
Ayu sangat terkejut dan kembali membuka origami bangau, tulisan itu masih tetap sama. Perasaan bahagia di antaranya sangat lah menyentuh hati, kedua pipi merona terpancar dengan sangat jelas. Lidah seakan keluh mengatakan apapun, sorot mata masih memandangi tulisan yang hanya berisi dua kata dalam bahasa inggris.
Suasana yang sangat romantis, dia tak menyangka jika kejutan yang diberikan Farhan sangat berbeda jauh saat mereka sarapan. "Apa ini?" tanya nya dengan lembut.
Farhan tersenyum seraya memegangi kedua tangan putih nan lentik, menatap dalam dua manik mata yang selalu memenuhi pikiran dan juga hatinya. "Apa kau suka?" Dengan cepat Ayu menganggukkan kepala, senyum indah terukir di wajahnya terpancar jelas.
"Kau mengatakan jika kejutanku tempo hari tidaklah romantis, dan aku melakukan ini untuk memperbaiki segalanya. Sekarang aku ingin meminta imbalannya!" ucap Farhan.
"Apa kau tidak ikhlas memberikan kejutan ini padaku?"
"Aku hanya meminta imbalan, itu saja!" sahut Farhan dengan santai.
"Tapi aku tidak memintanya!" elak Ayu yang tak ingin menjawabnya.
"Itu artinya kau tidak menyukai kejutanku, apa kau tahu? Aku memikirkan konsep ini memerlukan waktu seharian, dan kau tidak menghargainya. Apa susahnya mengatakan satu kata saja, menerimaku untuk menjadi suamimu." Farhan berpura-pura sedih, akting yang sangat mumpuni saat dipelajari dari asisten. Memeluk tubuh mungil itu seraya menangis putus asa, karena hanya itu yang terlintas di otaknya. "Semoga cara ini berhasil, jika gagal? Maka asisten bodoh itu mendapatkan hukumannya." Batinnya.
Ayu sangat bingung dengan situasinya, apalagi melihat Farhan yang sangat sedih akibat dirinya. Membalas pelukan pria itu seraya menepuk punggung dengan halus, mencoba untuk menenangkan. "Berhentilah bersedih, kau terlihat sangat jelek jika bertingkah seperti ini."
Farhan tersenyum dan kembali melanjutkan aktingnya, mengambil kesempatan memeluk sekretaris sekaligus calon tunangannya. "Apa dayaku? Kau bahkan tidak menghargai kerja kerasku." Ucapnya sembari melepaskan pelukannya.
"Maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tak menyangka kau bisa melakukan semua ini." Ayu kehabisan kata-kata, tidak bisa menggambarkan hatinya yang bercampur aduk. Pria yang berhasil meluluhkan hatinya dengan segala upaya.
Farhan tersenyum, membuat tingkat ketampanannya bertambah beberapa kali lipat. Pesona ketampanan dan perhatian yang diberikan olehnya dapat dirasakan hingga menembus hati. "Ayo!" menggenggam tangan lentik dan menariknya ke tepi jendela.
Ayu tersentak kaget saat tangannya ditarik, pasrah kemana pria itu membawanya. Patuh tanpa memberontak sedikitpun, karena dia juga penasaran."Kenapa kau membawaku kesini?" tanyanya dengan kebingungan, mengerutkan dahi serta tatapan yang mengarah pada lawan bicaranya.
__ADS_1
"Lihat itu!" Farhan menunjuk di luar jendela, mengalihkan perhatian keduanya. Kembang api meletus di langit membuat suasana kian romantis, terdapat tulisan setelah kembang api meletus. Lagi dan lagi Ayu di buat takjub dengan kejutan yang dipersiapkan oleh calon tunangannya. Tulisan yang sama dengan kertas origami bangau bertahan beberapa detik saja dan menghilang. "Aku tidak bisa berkata-kata, kejutanku sangat luar biasa. Aku terharu!" ucapnya yang tercengang.
Tulisan kembang api yang meminta Ayu untuk menikah dengannya, persiapan yang sangat matang untuk melamar sang pujaan hati. Menatap mata seraya memegang kedua tangan lentik dan putih. "Maukah kau menikah denganku?" ucapnya dengan sangat serius.
Indahnya malam di atas kapal pesiar, menikmati momen dengan panorama yang terpancar oleh sinar rembulan, suara letusan kembang api bagai nyanyian pengiring perasaan masing-masing, dan disertai tulisan yang membuat Ayu sangat bahagia. "Iya, aku mau menikah denganmu." jawabnya sambil menganggukkan kepala.
Tidak bisa dijelaskan, gambaran hati Farhan dipenuhi rasa kebahagiaan yang teramat dalam, usaha dalam menaklukkan wanita tangguh terwujud dengan sangat cepat. Dia tak menyangka jika harapan sesuai dengan ekspektasinya. "Coba kau katakan sekali lagi!" pintanya sendu, kedua mata yang berbinar cerah.
Ayu kembali menganggukkan kepala dan tersenyum cerah. " Ya, aku mau menikah denganmu."
"Katakan sekali lagi!" pintanya yang seakan ini hanya mimpi.
"Aku mau menikah denganmu!" pekik Ayu dengan suara nyaringnya, dan merasakan kehangatan dari pelukan Farhan.
"Akhirnya, setelah tujuh purnama, tujuh tanjakan, dan tujuh belokan, kau mau menikah denganku!" seru Farhan yang tersenyum senang, memeluk tubuh mungil di hadapannya seraya memutarnya tubuh sepersekian detik.
"Aku akan mengabari kakek, pasti dia sangat gembira dengan kabar ini."
"Tunggu dulu!" Ayu menghentikan Farhan yang hendak menghubungi kakeknya.
"Kenapa?"
"Usiaku masih sangat muda, aku sedikit takut membangun rumah tangga denganmu. Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi istrimu?" ucap Ayu yang khawatir tidak bisa menjadi istri dari seorang Farhan Hendrawan.
"Hanya itu? Aku tidak mempermasalahkannya. Sebaiknya kita bertunangan lebih dulu, aku ingin memberimu sedikit jeda." Farhan mengerti dengan perasaan yang dituangkan Ayu, dan menerima alasan itu. "Maukah kau menjadi tunanganku?"
__ADS_1
Ayu terdiam karena tidak bisa mengapresiasi perasaan yang bercampur aduk, namun sangat terkejut saat Farhan langsung menyematkan cincin sebagai ikatan di antara mereka.
"Sekarang kau sudah terikat dengan ku, aku mencintaimu!" Farhan mencium kening Ayu dengan sangat lembut.
Ayu kembali di buat terkejut juga terkesan, dirinya diperlakukan bagai seorang tuan putri yang berharga, segera menyembunyikan raut wajah yang merona seperti udang rebus.
"Cincin yang sangat pas dan terlihat indah di jari manismu, jaga itu dengan sangat baik. Kau tahu? Cincin itu turun temurun dari silsilah keluarga ku." Terang Farhan.
Ayu mengalihkan perhatiannya pada cincin yang tersemat di jari manis, sebuah cincin dengan permata berlian yang tentunya sangatlah mahal dan desain yang sangat unik. "Cincin ini sangat indah, apa kau yakin memberikannya padaku?" ucapnya yang menatap pria di hadapannya.
"Hanya kau yang pantas memakai cincin leluhurku."
Malam yang sangat syahdu bagi kedua insan yang dimabuk asmara, meyakinkan hubungan perjodohan menjadi ikatan suci sakral. Farhan menahan keinginannya untuk segera menikah, tak ingin hal itu menjadi beban bagi calon tunangannya yang sebentar lagi menjadi tunangan.
****
Keesokan harinya..
Saat di akhir pekan, Farhan membawa Ayu untuk berkunjung ke kediaman sang kakek dan mengatakan untuk melanjutkan perjodohan.
Pria tua berkacamata terus menatap dua insan yang terlihat sebagai kekasih, dan dia mengerti maksud dan tujuan keduanya datang menghampiri. "Kenapa kalian diam saja? Gerangan apa yang membuat kau menemui pria tua seperti ku?" ucap Hendrawan yang melirik cucunya penuh menyelidik.
"Begini Kek, maksud dan tujuan kami kesini hanya ingin meminta restu untuk melanjutkan perjodohan. Aku dan Ayu sudah sepakat, kami sudah saling mencintai satu sama lain." Ungkap Farhan.
"Hah, apa butuh waktu begitu lama untuk mengatakan ini? Kabar bahagia ini akan aku sampaikan pada Tirta, pasti dia sangat bahagia." Seru Hendrawan. "Bagaimana jika kalian menikah besok saja?" sarannya yang tak sabar mempunyai cucu menantu.
__ADS_1
Farhan melirik Ayu dan menganggukkan kepala pelan. "Kami akan bertunangan lebih dulu, Kek!"