Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 167 ~ kepedulian Gabriel


__ADS_3

Ayu mencoba untuk menerobos, tapi kedua wanita itu terus saja menghalanginya. "Apa kau tidak mengerti juga? Pergilah dari sini!" bentak Laras.


"Aku hanya ingin menemui kakek, hanya sebentar." Bujuk Ayu yang sangat mengkhawatirkan pria tua yang tengah mempertahankan hidup dan mati.


"Pergilah dari sini! Kau hanya akan memperburuk suasana, apa kau puas telah melukai perasaan putraku? Dan juga telah menyakiti ayah mertuaku, hah?" bentak Wina dengan kasar.


"Lakukan apapun yang kalian inginkan, tapi berikan aku waktu untuk melihat kondisi kakek."


"Astaga…kau terus saja bersikukuh dan merengek. Walaupun kau menangis darah sekalipun, aku tidak akan membiarkanmu untuk mendekati ayah mertuaku!" ketus Wina yang sangat heran dengan wanita itu.


Ayu kembali menerobos, namun Wina dan laras mencekalnya dan mendorong hingga terjatuh ke lantai. Dia segera berdiri dan kembali melanjutkan untuk menerobos kedua wanita itu. Keduanya sedikit kewalahan menghadapi satu orang wanita. 


"Security…security!" pekik Wina yang memanggil petugas keamanan yang telah di kalahkan Ayu sebelumnya, mereka sedikit ragu untuk melaksanakan perintah. Tapi masih peduli dengan pekerjaan dan tidak ingin dipecat.


Plak


Satu tamparan keras mendarat di pipinya, menoleh menatap sang pelaku seraya memegangi pipi yang meninggalkan bekas. Sorot mata yang tajam menatap Laras, dia terdiam beberapa saat. 


"Itu akibatnya, kau telah menyebarkan berita mengenai identitas ku. Bahkan tamparan keras itu belum seberapa saat kau mempermalukanku di hadapan semua orang." Laras sangat marah, telah mengekspos dirinya di hadapan semua awak media, jika dia hanyalah anak adopsi dari keluarga Hendrawan.


Ayu tak diam saja, kembali menampar pipi Laras yang membalasnya dua kali lipat. "Jika kau menunjukku dengan satu jari telunjuk, maka empat jari lainnya mengarah kepadamu." Balasnya dengan tenang.


"Sial, aku hanya menamparmu sekali. Tapi kau membalasnya dua kali lipat, bedebah!" Laras sangat marah, citra yang dia banggakan menjadi rusak.


Beberapa orang security segera menahan Ayu setelah berpikir akan berpihak kepada siapa.


"Apa tato di wajah kalian kurang? Lepaskan aku!" ancam Ayu dengan sorot mata tajam, membuat mereka sangat takut. 


Pada saat yang sama, pertengkaran masih tetap berlanjut. Farhan muncul saat mendengar laporan dari sang asisten yang mengatakannya keributan. "Kenapa kalian sangat berisik sekali, jika sampai kakek kenapa-kenapa? Maka aku menghukum kalian." tegasnya seraya melirik Ayu sekilas dan bersikap acuh tak acuh.

__ADS_1


Laras segera menghampiri kakak sepupunya, bergelayutan manja di lengan pria itu. Dia sangat menikmati perannya, mendalami akting yang menuju totalitas. "Kak, aku sudah meminta wanita itu untuk pergi, tapi dia tetap bersikukuh untuk bertemu dengan kakek." Ujarnya dengan nada yang manja.


Farhan terdiam dan menatap Ayu dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi.


"Dia terlihat sangat tertekan dengan semua ini, kesalahan yang tidak aku sengaja. Keputusan yang terlalu cepat aku ambil, sangat mempengaruhi beberapa orang." Batin Ayu yang prihatin dengan kondisi Farhan.


"Kenapa kau ada disini? Apa masih belum puas?" sergah Farhan.


"Aku kesini ingin berkunjung menemui kakek Hendrawan."


Farhan kembali terdiam, di satu sisi hatinya tidak tega melihat kondisi Ayu yang juga sama dengannya. Baru saja bibir ingin bergerak untuk mengatakan sesuatu, tapi kedatangan seseorang membuatnya kembali terdiam.


"Jangan memaksakan dirimu, aku sudah melarangmu untuk melakukan hal ini. Tapi kau tetap saja bersikukuh," celetuk Gabriel yang tidak menghiraukan pandangan semua orang, tak peduli dengan Farhan yang sudah menyia-nyiakan permata dan menukarnya dengan emas palsu. 


Kepedulian Gabriel dimanfaatkan oleh Wina dan Laras, berusaha membuat nilai Ayu semakin jatuh di mata Farhan."Kau sungguh licik memainkan peranmu, tak lama setelah pembatalan pertunangan, kau sudah mempunyai pria lain." Sindir Wina yang sengaja membuat Farhan semakin membenci calon tunangannya.


"Seharusnya aku belajar darimu, mengait dua pria dengan sangat mudah. Hanya bermodalkan tampang saja, dan kau mendapatkan para pria kaya." Sambung Laras tersenyum mengejek.


Dengan cepat Ayu mencengkram tangan Gabriel dan menggelengkan kepala, memberi isyarat agar pria itu tidak mengatakan identitas sebenarnya.


Melihat pembelaan Gabriel kepada calon tunangannya, membuat raut wajah Farhan semakin dingin. "Sebaiknya kau pulang!" 


Ayu terkejut mendengar Farhan yang mengusirnya, hal itu semakin membuat hatinya perih. Tidak percaya, jika pria itu terasa asing baginya. "Kau mengusirku?" lirihnya seraya menatap pria itu dengan nanar. 


"Kau pasti mengerti dengan ucapanku."


Wina dan Laras saling melirik, mereka tersenyum kemenangan dan juga puas. Menancapkan bara api tepat mengenai hati keduanya selalu terkena masalah. "Inilah yang aku inginkan, sekarang wanita kampung itu tidak lagi menjadi rintangan untuk mendapatkan Farhan," batin Laras tersenyum.


Cairan bening yang menetes segera di seka, menganggukkan kepala menyetujui perkataan Farhan yang mengusirnya. Melangkahkan kakinya untuk menjauhi tempat itu melewati bangsal. Gabriel menatap Farhan dengan tajam, tidak menyukai cara pria itu. "Jika kau terus begini, maka jangan salahkan aku untuk merebut Ayu darimu!" ancamnya seraya pergi menyusul wanita pujaan hatinya. 

__ADS_1


Seketika Farhan mengedipkan mata tak percaya, masalah yang semakin runyam ditambah dengan ancaman dari sahabat lamanya. 


Ayu menekuk wajahnya yang amat sedih, perkataan menohok membuat lukanya semakin dalam. Gabriel memegang kepala wanita di sebelahnya, membiarkan Ayu untuk bersandar di bahu. "Jangan pikirkan mereka, kau membuat keputusan benar dengan pergi dari tempat itu."


"Kau berkata benar."


Selangkah lagi mereka akan keluar dari rumah sakit, namun suara dering ponsel membuat keduanya berhenti. Ayu segera mengangkat telepon, melihat nama yang tertera di layar ponsel membuat air matanya kembali jatuh.


"Siapa?" tanya Gabriel penasaran.


"Kakek Tirta."


"Hem."


"Halo."


"Iya, Kek. Tumben menelpon ku, ada apa?"


"Apa yang terjadi membuat aku sangat sedih."


"Aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku. Ya sudah, aku tutup telepon dulu."


Dengan cepat Ayu memutuskan sambungan telepon, tak ingin membuat kakek nya khawatir mengenai situasi saat ini. Gabriel mendengarnya dengan jelas, tak ingin mengatakan sesuatu apapun. 


Ayu kembali menyeka air matanya, sedangkan Gabriel memberikan sapu tangannya. "Kau terlihat jelek jika sedang menangis, sangat jelek." Hiburnya yang berusaha.


"Sapu tangannya akan aku kembalikan besok."


"Itu tidak perlu, kau simpan saja! Karena aku mempunyai banyak stok sapu tangan."

__ADS_1


"Hem, baiklah. Terima kasih, aku akan menyimpannya!" Ayu tersenyum dengan guratan ketulusan pria yang selalu ditolaknya, hal itu semakin menambah beban di pikirannya. Tak sengaja dia melihat wanita yang sama di rumah petani, melihat kedatangan Kira yang masuk ke dalam rumah sakit. "Kira? Dia di sini? Apakah Farhan memanggilnya?" batinnya keheranan.


   


__ADS_2