Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 174 ~ Mencari dokter Zaki


__ADS_3

Ayu tak habis pikir dengan wanita itu, dia mengerti jika Kira benar-benar menuduhnya melakukan hal yang tidak dia lakukan. "Aku? Bukankah kau sendiri yang mendorong dirimu sendiri?" tukasnya yang membungkukkan badan, tak ingin kalah dari wanita itu.


Kira menangis tersedu saat mendengar suara yang dilontarkan oleh Ayu sedikit keras, membuat Farhan segera menghampiri mereka. 


"Astaga…ternyata inilah yang dia maksud, agar aku dan Farhan bertengkar kembali. Dasar wanita licik!" batin Ayu yang mencerna dan memahami rencana dari Kira agar dia menjauh.


"Kenapa kau kasar padaku? Apa kesalahanku yang membuatmu begitu marah? Bukankah aku sudah menjelaskannya?" seru Kira yang bersemangat dalam berakting semakin membuat Ayu merasa jijik dengan sikap sok polos yang di tunjukkan.


"Berhentilah berakting! Kau sendirilah yang mendorong tubuhmu sendiri."


Kira semakin mengeluarkan air mata, membuat Farhan segera menghampirinya dan membantu. "Apa yang kau lakukan dengannya, itu sangat keterlaluan. Cepat, minta maaf padanya!" 


"Aku tidak akan meminta maaf, aku tidak melakukan apapun padanya."


"Sudahlah, Farhan. Jika dia tak ingin meminta maaf, mengapa kau memaksanya?" sela Kira yang berpura-pura sedih, seraya melirik Ayu dengan wajahnya yang licik.


"Tidak bisa, dia harus meminta maaf padamu." Keukeuh Farhan menatap Ayu dengan sarkas. "Minta maaf dengannya sekarang juga!" titahnya tak ingin di bantah.


Sontak Ayu sangat terkejut dengan perkataan Farhan yang seakan tidak mempercayainya setelah keberadaan Kira muncul kembali. "Kau sudah berubah, Farhan. Dulu kau begitu mempercayai ku dan sekarang__."


"Minta maaf, sekarang juga!" ucap Farhan yang meninggikan suaranya.


"Sudahlah, jangan memaksanya. Biarkan saja, yang terpenting kau di sini dan melihat segalanya." Sela Kira yang terus berusaha untuk mendapatkan simpati dari pria tampan di sebelahnya.


"Pantang bagiku untuk meminta maaf dengan apa yang tidak aku lakukan, mau sekeras apapun kau berusaha."


"Jangan bersikap kurang ajar!" tukas Farhan menatap mantan calon tunangannya dengan tajam.


"Ck, tadi dia menciumku. Lalu? Sekarang malah membela wanita ular ini, sungguh luar biasa." Ketus Ayu yang benar-benar merasa sakit.


"Aku tidak memaksamu untuk meminta maaf, setidaknya kau merasa bersalah." Celetuk Kira yang tersenyum ke arah rivalnya.


"Terserah dan lanjutkan saja drama juga aktingmu, kau sangat berbakat dalam profesi itu." 


"Apa yang kau bicarakan, tidak ada gunanya aku melakukan hal yang sangat bertentangan dengan prinsipku!" sendu Kira yang sangat sedih berlinangan air mata.

__ADS_1


Ayu menghela nafas dengan jengah, menatap dua orang di hadapannya yang membuatnya merasa sangat jengkel dan juga kesal. Farhan bahkan malah menuduhnya mendorong tubuh wanita lugu itu. "Aku mengatakan kenyataannya, kapan aku mendorongmu? Bahkan kau sendirilah yang menjatuhkan dirimu, kau sangat pintar dalam menjebakku dalam situasi ini dan seolah-olah akulah yang bersalah. Bahkan Farhan mempercayai mu!"


Kira mendekatkan kepalanya untuk bersandar di di bahu milik Farhan, dia sangat ketakutan hingga melingkarkan kedua tangannya pada tubuh kekar itu. "Aku sangat takut padanya, apa aku salah dalam hal ini? Bahkan aku selalu saja di bentaknya dengan kasar." Adunya membuat Farhan menatap Ayu tajam.


"Lihat! Kau membuatnya sangat takut, hanya meminta maaf saja. Tapi, kau malah berkata kasar. Aku melihat segalanya!"


"Apa yang kau ketahui? Hanya separuh dari kebenaran saja, gunakan otakmu untuk menyalahkan aku, periksa saja Cctv di sini. Ini sangat keterlaluan!" balas Ayu yang sangat sakit hati, melihat pria yang begitu cepat melupakan momen ciuman tadi. 


Tanpa mengatakan satu kata pun, Farhan membawa Kira beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan Ayu yang menatap punggung mereka dengan mata tak percaya. Kembali merasakan kekecewaan, jika saja Kira tidak datang, mungkin mereka akan baikan. Dia berpikir lama, merasakan ada kejanggalan yang terjadi. "Ada sesuatu yang salah, tapi apa?" monolognya yang segera melupakan hal itu, memikirkan nasib sang kakek Hendrawan yang berada di rumah sakit.


Ayu segera mengeluarkan ponselnya dan ingin menghubungi kakek nya sendiri, dia sangat merindukan pria tua itu. 


"Halo, kek!"


"Halo."


"Bagaimana keadaanmu, kek?"


"Aku baik-baik saja, ada apa?"


"Hah, kau meneleponku saat menginginkan sesuatu saja. Apa kau berbohong dengan mengatakan jika kau merindukan pria tua ini?"


"Jangan bersikap narsis, kek. Tentu saja aku merindukan kakek, hanya saja kakek selalu sibuk."


"Ck, dasar cucu nakal. Kau selalu saja menyudutkan pria tua ini!"


"Ayolah kek, bersikaplah seperti biasa. Aku ingin bertanya satu hal saja!"


"Baiklah, katakan!"


"Aku ingin bertanya mengenai keberadaan dokter Zaki."


"Dokter Zaki? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu!"


"Si dokter jenius yang sangat ahli medis, apa kakek sudah mengingatnya sekarang?"

__ADS_1


"Kakek ingat, dia dokter yang selalu dicari oleh orang. Namun keberadaannya tidak diketahui oleh siapapun."


"Apa kakek mengetahui keberadaannya?"


"Kakek tidak terlalu yakin, karena keberadaannya sangat di rahasiakan. Tapi, kemungkinan dia tinggal di hutan di kota A."


"Apa kakek yakin?"


"Kakek juga tidak terlalu yakin, sangat mustahil menemukan keberadaannya. Tapi menurut informasi yang kakek dapatkan, beliau ada di hutan itu, untuk memudahkan pekerjaannya dalam meneliti sesuatu."


"Baiklah, kek. Terima kasih mengenai informasi yang diberikan, aku sangat mencintaimu, kek."


"Kakek juga!"


Ayu segera memutuskan sambungan telepon, dia bisa bernafas longgar saat mendapatkan informasi penting itu. "Apa alasan dokter itu tinggal di hutan? Bukankah dia sangat jenius dan banyak orang yang mencari keberadaannya. Apa yang dia hindari? mungkin saja dia mendambakan kehidupan di hutan yang jauh dari hiruk-pikuk kota." Gumamnya seraya bertekad untuk mencari keberadaan sang dokter jenius yang sudah lama menghilang dari dunia medis. 


Ayu tidak menghiraukan hal yang lain selain kondisi kakek yang tidak baik akibat pernyataannya tempo hari, sangat menyesali perbuatannya sendiri. "Karena aku kakek Hendrawan mengalami hal ini, aku akan bertanggung jawab dengan mencari dokter itu dan masuk ke dalam hutan sendirian saja." Batinnya dengan penuh tekad yang kuat.


Dia melangkahkan kaki untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke apartemen milik Gabriel, namun di saat menuju masuk ke apartemen, dia melihat keberadaan sang manajer yang menunggunya sedari tadi. "Ada apa kau menungguku?"


"Aku menemukan satu jalan untuk menyembuhkan kakeknya Farhan!" seru sang manajer yang sangat bersemangat menghampiri atasannya.


"Apa?" tanya Ayu yang sudah menebak jawaban berikutnya.


"Yaitu dokter Zaki, tapi aku tidak tahu di mana lokasinya berada."


"Dia ada di hutan kota A, dan hanya termasuk dalam kemungkinan saja."


"Eh, kau sudah tahu?" tanya manajer yang dengan cepat di anggukkan kepala oleh Ayu.


"Aku ingin mencarinya di hutan!" putus Ayu yang sangat yakin.


"Aku ikut bersamamu!"


"Baiklah, terserah kau saja."

__ADS_1


Tempat yang cukup jauh mereka tempuh, Ayu segera memesan tiket pesawat untuk pergi ke sana. Namun dia melihat beberapa pesan yang muncul di ponselnya.


__ADS_2