
Raina terus celingukan, mencari keberadaan Ayu yang bersama dengan pria lain. Suara musik yang memekakkan telinga, orang menari dengan riang gembira, melupakan segala beban pikiran di pundak.
Suasana dan tempat yang sangat tepat bagi Raina saat melihat target tak berada jauh darinya. "Hah, akhirnya aku menemukan wanita itu. Sebaiknya aku mendekat, siapa tahu mendapatkan berita bagus." Berjalan semakin dekat, dan memilih duduk di pojokan.
Mendengar pembicaraan Ayu dan Riko, menggali informasi untuk menjalankan rencana sebelumnya.
"Oho, jadi wanita kampung itu akan pergi ke acara lelang amal? Ini sangat menarik." Batinnya yang segera mengeluarkan ponsel dari tas, memberitahukan hal ini kepada Vanya untuk mengalahkan wanita itu.
Di sisi lain, Ayu dan Riko membicarakan masalah ringan tanpa melupakan kejadian awal. Mereka sangat bersemangat untuk meneguk alkohol, setidaknya mengurangi beban di pundak.
"Kau tidak seperti wanita polos jika berada disini!" ledek Riko.
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh minum?" Ayu menatap pria di hadapannya, dan kembali meneguk minuman beralkohol.
"Aku tidak melarangmu, hanya saja kau terlalu banyak minum." Riko menahan Ayu untuk tidak meneguk minuman yang berada di tangan.
"Kau tenang saja! Aku masih sadar sepenuhnya, jangan cemaskan aku."
"Kau wanita yang sangat keras kepala, bahkan tubuhmu terlihat sempoyongan."
"Kau sangat cerewet sekali, apa mau mu?" Ayu berdiri dengan setengah kesadarannya, menatap Riko yang terlihat seperti Farhan. Dengan sangat antusias, dia menunjuk sahabatnya dan berpikir jika itu calon tunangannya. "Kau pria yang sangat egois, ingin memiliki dua wanita sekaligus. Ingin rasanya aku mencakar wajahmu yang sangat tampan itu."
"Akhirnya, setelah tujuh purnama, tujuh tanjakan, dan tujuh bekolan kau mengakuiku dengan kategori pria tampan." Seru Riko songong.
Ayu sangat geram, mencubit lengan sahabatnya. "Kau pria dengan penuh kepercayaan diri, aku sarankan agar kau mengendalikan diri untuk tidak menciumku." Racau nya sambil memegangi bibirnya.
Riko mulai mencerna perkataan Ayu yang tidak mengarah padanya, melainkan orang lain. "Ck, aku pikir dia memujiku, tapi apa ini? Mengatakan hal itu di hadapan seorang jomblo."
"Kau pria serakah, mencintaiku dan juga Kira. Apa kau pikir aku ini pengganti dari dewimu itu?" bentak Ayu menarik kerah leher sahabatnya, dan berpikir jika itu adalah Farhan.
__ADS_1
"Aku mengerti sekarang, dia menganggapku sebagai Farhan, maka baiklah! Aku akan berakting sebagai pria itu." Batin Riko yang tersenyum jahil. "Apalah dayaku, aku hanya pria normal dan jika dihadapkan kepada dua wanita sekaligus." Jawabnya.
Tangan mulus Ayu berhasil menamparnya. "Aku akan mencekikmu!" tekannya yang bersiap-siap untuk mencekik sasarannya.
"Astaga, kau sangat kasar sekali. Inilah akibatnya jika kau tidak mendengarkan perkataanku."
"Dasar laki-laki buaya!" racau Ayu.
"Ck, memangnya buaya tidak ada berjenis kelamin betina?" tukasnya yang kesal.
Seketika Ayu tertawa, membuat Riko menggaruk kepala karena sangat bingung. "Kenapa kau tertawa?"
"Aku tidak bisa menghitung mu." Ayu mulai menghitung, tertawa saat melihat sahabatnya menjadi banyak. Dia segera melepaskan cengkramannya, berlalu pergi hendak keluar dari Bar. Karena tak ingin disalahkan, Riko memutuskan untuk mengejar sahabatnya yang berjalan dengan sempoyongan.
"Hai, tunggu! Kau mau kemana?"
"Kembali ke hotel."
Tak butuh waktu lama, Riko membopong tubuh wanita itu menuju ke kamar hotel dan membaringkan tubuh itu ke atas ranjang empuk. "Jika saja kau orang lain? Mungkin aku meninggalkanmu di Bar." Gumamnya yang menatap wajah cantik dari sahabatnya.
****
Keesokan harinya, Ayu terbangun dari tidurnya sambil memegangi kepala menggunakan kedua tangannya. Rasa pusing yang menjalar dan berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. "Hah, ini karena aku banyak minum. Aku harap Riko tidak menjahiliku!"
Tak sengaja, dia melihat di atas nakas, sarapan yang sangat menggugah selera. Tapi perhatiannya tertarik dengan sepucuk surat di bawah piring, dan mengambilnya karena penasaran.
["Makanan itu untukmu, aku membawakannya. Disebelahnya ada proposal mengenai acara lelang. Oh ya, hampir saja aku lupa! Aku membawamu dengan selamat, jangan lupa untuk membalasnya. Dari sahabatmu yang paling tampan seantero jagat raya, Riko."]
Ayu kembali meletakkan sepucuk surat, menggelengkan kepala. Mengambil makanan dan mulai menyuapkan ke dalam mulut. "Wah, ternyata dia memahamiku. Makanan ini sangat enak." Monolognya seraya membuka proposal dan mulai memahami setiap kata dan angka yang tertulis.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Ayu segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, dan membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian, dia telah selesai berpakaian rapi.
Di awal acara lelang amal, Riko dari awal telah sampai di hotel untuk mempersiapkan acara. Aktivitas yang sangat padat, membuatnya terlihat sangat sibuk. Ayu hanya memperhatikan sahabatnya dari kejauhan, duduk di kursi paling sudut. Bahkan Vanya juga hadir di sana. Semua orang berkumpul untuk mendapatkan sesuatu yang mahal dan berharga.
Acara diadakan tepat jam 8 pagi, kursi yang awalnya kosong mulai terisi. "Akan ada sepuluh barang yang akan di lelang!" ucap sang pembawa acara dengan bersemangat, karena orang yang hadir kalangan ke atas.
Semua orang sangat bersemangat, berharap menemukan barang unik. Mereka bertepuk tangan, sang pembawa acara memulai lelang pertama.
"Karena semua orang sudah tidak sabar, saya akan memperlihatkan sebuah karya seni yang sangat unik." Sang pembawa acara memperlihatkan barang pertama untuk di lelang. "Patung atau figur berbentuk kelinci yang dibuat oleh Jeff Koons ini merupakan salah satu patung hasil karya yang sangat unik. Patung ini memiliki tinggi tiga kaki atau sekitar satu meter, terbuat dari stainless. Apakah kalian tertarik? Kami membuka harga mulai dari lima puluh juta US Dollar."
"Enam puluh juta US Dollar." Tawar salah satu dari mereka.
"Delapan puluh juta US Dollar."
"Sembilan puluh juta US Dollar."
"Sembilan puluh satu juta US Dollar."
"Oke, sembilan puluh satu juta US Dollar satu, sembilan puluh satu juta US Dollar dua…sembilan puluh satu juta US Dollar tiga." Pembawa acara mengetuk palu dan berhasil menjual karya seni yang sangat unik itu dengan cepat. "Pemenangnya adalah tuan Lincoln, patung kelinci ini akan menjadi miliknya."
Semua orang bertepuk tangan, dan pembawa acara kembali melanjutkan lelang kedua. "Untuk pelelangan selanjutnya ialah hamster plush yang sangat unik, mulai membuka harga seratus juta US Dollar."
Karya yang dibuat sangat indah dan terlihat sangat nyata, dia menyukainya dan ingin membeli. "Seratus lima puluh juta US Dollar!" tawarnya.
"Seratus delapan puluh juta US Dollar." Ucap Vanya yang bersaing untuk mendapatkan hamster plush, melirik rivalnya. "Aku sangat yakin, jika Farhan memberikannya uang." Batinnya, dia sangat marah saat mereka menyukai hamster plush.
"Seratus sembilan puluh lima juta US Dollar." Tawar Ayu.
"Dua ratus juta US Dollar," tawar Vanya yang melirik Ayu dengan tajam juga sinis.
__ADS_1