
Farhan pergi dari kediaman sang kakek dengan ratapan kecewa, tidak mendapatkan informasi yang ingin diketahui. Sedangkan Hendrawan malah tersenyum bahagia saat melihat kepergian cucunya. Farhan mengendarai mobilnya menuju kantor, hanya untuk bertemu dengan wanita yang membuat rasa penasaran begitu besar. Dia melihat jam tangan yang melingkar di lengan, dia sangat yakin jika Ayu masih ada di kantor.
"Sebaiknya aku putar arah menuju kantor, Ayu masih ada di kantor saat ini." Gumam Farhan yang tersenyum, hingga dia menyadari ekspresi yang keluar tanpa sadar. "Eh, kenapa aku selalu tersenyum saat mengingat wanita itu? Apa aku tertarik padanya dan mulai menyukainya?" Batin Farhan yang menduga-duga. "Itu tidak mungkin, dia bukanlah seleraku. Aku hanya kagum saja, tidak lebih." Praduga nya yang tidak ingin mengakui ketertarikannya kepada Ayu.
Farhan masuk ke dalam kantor yang sepi akan karyawan, melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung pencakar langit dengan begitu santai dan juga tenang. Malam semakin larut, udara dingin yang menembus kulit membuat siapa saja ingin pulang dengan menarik selimut. Netra matanya jatuh saat melihat seorang wanita yang masih bekerja, Ayu lembur untuk menyelesaikan beberapa data yang harus di input dengan sangat teliti. Farhan hanya menggelengkan kepala saat melihat Ayu yang sangat pekerja keras.
"Dia wanita pekerja keras tanpa mengeluh sedikitpun," uca pelan Farhan yang tersenyum tipis dan masuk ke ruangan departemen sekretaris, tempat Ayu berada.
Merasa sedari tadi ada orang yang melihatnya, Ayu segera berbalik dan melihat seorang pria tampan yang sangat dia kenal. "Kau di sini?" Ucap Ayu yang mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa? Aku kembali ke kantor untuk melihat perkembangan laporannya." Jawab Farhan yang berbohong, padahal dia datang hanya untuk menemui dan melihat Ayu bekerja, dia takut jika di kantor mati lampu, apalagi Ayu sangat takut dengan kegelapan. Farhan berjalan masuk ke dalam ruangan dan ingin mengawasi lebih dekat lagi.
"Oh…aku pikir kau mencemaskan aku." Sahut Ayu dengan santai.
"Ck, sudah aku katakan untuk melihat pekerjaanmu saja," sahut Farhan yang tidak ingin motifnya terbongkar.
"Tidak perlu ketus begitu, pekerjaanku tinggal sedikit lagi. Aku mohon untuk tidak menggangguku." Ayu kembali berkutat pada layar laptop dengan raut wajah yang serius.
"Baiklah, tapi bisakah kau jelaskan tentang laporan keuangan serta laporan karyawan pada minggu ini?" Ucap Farhan yang berjalan mendekati Ayu.
"Tentu, akan aku perlihatkan." Ayu dengan sangat antusias memperlihatkan apa yang diminta oleh bosnya, menjelaskan beberapa laporan yang sudah dia rangkap terlebih dahulu. "Laporan keuangan dan laporan karyawan pada minggu lalu sangat bagus."
"Hem, bisakah kau menunjukkan bagian yang ini." Farhan mendekati Ayu dengan cara mendekatkan tubuhnya, satu tangan di atas meja dan tangan lainnya melingkari Ayu dan menunjuk ke layar laptop dengan satu tangan. Seolah-olah sedang memeluk Ayu dari belakang.
"Dia seperti memelukku, bahkan hembusan nafasnya terasa dengan jelas. Jantungku, ada apa dengan jantungku?" Batin Ayu yang memegangi dadanya yang berdegup kencang.
__ADS_1
"Kenapa kau melamun, bisa jelaskan bagian yang ditunjuk tadi?!" ucap Farhan yang menyadarkan lamunan Ayu.
"Eh, maaf. Akan aku jelaskan! Beri aku jarak." Lirihnya pelan, takut jika Farhan tersinggung.
"Kenapa?" Ujar Farhan yang pura-pura tidak tahu.
"Aku tidak nyaman saat kau sangat dekat denganku." Ayu buru-buru menghindari Farhan dan melanjutkan menghitung laporannya tanpa menghiraukan pria itu.
"Apa kau terpesona dengan ketampananku dan membuatmu gugup?" Goda Farhan yang tersenyum tengil.
Ayu menghentikan pekerjaan nya dan menoleh ke samping dan mendelik kesal. "Kau sangat narsis sekali," cibirnya yang kembali melanjutkan pekerjaan nya.
"Tapi itulah kenyataannya, terlihat jelas saat kau merasa gugup berada dekat denganku."
"Ish, daripada mengoceh tidak jelas sebaiknya kau diam agar pekerjaan ini cepat selesai," gerutu Ayu.
"Masih ada sedikit lagi." Tolak Ayu yang terus melanjutkan pekerjaannya membuat Farhan menghela nafas berat.
"Apa kau masih ingin melanjutkannya?" Ulang Farhan dengan nada tekanan.
"Ya, tentu saja."
Farhan kemudian duduk di kursi dengan begitu elegan, menatap Ayu yang keras kepala. "Aku tidak menjamin jika lampu ini terus menyala. Sebaiknya aku pergi saja, dan jangan meminta bantuanku saat lampunya padam!" ujar Farhan yang tersenyum simpul sambil mengangkat kedua bahunya.
"Hah, dia benar juga. Sebaiknya aku pulang saja, sebelum pria itu pergi. Suasana gelap sangatlah menakutkan." Batin Ayu yang terlihat ketakutan. Dengan tergesa-gesa dia mematikan laptop dan tas kecil, lalu berjalan ke arah pintu luar membuat Farhan tersenyum kemenangan.
__ADS_1
"Dasar tikus penakut!" lirih pelan Farhan yang menggelengkan kepala.
Mereka berjalan beriringan menuju ke parkiran di basement, tanpa ada obrolan membuat suasana kian sepi dan juga sunyi. Tanpa diduga, mereka disambut oleh kedatangan ketua sekretaris yang tersenyum devil, keduanya sangat terkejut.
"Hai, kalian merindukan aku?" Ucap Maudi dengan sorot mata membunuh.
"Kau di sini?" Sahut Ayu dan Farhan yang sangat terkejut mengenai kedatangan Maudi.
"Tuan, aku menunggumu sedari tadi. Tolong tetaplah di sini dan temani aku," rengek manja Maudi yang mengacuhkan ucapan Ayu, dia melirik Farhan dengan obsesi untuk memiliki. Dia berusaha keras untuk menghindari tim penyelidik, dan menguntit aktivitas harian Farhan.
"Sepertinya wanita ini sangat berbahaya," batin Farhan yang sangat mencemaskan Ayu. Walaupun dia membenci ketua sekretaris tapi dia menyuruh wanita itu pergi terlebih dahulu dengan baik-baik. "Sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan datang lagi ke kantorku."
"Tidak semudah itu kau mengusirku," pekik Maudi yang tertawa jahat dan tidak menuruti perkataan Farhan. "Dasar ja*lang sialan, karena dirimu membuat aku kehilangan segalanya." Maudi berteriak kemudian tertawa membuat Ayu semakin waspada.
"Sepertinya dia mengalami depresi berat akibat kejadian itu," gumam Ayu di dalam hatinya yang tetap tenang dan tidak memancing emosinya keluar. "Jangan berteriak atau pita suaramu terputus."
"Seharusnya kau tidak di sini, apa yang kau inginkan?" Farhan menatap Maudi dengan tajam.
"Aku menginginkan agar Tuan tidak mendekati wanita ini," pekik Maudi yang di butakan oleh kemarahan.
"Memangnya kau siapa? Jangan mengatur hidupku," tegas Farhan.
"Aku tidak rela jika Tuan mendekati wanita kampung itu karena aku sangat mencintaimu." Maudi kembali tertawa, seketika menangis saat meratapi nasibnya. Dia menyimpan dendam yang sangat besar kepada Ayu yang telah berhasil mengalahkannya.
Maudi sangat sakit hati juga cemburu saat melihat kedekatan Farhan dan juga Ayu, hati yang diselimuti kemarahan membuatnya bertindak nekat dengan mengeluarkan pisau lipat dari saku celana yang ia pakai, tersenyum jahat. Berniat ingin menikam Ayu agar mati membuatnya berambisi sangat kuat membuatnya gelap mata.
__ADS_1
"Kau harus mati ditanganku," ucap Maudi yang mengangkat pisau dan menargetkan Ayu.