
Rasa lelah hampir seharian bekerja, menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk. Menyusuri pandangan ke sekeliling ruangan yang masih di apartemen milik Gabriel, memikirkan apa yang dia lakukan selanjutnya. "Hah, hari ini aku ingin ke rumah sakit, memantau perkembangan kakek Hendrawan." Monolognya yang segera beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang penuh dengan keringat dan tubuh terasa lengket.
Di sore hari yang indah, Ayu telah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Penampilan sederhana dengan rambut yang dibiarkan terurai, menampilkan indahnya rambut lurus. Memakai polesan make up tipis agar terlihat lebih segar, menyemprotkan parfum yang disukai. Tersenyum di depan cermin besar seukuran orang dewasa, memantulkan bayangan wanita yang sangat cantik. "Aku sudah siap," gumamnya seraya mengambil tas berisi alat akupuntur, wajah yang memancarkan senyuman khas dan berjalan menuju pintu setelah memastikan tidak ada yang tertinggal.
Ayu membuka pintu dan berhadapan dengan seorang pria yang ternyata menunggunya di luar, Farhan menyusuri pandangannya di atas hingga bawah. "Sangat cantik," gumamnya tanpa sadar akan terpukau dengan kecantikan alami dari mantan calon istrinya.
"Farhan?" Ayu mengerutkan kening, memikirkan mengapa pria itu ada di depan pintu.
"Hari ini jadwalmu mengakupuntur kakek, itu sebabnya aku kesini."
Ayu terdiam beberapa saat, celingukan mencari seseorang yang selalu menempel.
"Dia tidak ada, aku datang sendiri." Celetuk Farhan dengan cepat, mengerti apa yang dipikirkan oleh Ayu.
"Kau yakin? Dia selalu datang dengan tiba-tiba."
"Ya, aku sudah memastikannya. Aku ingin membawamu ke rumah sakit, sekalian aku menjenguk dan memantau bagaimana kondisi kakek."
"Aku bisa pergi sendiri saja," tolak Ayu.
"Aku sudah sampai ke sini, jangan menolakku. Kita satu arah!"
"Hem, baiklah."
Farhan tersenyum karena wanita itu telah menyetujui permintaannya, mengantarkan Ayu kerumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, Farhan diam-diam mencuri pandang. Tak puas hanya dengan memandang wajah cantik yang disuguhkan di depannya. Sedangkan Ayu tidak menyadarinya, menikmati angin yang menerpa wajahnya.
"Dia berada didekatku, ingin sekali aku memeluknya." Batin Farhan yang kembali fokus ke jalan, mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.
Suasana hening tak ada yang ingin memulai buka suara, bahkan Ayu menarik perhatiannya ke jalanan yang ramai akan kendaraan berlalu lalang, hanyut dalam pikiran. Farhan sedikit gugup, namun berusaha untuk membuka suara. "Apa kakek akan baik-baik saja?" tanyanya yang menoleh sepersekian detik.
"Berdoa saja, aku akan berusaha menebus kesalahanku." Jawab Ayu dingin.
"Apa kau masih marah?"
"Jangan berbicara, fokuslah menyetir!" jawab Ayu ketus, menandakan jika dirinya tak ingin membahas permasalahan antara mereka.
__ADS_1
Farhan sedikit kecewa, dengan cepat dia mengangguk dan fokus mengemudi. Tapi hatinya hanya tertuju kepada wanita di sebelah yang terlihat marah saat dirinya meminta wanita itu agar menjauh dari sahabat kecilnya, Gabriel.
Tak lama, keheningan terpecah di saat mobil berhenti tepat di hadapan rumah sakit ternama dengan fasilitas yang lengkap. Ayu menjejakkan kakinya setelah membuka pintu mobil, tak menghiraukan pria itu dan terus berjalan masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi. Farhan menghela nafas dan mengikuti langkah Ayu dari belakang.
Dengan hati yang ikhlas dalam menyembuhkan kakek Hendrawan, menggunakan keahlian yang dimiliki olehnya. Melangkahkan kaki menuju bangsal tempat kakek di rawat, kedua matanya malah menangkap dua sosok wanita yang sudah menunggu di sana. Mereka berdiri saat tatapan saling bertemu, menyiratkan sesuatu yang ada di hati.
"Mau apa kau kesini, hah?" Wina menghampiri Ayu, tidak menyukai keberadaan dari wanita miskin di depannya.
"Menyembuhkan kakek," jawab Ayu singkat dan padat.
"Hei, kau tidak diterima di sini. Sebaiknya kau pergi, sebelum aku menyeret mu dengan kasar!" Wina menggerakkan matanya memberikan isyarat agar wanita muda itu melakukan perkataannya.
"Aku ingin menyembuhkan kakek, jangan menghalangi aku."
"Apa kau ini tuli dan tidak tahu bahasa?"
"Hanya menjalankan amanat dari dokter Zaki."
"Kau tidak__."
"Jangan halangi dia!" lerai Farhan membuat Wina kesal.
"Dokter Zaki mengizinkan aku melakukan sesi akupuntur selanjutnya, mengapa malah Nyonya yang keberatan?" jawab Ayu yang enggan untuk melayani ibu Farhan.
"Itu tidak menjaminnya, bagaimana ayah mertuaku malah bertambah parah dengan pengobatan dari mu. Kau juga tidak mempunyai sertifikat untuk menangani pasien, apa kau punya izin praktik?"
Ayu menghela nafas panjang, kekhawatiran yang tidak mendasar kembali menghampirinya. "Nyonya jangan khawatir, aku bisa menangani kakek dengan baik. Jangan mencemaskan sesuatu secara berlebihan!"
"Aku tidak membutuhkan penjelasan darimu!" ketus Wina dengan tatapan sinis sembari melipat kedua tangan ke depan dadanya.
"Farhan, sebaiknya kau cari dokter Zaki. Biarkan dia yang mengobati kakekmu," Wina menarik perhatiannya ke arah putranya.
"Dokter Zaki sudah mempercayakan Ayu, untuk apa aku khawatir? Aku mempercayainya, dan menyerahkan urusan kakek padanya."
"Apa? Kau mempercayainya?"
"Mama tidak perlu khawatir, biarkan dia menyelesaikan akupuntur."
__ADS_1
"Ta-tapi__."
"Aku yang menjaminnya," sela Farhan yang segera memberikan bahasa isyarat lewat gerakan mata. Wina yang tak terima ingin menghalangi, tapi tangannya ditahan. "Jangan mengganggunya!"
"Mama tidak bisa mempercayai wanita udik itu, lepaskan tanganku!"
"Tidak, dan kau! Jangan menghalangi Ayu!" sarkas Farhan yang menatap Laras dengan tajam.
"Baik, Kak." Sahut Laras pelan, tak berdaya untuk menahan Ayu yang sudah masuk melakukan akupuntur. "Ck, jika kak Farhan tidak ada di sini, sudah aku pastikan wanita kampung itu menjauh dari kakek Hendrawan." Umpatnya di dalam hati, kesal mendapat tatapan tajam juga dingin.
Ayu memeriksa keadaan kakek Hendrawan, dengan penuh percaya diri melakukan teknik
akupunktur. Dapat dilakukan dengan posisi pasien duduk atau berbaring, tergantung lokasi jarum yang akan ditempatkan. Selanjutnya, dia akan menusukkan jarum ke titik akupunktur yang telah ditentukan, mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Jarum akan dibiarkan pada titik akupunktur selama kurang lebih sepuluh sampai dua puluh menit. Hanya saja, kondisi kakek yang belum sadar menggunakan waktu satu jam. Ayu menggunakan sebanyak lima belas jarum dalam satu kali sesi terapis, hal itu kembali lagi dengan keadaan pasiennya.
Untuk mengatasi keluhan dan kondisi medis pada kakek Hendrawan, Ayu melakukan prosedur lain, seperti pijatan pada titik akupresur, terapi listrik melalui jarum akupuntur, atau terapi akupuntur dengan laser tanpa jarum.
"Sudah selesai." Ayu segera mencabut jarum yang menempel dengan perlahan dan segera pergi dari tempat itu setelah mengemasi alat tempurnya. "Aku sudah selesai, kakek baik-baik saja dan tak lama lagi sadar."
"Terima kasih, aku akan mengantarmu!" ucap Farhan dengan tulus.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri.".
"Ya sudah, hati-hati di jalan."
Ayu menganggukkan kepala dan melangkahkan kakinya beranjak dari tempat itu. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara teriakan dari Laras.
"Kakek muntah darah!" teriak Laras yang berada di dalam bangsal.
BERSAMBUNG..
...****************...
Rekomendasi karya terbaru Ratu Malas nih🤭dengan judul, Tolong Lepaskan Aku. Yukk mampir..🥰baru terbit kemarin
__ADS_1