
Hendrawan menghela nafas berat, raut wajah yang bahagia berubah menjadi kekecewaan mendengar hubungan cucunya yang berjalan dengan sangat lambat. Namun menghargai keputusan dua orang di hadapannya, berusaha untuk menerima hubungan itu.
"Baiklah, aku setuju! Jika kalian sudah merencanakannya, apa yang bisa aku lakukan?" seloroh Hendrawan yang pasrah.
Ayu merasa sedikit bersalah, karena dirinya menginginkan hal itu. Sedangkan Farhan melirik wanitanya dan menganggukkan kepala dengan pelan untuk menenangkan. Dia tersenyum saat pria di sebelahnya membela dirinya, karena merasa jika pernikahan begitu mengejar dirinya dan membutuhkan sedikit waktu.
"Maaf, sudah membuat Kakek sedih dengan keputusan kami!" ucap Farhan mewakili.
"Aku menghargai keputusan kalian, semoga tidak ada halangan yang memisahkan."
"Semoga berjalan lancar."
"Bagaimana jika pertunangan kalian diadakan dalam waktu dekat?" usul Hendrawan yang sangat antusias.
"Apa waktunya tidak terlalu mepet?" Ayu memberanikan diri membuka suara dan menyampaikan pendapat, walau sedikit gugup dalam menyampaikannya. Sorotan mata yang didapatkan membuatnya semakin gugup.
"Jangan menunda hal yang baik," ujar Hendrawan yang tersenyum.
"Ha, mungkin yang dia maksud mengenai waktu persiapan pertunangan yang sangat singkat, dia sedikit terbebani dengan itu. Benar begitu 'kan?" sela Farhan yang menjelaskan, tak ingin jika sang kakek salah paham dengan calon tunangannya, dan melirik Ayu agar menganggukkan kepala.
"Iya, itu memang benar."
"Itu sering kali terjadi, aku tidak mempermasalahkannya, yang terpenting kalian tidak tidak menunda untuk saling terikat dalam pertunangan." Jelas Hendrawan yang memahami situasi.
Farhan mengalihkan perhatiannya ke samping. "Jangan khawatir, kita pasti melewatinya dengan sangat baik."
"Baiklah."
"Syukurlah jika kalian setuju."
Suasana hening seketika, Farhan menatap sang kakek. "Oh ya, bagaimana masalah dengan Adi?"
"Ck, aku sangat menyesal merawat pria serakah itu."
"Apa yang akan Kakek lakukan? Apa tidak ada hukuman untuk pelakunya?"
"Apa kau pikir aku diam saja? Bahkan menantu dan juga anak sialan itu bekerja sama." Hendrawan menghela nafas berat, sangat terbebani mengenai keserakahan menantunya, Wina.
Farhan terdiam, dia merasa sangat kecewa dengan sang ibu yang bekerja sama dengan seorang pengkhianat seperti Adi. "Lalu, apa yang akan kita lakukan?"
"Kumpulkan semua bukti yang ada dan jangan melakukan apapun sebelum aku perintahkan!"
"Bukankah semua bukti telah terkumpul? Apa itu masih kurang?" ucap Farhan yang sudah geram dengan anak angkat dari kakeknya dan juga ibunya.
"Itu belum cukup, lakukan sesuai yang aku katakan!"
__ADS_1
"Baik, Kek." Patuh Farhan yang menundukkan kepala, ada guratan kesedihan mengenai sang ibu yang haus akan harta, tidak memikirkan dirinya.
****
Kabar pertunangan Farhan dan Ayu yang menyebar dengan sangat cepat membuat semua orang heboh, bahkan menjadi trending topik di berita. Banyak orang yang mendambakan pasangan yang sangat serasi itu dan mendoakan jika pertunangan lancar hingga menuju altar pernikahan.
Dan ada sebagian orang yang tidak menyukai kedekatan hubungan pertunangan mereka, menyayangkan jika pria tampan yang menjadi presdis HR Grup menikah dengan wanita biasa seperti Ayu.
"Pria yang sangat malang, menikah dengan sekretaris miskinnya."
"Kau benar, bahkan banyak wanita cantik yang selalu mengejar Farhan. Tapi kenapa dia malah memilih Ayu?"
"Seleranya sangatlah rendahan!"
"Aku harap pertunangan itu tidak sampai ke jenjang pernikahan."
"Kau sangat jahat sekali! Mendoakan kejelekan orang lain."
"Biarkan saja, aku hanya mengatakan yang akan terjadi kedepannya."
Begitulah tanggapan beberapa orang yang sangat tidak menyukai jika hubungan Farhan dan Ayu berjalan dengan lancar. Bukan sampai disana, beberapa komentar di internet juga menyudutkan hubungan keduanya.
"Begitu banyak komentar negatif di internet," gumam Farhan yang melihatnya di layar pipih.
"Itu benar, Tuan. Bahkan mataku menjadi sakit, ingin rasanya aku mematahkan jari-jari mereka." Sahut asisten Heri yang juga geram dengan kalimat pedas tertera jelas di internet.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Tuan."
Farhan menghela nafas, mengusap wajahnya dengan kasar dan kembali menatap layar laptop. "Kau urus semua ini, jangan ada haters!" titahnya tanpa bantahan.
"Baik, Tuan. Akan saya lakukan!"
"Hem, jangan sampai aku kembali melihat komentar jelek itu lagi."
"Siap." Jawab asisten Heri dengan cepat dan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
Sedangkan Farhan menatap punggung yang menghilang dari balik pintu. "Aku sangat merindukan Ayu!" gumamnya yang tersenyum.
***
Di dalam Bar, seorang wanita yang selalu datang ke tempat itu hampir setiap hari, menikmati segelas minuman yang memabukkan, dan bahkan penari yang hebat di atas lantai dansa. Seorang wanita cantik yang tersenyum dengan berita yang menjadi topik utama, seraya memelintir poninya. "Wow, ini sangat menarik!"
Seseorang menepuk pundaknya, seketika dia menoleh dan tersenyum saat melihat temannya yang telah duduk di sebelahnya.
"Apa kau telah melihat berita hari ini? Berita yang sangat heboh!" serunya Inez yang bersemangat.
__ADS_1
Wanita itu tak menjawab, tersenyum sembari meneguk gelas minuman beralkohol. "Aku sudah melihatnya, kau tidak perlu menjelaskannya."
"Hah, aku sangat iri dengan hubungan mereka. Andai saja aku bertukar posisi dengan Ayu."
"Heh, berhentilah bermimpi!"
"Kau mematahkan semangatku!" keluh Inez yang cemberut.
"Karena itulah kenyataannya! Terima saja nasibmu yang tak akan berubah." Ucapnya yang hendak pergi dari tempat itu, raut wajah keangkuhan dan juga sombong tak pernah pudar sedikitpun. Dia menoleh sepersekian detik ke arah temannya. "Keduanya pasti akan segera berpisah!" ucapnya penuh keyakinan dan berlalu pergi, sedangkan Inez menggaruk kepala yang tidak gatal berusaha mencerna ucapan dari temannya.
****
Hari pertunangan hampir tiba, Farhan bangun pagi-pagi dan mencari wanita yang selalu dirindukan.
Ayu yang baru saja selesai membersihkan diri dan bersiap-siap, mendengar suara ketukan pintu dan segera membukanya. Terlihat seorang pria tampan yang mengenakan setelan jas untuk pergi ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan sebelum pertunangan berlangsung. Bukankah kau mau pergi ke kantor?"
"Ya, itu benar! Ada beberapa berkas yang harus diurus dan tidak bisa di wakilkan."
"Lalu? Kenapa kau malah berada di sini?"
"Hanya ingin meminta ciuman selamat pagi."
"Apa itu di perlukan?"
"Tentu saja, itu sudah seperti vitamin agar terus semangat." Ayu tersenyum membuat Farhan mengerti, mendekap tubuh mungil itu dan akhirnya mereka berciuman beberapa menit.
"Aku sudah memberikan semangatmu, apa kau sudah puas?"
"Sebenarnya tidak, apa aku boleh memintanya lagi?"
"Kau pria yang sopan dan serakah! Aku merasa ciuman itu sudah cukup, karena aku tak punya banyak waktu." Sahut Ayu yang tersenyum.
"Jadi kau tak punya waktu untukku? Apa itu adil?"
"Kau sangat konyol, aku tidak ingin terlambat untuk berdandan dan tampil cantik di acara pertunangan kita."
"Ya, baiklah. Aku mengerti, tapi jangan terlalu cantik. Aku tak ingin para pria menatapmu!"
"Terserah kau saja."
"Kau pergi bersama siapa? Aku tak ingin kau pergi sendirian saja." Farhan mencoba untuk memperingati calon tunangan yang sebentar lagi menjadi tunangannya.
"Aku pergi bersama managerku, kau tidak perlu khawatir."
"Baiklah." Farhan setuju, kembali memeluk Ayu dan menciumnya sekali lagi.
__ADS_1