Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 36 ~ Memanasi hati Vanya


__ADS_3

Perasaan marah tak bisa dibendung lagi akibat tingkah Farhan yang tidak ingin melepaskannya. "Hei, lepaskan aku. Apa kau mendengarnya?" Cetus Ayu yang menatap Farhan dengan tajam. 


"Tidak." Farhan tersenyum saat melihat wanita itu mencoba untuk melepaskan dirinya,


"Oh ya ampun…dia bahkan hanya tersenyum dengan wajah bodohnya itu. Ingin rasanya aku mencakar-cakar wajahnya menggunakan kuku ku," gumam Ayu di dalam hati. 


"Kau tidak akan bisa melakukannya," Celetuk Farhan. 


Sontak Ayu terkejut saat mendengar suara Farhan. "Eh, apa dia bisa membaca pikiranku?" Batin Ayu yang melongo. Farhan menjentikkan jari-jarinya di hadapan wanita itu untuk menyadarkannya. 


"Tutup mulutmu sebelum kemasukan lalat," ejek Farhan yang masih mencengkram tangan sekretaris nya. Dengan cepat Ayu menutup mulutnya sambil cemberut, memajukan beberapa sentimeter bibirnya ke depan. 


"Apa kau semacam peramal?" Tanya Ayu yang sangat tiba-tiba, Farhan membenarkan duduknya. Menatap sekretaris barunya tanda tanya, hingga terdengar suara gelak tawa di ruangan itu. 


"Kenapa dia tertawa?" Gumamnya yang sedikit jengkel. 


"Karena kau sangatlah lucu, bagaimana mungkin kau percaya tukang ramal di zaman modern ini?" Jawab Farhan di sela-sela tawanya. "Tapi, kenapa kau mengatakan itu?" Tawanya berhenti dan menatap Ayu dengan serius. 


"Lupakan itu, sebaiknya lepaskan cengkraman ini!"


"Tidak," sahut Farhan cepat. 


"Ada apa denganmu?" Cetus Ayu yang mendengus kesal sembari pasrah, tak ingin melawan karena hanya membuang-buang tenaga. 


"Ini tidak seru, kau mengalah dengan sangat cepat. Aku akan melepaskanmu!" Farhan melepaskan cengkraman tangannya, menatap wajah cantik wanita yang ada dekat dengannya. 


"Hem." Ayu membalasnya dengan deheman, dan kembali ke sikapnya yang hanya acuh tak acuh. Tapi masih memberikan rasa seperti Kira, seorang gadis kecil penyelamat Farhan. 

__ADS_1


"Apa sikapmu selalu begitu?" Ucap Farhan. 


"Ya, lalu?" 


"Bisakah kau bicara dengan sedikit lembut."


"Tentu, hanya saja itu tergantung situasinya dan dengan siapa aku berinteraksi," jawab Ayu dengan enteng. 


"Ck, jangan katakan itu dan lupakan saja. Lagipula aku juga tidak berharap." Farhan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. "Apakah sebelumnya kau pernah diculik?" Dia menautkan kedua alisnya seakan menginterogasi dengan tatapan yang sangat dalam. Sangat berharap jika Ayu adalah Kira, gadis kecil penyelamatnya dulu. 


"Tidak," jawab Ayu dengan tenang. 


Seketika tatapan Farhan berubah menjadi kecewa, mendengar Ayu berkata tidak. "Aku sangat yakin jika Ayu adalah Kira, tapi kenapa dia sepertinya melupakan kejadian itu? Hah, ini sangat membingungkan?!" batinnya. 


"Kau selalu menanyakan pertanyaan sama, mengenai tentang penculikan ataupun nama yang kamu sebutkan. Siapa tadi namanya? Oh ya…Kira. Siapa Kira?" Tanya Ayu yang sangat penasaran, menatap bosnya dengan antusias. 


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya? Apa kau cemburu saat aku memanggil nama itu?" Tutur Farhan tidak menjawab pertanyaan Ayu dan malah menggodanya, tatapan mereka bertemu satu sama lainnya dalam artian yang berbeda. Farhan menyipitkan kedua matanya, sedangkan Ayu kesal karena sikap Farhan. 


"Ck, terlihat jelas di wajahmu."


"Apa di wajahku tertulis bahwa aku sedang cemburu? Aku melakukan ini hanya demi kakek dan kontrak pernikahan dalam tiga bulan, itu saja dan tidak lebih." Tekan Ayu yang berusaha menjelaskan supaya Farhan tidak salah dalam memperkirakan. 


"Kau sangat sombong sekali, dan selama itu kau akan tetap menjadi bawahanku," jawab Farhan dengan Bos. 


"Aku tidak peduli dengan itu, kau hanya membuang-buang waktu berhargaku. Minumlah kopinya dan aku rasa mungkin sudah dingin," ujar Ayu yang tersenyum dan ingin meninggalkan tempat itu. Farhan sangat kesal dan menarik tangan Ayu dengan kasar saat mendengar penuturan wanita itu yang membuat telinganya panas. Hingga Ayu tak sengaja menabrak dada bidang pria tampan yang menjelma sebagai bosnya, tidak ada jarak diantara keduanya. Tatapan mata saling bertemu, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lainnya. 


Ayu menelan salivanya yang seakan tersangkut di tenggorokan, melihat ekspresi tak bersahabat dari bosnya. Menatapnya seakan ingin mengoyak-ngoyak layaknya seekor singa yang memangsa lawannya. 

__ADS_1


"Jika dia menatap anak kecil seperti itu, aku sangat yakin jika anak kecil itu akan sawan dan demam. Sepertinya dia tersinggung dengan ucapanku! Selamat Ayu…kau berhasil menggali lubang kuburan mu sendiri, telah membangunkan singa yang tertidur," gumam Ayu di dalam hati, berusaha memikirkan cara untuk meredakan amarah pria tampan itu. 


"Arghhh…," Teriak seseorang dari depan pintu, dia sangat terkejut saat melihat adegan kedekatan pria yang dia sukai sedang memeluk Ayu, si wanita kampung. 


 Farhan ingin menghukum sekretaris nya, baru saja dia ingin berbicara. Terdengar suara teriakan yang memekakkan telinga, hingga mengalihkan perhatiannya ke asal suara. Mereka sedikit melonggarkan kedekatan yang seperti berpelukan itu, tapi dengan cepat Ayu mendekatkan dirinya. Dia tersenyum tipis saat melihat kedatangan orang itu, memanfaatkan situasinya. Ayu malah mendekati dirinya dalam rangkulan Farhan dan membuat Vanya kesal. 


"Hehe…aku ingin lihat, bagaimana ubur-ubur itu bereaksi," batin Ayu yang di untungkan.


Farhan sedikit terkejut dengan sikap berani Ayu yang semakin dekat dengannya, tapi di satu sisi dia sangat menyukai aksi wanita itu. Farhan tersenyum samar tanpa diketahui oleh orang lain. 


"Sepertinya dia sengaja melakukannya, wanita kampung itu selalu saja membuat aku kesal dan juga marah," gumam Vanya di dalam hatinya. Dia sangat kesal saat melihat adegan yang membuat matanya sakit, wajah yang merah padam terlihat dengan jelas. Sorot mata tajam dan menusuk ke arah rivalnya seperti jarum, berusaha untuk mengontrolnya. Perasaan sakit di hatinya tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata


"Ada apa?" Tanya Farhan dingin, masih mengikuti permainan dari wanita yang merangkul lehernya. 


"Sepertinya aku datang di waktu yang salah," ucap Vanya yang merendah. 


"Benarkah? Seharusnya pintu itu di ketuk terlebih dahulu, tapi kau seakan kehilangan tata krama untuk itu," cibir Ayu. 


"Dia sahabatku dan aku sangat yakin jika Farhan tidak mempermasalahkan hal itu, benar 'kan Farhan?" Seloroh Vanya yang melirik sahabat sekaligus orang yang dia sukai. 


"Itu benar," sahut Farhan cepat. 


"Ck…ck, sungguh perilaku yang sangat buruk dan tidak patut untuk dicontoh," ejek Ayu yang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sebaiknya kau pergi saja, jangan merusak suasana romantis kami." 


Farhan menggelengkan kepalanya saat melihat akting Ayu yang sangat bagus. "Seharusnya dia memenangkan penghargaan si ratu drama," batin Farhan. 


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Farhan."

__ADS_1


"Yasudah, bicarakan saja di sini."


"Sebelumnya maafkan aku yang telah mengganggu KEROMANTISAN kalian, hanya saja aku kesini untuk memberikan rencana proposal kepadamu," tekan Vanya yang tersenyum lembut kepada Farhan sembari melirik Ayu dengan sinis, bermaksud untuk mengusir rivalnya dari ruangan itu. 


__ADS_2