
Aluna sangat terkejut saat merasakan tubuh kekar yang memeluk dirinya begitu erat, tamparan yang dia berikan merupakan pelajaran untuk pria yang berani bersikap kurang ajar padanya. Sorot mata yang tajam dan juga dingin, air mata menetes dengan sendirinya sebagai bentuk menyesali perbuatannya.
"Berani sekali kau mencium diriku dan juga memelukku tanpa izin, memangnya kau siapa? Aku tidak pernah memberikan hak pada pria rendah sepertimu." Ketus Aluna yang menunjuk wajah Leon dengan tatapan sarkas, emosi yang meluap karena pria itu melukai perasaannya. Turunkan aku!" pekiknya yang membuka pintu mobil, tapi ditahan.
"Tidak aku biarkan kau keluar dari sini." Tegas Leon.
"Memangnya kau siapa? Aku bukanlah barang yang bisa kau injak-injak, menyingkirlah dariku! Mars pasti mencariku dan khawatir."
"Jangan sebut nama pria itu di hadapanku." Seketika Leon menjadi dingin saat mendengar nama musuh yang lolos di ucapkan oleh Aluna, dia tidak menyukai jika nama pria itu di sebut-sebut.
"Memangnya kenapa? Mars itu kekasihku, dan kau? Hanya pria yang tidak jelas. Turunkan aku sekarang juga atau aku akan nekat," tekan Aluna yang mengancam, namun dia melihat ke luar jendela apalagi dengan kecepatan laju kendaraan yang bisa menyakiti dan merusak kulit mulusnya. "Astaga, apa aku bisa mencabut kata-kata ku? Aku tidak ingin terluka dan bersentuhan dengan aspal itu, perawatan kulitku akan sia-sia saja." Gumamnya yang menelan saliva dengan susah payah, takut jika itu benar-benar terjadi.
"Ya sudah, kau bisa lompat dari mobil ku ini." Leon sengaja membuka pintu mobil.
Angin yang menerpa wajah Aluna sangatlah kencang, dia bahkan kesulitan menata rambut dan juga wajahnya yang pucat saat melihat jalanan. "Pria brengsek ini malah menjebakku, aku tidak mungkin membahayakan nyawaku sendiri. Setidaknya aku mati dengan cara elegan, bukan seperti ini." Umpat kesal kepada Leon.
"Kenapa kau diam? Ayo, lompatlah. Bukankah itu yang kau inginkan? Tapi aku tidak menjamin keselamatanmu, apa kau punya asuransi? Coba perhatikan di luar sana, batu kerikil di pinggir aspal dan juga pembatas jurang yang terlihat runcing. Aku perkirakan kau akan menderita patah tulang dan yang lebih parah kau bisa tiada di muka bumi ini. Tapi kau tenang saja, aku akan selalu mengunjungi makammu dan mengirimkan buket bunga melati putih." Jelas Leon yang melirik Aluna dan memberi isyarat untuk lompat, dia tahu jika wanita di sebelahnya hanya mengancam saja.
"Kau kejam sekali, mendoakanku untuk mati."
"Aku menyampaikan fakta dan konsekuensi yang kau terima saja, apa aku salah?" sahut Leon dengan santai. "Jangan banyak berpikir, lompatlah! Bukankah itu yang kau inginkan?" dia sengaja mendorong tubuh Aluna, untung saja wanita itu memeluk bagian sandaran kursi.
"Apa kau gila? Aku akan melaporkan tindak kejahatan mu yang berusaha untuk melenyapkan ku."
"Berhentilah mengancam, bagaimana kau melakukannya? Jika__." Leon menggerakkan tangannya seakan menggorok leher.
"Stop, jangan katakan apapun lagi. Lagipula siapa yang ingin mati konyol?" Aluna menutupi wajahnya dan tidak berani menatap wajah tampan di sebelahnya.
"Heh." Leon tersenyum tipis dan kembali menutup pintu mobil, pandangannya di fokuskan ke depan dan melihat jalanan. Aluna mengintip memperhatikan wajah tampan di sebelahnya, namun tetap mempertahankan posisi memeluk sandaran kursi mobil. "Berhentilah menatapku!"
"Siapa yang menatapmu?" elak Aluna.
Leon menghela nafas yang mengetahui tingkah dari mantan sekretarisnya, dia mendekatkan wajahnya yang tampan menatap Aluna dengan lekat. "Kau boleh melihatnya sepuas hatimu."
"Apa yang kau lakukan? Menjauh dariku! Aku sangat risih," ungkap Aluna yang menggeser tubuhnya sedikit menjauh, sementara Leon mematuhi perkataan dari wanita yang disebelahnya. "Kemana kau akan membawaku?" tanyanya yang begitu penasaran, tidak bisa menahan dirinya untuk menghilangkan rasa penasaran.
"Ke apartemen milikku."
"A-apartemen, kau dan aku? Itu ide yang sangat buruk, sebaiknya kau mengantarku ke apartemen milikku saja."
Leon tak menjawab, hal itu menyulut emosi Aluna dengan pria dingin di sebelahnya. "Dia pria yang sangat kaku," batinnya dengan pandangan tak suka.
Mobil berhenti, Leon keluar dari mobil dan membantu membuka pintu untuk Aluna. "Ayo, keluarlah!" ucapnya tanpa menoleh.
"Tidak, aku ingin pulang."
__ADS_1
"Kau keluar atau aku akan bertindak nekat?" ancam Leon yang menatap wajah mantan sekretarisnya.
"Sudahlah, berhenti mengancamku. Aku hanya ingin pulang," keukeuh Aluna yang membalas tatapan itu sepersekian detik dan kembali membuang arah pandangannya ke sisi samping.
"Kau sudah mengatakannya, sekarang giliranku bekerja." Tanpa diduga, Leon menggendong tubuh Aluna seperti sekarung beras. Dia tidak menghiraukan bagaimana wanita itu memukul punggung dan berusaha memberontak agar terlepas darinya. "Diam atau aku bisa bertindak nekat."
"Aku tidak takut."
Leon yang tidak pernah kehabisan cara, dia memukul pantat Aluna yang membuat wanita itu sangat terkejut dengan membelalakkan kedua mata, hal itu berhasil menghentikan aksi pemberontakan. "Kau sangat kurang ajar!" pekik si wanita yang merusak indra pendengarannya. "Pria brengsek sepertimu harus aku beri pelajaran."
"Lakukan saja apa yang kau inginkan, tapi aku pastikan kau aku setubuhi."
Deg
Seketika Aluna menghentikan aksi pemberontakannya, mendengar ucapan dari Leon berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Tidak ada pikirannya mengenai hubungan intim yang tidak sah, apalagi dia mengenal jika ucapan yang dilontarkan oleh pria itu tidaklah main-main.
Langkah yang terhenti saat mereka sampai di depan pintu apartemen, Leon segera masuk setelah menekan kata sandi, kembali berjalan menuju kamar dan menghempaskan tubuh wanita yang sedari tadi dia pikul. Aluna meringis merasakan tubuhnya yang remuk akibat ulah dari mantan atasannya, melemparkan tatapan tajam.
"Kau pria kasar," ucap nya yang kesal dan baru tersadar saat melihat sekeliling, Leon begitu nekat dan membawanya masuk ke dalam kamar yang hening hanya berdua saja. "Bisakah kita pindah tempat?"
Leon hanya terdiam dan melepas jasnya, membuka dua kancing kemeja dari atas setelah melonggarkan dasinya. Dia meraih handuk putih dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aluna memperhatikan pria itu yang menghilang di balik pintu kamar mandi, dia mengambil kesempatan untuk kabur sebelum benar-benar menjadi mangsa sang mantan bos.
Aluna menekan gagang pintu hendak kabur, tapi terpaksa membatalkan niatnya saat pintu itu sudah dikunci oleh Leon. "Sial, ternyata dia pria dengan penuh persiapan. Apa aku akan melepaskan masa perawanku disini? Oh ya Tuhan, bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini? Sementara ponselku juga terjatuh." Lengkap sudah penderitaannya saat ini. Tapi dia berusaha sekuat tenaga dan menekan kata sandi yang salah, mencoba berulang kali namun gagal.
Beberapa menit kemudian, Aluna tak menyerah. Dia terus saja mencoba untuk membukakan pintu dan kabur dari apartemen milik Leon, pria yang bertindak nekat membuatnya sangat tidak nyaman terutama dikunci dalam satu ruangan yang sama apalagi di dalam kamar.
"Diam kau, ini semua salahmu. Apa salahku hingga kau berpikir untuk mengunciku dalam kamar mu," pekik Aluna yang berbalik badan, tapi terkejut saat melihat tubuh Leon bagian atas terpampang begitu nyata, otot perut seperti roti sobek, kekar, dan juga menggoda imannya. Air rambut basah menyentuh pipinya, wajah yang terlihat sangat dekat bahkan bisa merasakan hembusan nafas mint yang menyegarkan.
Leon terus menatap sepasang netra mata di hadapannya, mengunci tubuh Aluna menggunakan kedua tangannya agar tidak bisa kabur. "Sekali lagi kau kabur? Aku akan memakanmu di sini."
Aluna sangat kesal dengan ucapan Leon yang selalu saja mengancamnya. "Berhentilah mengancamku, kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan." Balasnya yang tak gentar.
Leon memundurkan langkahnya dan berjalan menuju lemari pakaian tanpa mengucapkan sepatah kata, dia memilih pakaian tidur dan menggantinya sembarang tempat membuat Aluna sangat terkejut.
"Apa kau gila? Gantilah pakaianmu di kamar mandi," pekiknya yang berbalik, sangat cemas melihat belalai tanpa gading jelas terlihat olehnya.
"Aku sudah biasa menggantinya disini, mulai sekarang kau biasakan dirimu beradaptasi dengan ini." Sahut Leon dengan santai dan tidak tahu malu.
"Apa begini caramu dan kebiasaanmu? Kau menodai mataku. Oh ya, aku sarankan untukmu bercukur. Hutan gambut mu membuatku sangat risih dan juga geli."
"Aku tidak punya banyak waktu untuk itu, apa kau ingin mencukurnya?" Leon terkekeh geli melihat tingkah Aluna saat melihat benda keramatnya secara nyata.
"Tidak akan aku lakukan."
"Aku jamin, tidak lama lagi kau akan melakukannya."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Aluna yang masih mempertahankan posisi yang berbalik badan, tidak ingin melihat belalai tanpa gading yang amat menakutkan seperti singa.
"Nanti kau juga akan tahu, ganti pakaianmu!"
"Apa aku bisa berbalik?"
"Hem, aku sudah selesai berpakaian."
"Baiklah, apa kau lihat aku membawa pakaian ganti?" protes Aluna.
Dengan cepat Leon membuka lemari putih itu dan begitu banyak pakaian seksi, gaun indah, dan semua pakaian memenuhi lemari putih itu. "Semua ini gaun dari rancangan Ayu, semuanya sesuai dengan ukuran tubuhmu yang mungil itu, tinggal kau pilih saja."
"Ini semua pakaian untukku?" Aluna tak menyangka jika pria itu sudah mempersiapkan segalanya, tidak ada kata untuk menghindar selain pasrah menerima nasib yang dipegang oleh Leon.
Aluna berdiri di sudut ruangan, dia memikirkan cara untuk kabur. Leon berjalan menghampirinya dan tersenyum melihat keputus asaan yang terpancar di wajahnya. "Kau tidak akan bisa kabur," ucap pria itu yang tersenyum meremehkan.
"Mars pasti menemukan aku!" ketus Aluna yang memanfaatkan kekuasaan dari kekasih sewaannya.
Mendengar nama dari musuh bebuyutan, Leon mengepalkan kedua tangannya dan rahang yang mengeras, tidak terima jika wanita di hadapannya menyebut nama Mars. "Berani sekali kau mengatakan nama pria itu," dia menggendong tubuh Aluna dan melemparkannya ke atas ranjang, menindih tubuh mungil dan mengunci pergerakan.
"Apa salahnya? Mars adalah kekasihku, mengapa kau yang marah. Aneh!"
"Aneh? Aku aneh? Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengatakan nama pria brengsek itu," Leon kembali tersulut emosi.
"Mars…Mars dan Mars, aku mengatakan namanya, kau mau apa?" Tantang Aluna dengan pandangan tajam.
"Sudah cukup," Leon tidak tahan dengan nama sang rival yang keluar dari mulut Aluna, dia bertindak cepat dan mencium bibir wanita dalam kungkungan nya. Ciuman yang berawal kasar dan kemudian beralih lembut, mempraktekkan kelihaiannya dalam menaklukkan wanita.
Aluna berusaha mendorong tubuh Leon, tapi tidak berhasil karena kekuatan dari pria bukanlah tandingannya. Pria itu menciumnya semakin dalam, bahkan membuatnya kehabisan oksigen.
Leon melepaskan ciuman yang terjadi beberapa menit saja, dia tidak ingin jika juniornya bereaksi. "Jangan mengatakan namanya!"
"Kenapa?" tanya Aluna sembari mengatur nafasnya.
Leon terdiam beberapa saat dan mengakui perasaannya yang sangat cemburu melihat kedekatan dari mantan sekretarisnya. "Karena kau adalah milikku, tidak akan aku biarkan siapapun memilikimu selain aku."
Aluna terdiam bagai patung, dia tidak tahu bereaksi entah senang atau sedih. "A-apa maksudmu?"
"Apa aku mengatakannya kurang jelas? Aku mencintaimu…aku mencintaimu, Aluna. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh, tapi aku merasa tidak senang dan cemburu saat kau berdekatan dengan musuhku itu." Akhirnya Leon berterus terang dengan perasaan cintanya, dia tidak bisa melihat wanita yang dicintai bersama dengan pria lain.
Seketika Aluna terdiam menyerap perkataan pria yang terbaring di sebelahnya dan memeluknya.
"Tidurlah, aku tidak akan menyentuhmu." Ucap Leon yang mengeratkan pelukannya, mencium aroma tubuh Aluna yang membuatnya merasa nyaman.
Sementara Aluna merasakan jantung yang berdegup dengan cepat, mengingat bagaimana perlakuan Leon padanya. "Apa ini mimpi?" gumamnya.
__ADS_1
"Tidak, kau tidak bermimpi. Aku membalas perasaanmu, maafkan aku yang terlambat menjadi milikmu. Aku tahu kau dan pria brengsek itu hanyalah kekasih berdasarkan kesepakatan, dan mulai sekarang kau putuskan kesepakatan itu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Aluna. Tidurlah, dan biarkan aku memelukmu."
Aluna kembali terdiam dan merasakan hembusan nafas nya Leon di belakang lehernya, sangat hangat dan memejamkan mata, dan mulai memasuki dunia mimpi. Keduanya tidur dengan sangat nyaman, dan menikmati waktu tidur dalam satu ranjang.