
Tinggallah bos dan juga sekretarisnya berada di ruangan itu, terdiam beberapa saat. "Bagaimana? Apa kita hanya berdiam disini?" tanya Ayu sedikit gusar. Farhan mengusap wajahnya dengan kasar, mengingat permasalahan yang semakin sulit, menghela nafas dalam seraya menatap wanita di hadapannya.
"Kau tenang saja, kita akan mencari solusi dari permasalahan ini, aku mendukungmu." Ucap Farhan yang menggenggam sebelah tangan sekretarisnya dengan lembut, tersenyum tipis untuk membuat wanita itu tenang.
"Kenapa masalah selalu datang menghampiri kita?" Ayu menghela nafas berat, permasalahan yang silih berganti membuatnya sedikit lelah.
Farhan menghampiri Ayu dan memeluknya, memberikan kekuatan untuk saling menguatkan. Seketika di hatinya menghangat dengan pelukan yang terasa sangat nyaman. "Kau memanfaatkan situasinya!"
"Aku sedang menguatkanmu," jawab Farhan tanpa berniat melepaskan pelukan nya.
"Ya, sekarang aku sudah kuat. Bisakah kau melepaskan pelukan yang sedikit terasa sesak," terang Ayu yang membuat Farhan mengabulkan perkataannya dan terkekeh.
"Baiklah, kau terlihat menggemaskan jika sedang cemberut, tapi aku suka itu."
"Apa sekarang kau mencoba untuk merayuku?"
"Tidak, merayu bukan seperti itu. Kau terlihat sangat cantik, hingga aku terpesona dengan dirimu, kecerdasan yang kau miliki membuat aku terkesan. Bagaimana jika kita menikah?" Jelas Farhan yang panjang. "Itu baru namanya merayu!" ucapnya yang membanggakan diri, berusaha keras untuk menjadi pria romantis.
Ayu tertawa saat Farhan berhasil menghiburnya, kembali berjuang dan bersemangat. "Lupakan itu, dan lanjutkan permasalahan yang ada."
"Apa kau tidak apa-apa?" Farhan menatap sekretarisnya untuk memastikan keadaan dari wanita itu.
"Aku baik, ayo kita kembali membahasnya."
"Baiklah, jika kau memaksa."
Farhan mengambil remote televisi yang tak berada jauh darinya, memutarkan siaran yang memberitakan masalah keracunan yangterus diberitakan di media massa, banyak orang yang terkena dampak dari perhiasan yang mengandung zat radioaktif. Farhan dia mematikan televisi dan menatap Ayu dengan raut wajah yang serius, dia sangat tahu jika kabar ini pasti berkembang dengan sangat cepat.
Berita di media massa kembali memberitakan perusahaan yang dikelola oleh Farhan, nama yang tercemar tak membuat mereka putus asa untuk mencari sumber permasalahan berlangsung.
"Sebaiknya kita adakan rapat!" ucap Farhan dengan nada perintah.
"Ide yang bagus," sahut Ayu.
Di ruang rapat presdir, semua orang berkumpul untuk membahas kekacauan yang terjadi. Terdengar ketukan pintu mengalihkan perhatian semua orang. "Masuk!" ucap Farhan yang mempersilahkan.
Pintu terbuka lebar, terlihat seorang pria tampan yang tak lain adalah sang asisten Heri. Di tangannya membawa sebuah dokumen untuk menjadi pembicaraan topik yang akan dibahas. "Ini dokumen yang Tuan minta," ucapnya seraya menyerahkannya.
__ADS_1
Farhan mengambil dokumen itu dan membacanya, mencoba untuk memahami apa yang tertulis. Bahkan Ayu mendekatkan dirinya untuk bisa membaca dokumen, dia melirik bosnya beberapa saat dan kembali melirik kertas itu. Tertulis, bahwa pembeli perhiasan yang keracunan membeli perhiasan dari toko resmi.
"Laporan ini mengatakan jika pembeli membelinya di toko resmi, itu artinya ada masalah di sana." Ucap Farhan yang kembali meletakkan dokumen.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" tanya salah satu orang yang ada di ruangan.
"Perlu melakukan peninjauan pada perhiasan itu," ucap Farhan yang menatap lawan bicaranya. "Heri!" panggilnya seraya membuka telapak tangannya tanpa menoleh. Dengan cepat asisten Heri yang mengerti memberikan sebuah hasil uji perhiasan.
Farhan mengambil hasil uji, kedua pupil matanya yang membesar saat melihat hasil perhiasan positif mengandung zat beracun. "Hasilnya memang benar, bahwa perhiasan itu mengandung racun!" tegasnya yang menatap semua orang.
Sontak Ayu sangat kaget dengan hasilnya, tak percaya karena dia sendirilah yang merancang. "Bagaimana itu mungkin? Siapa pihak yang memonopoli ku?" batinnya yang berpikir dengan keras. Tanpa menunggu waktu lagi, dia mengisyaratkan Farhan agar mengizinkannya untuk menelepon.
Ayu mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, menghubungi anggota penguji pihak Perancis.
"Halo."
"Iya Nona, ada apa?"
"Bisa bantu aku?"
"Aku ingin kau menguji perhiasan itu dan katakan bagaimana hasil tesnya."
"Baiklah, saya akan mengujinya. Nona bisa menunggu beberapa menit saja!"
"Baiklah, aku akan menunggu."
Ayu mematikan teleponnya dan kembali menatap Farhan. "Bagaimana?"
"Mereka akan menguji perhiasan itu, beberapa menit lagi hasilnya akan keluar." Jawab Ayu yang sedikit cemas, berharap jika perhiasan itu aman.
"Kita tunggu saja."
"Kekacauan ini sangat besar, dan pastinya butuh dorongan kuat dengan pencapaian seperti ini." Celetuk asisten Heri.
"Kau benar, kekuatan dari orang itu sepertinya sangat kuat." Farhan setuju dengan pendapat dari asisten sekaligus tangan kanannya.
"Saya merasa, jika ini adalah musuh perusahaan, bukan musuh dari nona Ayu." Pendapat asisten Heri, dia memikirkan bosnya yang juga mempunyai musuh.
__ADS_1
"Musuhku?"
"Benar, Tuan. Jika perhiasan yang di produksi di Perancis terbukti mengandung zat beracun, maka sudah terlihat jelas jika itu musuh anda yang berniat untuk menjatuhkan perusahaan."
"Apa yang dikatakan oleh asisten Heri benar, Tuan. Jika sasarannya adalah perusahaan." Sahut yang lain menyetujui pendapat asisten Heri.
Di saat yang sama, Wina datang bersama Laras. Mereka mendobrak pintu rapat dan menjadi pusat perhatian, suasana tenang menjadi kisruh. "Kau hanya bisa membuat putraku terkena masalah, dan karena kau juga nama perusahaan ini tercemar!" ucap Wina yang menyindir dengan penuh kemarahan.
"Ma, kami sedang rapat!" Farhan mencoba untuk memperingati ibunya yang nyelonong masuk.
"Kalau begitu bubarkan rapat ini!" titah Wina yang dengan terpaksa di iyakan oleh Farhan.
Setelah semua orang telah pergi, Wina menyorot Ayu dengan tajam. Sedangkan Laras terus memercikkan api di hati Wina. "Wanita ini pembawa masalah bagi kak Farhan,"
"Kamu memang benar, Laras. Apa kau mencoba membuat anakku rugi besar dan membuat kami bangkrut?" tukas Wina yang kasar.
"Bukan aku pelakunya, untuk apa aku mempertaruhkan namaku?" bantah Ayu yang tak menyukai tuduhan itu.
"Suka tidak suka, itulah kenyataannya. Bahwa kau telah merusak reputasi dari putraku," sarkas Wina yang menunjuk wajah Ayu.
"Hentikan ini, Ma. Jika kalian hanya ingin menyudutkan Ayu, sebaiknya pergi dari sini!" ucap Farhan.
"Apa kau mengusir Mama?" Wina menatap putra yang lebih membela sang wanita kampung.
"Jika kalian hanya membuat keadaan lebih parah, sebaiknya pergi dari sini dan biarkan kami melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini."
"Ayo, kita pergi dari sini!" Wina menyeret tangan Laras karena tak bisa melawan perkataan dari putranya.
Keduanya menatap kepergian dari Wina dan Laras, Farhan membalikkan badan, raut wajah nanar. "Aku ingin meminta maaf atas nama Mama."
"Aku juga melakukan hal yang sama jika berada di posisinya."
Suasana itu terganggu saat terdengar suara dering ponsel, Ayu menjawab panggilan dari anggota penguji di Prancis.
"Halo, bagaimana hasilnya?"
"Benar, bahwa perhiasan itu mengandung zat radioaktif."
__ADS_1