Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 77 ~ Rasa


__ADS_3

Ayu bernafas lega saat teleponnya di angkat oleh Farhan, kekhawatiran yang terasa di benaknya sedikit berkurang. 


"Syukurlah kau mengangkat telepon dariku, kau ada dimana?" 


"Ck, kau selalu saja mengganggu. Dasar benalu!" 


"Si-siapa kau? Dimana Farhan?"


"Apa kau tidak mengenali suaraku?" 


"Vanya? Kau kah itu?" 


"Yap, tepat sekali."


"Serahkan ponsel itu ke pemiliknya."


"Wow…kau terlalu tergesa-gesa. Kau pasti sangat khawatir sekarang, suaramu membuktikan segalanya."


"Apa maksudmu?" 


"Apa kau ini bodoh? Farhan tidak akan menyukaimu. Apa yang coba kau pertahankan?"


Seketika Ayu tertegun, bibirnya seakan diam membisu. Mengingat jika Farhan tidak menyukainya, dan perjodohan ini hanyalah sebuah alasan percobaan selama tiga bulan lamanya. 


"Jika kau khawatir, cari saja sendiri. Hanya saja, Farhan akan menjadi mudah tersinggung setelah kau mencarinya." Sambung Vanya yang terus memprovokasi Ayu. 


"Heh, sudahlah! Berhentilah berpura-pura peduli. Dia aman bersamaku!" 


Ayu menutup telepon, bibir seakan keluh dan membuatnya diam terpaku. Ucapan dari Vanya berhasil membuatnya terpengaruh, dan menurutnya cukup masuk di akal. Sementara Vanya tersenyum bangga, bisa membuat Ayu percaya. 


Vanya melempar ponselnya sembarang arah, kembali melanjutkan aktivitas dan gairah yang tertunda. "Ayo kita mulai," ucapnya dengan nada seksi. Namun, Farhan kembali membuka kedua matanya, menghentikan permainan gila dari wanita yang ingin memperkosanya. 


Ayu memundurkan langkahnya, memilih duduk dan memikirkan kecemasan dan perkataan Vanya. "Ayolah Ayu, kenapa kau mulai terpengaruh dengan ucapan ketua ubur-ubur itu." Gumamnya seraya mengusap wajah dengan kasar. Berjalan menuju ranjang, dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat. 


"Bagaimana jika mereka sedang menghabiskan malam bersama? Terbukti saat telepon dariku diangkat oleh wanita itu. Ya tuhan… apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidak menyukai hal ini. Memikirkannya membuatku semakin gila." Racau Ayu yang berusaha memejamkan kedua matanya, berharap kekhawatiran nya hilang. Namun usahanya tidak berhasil, saat pikiran dan hatinya masih memikirkan Farhan. Kegelisahan itu membuatnya tidak bisa tidur sepanjang malam. 

__ADS_1


****


Keesokan paginya, semua orang hadir untuk melanjutkan rutinitas yang biasa mereka lakukan. Asisten Heri celingukan ke dalam ruangan sang atasan yang masih kosong, memperhatikan dengan menyusuri tempat itu. 


"Kemana tuan Farhan? Tidak biasanya dia terlambat untuk hadir!" gumamnya yang tampak berpikir. Memutuskan untuk pergi kembali ke studio menghampiri semua orang. 


Ayu yang biasanya sangat cekatan, hari ini tidak terlihat pancaran semangat di kedua manik matanya yang indah, pikiran yang terus tertuju pada Farhan dan berpikir jika pria itu menghabiskan waktu bersama Vanya. Tapi dia berusaha memberikan yang terbaik dengan profesional dalam bekerja, memperhatikan semua orang yang terlibat dalam proses syuting. Ayu menghirup nafas dengan dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, kembali mengumpulkan sisa semangat di dirinya. 


"Perhatian semuanya! Apa perlengkapan telah dipersiapkan?" Ucap Ayu yang menepuk tangan sebanyak dua kali untuk mendapatkan perhatian dari semua orang. 


"Semua telah dipersiapkan dengan baik, hanya menunggu perintah darimu saja." Sahut salah satu kru dan penanggung jawab. 


"Baiklah, sebaiknya kita menuju lokasi!" titah Ayu. 


"Ya, baiklah."


"Tunggulah sebentar lagi, tuan Farhan belum hadir di sini." Celetuk asisten Heri. 


"Kita tidak bisa menunggu lagi, bagaimana jika tuan Farhan mempunyai kesibukan lain?" jawab salah satu kru. 


Seketika mood Ayu kembali menghilang. "Aku sangat yakin, pasti pria itu kelelahan setelah menghabiskan satu malam dengan Vanya." Batinnya yang sangat kesal karena menahan cemburu. 


"Setidaknya tunggulah sebentar," bujuk asisten Heri yang memelas. 


"Kita sudah menunggunya cukup lama, aku ada di sini untuk mengurusnya." Celetuk Ayu yang menatap asisten Heri dengan ketus. 


Seketika asisten Heri menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan, tatapan tajam dari Ayu membuatnya sedikit terkejut dengan sikap yang tidak pernah dilihat sebelumnya. "Astaga…tatapan dari nona Ayu persis seperti tuan Farhan, yang satunya singa jantan dan ini versi singa betina. Sungguh perpaduan yang sempurna, namun itu tidak baik untuk diriku, sebaiknya aku cari aman saja." Gumamnya di dalam hati. "Baiklah, terserah Nona saja." Sahutnya sembari tersenyum paksa, statusnya yang sebagai asisten bos tak terpengaruh jika berhadapan dengan calon tunangan sang atasan. 


Saat semua bersiap-siap, Ayu masuk ke dalam mobil bersebelahan dengan Gabriel. Pria itu tersenyum, seketika berubah khawatir saat melihat raut wajah murung Ayu. Dia terus memperhatikan wanita yang tidak bersemangat, tampak seperti memikirkan sesuatu yang tidak diketahui. 


"Ada apa dengannya? Tidak biasanya Ayu begini, apa terjadi masalah?" batin Gabriel. "Ada apa? Kau terlihat murung sekali." Tanyanya sambil menoleh ke samping menatap wanita cantik di sebelahnya. 


Ayu tersenyum dengan sekilas dan menggelengkan kepala. "Bukan masalah besar," sahutnya yang tak ingin menceritakan kegelisahan di benaknya. 


"Aku mengenalmu dengan baik, jangan membohongiku!" tukas Gabriel yang tak mempercayai ucapan dari wanita itu, karena keadaan Ayu terlihat sangat buruk. 

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." 


Di Sepanjang perjalanan, Ayu menatap di luar jendela mobil, terdiam dan hanya mengacuhkan perkataan dari pria di sebelahnya. 


"Kita sudah sampai." Celetuk Gabriel yang membuyarkan lamunan Ayu. 


"Eh, sudah sampai?" ucapnya yang sedikit linglung. 


"Yap, karena kau melamun dari tadi. Ayo turunlah!" ajak Gabriel yang tersenyum. 


"Baiklah." Ayu turun dari mobil. "Bisakah kita makan malam dulu? Aku sangat lapar!" pinta Ayu memegang perutnya yang terasa lapar. 


"Bukan kau saja, aku juga lapar." Ayu dan Gabriel memutuskan untuk makan malam bersama. 


Beberapa saat kemudian, mereka kembali melanjutkan proses syuting iklan. Suasana gelap di hutan di tepi Danau sangat mendukung akting dari dua brand ambassador itu. Ayu melihat sebentar akting dari Gabriel dan juga Fina sebagai sepasang kekasih, mengungkapkan perasaan keduanya. 


"Cut." Ayu menghampiri kedua selebriti itu dan memperagakan akting. "Sebaiknya kita istirahat dulu," titahnya. 


"Ada apa?" tanya Gabriel menatap Ayu. 


"Jujur saja, aku tidak puas dengan akting kalian. Seakan tidak ada rasa dan emosi dengan adegan ini, perhatikan seluruh gestur dan pancaran sorot mata sesuai naskah."


"Aku akan mencobanya!" sela Fina. 


"Hem, sebaiknya kita istirahat karena aku tidak ingin tenaga kalian terkuras."


"Baik." Sahut mereka serempak. 


"Sementara kalian beristirahat, aku akan pergi mencari tempat yang lebih cocok. Aku merasa di sini belum sesuai." Ujar Ayu yang melangkahkan kakinya menjauh dari semua orang. 


Ayu berjalan-jalan sekitaran Danau di pinggir hutan, menikmati kesendirian dalam kesunyian malam. Berdiri di pinggir Danau, melupakan seluruh beban yang ada di pundaknya. 


Seseorang tersenyum devil saat melihat sasaran ada di depan mata, memanfaatkan kondisi itu dengan sebaik-baiknya. "Inilah saatnya!" batin orang itu yang ingin mendorong Ayu ke Danau. 


Tak sengaja Ayu mendengar suara ranting kayu yang patah, menoleh dengan cepat dan menghindar dari orang yang ingin membunuhnya. 

__ADS_1


__ADS_2