Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 172 ~ Bujukan asisten Heri


__ADS_3

Cukup lama Ayu mencari keberadaan asisten Heri, bahkan dia sudah sampai ke ruangan pria itu, tapi tak menemukannya. Dia menghela nafas panjang, memutuskan untuk berhenti mencari asisten Heri. Namun siapa sangka saat keputusasaan mencari asisten Heri, tiba-tiba pria itu berjalan ke arahnya.


"Nona Ayu, kau disini?" tanya asisten Heri yang tersenyum.


Ayu tersenyum lega, bisa menemukan asisten Heri yang sekarang berada di hadapannya. "Syukurlah jika kau ada disini, aku sudah mencari keberadaanmu tapi tak menemukan."


"Aku ada di ruang rapat, Kenapa kau mencariku?"


"Aku ingin meminta pertolongan, bisakah kau membawaku menemui kakek Hendrawan?" 


"Cukup sulit untuk membawamu ke sana, tapi akan aku usahakan."


"Aku ingin sekali menemui kakek hanya saja Farhan tidak pernah mengizinkan ku untuk masuk ke dalam ruangan itu." Ayu melihat raut wajah asisten Heri yang tampak kesusahan, berpikir didalam hati apa yang sebenarnya yang pria itu pikirkan. "Kenapa wajahmu terlihat kusut?" tanyanya penuh keheranan.


"karena tuan Farhan menyuruhku untuk mencari keberadaan dokter Zaki, bahkan keberadaannya hanya simpang-siur saja cukup sulit untuk menemukan dokter jenius itu." Jelas asisten Heri yang menghela nafas berat, tak tahu mau mencari kemana.


Ayu terdiam, karena dia juga tidak tahu di mana keberadaan dokter Zaki. Namun tujuan pertamanya adalah menemui kakek untuk melihat kondisinya secara langsung. "Bisakah kau membawaku untuk menemui kakek? Aku sudah tidak sabar ingin menemuinya."


Asisten Heri menatap Ayu dan menganggukkan kepala. "Mari ikut aku!" 


Kedua orang itu masuk ke dalam mobil menuju ke rumah sakit, tempat kakek Hendrawan dirawat. cukup sulit untuk masuk ke dalam ditambah dengan beberapa orang yang menjaga tempat itu. Untung saja asisten hari tak kehabisan akal, dan bisa membawa Ayu untuk menjenguk pria tua yang tengah berbaring di atas brankar rumah sakit.


Ayu berjalan masuk ke dalam ruangan itu wajah yang sedih dengan guratan kekecewaan kepada dirinya sendiri yang telah menyebabkan kondisi kakek menjadi buruk. menatap wajah keriput yang terlihat pucat di atas brankar membuat air matanya lolos tanpa disadari. "Maaf, aku membuat kakek berada di tempat ini, tetapi maksud dan tujuanku tidak ada niatan buruk apapun." Ucap Ayu dengan pelan.


Asisten Heri hanya melihat wanita itu dan merasakan kesedihan yang sama, ditambah hubungan wanita itu dengan atasannya sendiri. Rasa gugup untuk bertanya kepada Ayu namun jika tidak mengatakannya, sedikit ada kejanggalan yang terasa di hati dan juga di benak. "Apa hubunganmu dengan tuan Farhan tidak ada jalan keluar? kalian adalah pasangan yang sangat serasi, mengenai pembatalan perjodohan membuat aku sedih." Celetuk asisten Heri yang memberanikan diri untuk membuka suara.


Ayu mengalihkan perhatiannya menatap pria tampan yang berada di sebelahnya. "Tidak ada yang bisa menyelesaikan permasalahan ini, semuanya sudah jelas terlihat." sahut Ayu yang masih mengingat Farhan bersama dengan wanita lain yang tak lain adalah Kira.

__ADS_1


"Setiap permasalahan pasti mempunyai jalan penyelesaiannya, dan aku sangat yakin itu. Aku mohon, tolong pertimbangkan mengenai keputusan ini!" bujuk asisten Heri.


Ayu menggelengkan kepalanya dengan pelan karena keputusan yang sudah diambil berdasarkan dengan apa yang dilihatnya. "Tidak ada yang tersisa, aku tak ingin melanjutkan hubungan yang masih terikat dengan masa lalu. Kau tidak akan mengerti jika berada di posisiku!"


"Apa gunanya membahas masa lalu? Jika tuan Farhan memutuskan ingin bersama denganmu?"


"Itu hanya omong kosong! Aku tak ingin menjadi wanita kedua atau menjadi pengganti siapapun!" tegas Ayu dengan menekan ada suaranya.


"Asal kau tahu, tuan Farhan sudah mencoba untuk bisa meluluhkan hatimu. Begitu keras dia berjuang hingga kalian memutuskan untuk bertunangan, aku sangat menyayangkan jika hubungan kalian berakhir."


"Mau bagaimana lagi? Aku tak mempunyai pilihan lain."


Asisten hari hanya terdiam mengalihkan pandangannya menatap pria tua yang tengah berbaring di atas brankar, sedangkan Ayu juga melakukan hal yang sama dengan memegang tangan keriput, air mata yang terus mengalir di pipinya. 


"sekali lagi maafkan aku, kek! Tidak bermaksud untuk membuat kondisi kakek menurun dan akan berusaha keras untuk menyembuhkan, kakek." Tekad Ayu yang sangat yakin ingin menemui dokter Zaki. Karena tak mempunyai banyak waktu, keduanya segera keluar dari ruangan itu, tak ingin jika Farhan mengetahuinya yang hanya menimbulkan masalah baru. 


"Jangan memaksaku!" hardik Ayu yang menghentikan langkahnya sembari menatap tajam asisten Heri, dia tidak ingin jika pria itu selalu memaksanya.


"Tapi, tuan Farhan mencintaimu."


"Apa itu masih bisa dikatakan cinta? Aku bisa melihat bagaimana keduanya sangat mesra, cinta masa lalunya telah kembali."


Asisten Heri terpaku, pasrah akan hubungan atasannya dengan wanita cantik di hadapannya. Sudah membujuk semampunya, namun tidak bisa merubah keputusan dari Ayu. 


Ayu tersenyum miring dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan asisten Heri yang masih terdiam memikirkan kata-kata yang baru saja diucapkan.


****

__ADS_1


Ayu memutuskan untuk pergi ke kantor milik Farhan dengan membawa sepucuk surat yang berisi surat pengunduran diri, dia tak ingin menjadi sekretaris ataupun bekerja di tempat itu, tidak ada harapan yang bisa diharapkan. Ayu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan mengetuk pintu ruangan presdir setelah meyakinkan dirinya. 


"Masuk!" 


Terdengar suara dari dalam ruangan dan segera Ayu melangkahkan kakinya masuk kedalam setelah mendapatkan izin. Tatapan mata yang mempunyai beberapa makna yang tidak bisa mereka ungkapkan, cukup lama mereka saling memandang satu sama lain. suasana yang sedikit ambigu membuat kecanggungan terjadi.


Ayu mempunyai begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya, namun dia hanya menyimpan tanpa berniat untuk mengatakan kepada Farhan.  "Permisi Tuan, saya ingin memberikan ini!" ucapnya dengan formal seraya menyerahkan surat.


Farhan mengalihkan perhatian, menatap wajah cantik dari sekretaris. Raut wajah yang dingin dan sedikit terkejut saat wanita itu berbicara formal kepadanya. "Apa ini?" tanyanya sambil melirik surat di atas meja kerja.


Ayu menundukkan kepalanya tidak ingin menatap wajah pria itu. "Itu surat pengunduran diriku!"


Farhan tersentak kaget, jika Ayu membuat keputusan yang sangat besar. "Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu!" tegasnya.


"Apa alasannya, tuan?" tanya Ayu.


Farhan segera beranjak dari kursinya dan berjalan kearah Ayu membuat wanita cantik itu merasa takut. "Kenapa kau terlihat takut?" ujarnya dengan santai.


Ayu terus memundurkan langkahnya, dia sedikit takut jika pria itu berbuat macam-macam. "Berhenti! jangan melangkah maju!" ucapnya.


"Kau pergi dari Mansion bersama dengan Gabriel, sepertinya kau menikmatinya!" sindir Farhan yang tersenyum miring.


"Apa masalahmu? Bukankah Kira telah kembali?" balas Ayu yang juga menyindir pria tampan itu dan memutuskan untuk pergi, tapi langkahnya terhenti saat Farhan menahan tangannya. "Hei apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" 


Farhan tak menggubris, dan menyeret Ayu dan menahannya di dinding, menatap manik mata indah dan mencium bibir sekretarisnya. 


     

__ADS_1


__ADS_2