Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 142 ~ Di ketinggian


__ADS_3

Pernyataan cinta yang dia lakukan di udara membuat suasana kian romantis, pemandangan dari atas sangatlah indah. Menunggu jawaban yang keluar dari mulut Ayu, dia berharap jika wanita itu menerima cintanya. "Jangan membuatku menunggu terlalu lama!" ucapnya yang tidak sabar. 


Ayu menganggukkan kepala, senyuman terukir di wajah cantiknya. Ekspresi yang dimengerti oleh Farhan, tapi pria itu hanya ingin mendengarnya langsung dari bibirnya. "Ya, aku menerimamu! Karena aku juga memiliki perasaan yang sama." Jawabnya yang tersenyum.


Farhan sangat bahagia mendengar pernyataan yang selama ini ingin di dengar dari mulut Ayu, perasaannya teramat bahagia membuatnya tak bisa menahan diri. Mencium bibir indah yang di suguhkan di hadapannya, dan mulai memainkan lidah dalam rongga mulut calon tunangannya. 


Sontak Ayu membelalakkan kedua matanya, dia terkejut namun merasa nyaman dengan ciuman itu. Keduanya menikmati desiran cinta yang seakan menyentrum di tubuh, menikmati setiap ciuman yang memabukkan.


Keganjalan di hati Ayu mulai memudar, dia bahkan tidak mengkhawatirkan jika gadis masa kecil Farhan akan muncul untuk merebut cintanya, karena dia mempercayai perkataan dan ketulusan dari calon tunangannya. Mulai sekarang dia akan mempertahankan hubungan ini dan berniat untuk melanjutkan perjodohan ke tahap berikutnya, pembuktian dan rasa cinta yang diberikan pria itu sangatlah cukup baginya, tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. 


Farhan bahkan lupa jika mereka sedang berada di ketinggian ribuan meter dari permukaan tanah, untung saja Ayu memberikan isyarat dengan menggigit bibir atasnya untuk menyadarkan situasi saat ini. Segera pria itu melepaskan ciumannya dan segera mengendalikan parasut, tersenyum bahagia dan mengecup bibir basah wanita yang sangat dia cintai. "Mulai sekarang, kau menjadi milikku."


"Begitupun sebaliknya," jawab Ayu yang tersipu malu, dia tak bisa menutupi perasaannya saat ini.


Farhan ingin mencium bibir yang selalu dia bayangkan setiap malam, mendekatkan wajahnya berniat untuk menciumnya. 


"Kau mau apa?" celetuk Ayu yang berpura-pura polos, untuk menghentikan aksi nekat Farhan yang kecanduan.


"Menciummu, suasananya sangat mendukung!" Farhan terus memajukan wajahnya, hanya berjarak satu sentimeter saja. Tapi, keromantisan itu buyar saat Ayu menampar pipinya dengan pelan. "Kau tidak bisa romantis!" gerutunya. 


"Apa kau ingin parasut kehilangan kendali dan kita akan jatuh atau tersangkut?" sahut Ayu yang terkekeh melihat Farhan bertingkah seperti seorang anak kecil. 


"Setidaknya sebelum kita tersangkut dapat menyalurkan cinta lewat ciuman," ucap Farhan asal semakin membuatnya terkekeh. 


"Astaga…apakah ini Farhan yang dikenal arogan dan juga sombong itu?" ledek Ayu. 


"Apa salahnya bermanja dengan calon istri sendiri."


"Wah, aku tidak menyangka jika sisi lain dirimu seperti seorang anak kecil." Goda Ayu. 


"Berhentilah meledekku, apa kau ingin aku cium hingga bibir indah itu membengkak?" 


Dengan cepat ayu membekap mulutnya seraya menggelengkan cepat, sedangkan Farhan senang, bahagia karena wanita itu membuka hati untuknya. "Aku hanya bercanda!" seloroh Farhan yang tersenyum. 


"Hah, syukurlah. Aku sangat takut jika kau benar-benar melakukannya," Ayu menghela nafas lega. 


"Sekarang kau bebas, tapi tidak di lain waktu. Bibir itu akan bengkak nantinya!" 

__ADS_1


"Berhentilah menggodaku," gerutu Ayu yang mengerucutkan bibirnya. 


"Baiklah, maafkan aku." 


"Hem, tidak masalah."


"Kau tahu? Aku sangat senang dengan ini, sudah lama aku menantikan jawabanmu. Bahkan aku sudah mengetahui perasaanmu, hanya saja terlihat spesial saat mengungkapkan nya secara langsung."


Ayu memeluk tubuh kekar itu dengan erat, tersenyum bahagia karena mereka saling mencintai. "Apakah ini balasan dari kesabaranku dalam melewati ujian? Farhan berhasil mencuri hatiku, terlihat manis sekali." Batinnya. 


Farhan kembali fokus mengendalikan parasut agar sesuai jalur yang dituju, dan sesekali mencium aroma Ayu yang selama ini dia rindukan. "Keyakinanku tidak akan meleset, jika Kira dan Ayu orang yang sama. Hanya dia yang dapat membuatku terkesima dengan aksi dan juga kecerdasan dalam menghadapi masalah," gumamnya di dalam hati. 


Seakan dunia milik mereka berdua, pelukan dari calon tunangannya yang menghangatkan tubuh. 


Setelah beberapa saat, Ayu membelalakkan kedua matanya karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Farhan, bagaimana jika kemungkinan kita mendarat di lautan?" 


"Sepertinya itu tidak terjadi, hanya saja__."


"Ada apa?" desak Ayu yang terlihat panik. 


"Hanya saja arah angin lah yang menentukan kita mendarat, tapi sepertinya kau berkata benar."


"Aku sedang berusaha." Farhan mencoba untuk membawa parasut menjauh dari lautan, dia tidak ingin jika harus mendarat di lautan. Ayu tampak panik, berdoa agar Farhan bisa melakukannya walau terlihat tidak mungkin. 


"Aku tidak bisa mengendalikan parasutnya untuk menjauh dari lautan, arah angin laut sangat kuat."


"Bagaimana ini?" Ayu sangat cemas memikirkan nasib mereka ke depannya. 


"Tenanglah! Aku ada disini dan tidak akan membiarkanmu terluka walau tergores sedikit saja." Farhan menghibur wanita dicintainya, mengurangi rasa ketakutan di benak Ayu. 


Terlintas di benaknya sebuah cara untuk meminta bantuan pada orang lain. "Cepat kau ambillah ponsel di saku!" titahnya. 


"Baiklah." Ayu mengambil ponsel dan mengerutkan kening. "Apa yang kau lakukan?"


"Coba kau hubungi asisten bodohku."


"Kau jahat sekali, menyebut asisten Heri sebagai pria bodoh."

__ADS_1


"Aku tidak ingin membuatmu bingung, nama yang tertera di kontak ku adalah asisten bodoh."


"Hem." Ayu menggelengkan kepala, karena Farhan sesuka hati menamai orang lain di ponselnya. Mencari nomor yang dituju dan mulai menelepon, namun jaringan dan sinyal tidak mendukung hal itu.


"Bagaimana?" desak Farhan.


"Ponselmu tidak ada sinyal dan tidak bisa menelepon asisten Heri."


"Sial!" gumam Farhan. "Apa kau bisa berenang?" menatap wajah wanita cantik dan menyejukkan mata, berharap menemukan sebuah titik harapan.


"Sedikit."


"Itu bagus, kita akan mendarat di lautan karena tidak ada pilihan lain."


Ayu tak menjawab, dia hanya terdiam dan pasrah menerima apa yang akan terjadi. Menggaruk lehernya terasa gatal, dan melihat sebuah kalung pemberian sang kakek melingkar di lehernya. "Aku tahu!" pekiknya yang terlintas ide di otak.


"Apa?" sahut Farhan yang sedikit terkejut. 


"Kakek memberikan sebuah kalung di saat ulang tahunku, keunggulan dari kalung ini adalah pemancar sinyal minta bantuan." 


"Benarkah?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu pasti. Hanya saja kakek sendiri yang mengatakannya padaku. Bantuan akan segera datang, jika aku mengirimkan sinyal minta tolong."


"Ya sudah, segera memanggil bantuan!" 


Ayu terdiam, karena dia juga tidak pernah mencoba keunggulan dari kalung pemberian kakeknya, Tirta. 


"Kenapa kau diam saja? Ayo, lakukan!" 


"Baiklah." Ayu mencoba dan berdoa agar kalungnya bekerja di saat genting. Mengutak-atik kalung itu dan melihat sebuah tombol kecil dan menekannya. 


"Sekarang kau tidak perlu cemas lagi, karena sebentar lagi bala bantuan akan segera datang." Ujar Farhan. 


"Ini kali pertamanya aku menggunakan kalung pengirim sinyal, tidak tahu apakah ini akan bekerja dengan baik atau tidak."


"Setidaknya kita punya sedikit harapan," sahut Farhan yang di angguki kepala oleh Ayu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2