha untuk memberi peringatan penting yang tidak ingin ada yang melanggar, jujur saja dia sedikit risih jika pria itu memperlakukannya sebagai seorang kekasih.
Mars hanya terdiam saja, tak ingin menjawab karena bisa saja dia melanggarnya. Konsep yang sangat jauh berbeda, saat sebuah janji mengikat dirinya. "Aku tidak bisa janji, ada beberapa hal yang harus kita selesaikan. Bukan hanya aku yang diuntungkan disini, tapi kau juga."
Keduanya masuk ke dalam mobil menuju acara perayaan tahunan di hotel berbintang. Aluna mengamati suasana diluar jendela, kota yang sangat indah di malam hari. "Ingat batasanmu, hubungan tercipta hanya karena perjanjian saja."
"Kau mengulang kata itu sebanyak tujuh kali sepanjang perjalanan, aku akan mengingatnya." Sahut Mars yang menganggukkan kepala. "Baiklah."
Tak lama mobil berhenti tak jauh dari hotel berbintang, mereka masuk sebagai sepasang kekasih. Aluna dengan terpaksa memegang tangan Mars, tersenyum ramah pada beberapa orang dan juga kolega bisnis dari pria itu. "Astaga…gigiku terasa kering jika terus tersenyum dengan mereka," gumamnya yang masih terdengar.
"Jangan tersenyum terlalu lebar, atau rahangku akan sakit."
"Ini sangatlah membosankan," bisik Aluna yang menyusuri pandangan di sekitar, dekorasi yang mewah dan juga megah. Bagi orang lain yang menjadi tamu merupakan suatu penghormatan, sedangkan baginya hanyalah perayaan yang sangat membosankan. Begitu banyak orang yang berusaha menjilat untuk kepentingan pribadi.
"Aku ingin menemui rekanku, ayo ikut!" ajak Mars.
"Baiklah."
__ADS_1
Keduanya menghampiri beberapa rekan bisnis, Mars memperkenalkan Aluna sebagai kekasihnya di hadapan publik. Hubungan yang berdasar pada perjanjian sangat menguntungkan baginya. "Perkenalkan, dia kekasihku, Aluna."
"Wow, sekian lama aku tidak melihatmu bersama seorang wanita dan berpikir jika kau itu gay. Tapi kau membuktikan bahwa kabar burung itu tidaklah benar, kekasihmu sangat cantik. Hai Aluna, aku Bram, rekan kerja Mars." Ucapnya yang sangat antusias dan bersemangat, mengulurkan tangan sebagai perkenalan.
"Hentikan ini! Kau dilarang untuk menyentuhnya," tekan Mars dengan sorot mata tajamnya.
"Kau begitu posesif padanya, hanya berkenalan saja dan kau berlebihan sekali." Bram mengeluh berpura-pura marah sudah menjadi rutinitasnya.
"Ck, berhentilah berpura-pura."
Aluna merasa risih saat bergabung dengan rekan bisnis Mars, dia mendekatkan dirinya dan berusaha menggapai telinga kekasih sewaannya untuk berbisik. "Aku lapar, aku permisi dulu."
"Baiklah, delapan menit saja. Aku akan menyusulmu nanti."
"Mengapa dia berlebihan sekali?" batin Aluna yang segera pergi meninggalkan Mars, menyesal memilih pria itu. Dia lebih tertarik dengan hidangan kue yang tersaji, mencicipinya dengan nikmat.
Leon seakan tuli dan duduk di hadapan wanita yang membuatnya gelisah, tersenyum walau terlihat kaku. "Aku ingin bicara denganmu, masalah penting."
"Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi, enyah kau dari hadapanku!" ketus Aluna yang cuek.
"Ini sangat penting, kebetulan kau ada di sini. Ayo ikut aku!" Leon menarik tangan Aluna untuk mengikutinya, tapi aksi nekatnya itu dihadang oleh Mars. Kedua tatapan sengit dan juga tajam, tersimpan dendam lama mereka di masa sekolah.
"Kemana kau akan membawa kekasihku? Lepaskan dia!" ucap Mars yang dingin.
__ADS_1
"Kekasihmu? Dia calon istriku, menyingkirlah dari hadapanku!" sarkas Leon tak ingin mengalah.
"Calon istri? Kau bahkan memecat dan memasukkannya dalam daftar hitam, apa itu meyakinkan?" Mars tersenyum miring mempertahankan harga diri, sedangkan Aluna mendengus kesal.
"Dasar pria gila dan juga sinting, jangan mengklaim ku disini." Ketus Aluna yang sudah tak tahan dengan aura mencekam dari dua pria yang sekarang menarik kedua tangannya di sisi yang berbeda.
"Lepaskan tanganmu!" Mars bersikap dingin dan juga tak ingin mengalah, terjadi aksi tarik menarik merebutkan satu wanita yang sama.
"Tidak akan."
Aluna mulai berpikir keras, berusaha mencari jalan keluar dari permasalahannya. Aku harus kabur," pikirnya yang mencari celah.
Kedua pria yang masih berseteru memberikan ruang bagi Aluna untuk kabur, berlari sekencang mungkin setelah melepaskan sepatu tumit tinggi yang pastinya sangatlah menyulitkan. Sedangkan acara perayaan tahunan menjadi heboh, tim Mars dan tim Leon segera mengejar wanita yang berlari seperti atlet profesional.
Aluna tidak menengok ke belakang, terus berlari dan mencari jalan keluar dari hotel. Tiba-tiba dia menabrak sesuatu yang ternyata adalah Ayu, sang idola yang menjadi inspirasinya. Segera menghampiri dan membantu sang perancang terkenal nomor satu, meminta maaf atas kelalaian dan juga kecerobohannya. "Maaf, sungguh aku tidak sengaja menabrakmu."
"Tidak masalah, kau terlihat kusut sekali. Ada apa?" tanya Ayu mengerutkan dahi, penasaran apa yang baru saja dialami Aluna.
"Aku menghindari dua pria gila, tolong selamatkan dan sembunyikan aku." Ucap Aluna yang memohon perlindungan, dia tahu kekuatan dari Mars dan juga Leon yang tidak bisa diragukan lagi.
"Aku juga mencari tempat persembunyian," Ayu menoleh ke belakang, mencari sosok yang masih mengejarnya.
"Siapa yang mengejarmu?" Aluna juga melihat siapa sang pelaku yang tak lain Farhan, suami Ayu. "Dia itu suamimu, mengapa kau lari?" tanyanya seraya menggaruk pelipis yang tidak gatal.
__ADS_1
"Dia mengurungku di kamar hotel. Hah, aku sangat lelah melayani hasratnya itu." Terang Ayu yang terbuka, karena hubungan mereka bisa dibilang cukup dekat.
"Kita harus kabur," ucap keduanya dengan serempak, mereka berlari untuk mencari tempat yang aman. Walau tipis kesempatan untuk kabur, tapi mereka benar-benar wanita tangguh dan pantang menyerah.