
Di dalam mobil, Ayu terus menatap Farhan. Dia tak menduga jika pria itu menyelamatkan nyawanya, tapi mulai berpikir mengenai insiden itu.
"Jangan menatapku begitu!" Ucap Fathan yang menyadari jika Ayu terus memandangi nya.
"Eh, maaf. Apa kau merasa curiga dengan insiden ini?" Tanya Ayu dengan beberapa praduga yang ada di benaknya.
"Maksudmu?" Ujar Farhan yang menoleh ke arah wanita di sampingnya beberapa detik seraya mengerutkan kening.
"Aku merasa jika kejadian tadi sedikit janggal."
"Aku juga merasa hal yang sama. Apa kau mempunyai musuh?"
"Awalnya aku tidak mempunyai musuh, mengenai perjodohan kita diketahui orang lain dan di saat itu pula musuh mengelilingiku." Keluh Ayu yang menghela nafas.
"Mau bagaimana lagi? Aku ini sangat tampan." Celetuk Farhan yang menyombongkan diri, membuat Ayu memukul lengan pria itu dengan pelan.
"Berhentilah bersikap narsis, Tuan Farhan Hendrawan." Cetus Ayu yang jengah.
"Aku terkesan jika kau memanggil namaku secara lengkap."
"Bersikaplah serius!"
"Baiklah."
"Apa kau percaya seseorang mencelakai ku?" Ucap Ayu yang tampak berpikir.
"Sepertinya insiden itu disengaja, apa kau mencurigai di antara mereka?" Tanya Farhan dengan penuh selidik.
"Entahlah, aku tidak yakin." Jawab Ayu sekenanya.
"Aku sangat yakin, jika ada seseorang yang sengaja untuk mencelakaimu."
"Aku juga sangat yakin akan hal itu." Farhan dan Ayu mulai menebak mengenai insiden yang baru saja mereka lewatkan.
"Tapi, kau tenang saja. Aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki kasus ini!" Tegas Farhan tanpa menoleh dan fokus mengemudi.
"Hem, baiklah!" Sahut Ayu. "Siapa yang melakukan ini? Berniat untuk membunuhku. Apa ini salah satu dari wanita yang menyukai Farhan? Atau dia musuhku di dunia desain. Hah, aku sangat bingung dengan ini!" Batin Ayu yang terus berpikir dengan keras.
Ayu terdiam beberapa saat, kakinya yang terluka terasa berdenyut akibat terkena serpihan kaca lampu. "Terima kasih sudah menolongku, aku tidak bisa membayangkan, apa jadinya aku saat kau tidak datang tepat waktu." Ucap Ayu dengan tulus seraya menatap wajah tampan Farhan.
"Ucapkan itu nanti saja, setelah kakimu di periksa oleh dokter."
"Tidak, aku ingin mengucapkannya sekarang." Keukeuh Ayu, dia ingin berterima kasih dengan penyelamatan dari pria di sampingnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau diam." Farhan menambah kecepatan laju mobilnya agar sampai di rumah sakit terdekat untuk penanganan kaki Ayu yang terluka.
"Hah, baiklah. Sesuai perkataanmu, Tuan!"
Sedangkan suasana di dalam studio menjadi ricuh akibat insiden yang hampir saja memakan korban. Semua orang sangat mencemaskan kondisi Ayu, dan memeriksa lampu gantung yang terjatuh.
Raina menghela nafas dengan jengah, melihat suasana itu membuatnya sangat bosan. Dia tidak menghiraukan apapun selain ucapan Ayu yang mengkritiknya, membuatnya masih memendam kekesalan hingga saat ini. Dia berjalan ke arah sang kekasih, bergelayutan manja di tangan Raymond untuk mendapatkan pembelaan dari sang kekasih.
"Honey, bagaimana ini? Aku masih membayangkan kritikan dari sekretaris itu, membuat aku di permalukan di depan umum." Ucapnya dengan nada manja, memegang tangan Raymond.
Raymond menghempaskan tangan Raina dengan kasar, menatap kekasihnya yang tidak berperikemanusiaan. "Dimana hatimu? Setelah insiden ini terjadi dan kau masih memikirkan kritikan itu?" Raymond meninggikan suaranya karena sangat mengkhawatirkan keselamatan Ayu yang telah di bawa kerumah sakit oleh Farhan.
"Honey, kau tidak pernah berteriak padaku. Tapi, kau lebih mengkhawatirkan wanita itu di bandingkan aku sebagai kekasihmu?" Raina menunjuk dirinya, melongo tak percaya dengan Raymond yang lebih mementingkan Ayu.
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, sebaiknya kau renungkan kesalahanmu." Raymond bersiap-siap untuk pergi meninggalkan studio.
"Honey, kau mau kemana?" Pekik Raina yang menatap punggung Raymond yang mulai menjauh.
"Aku akan melihat keadaan Ayu dan memastikannya!" Sahut Raymond yang pergi meninggalkan Raina.
"Apa-apaan ini, bahkan Raymond memilih mengkhawatirkan wanita itu dibandingkan aku yang dipermalukan?" Umpat Raina yang sangat kesal, menghentakkan kedua kakinya dan berjalan keluar studio. Dia sangat cemburu saat melihat kekhawatiran di wajah kekasihnya.
Baru saja dia melangkah keluar studio, tiba-tiba tangannya tercekal. Raina yang sangat kesal melihat sang pelaku tak lain adalah Vanya.
Vanya tersenyum saat melihat kekesalan dari wajah wanita itu. "Aku tahu, kau pasti sangat kesal akibat sekretaris itu 'bukan?"
"Bagaimana kau tahu?" Raina mengerutkan keningnya karena penasaran.
"Jika kau ingin tahu banyak, mari kita mengobrol di Cafe yang tak jauh dari sini!"
"Baiklah."
Kedua wanita itu pergi menuju Cafe yang tidak jauh dari studio, Vanya tersenyum saat menemukan sekutu baru untuk menjalankan rencananya.
"Aku Vanya."
"Raina." Mereka saling berjabat tangan. "Apa maksud dari perkataanmu tadi?"
"Begini, Ayu itu wanita yang sangat licik. Berhati-hatilah, jika kau berhadapan dengannya."
"Aku tidak mengerti."
"Ayu wanita ular, mempunyai topeng di wajah polosnya itu. Dia bisa menjerat para pria kaya, apa kau masih tidak mengerti?" Tukas Vanya yang berusaha untuk membuat Raina membenci Ayu.
__ADS_1
Seketika Raina menjadi cemas, takut jika kekasihnya menyukai Ayu. Sedangkan Vanya tersenyum tipis, saat berhasil mencuci otak Raina. "Bagus, aku rasa dia mulai terpengaruh!" Batin Vanya.
"Tapi, kenapa kau mengatakan ini kepadaku? Apa niatmu sebenarnya?" Ucap Raina dengan tatapan menyelidik.
"Aku korban dari wanita itu, dia merenggut Farhan dariku. Dia wanita yang sangat licik!" Vanya berpura-pura sedih untuk menambah simpati dan akting drama. Raina kembali memikirkan ucapan dari Vanya, dan tindakan Raymond yang sangat mencemaskan keadaan Ayu.
Setelah pemeriksaan di rumah sakit, Farhan lega saat dokter mengatakan tidak ada yang perlu di khawatir. "Apa kau yakin?" Tanya Farhan kepada dokter.
"Benar Tuan, lukanya tidak serius dan tidak perlu dirawat."
"Periksa sekali lagi!" Titah Farhan.
Ayu memegang pergelangan tangan Farhan, berusaha untuk menghentikannya dan menatap pria itu. "Terima kasih, Dok."
"Sama-sama." Sahut sang dokter yang meninggalkan mereka di ruangan itu.
"Kenapa kau menghentikan aku?"
"Karena kau sangat berlebihan, ini hanya luka kecil saja. Sebaiknya kita pergi dari sini!"
"Baiklah."
Di Mansion, Farhan membantu Ayu untuk berbaring di atas ranjang dan menyelimutinya.
"Istirahatlah!"
"Hem." Ayu membalas dengan senyuman tulus yang terukir indah di wajahnya.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk melanjutkan pekerjaan."
"Baiklah." Patuh Ayu yang melihat punggung Farhan yang menghilang dari balik pintu. Setelah kepergian Farhan, Ayu diam-diam membuat janji untuk melanjutkan audisi dan menuntaskan pekerjaannya.
****
Di pagi hari yang indah, Ayu terbangun dari tidurnya, menggeliatkan tubuh dan sesekali menguap. Dia tersenyum saat melihat suasana cerah, memulai aktivitasnya seperti biasa. Menyingkap selimut dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kaki yang terluka membuat Ayu sedikit kesulitan mempercepat langkahnya, turun dari tangga dan mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera. "Aroma masakannya sangat lezat, membuat aku lapar." Ayu berjalan mencari sumber aroma, dan melihat Farhan yang sedang memasak di dapur.
"Kau memasak?" Tanya Ayu yang mengejutkan Farhan.
"Hem, aku memasak untukmu. Coba cicipi masakanku!" Farhan tersenyum dan berjalan menghampiri Ayu dengan piring yang berisi makanan buatannya.
__ADS_1