
Ayu menatap wajah pria yang sudah menjadi suaminya begitu lekat, terbesit pikiran semalam yang membuat keduanya menyatu. Senyum bahagia saat melihat wajah tampan yang digilai oleh wanita lain, dialah pemenang dari wanita lain itu.
Rambut yang basah setelah berkeramas di subuh hari, air tetesan rambut mengenai wajah Farhan. Dia tersentak kaget saat kedua tangan kekar itu memeluknya, bahkan mencium bibirnya dengan senyuman polos. "Selamat pagi, Sayang."
"Selamat pagi," sahut Ayu yang membalas dengan senyuman manisnya.
"Bagaimana jika kita mengulangi hal semalam, pasti sangat seru." Tutur Farhan yang tersenyum genit, dia masih menginginkan hal penyatuan yang begitu memabukkan.
Ayu segera melepaskan dirinya dan beranjak dari tempat tidur, tersenyum karena mengetahui maksud dari suaminya. "Tidak, masih terasa perih dan membuatku tidak nyaman."
"Hei, perih hanya di awalnya saja, setelah itu hanya kenikmatan yang dirasakan." Farhan menarik tangan istrinya hingga terjatuh di tubuhnya, dengan cepat dia membalikkan tubuh dan menindih tubuh mungil yang membuatnya ingin melakukan lagi. Menghirup nafas dalam, merasakan aroma sabun dan juga rambut yang begitu membuat hasratnya naik, tak tahan lagi ingin menikmati samudra cinta.
Namun hal itu tidak terjadi, suara ketukan pintu yang begitu keras membuat aktivitas mereka terganggu. "Astaga…siapa yang mengetuk pintu di pagi buta begini?" keluhnya.
"Farhan, jangan begitu. Buka saja pintunya, siapa tahu itu penting."
"Siapa yang mengetuk pintu sepasang pengantin baru? Itu sangatlah menyebalkan. Biarkan saja, kita lanjutkan bagian mencicil nya." Bisik Farhan yang menggigit telinga sang istri dengan pelan.
"Astaga…tatapannya seperti singa yang lapar," batin Ayu yang menelan saliva, apalagi Farhan mulai membuka handuk putih yang menempel di tubuh polosnya. "Sebaiknya buka saja pintu itu, dan lihat siapa yang datang." Ucapnya agar terlepas dari sang suami yang selalu melakukan hal itu lagi, bahkan bagian sensitifnya masih terasa nyeri.
Pintu kembali di ketuk, bahkan lebih keras lagi. Farhan menghela nafas berat dan segera beranjak dari tubuh istrinya. "Sial," umpatnya yang sangat kesal. Dia berjalan menuju pintu dan membukanya, terlihat dua orang pria yang tersenyum tanpa dosa membuatnya sangat jengkel. "Apa kalian tidak lihat? Ini kamar pengantin. Para jomblowan segera menyingkir, karena ini bukanlah kawasan kalian." Bentaknya.
"Salam adik ipar, kenapa kau begitu sombong, heh? Sebentar lagi matahari terbit, dan kami ingin memberikan kado spesial untukmu." Sambut Leon yang melingkarkan tangannya di leher adik ipar, begitu bersemangat dengan kejutan yang sudah dia rencanakan.
"Kita tidak seakrab itu, kau musuhku di dunia bisnis dan jangan lupakan itu. Hei, kau mulai mengkhianati ku?" tuduh Farhan yang juga melirik asistennya.
Asisten Heri menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, mengingat uang yang di dapat dari Leon. "Jangan begitu, Tuan. Kami murni memberikan hadiah untuk mu."
"Hadiah? Di pagi buta begini? Kalian membuang waktuku saja," Farhan menggelengkan kepala dan hendak menutup pintu, tapi dihentikan oleh kaki Leon.
"Lupakan itu, jangan menyiksa adikku dengan pisang kecilmu itu." Keluh Leon yang sudah kehabisan akal.
__ADS_1
"Pisang kecil? Ayo kita buktikan, siapa yang lebih besar."
"Aku masih polos dan tak tahu apapun," sela asisten Heri yang spontan menutup mata menggunakan tangannya.
Farhan ingin menutup pintu, tapi tangannya ditarik dengan paksa. "Aku akan membalasmu nanti, tunggu di waktu yang tepat."
"Terserah, dan aku tidak peduli." Sahut Leon yang tersenyum puas, melihat raut wajah Farhan yang jengkel menjadi hiburan dikala dirinya lelah.
Ketiga pria itu masuk ke dalam ruangan, Farhan melihat dua pria berambut perak yang menunggu kedatangan mereka. "Apa yang terjadi disini?" tanyanya to the point, mempersingkat waktu ingin menyelesaikan dengan cepat.
"Duduklah dulu, bagaimana pagimu?" tanya Tirta yang tersenyum melihat wajah datar dari cucu menantunya.
"Tidak begitu baik," Farhan menjawab dengan seadanya, tak lupa untuk melirik Leon dan asistennya dengan tajam.
"Kami ingin mengundangmu kesini, dan ingin memberikan hadiah." Ungkap Leon yang mengambil kotak besar kado dan meletakkannya di atas meja.
Farhan menyerngitkan dahi, dia tahu jika itu hanyalah jebakan saja. "Apa ini semacam prank?"
"Bukan, ini real."
"Kau bukanlah detektif, buka saja!" titah Hendrawan.
Farhan melengos dan membuka kado besar, cukup lama dia membuka hadiah itu. Sementara yang lain tersenyum puas, melihat wajah sang korban yang membuka kado berlapis.
Lima belas menit kemudian, akhirnya Farhan menyelesaikan untuk membuka kado. "Apa ini? Kalian mempermainkan ku?"
"Dilarang protes, itu ujian untuk pengantin."
Farhan menghela nafas dan melihat buah dari kesabarannya yang membuka kado berlapis. Terlihat dua tiket dan juga kunci, bisa dipastikan jika itu paket honeymoon. Seketika kedua matanya berbinar cerah, dia bahkan tak memikirkan hal itu, karena di otaknya tak terlalu memikirkan tempat asal bisa bersama dengan istri tercinta. "Siapa yang mempunyai ide seperti ini?" tanyanya yang menatap satu persatu.
"Jangan melihatku begitu, bukan aku pelakunya." Elak Leon.
__ADS_1
"Hanya kau yang bisa berpikiran sempit, apa jangan-jangan asisten Heri?" selidik Farhan bergantian melemparkan tatapan tajamnya.
"Bukan aku, Tuan."
"Lalu siapa?" pasrah Farhan.
"Akulah yang mempunyai ide seperti itu, aku melihatnya di sosial media dan mencoba untuk mempraktekkannya. Bagaimana? Bukankah aku sangat kreatif?" Tirta menepuk bahunya dengan pelan, memamerkan dengn kesombongan.
Farhan sangat kesal, dia tidak tahu apa yang ada dipikiran sang kakek yang begitu mengikuti cara kuno seperti itu. "Jadi?"
"Dasar bodoh, cepat bersiaplah! Hari ini kalian akan honeymoon ke Swiss, negara itu sangatlah romantis dan cocok untuk kalian." Jelas Hendrawan.
"Itu tidak diperlukan."
"Kenapa?" tanya Leon penasaran.
"Karena kau tidak akan tahu sebelum menikah," ujar Farhan yang tersenyum membayangkan diri akan menghabiskan sepanjang malam di kamar.
"Sial, aku tahu maksudmu." Leon melempar bantal sofa dan segera pergi menenangkan dirinya, mengingat mempunyai adik ipar yang sangatlah mesum. "Semoga adikku baik-baik saja," gumamnya.
Farhan yang awalnya kesal begitu bersemangat saat kedua kakek nya membujuk, tentu saja hal itu mempunyai niat terselubung.
****
Kini mereka ada di bendara, Ayu melambaikan tangannya menatap keluarganya.
"Ayo, kita harus pergi!" ajak Farhan yang tidak merasa sedih sedikitpun, malahan sangat bersemangat memikirkan gaya apa yang akan dia lakukan saat sampai ke Swiss.
"Baiklah," Ayu memegang tangan Farhan dengan erat, dan masuk ke dalam pesawat.
Sementara disisi lain, kedua pria berambut perak tersenyum penuh arti. "Apa kau yakin ini akan berhasil?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku sudah mengatur segalanya. Feelingku selalu telat, sebentar lagi kita akan mempunyai cucu kembar." Sahut Tirta.
"Ya, aku harap begitu."