Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 235 ~ Trik ciuman romantis


__ADS_3

Di sisi lain Kira melempar ponselnya sembarang arah, hatinya sangat tak tenang dan semakin membenci rivalnya. Dia tahu suara siapa yang mengganggu, rasa amarah menyeruak di seluruh tubuh. "Argh," pekiknya sembari mengacak-acak rambutnya sendiri bagai orang yang kehilangan akal.


"Aku membenci wanita itu…aku benci wanita sialan itu! Mengapa dia harus ada disana bersama dengan Farhan. Sekarang bagaimana? Semua rencanaku tidak ada yang berjalan sempurna karena wanita itu. Apa yang harus aku lakukan?" racau nya yang sangat cemas. "Dia cukup cerdik membalikkan keadaan."


****


Ayu merasa tak nyaman, dan berjalan mencari tempat tidur untuk malam ini, memutuskan tidur di sofa ruang tamu. Dengan cepat dia merebahkan dirinya yang sangat letih, waktu istirahat amatlah berharga baginya. "Nah, ini baru benar." Sofa yang empuk membuatnya  nyaman, mencari posisi yang pas untuk tidur. 


Memikirkan masalah yang terjadi membuatnya mengantuk dan memutuskan untuk memejamkan kedua matanya dan tidak mengetahui apapun di saat tidurnya begitu pulas, bahkan tak menyadari jika seseorang mengawasinya sedari tadi. 


"Dia wanita ceroboh, bagaimana ada pelayan laki-laki yang melihatnya tidur seperti itu?" gumam Farhan yang melihat dari kejauhan, mengomentari setiap posisi tidur yang dilakukan oleh sekretarisnya. Segera berjalan menghampiri Ayu yang sudah tertidur pulas, sangat menyenangkan melihat wanita itu tertidur, di sanalah letak kecantikan sesungguhnya.


Farhan berdiri dengan mata yang masih memperhatikan Ayu yang pulas tertidur, menarik dua sudut bibirnya ke atas dan terkadang terkekeh. "Dia tidur seperti mau berperang saja, sangat berantakan!" komentarnya sembati memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana samping, masih memantau bagai tontonan menarik. 


Farhan cukup lelah memperhatikan wanita yang tengah tertidur di sofa, dan memposisikan dirinya berjongkok, melihat dengan jelas bagaimana nyenyaknya sekretarisnya tertidur. Rambut yang menghalangi wajah, dia ingin menyingkirkan rambut itu. Melakukannya secara perlahan, agar tidak membangunkan Ayu. "Ini lebih baik," ucapnya pelan dan membingkai wajahnya menggunakan kedua tangan, hati yang tenang dengan pemandangan yang disuguhkan di hadapannya. "Bahkan, di saat tidur pulas dia juga terlihat cantik." Pujinya tersenyum, tidak ada kata bosan memandang mantan calon tunangannya.


"Lebih baik aku membawanya ke kamar," monolog Farhan yang mengangkat tubuh mungil di hadapannya dengan penuh hati-hati, takut jika Ayu terbangun dari tidur. Menggendong ala bridal style menuju ke kamarnya, insomnia yang diderita membuatnya tak bisa tertidur dengan waktu yang benar. 


Sesampainya di kamar, dia menutup pintu dan meletakkan Ayu ke atas ranjang yang berukuran jumbo, dan menutupi tubuh wanita itu menggunakan selimut. Bibir yang merah merekah dan terlihat seksi, menggoda imannya yang lemah jika berhadapan dengan wanita itu.


Farhan mengambil kesempatan, mengambil ciuman itu diam-diam. Dia sudah tak tahan untuk mengecupnya, lalu tersenyum dengan keberhasilannya. 


Farhan baru saja naik di atas ranjang, tapi sebuah tangan dan kaki melingkar di tubuhnya. Menoleh ke samping melihat wajah teduh dari sekretarisnya, seketika jantungnya berdetak dengan sangat cepat. "Astaga…ini membuatku deg-degan, tapi cukup menyenangkan," batin nya tersenyum tipis. Bagaimana tidak? Wanita itu tidur memeluk tubuhnya, menganggapnya sebagai boneka beruang. Hal itu sangat membuatnya tersenyum penuh kemenangan, balas memeluk dan ingin memejamkan kedua matanya. 


"Selamat malam," ucap Farhan pelan, mengecup kening wanita yang memeluknya. Keberadaan Ayu bagaikan obat manjur melawan insomnia yang diderita, hanya dengan aroma tubuh dan juga kehadiran mantan calon tunangannya. 

__ADS_1


Tak lama, Farhan memejamkan mata dan berada di dunia mimpi dengan cepat. Keduanya tertidur dalam keadaan saling memeluk, kedamaian hingga merasa sangat nyaman. Ayu semakin menempel kepada pria tanpa dia sadari, sentuhan kulit dari keduanya menimbulkan rasa kehangatan.


Semilir udara masih terlalu dingin untuk dirasakan, pantulan cahaya yang berasal dari ufuk timur masih belum terlalu menyilaukan. Cahaya matahari masuk melewati kaca jendela, menembus pori-pori kulit. Seseorang yang merasa terganggu segera membuka matanya secara perlahan, tersenyum menyambut pagi hari yang sangat cerah. 


Dia ingin menggeliat, tetapi tak bisa. Mendapati tangan yang memeluknya dari belakang, sedikit shock dan hampir saja berteriak. Ayu menoleh ke belakang, mendapati wajah yang terlihat lugu masih tertidur sambil memeluknya. Dengan cepat dia menyusuri pandangan keseluruh ruangan yang tak asing, masih mengingat jika dirinya tidur di ruang tamu. "Aku ada di kamar Farhan? Apa dia memindahkan ku? Siapa lagi jika bukan dia, semoga pria ini tak mengambil kesempatan di saat dirinya tertidur pulas."


"Pagi."


Ayu segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, tertangkap basah telah memandang wajah tampan. "Pagi," balasnya yang pura-pura menguap. 


Farhan terkekeh, tahu jika wanita itu memandangnya. "Apa kau puas memandangi wajah tampanku?" godanya yang membuat wajah Ayu memerah menahan malu.


"Apa kau yang membawaku kesini?" tanya Ayu mengalihkan topik. 


"Tidak, kau berjalan sendiri dan masuk ke dalam kamarku."


"Dasar konyol, tentu saja aku yang memindahkan mu kesini. Aku tidak yakin, jika di sana masih ada pelayan yang berlalu lalang, dan posisi tidurmu itu juga sangat berbahaya bagi kaum pria." 


"Separah itu?" Ayu mengerutkan dahi dan Farhan membalasnya dengan anggukan kepala.


"Yang penting kau tidak jadi konsumsi publik!"


"Hei, apa maksudmu?" 


"Apa kau lapar?" tawar Farhan yang tak ingin menjelaskan perkataan sebelumnya.

__ADS_1


"Jelaskan dulu!"


"Yang mana?"


"Perkataanmu!"


"Apa kau lapar?" tawar Farhan yang tak ingin mengulanginya lagi.


"Ya, aku lapar." Ayu pasrah, tetapi kondisi perut keroncongan tak ingin diabaikan.


"Baiklah, ayo turun." Farhan menarik Ayu membersihkan wajah dan menggosok gigi terlebih dulu, dan barulah mereka berjalan menuju dapur. 


Farhan memasang celemek di tubuhnya, segera mengambil beberapa roti dan juga sayuran yang akan dicuci bersih, sangat bersemangat di pagi hari untuk memasak. Lain halnya dengan Ayu, dia lebih tertarik melihat layar ponsel tanpa membantu, membalas Twitter dari sahabatnya. 


Farhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mengetahui Ayu yang asik dengan dunia mayanya sendiri. Hingga timbul ide di otak nya, ingin mengerjai wanita itu sekali saja. "Aku pikir dia akan membantuku dan kami akan bersikap romantis, hah ternyata hanya khayalan ku saja," gumamnya di dalam hati. 


Farhan yang tengah memotong sayuran, mempercepat ritme dalam menggunakan pisau. "Auh," ringisnya yang berpura-pura tangannya tergores pisau, sengaja membesarkan suara agar terdengar. 


"Ada apa?" Ayu panik dan meletakkan ponselnya di atas meja makan. 


"Tanganku tergores, dan banyak darah." Jawab Farhan dengan raut wajah meyakinkan.


Tidak menunggu waktu lagi, Ayu segera menghampiri Farhan dan ingin memeriksa tangan yang terluka. "Perlihatkan lukanya, aku akan mengobatinya."


"Tidak, hanya luka kecil saja," tolak Farhan tak ingin memperlihatkannya. 

__ADS_1


Ayu bersikeras untuk membantu, jarak yang sangat dekat membuat Farhan tersenyum tipis dan mengambil kesempatan, mencium wanita itu dengan sangat lembut.


   


__ADS_2