
Leon bersiap-siap untuk pergi ke kantor, pakaian rapi dengan setelan jas berwarna abu-abu, dan dasi yang berwarna hitam tampak cocok dikenakan. Sedikit parfum yang menjadi ciri khas diterapkan selama ini, tak lupa juga mengenakan jam tangan mewah dan juga menyisir rambutnya dengan rapi. Kini dia telah siap untuk pergi ke kantor, dan mengantarkan twins A untuk kembali ke Mansion selama dia bekerja. Walaupun kesepakatan yang telah dibuat oleh kakek Tirta tak pernah menghalangi pekerjaannya, dia akan kembali menitipkan si kembar dan diserahkan kepada kedua orang tuanya selama dia bekerja.
Setelah semua selesai, Leon keluar dari kamarnya dan menghampiri ketiga orang yang tengah asik di atas meja makan. Dia tersadar jika piring yang berisi nasi goreng miliknya dimakan oleh wanita yang menjadi sekretarisnya. "Oh tidak," gumamnya yang berlari berusaha untuk menghentikan Aluna yang menghabiskan suapan terakhir hingga piring itu licin. "Itu makanan milikku, mengapa kau memakannya?"
Aluna menatap sumber suara yang dengan nada tekanan, cengengesan saat menghadapi Leon yang ingin menyemburkan kekesalan padanya. "Aku lapar karena mencium aroma nasi goreng dan ternyata sangatlah lezat, kau datang terlambat."
"Hai Boy, apa kalian tidak memperingati dia jika sepiring nasi goreng Itu milikku?"
"Bagaimana kami memperingatinya? Setiap kami ingin membahas dia selalu saja mengisyaratkan untuk tidak berbicara, lalu di mana letak kesalahan kami?" jelas Abi yang cemberut, kedua bocah itu berlalu pergi dan bersiap-siap kembali ke Mansion.
Di sepanjang perjalanan, Leon sangat kesal dengan wanita di sebelahnya. Bahkan perutnya sangat lapar dan tidak bisa telat makan, mempunyai riwayat penyakit maag sangatlah menyiksa dirinya. Dia merasakan perutnya yang perih, untung saja dia sudah mengantarkan Abi dan Adit ke Mansion.
"Kau kenapa?" tanya Aluna yang memperhatikan Leon sedari tadi.
"Kau bisa menyetir?"
"Hem, aku bisa. Ada apa denganmu?" Aluna begitu penasaran, berharap jika pertanyaannya dibalas.
"Bisakah kau diam? Pindah posisi!" ketus Leon yang sudah tak tahan dengan rasa perih, menghentikan mobil dan segera berpindah tempat. Aluna terdiam di saat mereka sudah beralih, melihat pria di sebelahnya yang mencari sesuatu di dalam tas kerja.
"Apa yang kau cari?"
Leon tak menggubris, terus mencari obat pereda yang ternyata tertinggal di apartemen. "Sial," umpatnya kesal seraya memegangi perut.
__ADS_1
"Jangan membuatku khawatir, kau kenapa?"
"Berisik!" Leon meninggikan suaranya saat wanita di sebelah sangat mengganggu dengan pertanyaan konyol. "Bawa aku ke apotik!" titahnya tidak ingin dibantah.
Aluna sangat terkejut, dan mengubur pertanyaannya di saat melihat pria tampan di sebelahnya begitu kesakitan. Dia segera mengemudikan mobil menuju apotek terdekat yang tak berada jauh dari lokasi mereka.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti dan Leon segera keluar tanpa mengatakan apapun mencari obat untuk meredakan nyeri maag yang mengganggu.
Aluna hanya melihat Leon yang bereaksi begitu parah, dia begitu menyesal telah menghabiskan nasi goreng karena mengetahui jika atasannya itu tidak bisa telat makan. "Aku telah berbuat kesalahan, ternyata dia mempunyai riwayat penyakit maag." Gumamnya, melangkahkan kakinya menghampiri sang atasan untuk meminta maaf.
Leon menarik nafasnya yang terengah-engah, menyandarkan punggung dan juga kepala. Dia bisa merasakan pereda maag yang begitu ampuh, namun masih membutuhkan waktu agar asam yang ada di lambung bisa terealisasi. "Menjauhlah dariku!" usernya yang tak ingin menatap sang sekretaris yang menurutnya sangatlah egois dan juga tidak punya sopan santun.
"Maaf, karena kejadian tadi pagi kau menderita, tolong maafkan aku. Sungguh, aku tidak tahu jika kau mempunyai riwayat penyakit maag," Aluna tertunduk malu dengan sikapnya yang masih barbar dan juga menyesal, tidak ada niat di hatinya untuk berbuat jahat kepada orang lain.
"Karena ulahmu, aku tidak bisa bekerja untuk hari ini, apa kau masih bisa dimaafkan?"
"Baiklah, katakan kepada asistenku jika hari ini aku cuti dan kau temani aku seharian di apartemen, kau rawat aku hingga sembuh. Jika bukan saja aku telat makan karena ulahmu, mungkin hal ini tidak akan terjadi."
"Akan aku lakukan apapun itu, asal tidak keluar dari norma."
"Bagus sekarang kita putar balik ke apartemen, perutku sangat sakit sekali."
"Ehzvbukankah kau sudah minum obat nyeri maag itu? Apa masih sakit atau obatnya yang tidak ampuh?"
__ADS_1
"Kenapa kau ini banyak bicara sekali? Jika saja kau tidak mengambil nasi goreng ku aku tidak akan kesakitan, apa yang ku tanam itu yang kau tuai." Leon begitu bijak untuk menyadari kesalahan dari sekretarisnya, namun itu semua hanyalah rencana saja, kondisinya sudah mulai membaik tapi menggunakan kesempatan di dalam kesempitan sangatlah menyenangkan.
Di dalam apartemen yang cukup luas, hanya dua orang yang berada di sana. Bahkan Leon sengaja memecat seluruh pelayan yang bekerja dengannya. "Aku sangat lapar, buatkan aku makanan yang spesial, tentu saja tidak ada yang menandingi rasanya." Dia mulai memerintah dan memikirkan makanan yang begitu mewah dan juga berkelas seperti restoran bintang lima.
"Itu cukup mudah bagiku, dan aku sangat yakin jika kau pasti menyukainya hanya dengan satu suapan saja." Begitu percaya diri, dia beranjak dari sana menuju dapur dan mulai memesan beberapa bahan-bahan yang tidak ada di apartemen.
Dari kejauhan Leon hanya menonton televisi tanpa ingin beranjak, dia selalu saja menyusahkan Aluna dengan menyuruh-nyuruh melakukan apapun. Untung saja wanita itu mempunyai stok kesabaran dalam menghadapi dirinya.
Satu jam kemudian, Leon tidak sabar ingin mencicipi bagaimana rasa masakan yang selalu dibanggakan oleh sekretarisnya sekaligus asisten pribadi. Saat dia berjalan menuju meja makan, beberapa menu terhidang dan disusun dengan rapi. Namun, dia tidak tahu dan juga merasa tidak pernah memakannya. "Makanan ini tidak pernah aku lihat sebelumnya, apa kau yakin tidak memberiku racun atau mengerjaiku?" ucapnya dengan penuh selidik.
Aluna mendelik kesal menghela nafas dengan jengah, dia menekan dua bahu pria tampan itu agar segera duduk di kursi, menyiapkan nasi dan juga beberapa lauk pauk dan sayuran yang baru saja dia hidangkan.
"Kenapa ini bentuknya sangat berbeda?" Leon memperhatikan masakan yang sangat aneh menurutnya.
"Jangan banyak bertanya, kau bisa memakannya."
"Ini tidak seperti makanan restoran bintang lima, jau pasti berbohong mengenai dirimu yang pintar memasak."
"Walaupun makanan ini sedikit berat untuk dimakan di pagi hari, tapi cukup aman."
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja, karena aku selalu memasaknya." Aluna menarik kursi dan duduk saling berhadapan dengan bosnya menahan tawa yang hampir meledak.
__ADS_1
Masakan yang ada di atas meja begitu menggugah selera Leon, dia segera menyantap dan mencicipi masakan dari asisten pribadinya. "Rasanya aneh tapi aku menyukainya, apa yang aku makan ini?"
"Itu semur jengkol, jangan makan terlalu banyak." Jawab Aluna dengan santai.