Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 83 ~ Farhan yang menguntit


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, pikiran Farhan dipenuhi oleh Ayu. Membayangkan saja membuatnya sedikit takut, bagaimana tidak? Jika wanita itu akan menemui Gabriel. Menatap jam yang melingkar di tangannya, dan melirik asisten Heri beberapa detik. 


"Katakan jadwal hari ini!" ucap Farhan  tanpa menoleh. 


"Setengah jam lagi rapat, Tuan!" jawab asisten Heri yang fokus mengemudi. 


"Hem, batalkan rapatnya!" titah Farhan tanpa bantahan. "Dan putar arah!" 


"Kita mau kemana, Tuan?" tanya asisten Heri yang mengerutkan kening karena penasaran. 


"Jangan banyak tanya, lakukan perintahku!" tekan Farhan membuat asisten Heri pasrah. 


Setelah memutar balik arah, asisten Heri mulai paham. Saat melihat Gabriel yang datang menjemput Ayu, untung saja mereka datang tepat waktu. Farhan melihat dengan raut wajah yang serius, tatapan tajam terus menyorot pria yang sedang memegang tangan wanitanya. "Ikuti mobil mereka!" perintahnya. 


"Baik, Tuan." Sahut asisten Heri dengan cepat, apalagi melihat Gabriel yang membantu Ayu masuk ke dalam mobil, terlihat mesra. "Wow, sepertinya ini akan menjadi topik utama!" batinnya yang mendapatkan bahan gosip, raut wajah tersenyum cerah. 


"Singkirkan pikiran kotormu atau kau dipecat!" celetuk Farhan yang menyadari niat buruk dari asistennya. 


"Astaga…ternyata Tuan Farhan mengetahui niatku!" gumam asisten Heri di dalam hati. "Jangan di pecat, Tuan. Aku tidak akan mengulanginya."


"Hem, jangan banyak bicara. Fokuslah mengikuti mobil itu."


"Laksanakan, Tuan." Sahut asisten Heri yang menambah kecepatan laju mobil. 


Farhan semakin gelisah melihat Gabriel membawa Ayu, lamunannya terpecahkan saat mobil berhenti di depan Restoran mewah dan berkelas. "Kita sudah sampai, Tuan." 


"Hem, kau tunggu di sini dan urus masalah rapat yang dibatalkan." Farhan menatap tajam asistennya, menuruni mobil dan mengikuti kemana Ayu dan Gabriel pergi. Sedangkan asisten Heri menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan bosnya yang terkenal arogan. "Apa tuan Farhan berganti profesi sebagai seorang penguntit?" gumamnya yang sangat menyayangkan hal itu. 


Sementara di sisi lain, Gabriel membantu wanita cantik itu untuk turun dari mobil. Tersenyum menawan dan membawa Ayu untuk masuk ke dalam Restoran mewah. Salah satu pelayan menghampiri mereka, menyapanya dengan sopan. 


"Selamat datang, Tuan dan Nona!" sapanya dengan sopan. 


"Hem, aku ingin membooking tempat ini." Ucap Gabriel. 


"Baiklah, saya akan mengosongkan tempat ini."


"Kita hanya makan saja, kenapa harus membooking tempat ini?" tanya Ayu. yang mengerutkan kening. 


"Aku tidak ingin privasiku diganggu!" sahut Gabriel dengan santai. 


"Hah, terserah kau saja." Ayu menghela nafas, melihat sikap Gabriel yang menurutnya sedikit berlebihan. 


Gabriel kembali menatap pelayan itu. "Hem, satu lagi! Aku tidak ingin privasiku diganggu, jangan biarkan orang lain masuk ke dalam Restoran." Ucapnya dengan tegas. Pelayan Restoran menunduk dan mengiyakan perkataan dari sang aktor. Gabriel membawa Ayu ke kursi yang telah disediakan, memperlakukan wanita itu dengan istimewa. 


"Apa kau menyukai tempat ini?" tanya Gabriel dengan penuh cinta. 


"Aku menyukainya." 

__ADS_1


"Itu bagus!" setelah menarik kursi, Gabriel duduk berhadapan langsung dengan sang pujaan hati. "Ini terlihat seperti kencan, apa kau punya pemikiran yang sama denganku?" celetuknya yang tersenyum tipis. 


"Kau sudah tahu alasan kita datang ke sini." Cetus Ayu yang menatap pria di hadapannya. 


"Hah, bisakah kita membahas hal yang pribadi?" ujar Gabriel. 


"Aku tidak punya waktu untuk itu, sebaiknya kita mulai membicarakan masalah pekerjaan saja." 


"Baiklah, jika itu keinginanmu." Pasrahnya yang memelas. 


Sebelum membicarakan rencana bisnis, Ayu pindah tempat duduk di sebelah Gabriel, membuat pria itu tersenyum cerah. "Apa itu artinya kau mulai menyukaiku?" 


Ayu yang awalnya fokus, mengalihkan perhatiannya sejenak ke arah pria di sebelahnya. "Aku memperlihatkan rencana bisnis kepadamu, jika berjauhan kau pasti tidak bisa mendengarnya dengan sangat baik."


"Baiklah…jelaskan rencana bisnis mu." Uja Gabriel dengan santai, merentangkan tangannya dan meletakkan di atas bahu wanita di sebelahnya, terlihat romantis. 


"Singkirkan tanganmu!" ketus Ayu yang kesal dengan keusilan Gabriel. 


"Apa? Tanganku pegal, tidak ada salahnya aku meletakkan di atas bahumu."


"Terserah kau saja, tapi perhatikan pekerjaanmu."


"Tidak masalah," Gabriel tersenyum kemenangan, namun sepasang mata menyorot mereka dari luar Restoran dengan tatapan tajam. 


Farhan mengepalkan tangannya dengan sempurna, keromantisan Ayu dan Farhan terlihat jelas saat dinding Restoran itu terbuat dari kaca. Melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam, hati yang panas membuatnya tak bisa menunggu lebih lama lagi. 


"Berani sekali kau menghalangi jalanku!" ucap Farhan yang menatap dua petugas dingin. 


"Kami hanya menjalankan perintah!" 


"Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian, jadi menyingkirlah!" 


"Tolong kerjasamanya." Tolak salah satu petugas. 


Farhan tidak menyukai hal ini. "Aku akan pergi! Tapi sebelum itu, panggillah bos kalian ke sini." 


"Baiklah." Salah satu petugas pergi mencari bos dari Restoran itu, dan petugas yang lainnya mengawasi Farhan. 


Tak lama, seorang pria paruh baya datang, dia ingin menyelesaikan masalah yang terjadi. Sontak menjadi terkejut saat melihat siapa orang yang ingin dia hadapi. "Tu-tuan Farhan!" 


"Hem, akhirnya kau mengingatku." Cibir Farhan. 


"Tentu saja aku mengingat, Tuan."


"Kedua petugas ini mencegatku untuk masuk ke dalam!" keluh Farhan to the point. 


"Maaf, Tuan! Mereka petugas baru dan tidak mengetahui apapun," jawab pria paruh baya itu seraya cengengesan, menjitak kepala dua petugas dengan sangat keras. 

__ADS_1


"Apa kalian ingin membuatku bangkrut?" bisik pria paruh baya yang memarahi petugasnya. 


"Tapi, bos! Kami hanya menjalankan tugas saja."


"Dasar bodoh, kalian tinggal di zaman apa hah? Jangan pernah menyinggung tuan Farhan atau kalian akan terkena masalah besar." Bisik pria paruh baya yang memperingati kedua petugas itu. 


"Maafkan kami Tuan, silahkan masuk!"


Farhan yang menatap lurus tanpa menjawab perkataan kedua petugas itu, menghampiri dua orang yang membuatnya cemburu. "Ehem!"


Mereka mengalihkan perhatian menatap sumber suara, terkejut dengan kedatangan Farhan. "Kau di sini? Bukannya kau mengatakan ke kantor?" tanya Ayu yang mengetahui jadwal rapat Farhan. 


"Aku membatalkannya." Sahut Farhan enteng. 


"Jangan katakan jika kau mengikutiku?" tebak Ayu. 


"Yap, itu benar." Farhan menarik kursi dan duduk berhadapan. 


"Kau seperti tidak punya pekerjaan saja."


"Aku hanya mengawasi, dan memantau pekerjaan secara langsung."


"Ck, kau datang bagai tamu tak diundang. Pergilah dari sini!" usir Gabriel. 


"Aku bos dari wanita yang ada di sebelahmu, dan aku hanya memantau bagaimana pekerjaannya."


Ayu mulai kesal dengan Farhan yang selalu menggunakan kekuasaannya untuk mengendalikan dirinya. "Aku tidak menyukai jika seseorang mencoba mengatur privasiku." 


"Dan mulai sekarang, buatlah dirimu terbiasa dengan itu!" sahut Farhan. 


"Kau sama saja memaksanya!" celetuk Gabriel. 


"Diamlah, aku tidak membutuhkan perkataan mu." Cetus Farhan. 


"Sudah cukup! Kau jangan keterlaluan, mengaturku seolah-olah kita ini pasangan kekasih, mengikutiku sama saja mengorek privasi. Jangan lupakan mengenai percobaan perjodohan ini!" ucap Ayu yang meninggikan suaranya, karena sepulang dari kantor polisi membuat mood nya sangat buruk. Berpikir jika Farhan menghabiskan waktu satu malam bersama. 


Gabriel mengulas senyum tipis, sangat bahagia mendengar perkataan Ayu yang membuat Farhan terdiam. 


"Sebaiknya kau kembali, aku akan menyelesaikan permasalahan ku dengannya!" ucap Ayu yang menatap Gabriel. 


"Apa? Kau mengusirku?" protes Gabriel. 


"Tolong, mengertilah!" 


"Baiklah, aku akan pergi." Gabriel terpaksa pergi, dia sangat kesal dengan kehadiran Farhan yang mengganggunya. 


Setelah kepergian Gabriel, Farhan menatap kedua mata wanita itu. Berjalan semakin dekat, membuat Ayu terus melangkah mundur, hingga tidak bisa memundurkan kakinya lagi saat punggungnya di hadang dinding. Dia ingin kabur, tapi terlambat saat kedua tangan menghalanginya. Jarak diantara mereka sangat dekat, bahkan hembusan nafas Farhan dapat dirasakan oleh Ayu. 

__ADS_1


__ADS_2