
Sorot mata tajam tak pernah lepas di lontarkan kepada pria itu, memegang pergelangan tangannya yang terasa sedikit sakit. "Kenapa kau menarikku?" sarkasnya.
"Aku risih jika berdekatan dengan Vanya."
"Aku mengira jika kau menyukai tindakannya yang agresif itu. Lihatlah perjuangannya yang rela datang ke Perancis, selalu menempel seperti cicak." sindir Ayu kesal, tak menduga jika Vanya menyusul mereka.
"Kau cemburu?" Farhan tersenyum saat memandangi wajah wanita di hadapannya.
"Tidak, hubungan kita tidak sesimpel itu." Kilah Ayu memalingkan wajahnya ke samping, menutupi ekspresi agar tidak bisa dibaca oleh pria di hadapannya, tapi terlambat karena Farhan memahaminya. "Kau cemburu!" tekannya yang tersenyum tipis, mencubit kedua pipi Ayu karena sangat gemas.
"Apa yang kau lakukan?" seloroh Ayu yang menepis tangan Farhan, memegang kedua pipi yang terasa sakit, wajah cemberut serta mengerucutkan bibir.
"Kau tampak sangat menggemaskan saat merasa cemburu."
"A-aku tidak cemburu!" elak nya lagi.
"Kau selalu saja berkilah, tapi raut wajahmu mengatakan hal yang berbeda, itu bagus! Artinya kau mencintaiku." Ucapnya yang puas.
"Hah, sebaiknya aku pergi saja." Ayu ingin pergi meninggalkan tempat itu, namun ditahan oleh Farhan dan masuk ke dalam pelukannya.
"Farhan, lepaskan aku!" Ayu memberontak berusaha untuk melepaskan diri.
"Semakin kau memberontak, semakin aku mempererat pelukannya!" ancam Farhan membuat Ayu dia terpaku.
Rasa nyaman yang di berikan Farhan mampu membuat Ayu terdiam dan mulai menikmati setiap detiknya, hembusan nafas beraroma mint semakin membuatnya betah. Situasi yang pas, sunyi, sepi, dan hening tak di lewatkan oleh pria itu.
Farhan memiringkan kepala dan mencium bibir indah itu, menikmati dengan lidah yang menjelajah. Mengabsen setiap deretan gigi satu persatu, dan tak lupa saling bertukar saliva. Ayu menikmati permainan dari pria yang memeluknya, semakin membuat calon tunangan sekaligus bosnya bersemangat. Keduanya hanyut dalam keromantisan mereka, tidak melewatkan satu detikpun menikmati momen indah.
__ADS_1
Farhan segera melepaskan ciuman, menatap kedua manik mata yang terbuka dengan perlahan. Memberikan ruang untuk menghirup oksigen, mengetahui jika Ayu sedikit merasa sesak. "Bernafaslah!"
Ayu menghirup oksigen dan menyeka mulutnya menggunakan tangan.
"Kau tidak boleh menyekanya!" ucap Farhan yang tidak menyukainya.
"Biarkan saja!" jawab Ayu yang masih menyeka mulutnya.
Farhan tersenyum saat ide yang melintas di otaknya, memegang tengkuk wanita di hadapannya dan kembali berciuman dalam juga panas, melepaskan sejenak seraya menatap kedua mata indah. "Kira, aku sangat merindukanmu," lirihnya pelan seraya mempererat pelukannya.
Tatapan Ayu berubah tajam, penuh kekecewaan akibat Farhan memanggil nama orang lain di saat mereka sedang berdua. Dia tak bisa menerima hal itu, hingga melayangkan sebuah tamparan ke wajah Farhan. "Apa kau sadar? Jika perkataanmu membuatku sangat kecewa."
Farhan memegang pipinya yang terlihat bekas merah akibat tamparan yang cukup keras, menatap Ayu dengan pongah, keceplosan saat memanggil nama yang salah. Dia tak bisa mengendalikan dirinya saat orang yang sama ada di hadapannya, tapi lebih nyaman memanggil dengan sebutan Kira. Mencari jawaban untuk membalas perkataan dari calon tunangan nya. "Aku sedikit lelah, itu sebabnya perkataanku melantur."
"Berhentilah bicara omong kosong, jika di hatimu masih ada Kira? Maka kejarlah dia, dan berhenti menemuiku!" tegas Ayu yang berusaha menutupi hati yang tergores tipis.
"Maaf, jika aku membuatmu sakit hati. Sungguh, aku tak bermaksud mengatakan itu, semuanya ada di luar kendaliku."
"Itu karena di hatimu masih mencintai dewi penolongmu." Sela Ayu dengan cepat.
"Percayalah padaku, aku mencintaimu dan akan tetap begitu." Farhan menjelaskannya, tapi Ayu tak menggubris dan mendelik kesal, berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Tangannya di cekal, terpaksa menghentikan langkah dan menoleh. "Jangan menahanku!" cetusnya.
"Jangan pergi, kau hanya salah kaprah dalam memahamiku. Jujur di hati yang paling dalam, jika aku hanya keceplosan saja." Tatapan penuh harapan dan berusaha untuk meluluhkan hati calon tunangannya.
"Itu pilihanmu, jika kau sudah mengatakannya, maka aku mengambil alih. Apa kau ingin mendengar jawabanku tentang perasaanku padamu? Maka aku akan memberikannya sekarang!" ketusnya.
"Tidak, jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi." Farhan tak ingin jika Ayu memutuskan untuk membatalkan perjodohan hanya karena masalah sepele.
__ADS_1
"Kalau begitu, singkirkan tanganmu!" ucap Ayu seraya melirik tangannya. Farhan mengalah dan melepaskan sekretaris sekaligus calon tunangannya. Tak ingin jika suasana semakin kacau, jika mengikuti logika.
Ayu berjalan keluar dari kamar Farhan, perasaan yang bercampur aduk. Antara gelisah, marah, cemburu, dan jengkel. Dia sangat takut dan waspada jika sewaktu-waktu Kira kembali dan merebut Farhan darinya, perasaan yang cemas tak bisa dilukiskan saat itu, di tambah calon tunangannya yang tidak memahami hal itu.
****
Sementara Vanya berjalan menuju kamar hotelnya dengan langkah gontai, ditambah lagi kemarahan yang menyelimuti hati semakin terasa sesak di dada. "Apa hebatnya wanita kampung itu? Selalu saja berhasil dari jebakanku, dan sekarang dia semakin berani." Cerocosnya.
Saat berjalan menuju kamarnya, tak sengaja bertemu dengan mantan kekasih Raymond. "Dia ada di sini? Apa bumi ini sangat sempit?" racaunya seraya melihat Raina yang sedang menemani seorang pria paruh baya, mereka seperti mengobrolkan sesuatu.
"Berikan aku peran utama," bujuk Raina yang bergantung harapan pada pria paruh baya itu, merengek untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Kau hanya bisa berperan sebagai figuran saja, karena reputasimu yang sangat tercemar. Aku tidak bisa menerima resiko besar itu!" tolak sang sutradara.
"Ayolah, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan peran utama." Raina merengek dengan manja, bahkan menghabiskan sebagian tabungan untuk berangkat ke Perancis hanya ingin temu janji dengan sutradara terkenal.
Pria paruh baya itu tampak berpikir, melirik pakaian Raina yang memperlihatkan sedikit dua gundukan kenyal. "Apa kau yakin?"
"Aku sangat yakin dengan perkataanku! Yang penting aku bisa mendapatkan peran utama, dan kembali menjadi aktris."
"Hanya satu syarat, kau harus tidur denganku." Tatapan mesum ke arah Raina, melirik paha putih dan mulus semakin membuatnya menelan saliva dengan susah payah.
"Baiklah, aku setuju!" Raina tersenyum membuat pria paruh baya langsung mencium bibirnya.
Keduanya hendak memadu kasih, menjelajahi surga dunia yang penuh kenikmatan. Namun, terpaksa menghentikan langkah saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Raina...Raina, menolehlah!" pekik Vanya, dia ingin menjadikan sasarannya sebagai pion dalam permainan.
__ADS_1