Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Kekasih sewaan


__ADS_3

Di dalam mobil, Farhan mencoba untuk mengatur rasa jengkelnya mengingat kakak ipar yang selalu saja memancing emosi. "Kenapa kau menarikku, Sayang?" 


"Mau bagaimana lagi? Kau begitu kekanak-kanakan, mana Farhan yang dulu begitu arogan dan suka memerintah?"


"Apa yang kau dapatkan dengan bergelut dengan Leon, tidak lebih dari Adit dan juga Abi. Bahkan mereka juga tidak bertindak seperti itu," sambung Tirta yang mencoba untuk mencari ketentraman. 


"Sekarang bagaimana Kek? Aku yakin jika kak Leon tidak akan tinggal diam, apa yang dia ucapkan adalah mutlak. Pasti Aluna sudah masuk dalam daftar hitam," lapor Ayu sudah kehabisan akal dengan rencana yang gagal.


"Apa Kakek mu ini bodoh? Dia tidak akan bisa melawanku, lihat saja permainanku dan kalian hanya memercikan sedikit api." Tirta tersenyum tipis saat rencananya sudah dipikirkan masak-masak.


"Ya, aku percaya kepada Kakek." 


Farhan mengantarkan istrinya ke kediaman Hendrawan, sementara Tirta hanya di antarkan ke bandara. "Apa Kakek yakin ingin pergi luar negeri?" 


"Tentu saja, Leon bodoh itu tidak bisa diandalkan."


"Hem, jaga diri Kakek dengan baik. Aku pergi dulu!" pamit Farhan yang berjalan keluar dari bandara. 


Di sisi lain, Leon begitu yakin dengan nasib Aluna yang penuh derita dan juga sengsara. Menatap keluar jendela seraya meneguk minuman dingin yang begitu melegakan tenggorokannya, senyum di wajah tak pernah pudar. "Tidak lama lagi dia datang dan memohon padaku, siapa yang ingin menikah dengan wanita gila seperti itu?" monolognya, tangan yang dijadikan tumpuan wajah dan sebelah lagi minuman dingin."


****


Aluna menangis seharian saat dirinya merasa gundah saat mendengar ucapan yang begitu menyakiti dirinya, bukankah dia hanya bergurau saja? Lalu mengapa Leon memberinya hukuman yang begitu menyakiti perasaannya. 


Entah berapa box tisu yang sudah dihabiskan, menangisi pria yang sangat dia cintai. Kedua mata yang membengkak, dan air mata terus saja mengalir deras. "Mengapa Leon sangat kasar? Aku hanya bercanda saja, kenapa hidupnya selalu serius?" monolognya seraya membuang cairan yang ada di hidung dengan kasar, melempar tisu yang baru digunakan. Kamar yang semula bersih menjadi sangat kotor dengan tumpukan tisu yang bertebaran di seluruh lantai. 


"Jika saja kita tidak bertemu waktu itu, mungkin aku tidak menangisi pria brengsek sepertinya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Aluna segera meraih ponselnya dan menghubungi Bibi Ruo. 


"Halo, Bi."


"Halo, apa kau sudah menyerah?" 

__ADS_1


"Astaga…berhentilah menjodohkan aku bi, aku sedang patah hati dan bibi malah merusak rasa patah hati gunda gelana ku."


"Kau begitu narsis sekali, suaramu terdengar serak. Apa kau habis menangis? Menangisi pria yang kau cintai itu?" 


"Ya, aku menangis karena pria itu."


"Menyerahlah sekarang, karena kau akan aku jodohkan dengan anak dari rekan bisnis ayahmu."


"Siapa lagi itu?" 


"Teman ayahmu, pria itu sangat tampan dan bibi sudah melihatnya." 


"Heh, aku tidak ingin dijodohkan. Aku masih mengharapkan pria idamanku yang menyelamatkanku waktu itu."


"Kau selalu saja mengatakan pria idaman, tapi tidak mengatakan nama dan juga seperti apa pria itu. Terima saja perjodohan dari bibi, dia sangat tampan dan juga sederajat dengan kita."


"Tidak."


Terdengar notif ponsel satunya lagi, sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh bibi Ruo. Dia segera membuka dan membaca isi pesan, yang ternyata sebuah ancaman jika dirinya harus membawa pria yang dia cintai di hadapan bibinya jika ingin membatalkan perjodohan. "Apa lagi ini? bibi Ruo mengancamku? Tapi ini baik, setidaknya aku tidak dijodohkan dengan pria yang tidak aku kenal. Tapi, dimana aku menemukan kekasih sewaan?" dia berpikir untuk mencari kekasih sewaan untuk menemui bibi yang selalu saja memaksanya.


Dia segera berlari menuju meja kerjanya dan membuka laptop, mencari sesuatu untuk menyelamatkan dirinya dari perjodohan. Ide gila terlintas begitu saja, menemukan sebuah aplikasi kencan dengan pria yang telah terdaftar. Seketika matanya berbinar cerah saat menemukan seorang pria tampan yang terlihat cocok untuk di sewa. "Akhirnya aku menemukannya, akan aku hubungi pria itu." Gumamnya yang segera menghubungi pria yang akan menjadi kekasih sewaannya. 


"Halo, apa benar ini Mars?" 


"Iya, dengan siapa aku bicara?" 


"Aku Aluna, bisa kita bertemu. Ada yang ingin aku sepakati denganmu menyenai kekasih sewaan."


"Baiklah, dengan senang hati. Kirim saja tempat temu janji kita dan aku akan datang kesana tepat waktu."


"Bagus."

__ADS_1


Aluna sangat senang jika permasalahannya akan segera hilang, sangat bersemangat untuk menemui pria tampan dan membuat kesepakatan di antara mereka. 


****


Aluna tersenyum saat melihat pria tampan dengan setelan jas ada di hadapannya, bahkan lebih tampan dari foto asli di aplikasi. "Wow, ini sesuai kriteriamu." Pujinya di dalam hati.


"Senang berkenalan denganmu, kau sangat cantik." Puji Mars yang tersenyum. 


"Terima kasih, kau juga sangat tampan. Sepertinya kau bukan pria sembarangan," ucap Aluna yang memperhatikan pria di hadapannya.


"Ya begitulah, aku sangat bosan dengan rutinitas ku dan itulah sebabnya mendaftarkan diri lewat aplikasi."


"Wah, ini sangat cocok. Seperti simbiosis mutualisme, saling membutuhkan. Aku ingin kau menjadi kekasih sewaan selama perjodohanku akan di batalkan."


"Baiklah, aku merasa itu tidaklah berat. Kau tidak perlu membayarku, asal kau juga mengakuiku sebagai kekasihmu di hadapan semua orang. Bukankah itu tawaran menarik?" 


Aluna mulai berpikir, mengenai resiko dan juga keuntungannya mengingat Leon yang sudah mengusirnya membuat hatinya semakin sakit. "Akar permasalahan ku hanya satu, menghentikan perjodohanku dengan pria asing. Leon juga sudah mengusirku, untuk apa aku terlalu berharap pada yang tidak pasti? Mars juga tidak buruk, dia pria tampan dan juga kaya." Batinnya yang menilai. 


"Bagaimana? Apakah kau sudah memikirkannya?" 


"Sudah, aku telah memikirkan konsekuensinya. Mulai sekarang kau adalah kekasihku dan begitu sebaliknya."


"Deal." Mars menyambut uluran tangan Aluna setelah menyetujui kesepakatan mereka, dia tersenyum puas di saat mengenal wanita cantik yang ada di hadapannya. "Pesan makanannya, aku akan membayar bill nya." 


"Eh, aku saja. Akulah yang membutuhkanmu, dan aku yang membayar billnya."


"Tidak, harga diri seorang pria akan jatuh saat wanita membayar bill. Pesan saja! Aku tidak akan jatuh miskin." Ucap Mars yang menawarkannya.


"Baiklah, kau sangat pengertian sekali."


Kedekatan dari dua orang yang tak jauh membuat seseorang mengepalkan kedua tangannya, sorot mata tajam yang menandakan kemarahan dari pria itu. "Siapa pria itu? Mengapa mereka terlihat sangat dekat?" gumam Leon yang tidak bisa melihat wajah dari pria yang bersama Aluna.

__ADS_1


__ADS_2