
Dengan cepat, Farhan keluar dari mobil membuat Vanya mengerutkan keningnya karena penasaran dan membuatnya ikut turun seraya menghampiri pria tampan yang sedang mabuk berat.
"Ada apa? Kenapa kau keluar dari mobil, ayo masuklah." Tanya Vanya yang memegang bahu pria itu.
Farhan menoleh ke asal suara, memperhatikan wajah wanita di sebelahnya dengan seksama. "Kau bukanlah Kira ku!" ucapnya yang menunjuk wajah Vanya.
"Aku tidak menyangka jika kau begitu cepat melupakan aku." Ucap Vanya yang mulai menangis, berusaha untuk mendapatkan simpati dari pria yang disukai sejak lama.
Farhan membuka kelopak matanya dengan lebar menggunakan tangan, melihat wajah wanita yang sekarang sedang berdiri di hadapannya agar terlihat lebih jelas. Wanita yang terasa asing baginya. "Siapa kau?" tekannya dengan tatapan penuh keraguan.
"Aku tak percaya ini, kau...kau melupakan aku." Vanya berekspresi sebaik mungkin, mengeluarkan emosi kesedihan untuk membuat pria mabuk itu mempercayai ucapannya.
Seketika Farhan tersentuh dengan air mata palsu milik Vanya, mengusap air mata yang mengalir di pipi wanita itu dan juga membelai wajah. "Jangan menangis lagi, aku mempercayaimu!"
Seketika Vanya tersenyum tipis, memanfaatkan situasi dengan sebaik mungkin. Kembali memapah tubuh Farhan untuk masuk ke dalam mobil menuju rumahnya.
Di sepanjang perjalanan, Vanya menikmati momen itu. "Kira, kenapa kau pergi. Aku telah mencarimu di seluruh sudut kota, aku hampir berputus asa." Racau Farhan yang terus meneriaki nama Kira dengan lembut untuk menarik perhatian Vanya yang dianggap sebagai gadis kecil penyelamatnya dulu.
Vanya diam karena tak ingin menjawab perkataan dari Farhan, terus fokus ke arah depan. Mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju pulang ke rumahnya. "Kenapa kau diam saja!" racau Farhan dengan sedikit kesadaran.
"Ssst…diamlah. Sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Vanya yang menoleh sepersekian detik dan kembali fokus mengemudi.
__ADS_1
Setelah tiba di rumah milik Vanya, dia dengan hati-hati membantu Farhan keluar dari mobil, memapah pria itu menuju kamar miliknya. "Dia sangat berat sekali," batin Vanya yang mengeluh, namun kembali bersemangat saat pria pujaan hati akan menginap di kamarnya.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Farhan dengan sedikit kesadaran yang tersisa.
"Ke rumahku, kau pasti sangat lelah. Sebaiknya beristirahat semalam saja!"
Farhan ingin melihat dimana dia berada, namun kepala yang terasa berat membuatnya terus menunduk. Jika saja Vanya tidak memapahnya, dia akan terjatuh ke tanah dengan sangat mudah.
****
Sementara Ayu masih menyelesaikan pekerjaannya, menatap layar pipih di depannya dengan sangat teliti, menyelesaikan pekerjaan baginya tidaklah sulit. Menyandarkan punggungnya yang terasa kaku dan melihat jam di dinding. "Ini sudah jam sepuluh malam, sebaiknya aku pulang ke Mansion."
Ayu memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan menuju ke Mansion. Setelah beberapa saat, mobil berhenti di sebuah bangunan mewah. Berjalan untuk masuk ke Mansion, namun tempat itu terlihat kosong. "Kemana semua orang, dan dimana Farhan?" gumamnya sembari menautkan kedua alisnya. Terus berjalan, masuk ke kamar pria itu untuk mencari keberadaannya. Dia sangat bingung dengan situasi sepi saat ini.
"Hah, bahkan dia juga tidak ada di ruang kerja. Apa masih berada di kantor atau ke studio?" terka Ayu yang mulai memikirkan kemana perginya Farhan. "Sebaiknya aku ke studio saja," putusnya yang bergegas pergi.
Sesampainya di ruangan studio, menyusuri pandangan di ruangan itu untuk fokus mencari keberadaan Farhan. Seseorang yang melintas dengan cepat dicegatnya. "Apa kau melihat tuan Farhan?" tanyanya dengan desakan.
"Hem, tidak." Sahut orang itu yang menggeleng kepala.
"Baiklah, terima kasih." Ayu tersenyum kecut saat melihat kepergian orang itu. "Sebaiknya aku melanjutkan pekerjaan di sini, mungkin saja dia akan datang."
__ADS_1
Ayu menghampiri salah satu penanggung jawab studio. "Bagaimana perkembangan dan kemajuan studio?" tanyanya yang tersenyum, menyimpan rasa khawatir dan juga cemas memikirkan Farhan yang belum terlihat.
"Sangat baik, kemajuan yang pesat." Jawab Anto sebagai penanggung jawab.
"Bagus, pertahankan. Aku menyukai kinerjamu!" semangat Ayu yang tersenyum beberapa saat.
Ketika dia menyelesaikan pekerjaan di studio, jam menunjukkan pukul satu pagi dan belum melihat kedatangan pria yang dia tunggu dari tadi. Ayu memutuskan untuk kembali ke Mansion dan berharap jika pria itu ada di sana.
Saat di Mansion, Ayu kembali mencari keberadaan Farhan yang tak terlihat di mana pun. Mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang selalu dibawanya, mencari nomor kontak dan ingin menghubunginya.
Vanya membantu Farhan, membaringkan tubuh yang sangat berat untuk seukuran wanita sepertinya. Melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya, menatap wajah pria tampan dengan dalam. Entah berapa lama Vanya menatap Farhan, memberanikan diri untuk berbaring di sebelah pria itu.
"Ku terlihat sangat tampan jika di lihat dari dekat, aku sangat senang dengan situasi saat ini dan berharap waktu berhenti." Lirih Vanya, hingga timbul sebuah ide kotor di pikirannya.
Vanya Menindih tubuh Farhan dengan pakaian seksi yang masih melekat di tubuhnya, mengusap dada bidang pria itu dan membelai wajah. Gejolak gairah yang ada di dalam tubuh, membuat Vanya berani melakukan apapun untuk mendapatkan sang pujaan hati.
Vanya tersenyum puas, saat berhasil membuka kancing kemeja milik Farhan satu persatu, membayangkan jika dirinya bersanding dengan pria itu. Dia memeluk tubuh Farhan dengan sangat erat, merasa bahagia saat merasakan detak jantung sang pujaan yang sangat dekat. Aroma mint dari nafas Farhan membuatnya mabuk dalam gairah.
Tanpa menyia-nyiakan waktu, Vanya mencium bibir Farhan yang membuatnya ingin melakukan lagi. Melu*mat bibir sang pujaan hati, mendapatkan sensasi yang begitu dia dambakan sejak dulu. Ingin melanjutkan langkah selanjutnya, tapi Farhan melihatnya dengan penuh keanehan. Dengan cepat Farhan mendorong tubuh Vanya hingga terjungkal ke sisi ranjang.
Farhan memegangi kepala dengan kedua tangannya, berusaha untuk bangun dan ingin pergi dari ruangan yang menurutnya sangatlah aneh. Baru saja dia ingin melangkah, Farhan tak dapat menopang tubuhnya sendiri hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh kembali ke tempat tidur karena terlalu mabuk.
__ADS_1
Vanya menyingkirkan rambut di wajahnya, tersenyum mengejek saat melihat Farhan yang tak berdaya. "Sayang sekali, aksinya tak membuahkan hasil."
Terdengar suara nada dering ponsel, Vanya mencari asal suara dan menemukan ponsel yang terselip di saku celana milik Farhan. Melihat dengan jelas nama si penelpon yang tak lain adalah Ayu. "Sepertinya ini sangat seru!" gumamnya seraya mengangkat telepon.