
Situasi semakin memanas, di kala melihat berita yang tersebar di internet mengenai insiden kecelakaan pesawat. Ramai yang berkomentar untuk belasungkawa, berpikir jika Farhan dan Ayu sudah tewas. Hal itu membuat mereka sangat geram, bahkan mereka baru beberapa hari menghilang dan berita hoax yang tersebar luas di jejaringan sosial.
"Ck, ini sangat tidak adil." Celetuk Farhan.
"Mau bagaimana lagi? Orang-orang berpikir jika kita tidak akan selamat, dan mempunyai peluang yang sangat kecil."
Farhan menyandarkan punggung di sisi sofa, menengadahkan kepala melihat langit-langit atap. "Pria licik itu sangat terobsesi dengan perusahaanku, sangat menjijikkan!" gumamnya yang sangat kesal.
"Itulah kehidupan, banyak ujian yang harus dilewati dengan baik."
"Kita harus mengumpulkan semua bukti untuk memutar balikkan keadaan!" Farhan sangat yakin, dan berusaha untuk bangkit.
"Itu lebih baik."
Farhan tersenyum dan menggeser tubuhnya mendekati sekretaris nya. "Kau kenapa?" Ayu mengerutkan kening karena tak tahu apa yang dilakukan oleh pria di sebelahnya.
"aku sangat senang, di saat masa sulit kau tidak meninggalkan aku."
"Aku tidak akan melupakan kebaikanmu yang selalu menyelamatkan dan melindungiku." Jawab Ayu tersenyum manis.
"Aku berjanji, tidak akan membuatmu sedih. Hanya ada namamu di hatiku dan tidak akan meninggalkanmu sendirian!" Farhan berjanji dengan sangat serius sambil memegang kedua tangan mulus juga lentik.
"Aku percaya!"
****
Asisten Heri kembali ke perusahaan dan bersikap netral seperti tidak terjadi apapun, melangkahkan kakinya menuju ruangan. Namun, langkahnya terhenti saat namanya dipanggil seseorang. "kau memanggilku" sahutnya yang menoleh.
"Benar." Menghampiri asisten Heri yang tengah menatapnya heran, mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri. " Perkenalkan, saya asisten dari tuan Adi. Anda bisa memanggilku Yoga!"
"Saya Heri, senang berkenalan dengan anda." Asisten Heri menyambut uluran tangan dengan sangat antusias, bersikap netral untuk membuat rencana mereka berhasil.
"Hem, anda hendak kemana?"
"Ingin masuk ke dalam ruangan presdir, apa anda membutuhkan sesuatu?"
"Yap, itu sangat benar. Saya kesini ingin menemui anda, dan ingin mendengar jawaban atas tawaran dari tuan Adi."
"Anda datang di waktu yang tepat, saya sudah memikirkan mengena masalahi ini dan menerima tawaran itu." Asisten Heri berpura-pura menerima tawaran agar pria di hadapannya percaya, jika dirinya sudah berpaling dan memihak mereka.
__ADS_1
Asisten Heri bisa melihat raut wajah lawan bicaranya yang sangat senang mendengar keputusannya, membawa Yoga menuju ruangannya untuk membahas hal ini.
"Apa anda sangat yakin?" tanya Yoga sekali lagi.
"Aku sangat yakin, siapa yang menolak keuntungan besar?"
"Bagus, ada beberapa syarat yang harus anda penuhi."
"Jangan khawatirkan itu, saya menyetujui apapun syaratnya."
"Anda harus berkhianat pada perusahan HR Grup, dan jangan pernah berkhianat pada tuan Adi. Anda pasti mengetahui konsekuensinya!"
"Jangan khawatir, sekarang aku di pihak tuan Adi."
"Itu kabar yang sangat bagus, aku akan mengatakannya kepada tuan Adi mengenai persetujuan mu untuk bekerjasama dengan kami." Keduanya tersenyum dan saling berjabat tangan.
****
Dua hari kemudian, hari dimana Adi akan mengadakan konferensi pers. Sementara Ayu dan Farhan bangun sangat pagi, demi menjalankan rencana. "Apa kau sudah siap?" Ayu membantu bosnya mengenakan dasi.
"Tentu saja, kejahatan dan keserakahan tidak akan berjalan dengan mulus."
"Halo, tuan!"
"Kenapa kau meneleponku di pagi buta?"
"Hanya ingin melapor, tuan. Jika semuanya berjalan dengan lancar."
"Itu bagus, awasi dia dan jangan sampai mereka curiga padamu."
"Baik, tuan."
Sambungan telepon terputus, Farhan kembali memasukkan ponselnya ke dalam jas, menatap wajah cantik di pagi hari bagaikan vitamin baginya. "Kau sangat cantik!" pujinya yang terpesona.
"Dan kau juga sangat tampan."
"Apa kau sudah siap?"
"Hah, kau selalu saja menanyakan itu. Aku sangat siap!"
__ADS_1
"Hanya memastikannya saja."
"Ya, terserah kau saja."
Selesai memasang dasi, Farhan memegang kedua pundak Ayu dengan lembut. "Kita harus membagi tugas." ucap pria itu.
"Ide yang sangat bagus, aku akan pergi ke rumah sakit dan mengeluarkan kakek dari sana. Saat konferensi pers dimulai, aku sudah berada di lokasi."
"Hati-hati! Jangan sampai kau membuat kecurigaan."
"Serahkan padaku." Ayu segera pergi dari tempat itu, menyamar sebagai seorang perawat dengan identitas salah satu dari perawat. Dengan penuh hati-hati untuk masuk ke dalam dan membawa Hendrawan keluar dari penjara. Cukup mudah baginya membebaskan kakek setelah melumpuhkan banyak penjaga dengan memberi obat bius.
Tak butuh waktu lama, Ayu mendorong kursi roda menuju konferensi pers. Ingin memperlihatkan kepada semua orang, jika dia mempunyai sikap kepedulian tinggi dan rasa hormat yang selalu dijunjungnya. Memperhatikan pria paruh baya yang ingin mengeluarkan pendapat di hadapan publik.
Konferensi pers di mulai, banyak para reporter yang meramaikan suasana. Tak tanggung-tanggung, Adi mengundang begitu banyak reporter untuk meliput kabar terbaru darinya. "Terima kasih, kalian sudah mempertimbangkan hal ini untuk datang dan meliput."
"Kamilah yang seharusnya berterima kasih," sahut salah satu reporter yang sangat mengidolakan pria paruh baya itu.
Ayu terus mengawasi Adi, terkejut saat melihat seorang wanita di sebelahnya. "Apa ini? Adi bekerjasama dengan nyonya Wina? Tapi, kenapa wanita itu mengkhianati putranya sendiri?" batinnya dan segera meminta orang lain untuk membawa Hendrawan ke tempat lain.
"Apa tanggapan anda mengenai insiden kecelakaan pesawat?" tanya salah satu reporter yang mengarahkan perekam suara di hadapan Wina.
"Aku sangat sedih dan merasa kehilangan, dia putraku! Tim SAR berusaha untuk melakukan pencarian selama berhari-hari dan tidak menemukan petunjuk apapun." Jelas Wina.
Acara berjalan dengan sangat meriah, pembawa acara meminta Wina untuk memberikan sebuah pidato, mengungkap siapa yang akan menjalan perusahaan setelah Farhan dan Ayu di nyatakan meninggal dunia.
"Terima kasih atas belasungkawa yang kalian berikan padaku, kehilangan seorang putra yang sangat aku banggakan. Sebagai seorang ibu membuat hatiku sangat hancur, apa kalian tahu? Bagaimana kesehatanku sedikit menurun. Semua tim sudah turun tangan dalam pencarian itu, namun tidak ada petunjuk apapun. Karena tidak bisa menemukan dimana Farhan, dan aku akan merekomendasikan orang yang sangat cocok bertugas sebagai presdir menggantikan tempat putraku yang telah tiada." Jelas Wina.
Ruangan itu terdengar riuh, mendengar ucapan dari Wina yang mencengangkan. "Apa pencarian tetap berlanjut?"
"Aku rasa tidak." Sahut yang lainnya.
"Sangat terlihat jelas apa yang dikatakan oleh nyonya Wina di hadapan semua orang." Sambung yang lainnya.
Ayu mengangguk paham, berhasil mencerna ucapan dari Wina. "Oho, sekarang tebakanku sangat tepas sekali. Jika nyonya Wina telah bersepakat untuk mencapai tujuan masing-masing." Gumamnya yang masih memantau dari kejauhan.
Selesai berpidato, Wina dikerubungi oleh para reporter, mereka sangat penasaran mengenai kelanjutan dari perusahaan. "Apakah nyonya sudah mempunyai calon presdir untuk menggantikan tuan Farhan?"
Wina melirik Adi dan tersenyum sekilas, kembali menarik perhatiannya kepada para reporter. "Aku sudah memikirkan hal ini, Adi akan menggantikan posisi putraku yang telah tiada."
__ADS_1