Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 165 ~ Serentetan pertanyaan


__ADS_3

Wina dan laras tersenyum melihat kondisi Ayu yang sangat malang, membuat keduanya menghampiri wanita malang itu. "Ini semua salahmu, dan ingin meminta pertanggung jawaban darimu!" cibir Laras seraya melipat kedua tangannya dan tersenyum sinis.


Ayu menatap mereka dan segera menyeka air mata. "Apa kalian selalu seperti ini?" balasnya dengan tenang membuat kedua wanita itu mengerutkan kening.


"Ck, katakan dengan jelas!" ketus Wina tak mengerti.


"Maksudku, kalian menginginkan aku bertanggung jawab mengenai kondisi kakek yang buruk. Tapi kalian sendirilah yang mencoba menghalangi ku."


"Aku tidak peduli!" jawab Laras dengan acuh, tersenyum karena mempunyai rencana agar Ayu segera meninggalkan kakak sepupunya. 


Tanpa menunggu waktu yang sangat lama, beberapa reporter berlari ke arah mereka. Laras kembali menghubungi semua reporter yang diusir oleh Farhan agar tidak kembali sebelum mendapatkan sebuah berita terbaru. 


Ayu sedikit terkejut, karena sekarang dia dikerubungi oleh para reporter. "Bukankah mereka telah diusir tadi? Apa ini rencana mereka lagi? Keduanya selalu saja mempersulit keadaanku," batinnya seraya menghela nafas panjang, melirik Laras yang tengah tersenyum puas dengan situasi semakin buruk.


"Kenapa anda membatalkan pertunangan ini?"


"Apakah ada pihak ketiga yang merusak hubungan yang sebelumnya sangat baik?"


"Apa menurut anda itu keputusan yang tepat?" 


"Kondisi tuan Hendrawan menjadi tidak baik, kenapa anda tidak bertanggung jawab?"


Serentetan pertanyaan yang membuat kepala Ayu hampir meledak, tak sanggup perkataan yang selalu menudingnya bersalah. "Hentikan! Sebaiknya pergilah dari sini!" kesalnya yang mengusir semua reporter itu.


"Kami sangat membutuhkan informasi ini dan memuatnya di berita, tolong kerjasamanya!"


"Apa? Kerjasama apa tang kalian maksud, hah? Pergilah dari sini, karena aku tidak akan menjawab pertanyaan kalian."

__ADS_1


Reporter terdiam, tapi bersikukuh untuk mendapatkan informasi berita yang sangat bagus.


"Itu tandanya kau bersalah dengan mengusir reporter itu, sebaiknya kau tinggal menjawab saja dan…selesai." Sela Laras yang di anggukkan kepala oleh semua reporter.


"Sangat mudah mengatakan segalanya, tapi sangat sulit untuk dilakukan. Apa gunanya kalian masih disini dan menghabiskan banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia? Apa tidak ada yang peduli kepada kakek?" ucap Ayu yang menatap dua orang berbeda usia itu bergantian.


Wina dan Laras terdiam beberapa saat, kemudian kembali mencibir Ayu dengan harapan, jika wanita kampung itu segera meninggalkan Farhan. 


Seakan perkataan Ayu yang tidak berguna, mereka enggan untuk pergi dari sana. Suasana dan sutuasi yang sangat pas untuk mencemarkan nama baik calon tunangannya.


"Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada wanita ini, untuk belajar dari kesalahannya. Wanita yang tidak berperasaan seperti dirinya dan tidak bermoral. Untung saja pertunangan kalian dibatalkan, karena tuhan menunjukkan jalan keluar." Laras menunjuk Ayu dengan antusias dan bersemangat, mencemarkan nama baik wanita kampung dan perebut Farhan darinya. 


"Ya, beruntung putraku tidak jadi menikah denganku. Nasib buruk mempunyai menantu udik sepertinya!" sambung Wina yang mendapatkan sorotan dari para reporter, meliput wanita paruh baya. Dengan cepat mereka semua mengerubungi Wina dan Laras  untuk menanyakan lebih lanjut.


Kedua manusia licik itu saling melirik, berhasil memegang kendali dengan sangat baik. Sementara Ayu, dia menghela nafas dengan dua orang pengganggu yang tidak ada habisnya. 


"Kenapa kau melakukan ini kepada kami? Kau bagaikan bencana!" tukas Laras yang menatap Ayu, terlihat sedih agar harga diri calon tunangan Farhan jatuh dan otomatis menjauhi kakak sepupunya.


Ayu berlalu pergi dari tempat itu, menerobos para reporter dengan santai. Lain hal dengan Laras yang sangat sakit hati.


Melangkahkan kakinya segera keluar dari tempat itu dengan langkah gontai, tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. 


"Kau tidak apa-apa?" tanya sang manajer yang memeluk bos nya dengan erat, memberikan kekuatan agar wanita di dalam pelukannya merasa tenang. 


Ayu mengangguk pelan dan membalas pelukan beberapa saat, tak sengaja matanya melihat sahabat pria yang tak lain adalah Gabriel. "Kau juga di sini?"


"Tentu saja, aku ingin menemani sahabatku di dalam keadaan sulit seperti ini." Jawab Gabriel tersenyum tulus menatap sang pujaan hati dengan hati yang terluka. "Aku akan selalu menemanimu di keadaan sedih ataupun senang, bagaimana jika aku mentraktir kalian makan di restoran?"

__ADS_1


"Tidak, sebaiknya kalian pergi dari sini. Aku hanya ingin sendiri!" lirih Ayu.


"Ayolah, aku jamin kesedihan yang kau alami segera menghilang dengan cepat."


"Tolong mengertilah! Aku hanya ingin menghabiskan waktu sendiri saja."


"Baiklah, jika itu keputusanmu kami berdua akan pergi dari sini." Sahut Gabriel yang pergi dari tempat itu, di susul oleh manajer.


Ayu kembali melangkah sembarang arah, memikirkan apakah keputusan yang diambil sudah tepat. "Seakan akulah yang bersalah, apakah kesalahanku sangatlah fatal. Tapi aku membatalkan pertunangan itu karena tak ingin menjadi pengganti orang lain. Apalagi Kira sudah kembali!" batinnya yang berdiam diri menikmati setiap tetesan air hujan untuk membasahi tubuhnya.


Hujan deras turun seakan memahami perasaan yang dialami olehnya, rasa sejuk di biarkan tanpa berniat untuk berteduh. Namun, Ayu heran saat dirinya tiba-tiba tidak kehujanan lagu, melihat sebuah payung di atasnya. Dia segera menoleh dan melihat Gabriel yang memayunginya. "Kenapa kau masih di sini?"


"Aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri, apalagi masalah di pundak mu amat banyak." Jawab Gabriel yang memahami kondisi sang pujaan, semua permasalahan yang ada di ceritakan oleh manajer Ayu. Sangat mengasihani wanita itu membuatnya sedikit terluka, namun masih mengingat batasannya sebagai seorang sahabat.


****


Di dalam rumah sakit, Farhan dengan panik bertanya dan mendesak dokter mengenai penyakit sang kakek. "Kenapa kau diam saja? Cepat katakan kondisi kakek ku!" 


"Pasien harus segera di operasi." Ucap sang dokter tak menghiraukan perkataan Farhan, karena saat ini keadaan pasien kritis.


"Apa?"


"Ya, karena kondisinya kritis dan membutuhkan penanganan lanjut." 


Setelah itu, kakek didorong ke ruang operasi. Farhan terdiam beberapa saat, memikirkan banyak hal dengan situasi yang sangat sulit ini. 


Tibalah asisten Heri, Wina, dan Laras datang menemaninya. 

__ADS_1


Laras tak lupa untuk mencibir Ayu dan mengatakan hal yang tidak-tidak, berharap wanita itu tersingkirkan san semakin dibenci oleh kakak sepupunya. Namun Farhan tak peduli, berlari menuju ruang operasi, di ikuti oleh mereka.


Setelah beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi terbuka.


__ADS_2