
Semua orang mengikuti perkataan Ayu yang menyelidiki langsung ke pabrik nomor satu, dia memikirkan masalah yang terjadi dan dalang sebenarnya. Tak lama, mereka semua tiba di pabrik dan mulai menjelajahi tempat itu, mempelajari, dan mengecek semua yang ada di sana.
"Masalah ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama, bukankah kita menggunakan bahan berkualitas tinggi?" Celetuk Raymond.
"Kau benar, seperti ada yang memonopoli semua ini, cepat atau lambat dalangnya pasti aku temukan." Jawab Farhan dengan penuh keyakinan.
"Semoga saja."
"Kenan!" panggil Farhan tanpa menoleh.
"Iya, Tuan."
"Siapa yang bertanggung jawab membeli bahan baku?"
"Itu tugas karyawan lama, Tuan." Jawabnya dengan antusias.
"Petugas lama?" sela Ayu mengerutkan kening, sedikit tidak memahaminya.
"Benar, Nona."
"Aku ingin bertemu dengannya," pinta Ayu.
"Untuk apa Nona menemuinya?"
"Tentu saja untuk menambah penyelidikan ini, jangan banyak bertanya dan lakukah sesuai perkataanku!" jelas Ayu yang sedikit jengkel dengan pria itu.
"Baiklah, jika itu keinginanmu, Nona."
"Hem."
Kenan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi karyawan lama, memintanya untuk segera datang. Tak butuh waktu yang lama, Karyawan itu datang menghampiri mereka. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Apa Paman karyawan lama yang bertanggung jawab untuk bahan baku?" Ayu menatap dengan penuh penyelidikan.
"Benar, Nona."
__ADS_1
"Paman pasti tahu kenapa kami mengunjungi pabrik ini!"
"Apa ingin masalah perhiasan yang mengandung racun?" tebaknya pria paruh baya itu, karena dia juga merasakan hal yang sama.
"Benar."
"Maafkan saya, Nona. Ini kesalahan saya yang lalai dan juga ceroboh."
"Ceroboh?" Ayu menaikkan sebelah alisnya ke atas, menatap pria paruh baya di hadapannya.
"Saya patut disalahkan," ucap pria paruh baya yang menundukkan kepala. "Tapi, saya membeli bahan baku berdasarkan peraturan perusahaan." Jelasnya dengan jujur.
"Bisa kau perlihatkan dokumen pembelian bahan baku?" Farhan mengabaikan ucapan pria paruh baya itu, lebih tertarik pada secarik kertas yang menjadi bukti jika sekretarisnya tidak bersalah.
"Ini, Tuan. Saya tahu ini akan diperlukan dan sudah mengantisipasinya dulu." Memberikan sebuah dokumen mengenai bahan baku yang dipakai kepada Farhan.
Farhan mulai membaca dokumen dengan seksama, semua bahan yang ditulis sudah sesuai porsinya. "Semua bahan bakunya masih aman, tapi kenapa ini bisa terjadi? Ada sesuatu yang harus aku selidiki, ini sangat mencurigakan," batinnya yang mulai mencurigai seseorang.
"Aku ingin kau membuatkan daftar karyawan yang hanya bisa menyentuh baha baku, sedikit mengurangi kejadian ini terulang kembali," perintahnya pada Kenan.
"Baik, Tuan. Sesuai perkataanmu!" sahut Kenan mengangguk patuh.
"Maaf, Tuan. Saya harus mengangkat telepon dulu!" Kenan berusaha mendapatkan izin untuk menjawab telepon penting. Farhan menganggukkan kepala dan menyetujuinya. Kenan tersenyum dan segera menjauh dari semua orang, sedangkan Farhan menarik tangan sekretarisnya menjauh dari Raymond.
"Eh, bagaimana dengan tuan Raymond?" tanya Ayu yang sedikit terkejut.
"Biarkan saja, pria itu hanya akan mengganggumu saja."
"Hem, terserahlah." Sahut Ayu yang tak peduli.
Mereka memutuskan untuk melanjutkan pergi menuju gudang, keduanya pergi tanpa menghiraukan Raymond yang terus memanggil nama mereka. "Sial, Farhan menang banyak!" gumamnya kesal dan memilih pergi dari tempat itu.
Ayu mengikuti langkah kaki pria di depannya, tiba-tiba perasaannya menjadi sangat cemas dan penuh khawatir. "Aku merasa hal yang buruk akan terjadi, tapi apa?" batinnya.
Farhan terus berjalan kedepan masuk ke dalam gudang, memperhatikan bahan baku dengan seksama, sedangkan Ayu menjadi tidak konsentrasi saat pikiran dan hatinya menjadi tidak tenang, tertinggal di belakang.
__ADS_1
"Masuklah! Kenapa kau masih disana?" tanya Farhan yang menoleh.
"Entahlah, aku merasa enggan untuk masuk ke sana."
"Bukankah kita akan menyelidiki hal ini, mungkin kau hanya kelelahan saja."
"Aku di sini saja, sebaiknya kau kembali. Aku merasa ada kejadian buruk yang akan terjadi." Ayu sedikit takut, perasaannya bercampur aduk dan berusaha untuk menenangkan diri.
"Kau ini kenapa? Itu hanya perasaan karena kau sangat lelah, aku akan kembali mengecek bahan bakunya, dan kau tunggulah di sana." Farhan kembali fokus pada pekerjaannya, sementara Ayu meremas ujung bajunya dan berjalan mondar-mandir layaknya setrikaan. "Kenapa dia sangat keras kepala? Aku sangat mencemaskan Farhan." Gumamnya yang terus menatap punggung bos sekaligis calon tunangannya.
Seketika kedua pupilnya membesar saat melihat gudang di depan tiba-tiba meledak, kobaran api yang membesar ingin melahap bangunan itu.
"Farhan…menjauh dari gudang itu!" pekik Ayu yang mengeluarkan suaranya dengan sangat keras, melihat api yang mengejar bosnya, berharap pria itu segera berlari dari sana dan keluar dengan selamat.
Farhan menoleh dan melihat sebuah api yang sangat besar, dengan cepat berlari untuk menyelamatkan diri. Menghampiri sekretarisnya seraya menjauh dari sana, dan tiarap. Dia melindungi tubuh Ayu, agar tidak terkena panas dan tidak terluka.
Mereka segera berdiri setelah situasi sedikit aman, Farhan segera mengecek tubuh mungil itu. "Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan sangat khawatir, membalikkan tubuh wanita untuk mengecek luka atau goresan.
"Aku baik, dan kau?"
"Aku juga tidak apa-apa, hanya lecet sedikit saja."
Farhan tersenyum dan membelai rambut Ayu, memeluknya dengan erat. Suasana itu kembali diuji saat dia melihat sebuat atap plafon yang rusak tiba-tiba terjatuh, kakinya sedikit terluka membuatnya tidak punya pilihan lain. Memeluk tubuh Ayu semakin erat, melindunginya dengan mengorbankan tubuhnya sendiri. Atap plafon mengenai tubuhnya, membuat mereka jatuh dan pingsan.
Ayu mengerjapkan mata, melihat sekeliling ruangan yang tampak berbeda. Dia mendudukkan diri di atas brankar sambil memegangi kepala. "Sepertinya aku berada di rumah sakit, tapi apa yang terjadi?" monolognya yang mencoba mengingat kejadian tadi. Bagai rekaman video rusak, dia mengingat jika terjadi ledakan di gudang.
"Aku ingat sekarang, Farhan ke gudang untuk mengecek bahan, namun gudang tiba-tiba meledak dan dia menolongku."
Pintu terbuka membuatnya mengalihkan perhatian. Terlihat seorang perawat yang ingin memeriksa keadaannya, Ayu yang sangat khawatir menarik tangan wanita itu.
"Bagaimana keadaan Farhan?" desaknya, tatapan nanar dengan penuh harapan, berharap jika pria penyelamatnya dalam keadaan baik-baik saja.
Perawat itu mengerutkan kening karena tak mengerti ucapan yang menggunakan bahasa Indonesia.
"Désolé, je ne comprends pas ce que vous dites! (Maaf, aku tidak mengerti ucapanmu!)" ucap sang perawat yang kembali fokus memeriksa keadaan pasiennya.
__ADS_1
"Astaga, karena sangat cemas membuatku lupa, jika sekarang aku berada di Perancis." Monolog Ayu yang masih terdengar oleh perawat itu.
"As-tu besoin de quelque chose? (Apakah anda butuh sesuatu?)" tanya sang perawat memperhatikan pasiennya yang bukan orang Perancis.