Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 28 ~ Bulbul kesayangan kakek


__ADS_3

Ayu kembali melihat anjing di foto, kedua pupil matanya membesar saat melihat kerah leher yang sama. "Kerah leher anjing di foto sangat mirip dengan milik Bulbul, apa itu artinya…mungkin saja itu anjing yang sama," batin Ayu yang sangat terkejut dengan hal itu. 


Dia bangkit dari duduknya dan segera keluar dari ruangan itu dengan langkah yang tergesa-gesa tanpa memikirkan apapun lagi selain kepada anjing yang pernah dia selamatkan. Tak lupa dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor dokter hewan yang sudah tertera di layar ponselnya, meletakkan ponsel itu di telinga sembari menunggu untuk terhubung. 


"Halo."


"Halo, dok. Apa kau masih mengingatku?"


"Tentu saja aku mengingatmu, memangnya kenapa?"


"Aku ingin mengambil anjing yang pernah aku selamatkan tempo lalu."


"Bukankah kau belum mengetahui pemiliknya?"


"Aku sudah tahu sekarang, kerah leher di anjing itu sama dengan milik kakek Hendrawan dan aku sangat yakin setelah melihatnya, dan aku memutuskan untuk mengambil Bulbul dan menyerahkan kepada pemiliknya."


"Syukurlah jika anjing itu menemukan majikannya! baiklah, aku akan menunggumu. Tapi di mana kau sekarang? Kebetulan aku ada di jalan dan membawa Bulbul untuk ikut bersamaku."


"Aku akan mengirimkan lokasiku kepadamu, dokter."


"Baiklah, aku akan menyusulmu."


"Terima kasih, dok. Maaf merepotkanmu!"


"No problem."


Sambungan telepon berakhir, Ayu menunggu di suatu tempat yang tak jauh dari rumah tua kediaman kakeknya Farhan. Dia terus saja menatap jam yang ada di layar ponsel sambil menggerakkan kedua kakinya dengan perasaan yang tidak tenang. 


Vanya dan Wina melihat kepergian Ayu yang sangat mendadak, membuat kedua wanita itu tersenyum karena memiliki rencana baru untuk mempermalukan Ayu. "Wah, tak aku sangka ini akan terjadi. Pergi dengan tiba-tiba tanpa berpamitan sangatlah tidak sopan, apa yang membuatnya begitu terburu-buru?" Sindir Wina dengan bahasa tubuh yang angkuh, terlihat jelas jika dia menanyak karakter Ayu. 

__ADS_1


"Tante benar, itu sangat tidak sopan. Apakah dia diajarkan begitu?" Sambung Vanya. 


"Tidak masalah, mungkin saja dia memiliki alasan yang sangat kuat dan lupa untuk berpamitan," celetuk Hendrawan yang membela Ayu. 


"Tetap saja, tata krama lah yang paling utama," jawab Wina. 


"Itu sangat benar, Tan." Imbuh Vanya yang juga ikut menjatuhkan Ayu. 


"Jangan menilai seseorang dari luarnya saja dan aku tetap mempercayai gadis itu," ujar Hendrawan dengan penuh penekanan. Wina dan Vanya hanya terdiam, tidak ada yang berani membuka suara setelah mendengar suara ketegasan dari sang kakek. 


"Kakek bahkan juga membela gadis kampung itu, apa yang dimiliki oleh Ayu yang membuatnya lebih unggul dibandingkan aku? Melihat hal ini, aku semakin benci kepadanya," batin Vanya yang mengepalkan kedua tangannya di bawah meja makan agar tidak terlihat oleh orang lain. 


"Tidak perlu menunggu Ayu, mari makan!" ucap Farhan yang menengahi kejadian di hadapannya. 


"Kau benar, mari makan!" sahut Wina dan juga Vanya. 


Vanya berinisiatif untuk memberikan Hendrawan sandwich yang telah dia buat sendiri, wajah yang tersenyum dan penuh harap jika kakek Farhan memujinya. "Ini Kek, makanlah sandwich buatanku." Tawar Vanya yang menyerahkan piring yang berisi sandwich itu di hadapan Hendrawan. Tapi seakan piring yang berisi sandwich itu tidak terlihat, bahkan Hendrawan tidak meliriknya membuat senyum Vanya kian memudar. Dengan cepat dia mengalihkan pandangan menatap Farhan, senyum yang seakan redup seperti terisi beberapa volt semangat yang bergejolak di hatinya. "Akan aku bantu untuk mengupas udangnya dan kamu tinggal memakannya saja," celetuk Vanya menawarkan. 


"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri."


"Apa yang kau katakan? Aku tetap membantumu," keukeuh Vanya yang melakukan itu setelah ditolak Farhan dan ingin memasukkannya di atas piring milik pria tampan itu. 


"Apa kau tidak mengerti dengan kata tidak?" Ketus Farhan yang menepis tangan Vanya yang ingin memberikan udang ke atas piring miliknya.


"Tapi, aku hanya ingin membantumu," Lirih pelan Vanya yang menatap Farhan dengan nanar. 


"Tidak perlu."


Vanya sangat malu dengan perlakuan dari kedua pria yang ada di meja makan, penolakan yang membuatnya hanya terdiam. Wina menatap gadis di hadapannya dengan simpati dan juga prihatin. Ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan saat melihat Ayu yang datang dengan menggendong seekor anjing. 

__ADS_1


Semua orang menyorot Ayu, hingga Vanya tidak bisa menahan emosi saat melihat adanya seekor anjing di ruangan makan dan menurutnya sangat tidak sopan. 


"Berani sekali kau membawa seekor anjing di saat kami sedang makan?" Teriak Vanya yang beranjak dari kursi, menatap Ayu seakan ingin mencabik-cabik wajahnya. 


Ayu yang ingin menjawab pertanyaan Vanya, tapi tidak sempat saat Bulbul meronta untuk melompat ke samping Hendrawan dan menggosokkan punggungnya. Seakan Bulbul menyukai pria tua dengan rambut perak di sampingnya. Sedangkan kedua mata Hendrawan berbinar saat melihat anjing itu dengan sangat bahagia, sambil membelai tubuh Bulbul. Tak terasa kedua sudut mata keluar cairan bening yang menetes, air matanya berlinang saat melihat Bulbul. 


Farhan memandang Ayu yang membawa seekor anjing bersamanya, ada begitu banyak pertanyaan yang hinggap di benak dan pikirannya saat ini. "Bagaimana kau bisa menemukannya? Di mana kau menemukannya? Dan kapan kau menemukannya?" Serentetan pertanyaan yang muncul dari mulut Farhan membuat Ayu kewalahan untuk menjawabnya. 


"Inilah alasan ku yang terlambat terakhir kali adalah menyelamatkan Bulbul yang hampir saja tertabrak, membawanya ke dokter hewan untuk diperiksa, dan menghabiskan banyak waktu," jawab Ayu dengan berterus terang. 


"Hanya untuk menyelamatkan seekor anjing liar, bahkan dia rela menunda pekerjaannya di kantor. Bahkan aku hampir salah paham dengannya, ternyata Ayu benar-benar sangat baik, menolong hewan terlantar dengan membahayakan nyawanya sendiri," batin Farhan yang terus menatap Ayu. 


"Kenapa kau memandangku begitu?!" cetus Ayu yang sedikit risih dengan tatapan dari pria tampan di hadapannya. 


Farhan kembali mengatur raut wajahnya seperti semula, mengalihkan perhatian ke atas piring di depannya. "Maaf, bukan maksudku begitu. Kau sangat baik sekali dan mau menolong seekor anjing liar," puji Farhan. 


"Aku merasa sangat kasihan dengan Bulbul dan menolongnya." Ayu masih berdiri menatap Farhan dengan sangat antusias


"Terima kasih," ujar Farhan. 


"Untuk apa kau berterima kasih?" Tukas Ayu yang menatap Farhan dengan sekilas. 


"Karena kau membawa anjing itu kembali dan membuat kakek sangat bahagia." Farhan melihat sang kakek sedang asik mengelus tubuh peliharaan dari mendiang istrinya, dia sangat senang dan tak bisa dijabarkan lagi.


"Terima kasih untuk ini," celetuk Hendrawan yang menyorot Ayu beberapa detik dan kembali asik dengan peliharaan sang istri. 


"Sama-sama, aku harap kesedihan Kakek berkurang."


"Tentu saja, semua ini berkatmu." Hendrawan menyunggingkan senyuman di wajah yang berkerut miliknya. 

__ADS_1


__ADS_2