
Suasana semakin ricuh, beberapa orang yang menyudutkan Ayu semakin tersenyum mengembang. kedatangan beberapa polisi yang mulai memeriksa dan menyelidiki kejadian itu, dengan cara mencari sidik jari si pelaku yang tertinggal di cincin.
Salah satu polisi mengambil cincin itu dengan menggunakan tangan yang sudah dibaluti sarung tangan. Melihat cincin tanpa menyentuhnya, mulai memeriksa mengambil sampel sidik jari yang melekat di cincin itu. Tak butuh waktu yang lama untuk mengetahui hasil akhir dan pelaku yang sebenarnya. Hingga menguak pelaku pencurian cincin itu dan mengambil sidik jari milik Ayu untuk membuktikan bersalah atau tidak. "Saya sudah menemukan siapa pelakunya," ucap salah satu polisi yang menghela nafas setelah memeriksa dengan sangat teliti.
"Apa wanita itu adalah pencurinya?" Tanya Vanya dengan penuh harap.
"Anda benar Nona, bahwa hasil sidik jarinya sangat cocok dengan Nona Ayu."
Ayu sangat terkejut dengan berita itu, tapi dia dengan cepat tenang kembali. Begitupun dengan Farhan yang juga terkejut mengenai hasil penyelidikan itu. "Aku sangat yakin jika Ayu tidak melakukannya," batin Farhan. Meski dia baru mengenal Ayu selama beberapa hari dia juga percaya bahwa wanita itu tidak akan mencuri.
Sedangkan Vanya tersenyum tipis melihat Ayu yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, begitupun dengan Wina dan juga Laras.
"Nama baik gadis kampung itu telah tercemar, itu akibatnya karena berani melawanku," gumam Vanya di dalam hati.
"Hah, tidak perlu repot-repot untuk mengusirnya," gumam Wina.
"Akhirnya kak Farhan bisa terlepas dari wanita miskin itu," batin Laras yang tersenyum puas.
Salah satu polisi berjalan mendekati Ayu, menatapnya dengan tajam. "Sebaiknya anda ikut kami ke kantor polisi untuk membantu investigasi selanjutnya," titah polisi itu dengan tegas.
"Aku tidak bersalah, untuk apa aku mengikutimu," tolak Ayu.
"Tolong kerjasamanya Nona, kami menjalankan sesuai prosedur yang ada. Jangan halangi pekerjaan kami," ucap polisi itu dengan lantang.
"Aku tidak perlu pergi kemanapun, bagaimana jika aku mengatakan bahwa mempunyai bukti untuk semua ini?" ucap Ayu yang menentang keputusan polisi tanpa ragu sedikitpun.
__ADS_1
"Jangan membuang waktu kami, ikut sekarang ke kantor polisi." Lantang polisi itu yang memaksa wanita sederhana yang ada di dekatnya.
"Seharusnya kalian mendengar dan melihat bukti yang ada, bukankah tugas kalian mengayomi masyarakat. Lalu apa ini? Bahkan kalian tidak ingin mendengarkan pembelaan diriku," cetus Ayu yang menentang polisi.
"Heh, kau sangat lucu sekali. Apakah bukti-bukti yang ada belum cukup? Jangan mempersulit pekerjaan polisi," celetuk Vanya yang tersenyum.
"Apa aku boleh meminjam cincin itu sebentar saja?" pinta Ayu yang menadahkan tangannya di hadapan polisi dengan ekspresi tenang dan begitu meyakinkan.
"Jangan mempersulit pekerjaan kami, Nona. Semuanya sudah jelas dan disaksikan banyak orang, sebaiknya anda mengikuti kami," tukas salah satu polisi yang menatap Ayu dengan tajam.
"Kalian boleh membawa aku pergi tapi sebelum itu, berikan aku waktu sepuluh menit saja, bagaimana?" Tantang Ayu yang ingin membuktikan diri dari tuduhan itu.
"Baiklah," jawab salah satu polisi itu dan menyerahkan cincin limited edition milik Vanya.
Ayu mengambil cincin itu membuat semua orang bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan. Perlahan tapi pasti, Ayu menyematkan cincin itu di jari manisnya yang putih, mulus, dan juga lentik.
Beberapa menit kemudian, muncullah reaksi pada cincin yang melingkar di jari manis milik Ayu. Sela-sela kulit jarinya memerah, bengkak, dan juga memiliki banyak benjolan kecil yang berisi air. Rasa gatal yang sangat luar biasa membuatnya terus menggaruk, reaksi alergi muncul membuat semua orang terkejut, begitupun dengan Farhan.
"Apa kalian melihatnya dengan jelas? Apa kalian mengerti dengan apa yang aku tunjukkan ini?" Ayu menunjukkan kepada semua orang mengenai kondisi dari tangannya yang alergi di hadapan semua orang.
"Astaga, kenapa tangannya seperti alergi begitu?" Bisik salah satu tamu.
"Apa tuduhan itu benar ada nya? Sepertinya dia hanya dijebak," jawab salah satu tamu yang juga berbisik.
"Kenapa dia menyakiti dirinya sendiri hanya untuk membuktikan dirinya yang tidak bersalah," gumam Farhan yang sedikit kesal.
__ADS_1
"Kalian pasti bertanya-tanya mengenai kondisi jariku yang alergi, tapi akan aku jelaskan. Aku sangat alergi memakai barang murahan itu, cincin yang dikatakan sebagai limited edition yang perlu dipertanyakan keasliannya. Aku alergi memakai bahan platinum, dan cincin itu terbuat dari platinum," ungkap Ayu dengan lantang sembari menatap Vanya dengan tajam. Ingin sekali dia tertawa karena bisa membalikkan keadaan dengan begitu mudah. Wajah Vanya seketika berubah, dia sangat kesal dengan rencananya yang tadinya mulus menjadi gagal total.
"Dia sangat pintar, semua rencanaku gagal total. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk di hadapan Farhan dan itu sangat tidak baik," batin Vanya yang sangat kesal sembari menahan amarah.
"Kalian bisa melihatnya dengan jelas dan mengambil kesimpulan," sela Farhan yang menatap polisi itu dengan tajam dan juga dingin.
Polisi itu mengalihkan pandangannya ke samping karena tak berani bertatapan mata dengan Farhan, dia sedikit malu dengan ucapannya yang tidak memberikan kesempatan kepada Ayu untuk membela dirinya sendiri. Para polisi itu sangat yakin jika ini adalah jebakan untuk mencemarkan nama baik.
"Nona Ayu, maafkan kesalahan kami yang tidak mendengarkan pembelaan diri dari anda," ucap salah satu polisi itu dengan penuh harap.
"Tidak masalah, aku bukanlah orang pendendam dan memaafkan mu."
"Terima kasih dengan kemurahan hati anda Nona."
"Hem." Ayu menganggukkan kepalanya dengan pelan, nama yang hampir saja tercemar dapat diselesaikan dengan sangat baik.
Tatapan semua orang menyorot pramusaji itu dengan tajam, seakan ingin menerkamnya karena telah berani menuduh Ayu dengan tuduhan palsu. Salah satu polisi menghampiri pramusaji yang terlihat ketakutan, tubuhnya seakan bergetar hebat. Tidak berani menatap semua orang, selain menundukkan kepalanya, meremas kedua tangan yang berkeringat.
"Ayo tatap mataku, bukankah kau tadi sangat berani dalam menuduh nona Ayu?" Tegas polisi yang menatapnya dengan tajam. "Ayo katakan, siapa yang memintamu untuk melakukan hal ini?!"
Lidah seakan keluh untuk mengatakan sebenarnya, tetapi sekarang keadaannya sangat berbeda.
"Di mana suaramu itu? Apa kau mendadak bisu?" Cibir polisi itu yang sangat geram. "Cepat bicara!" ancamnya.
"Ma-maafkan saya, Pak."
__ADS_1
"Maaf? Setelah semua ini? Dengan siapa kau bekerja? Apa ada orang lain yang bekerja di belakangmu?" Tanya sang polisi dengan beruntun.
"Maafkan aku, semua rencana yang terjadi karena ulahku." Pramusaji itu mengakui semua perbuatan yang dilakukan olehnya karena sangat membutuhkan uang, dan menerima resiko apapun itu. Jika dia tidak melakukan pengorbanan itu, maka Vanya tidak akan memberikannya uangnya sebagai upah.