
Leon begitu terkejut mendengar perkataan Aluna, dia segera berlari menuju toilet dan memuntahkan seluruh isi makanan yang baru saja dia makan. Entah mengapa dia sangat phobia dengan jengkol, mendengar katanya saja membuat tubuhnya merinding. Keringat bercucuran terus saja mengalir, mengumpati wanita yang memaksanya untuk memakan makanan yang menurutnya sangatlah buruk.
Cukup lama dia berada di toilet dan segera keluar, sorot mata yang memandangi Alun dari kejauhan yang tertawa terpingkal-pingkal. "Berani sekali dia mengerjai aku!" geramnya dalam kemarahan menghampiri, menggebrak meja membuat wanita itu tersentak kaget.
"Astaga…kau mengagetkanku," Aluna mengusap dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya itu, menghela nafas sebagai tambahan.
"Berani sekali kau mengerjai ku," Leon menganggap lelucon itu sudah melewati batas, dia segera menghampiri Alun dan mencengkram tubuh wanita itu. "Dua kesalahan yang kau buat di hari ini."
Aluna menelan saliva dengan susah payah yang terasa tersangkut di tenggorokan, jarak pria itu sangatlah dekat dengannya. "Maaf, aku hanya bercanda. Itu bukan semur jengkol, jangan masukkan di dalam hati." Jelasnya dengan jujur.
"Apapun itu, aku sudah tidak peduli. Pergi dari apartemenku sekarang juga! Dan kemasi semua barang-barang, kau dipecat!" ucap Leon yang sudah kehilangan batas kesabaran.
"Kenapa kau begitu sensitif? Ayolah, maafkan aku." Bujuk Aluna.
"Pintu ada di sebelah sana," tunjuk Leon yang sudah tidak peduli lagi dengan tantangan dari kakeknya. "Persetan dengan semua itu," umpatnya kesal.
Aluna menekuk kakinya dan mendongakkan kepala, menatap pria dan menyentuh betis. Aku mohon, maafkan aku. Jika kau memecatku, aku akan kehilangan segalanya." Wajah memelasnya berharap mendapat ampunan dan maaf dari Leon.
"Dan aku tidak peduli, pergi!" Leon sangat dingin jika norma dan prinsipnya dilanggar, apalagi wanita itu selalu saja menganggap nya dengan lelucon.
"Jangan usir aku, atau aku bisa kehilangan masa depanku. Bibiku ingin menikahkan aku dengan seorang yang tidak aku cintai, tapi aku tidak mencintainya. Tolonglah aku!" rengek Aluna yang memeluk kedua kaki Leon dan tidak membiarkan pria itu melangkah kemana pun.
"Tidak ada urusannya denganku," jawab Leon ketus.
"Hah, kau tega sekali. Padahal aku baru sehari menjadi asisten mu, beri aku kesempatan kedua."
Leon merasa tertarik dengan pembahasan kali ini, mengingat wanita itu terlihat misterius. Dia mendekatkan wajahnya dan menatap sepasang manik mata. "Siapa dirimu sebenarnya? Sikapmu tidak menunjukkan jika kau dari kampung, mengapa kau begitu tertarik padaku?"
__ADS_1
Deg
Seketika Aluna merasa terpojokkan saat pria itu mulai mencurigai nya, keringat yang membasahi dahi. Rasa kecemasan dan khawatir jika identitasnya sebentar lagi akan terbongkar, berpikir dua kali lebih cepat untuk mendapatkan solusi untuk menyelamatkan diri. Namun, hembusan nafas dari pria itu membuatnya hingga lupa daratan. "Astaga…nafasnya sangat wangi," pujinya di dalam hati seraya tersenyum.
Leon geram dan menjentikkan jarinya di depan wajah Aluna. "Kenapa kau diam? Jawab pertanyaanku, nyawamu ada di genggaman tanganku." Ancamnya.
Seketika Aluna bergidik ngeri, hanya karena perkataannya yang menebak asal makanan membuatnya terkena masalah besar. Dia sangat mengenal Leon yang tidak pernah main-main dengan ucapannya. "A-aku," dia sangat gugup dan mencari celah agar bisa terlepas. "Senjata utama," lirihnya yang mendapatkan ide di saat darurat.
"Senjata utama?" Leon menyerngitkan dahi membuatnya terlena, hingga merasakan bagian sensitif di tendang.
"Maafkan aku," pekik Aluna yang berlari keluar dari apartemen milik Leon, dia tak ingin jika identitasnya terbongkar dengan cepat.
Sementara Leon memegang senjata pamungkasnya yang tidak bisa dikiaskan, bahkan ingin memakan orang karena menahan rasa yang amat menyakitkan. "Si Tole," ringisnya yang memastikan tidak ada yang lecet ataupun pecah. "Kembali kau, dasar wanita gila!" pekiknya, tapi terlambat saat Aluna telah melarikan diri.
****
"Bagaimana lagi? Wanita yang kalian jodohkan padaku tidak layak untuk menikah denganku, kalian tahu? Dia menendang si Tole," bisiknya di akhir kalimat.
"Apa?" ucap Ayu, Farhan, Tirta yang sangat terkejut dengan pernyataan dari Leon. Tapi, seketika mereka tertawa geli saat pria malang itu mendapatkan sambutan dan kesialan jika menghalangi Aluna.
"Tertawalah sepuas kalian, aku inginkan perjanjian itu batal. Aku tidak ingin menikah dengan wanita gila itu, dan meminta asisten untuk memecatnya dari kantor. Heh, semoga saja aku tidak bertemu dengannya lagi." Tutur Leon.
"Apa kau sudah memastikan nya?" bisik Farhan yang mendekatkan diri.
"Memastikan apa?" Leon mengerutkan kening akibat rasa penasaran menghantui.
"Pastikan tidak ada yang pecah, atau itu tidak akan berfungsi nantinya." Ucap Farhan yang kembali tertawa.
__ADS_1
"Berani sekali kau," geram Leon menghampiri Farhan, melingkarkan tangannya di leher sang adik ipar. "Rasakan ini," dia mengangkat ketiaknya dan menggesekkan wajah adik ipar dengan begitu puas. "Kebetulan aku belum mandi selama tiga hari belakangan ini," jujurnya.
"Sial," umpat Farhan yang melakukan perlawanan untuk melepaskan diri.
"Hentikan ini, kalian selalu bertikai seperti Abi dan juga Adit. Jadi karena berita yang tidak penting ini kau mengundang kami semua kesini?" protes Tirta yang masih memiliki jadwal padat dan mengundurkannya.
Leon menghentikan sikapnya dan kembali duduk. "Apa Kakek mengira jika ini tidak penting? Ini menyangkut masa depanku."
"Masa depan apa? Kau bahkan tidak menikah, dan aku yakin si Tole juga tidak berfungsi dalam kata lain berkarat." Sahut Tirta dengan enteng.
"Kenapa kalian selalu memojokkan aku? Apa Kakek meragukan kemampuan si Tole?"
"Tentu saja, sampai saat ini kau juga belum menikah dan juga tidak melihatmu berkencan saat Ayu telah menikah."
"Siapa yang mau dengannya Kek? Lihat saja tampangnya yang tidak meyakinkan itu." Sela Farhan.
"Tutup mulutmu!"
"Aku tidak takut padamu."
"Diam!" pekik Ayu yang sudah pusing mendengar perdebatan unfaedah dari kakak, kakek, dan juga suaminya.
"Kakak akan menyesal melepas Aluna." Ayu segera pergi dan menarik tangan suaminya, waktu terbuang sia-sia hanya mendengar keluhan dari Leon.
"Kakek pergi dulu!" pamit Tirta yang menepuk bahu Leon dengan pelan, dia tersenyum tipis dan tidak disadari oleh Leon.
"Aargh…semoga aku tidak bertemu dengan wanita gila itu," pekiknya sambil menarik rambutnya kasar. "Kau sudah aku masukkan dalam daftar hitam, itu akibatnya jika main-main denganku. Aluna, aku sangat membencimu." Geramnya sambil memeriksa isi celana sekali lagi, apakah masih ada atau tidak.
__ADS_1
"Huh, syukurlah. Ternyata masih ada, aku akan mencobanya dengan sabun, apa masih bisa tegak atau tidak. jika ada kesalahan, aku akan mencari wanita itu dan menghukumnya." Monolognya yang meninggalkan tempat itu menuju kamarnya, jalan sedikit mengangkang menjadi alternatif di saat juniornya masih terasa sakit dan perih, jika ada kerusakan sedikit saja dan dia pastikan untuk menuntut balas.