Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 155 ~ Marry me?


__ADS_3

Ayu tersenyum saat melihat raut wajah Farhan dan menoel pipi yang tampak menggemaskan. "Selera candaanmu sangat buruk!" 


"Lain kali, jangan melakukan itu karena aku tidak menyukainya." Ucap Farhan yang menyingkirkan rambut menghalangi wajah cantik dari calon tunangannya.


Dua pasang mata yang saling bertemu, tersimpan rasa cinta dan kekaguman masing-masing. Suasana yang sunyi dalam keheningan, membuat keduanya melampiaskan hasrat dan kembali berciuman.


Tapi kali ini, permainan dilakukan dengan sangat lembut dan atas dasar suka, penuh penghayatan. 


Keduanya hanyut dalam permainan masing-masing, menikmati setiap detiknya dengan penuh hasrat tanpa terlewati satu detik pun. Seakan dunia dalam naungan mereka berdua, perasaan yang tidak bisa mereka jabarkan. Hasrat di antara mereka membuat ciuman itu semakin lama, hingga Ayu menghentikan aktivitas yang sangat memabuk asmara.


"Kita sama-sama saling mencintai, kapan kita akan menikah?" tanya Farhan dengan antusias, tak sabar jika wanita cantik yang sederhana di hadapan menjadi istrinya. Ingin mendengar jawaban secara langsung, menahan rasa sakit di kepala dan kehilangan setengah kesadaran.


"Kau bertanya terlalu jauh, bahkan hubungan ini masih berjalan di tempat." 


"Bagaimana jika kita menikah sekarang? Tidak perlu mengadakan acara pertunangan, dengan begitu kita juga dapat merasakan malam pertama. Bukankah itu sangat menarik?" terang Farhan yang bahagia.


"Kau mengatakan ini dalam keadaan mabuk, sebaiknya kau beristirahat!" ucap Ayu yang tidak ingin mengungkit pernikahan di setengah kesadaran calon tunangannya.


"Aku tidak akan beristirahat sebelum kau mengatakan jawabanmu," keukeuh Farhan yang tak sabar untuk menikahi sekretarisnya.


Ayu diam tak menjawab, membantu pria yang kehilangan setengah kesadaran akibat minum alkohol terlalu banyak. Dia membopong tubuh Farhan menuju kamar, dan menghempaskannya ke atas ranjang empuk. 


Karena berat dan keseimbangan membuatnya terjatuh dalam pelukan calon tunangan.


Farhan tersenyum sambil memeluk tubuh mungil di dalam dekapannya, mencium wajah Ayu secara bertubi-tubi setelah mendapatkan kesempatan. "Bagaimana jika sekarang kita mencicil nya? Jika gagal, bisa dicoba lagi!" ucapnya yang memajukan bibir hendak mencium.


"Dasar mesum!" umpat Ayu melepaskan diri dan segera keluar dari kamar pria itu, karena dia tak ingin dimangsa sebelum menikah. "Astaga…kenapa pria dingin itu berubah menjadi pria mesum?" monolognya sembari menghela nafas lega..


"Ck, hampir saja!" Farhan tertawa senang, bisa mengerjai wanitanya. Perasaannya yang dipenuhi kecemburuan hilang seketika, menyentuh bibirnya membayangkan ciuman tadi. "Kau kan menjadi milikku, Ayu Kirana!" gumamnya seraya membayangkan sebuah kejutan untuk wanita yang di cintainya.


****


Di pagi hari yang indah, seorang wanita cantik mengerjapkan mata dan sesekali menguap. Melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan bersiap-siap. Tak lupa dengan sedikit polesan make up dan parfum yang biasa digunakan.


Setelah selesai, Ayu melangkahkan kaki keluar dari kamar, memikirkan kejadian semalam yang membuatnya merona. Kaki mulus dan jenjang menuruni tangga dengan sangat elegan, baru beberapa anak tangga dia melihat seorang pria tampan yang menyajikan makanan di atas meja. Dia tersenyum, apalagi melihat wajah tampan dari calon tunangannya yang berseri saat tersenyum ke arahnya.


"Selamat pagi!" sapa Farhan.


"Pagi."


"Ayo kemarilah, dan kita sarapan bersama!" 


Ayu mengangguk dan berjalan ke arah meja makan, pandangan mata berbinar saat banyaknya makanan tersedia di atas meja. "Apa kau menyiapkannya?" ucapnya yang menatap wajah tampan di sebelahnya.


"Tentu saja, dan semua ini aku persiapkan khusus untuk wanita cantik seperti dirimu."

__ADS_1


"Wow, aku terkesan."


Farhan tersenyum dan menarik kursi. "Duduklah!"


"Hem," Ayu mengangguk dan duduk, dia sangat tersanjung diperlakukan layaknya seorang pasangan yang sedang berkencan. 


"Apa kau suka?" 


"Sangat menyukainya." 


Farhan memilih untuk duduk berhadapan, agar puas memandangi memandang wajah cantik Ayu. "Apa aku sudah cocok menjadi suami idaman?" godanya seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Kau sangat luar biasa," puji Ayu yang tersenyum.


Keduanya sarapan bersama tanpa ada obrolan, keduanya fokus pada makanan di atas piring masing-masing. Selesai makan, Farhan terus saja memandangi wajah cantik di hadapannya, membuat sang empunya menyadari hal itu.


"Kenapa kau menatapku begitu?"


"Ada beberapa masalah yang harus diatasi."


"Masalah? Apa yang terjadi?"


"Ini masalah hati!" ungkap Farhan.


"Sebaiknya kita ke dokter!" dengan cepat Ayu beranjak dari kursi untuk menghampiri Farhan, dia sangat cemas jika terjadi sesuatu kepada pria itu.


"Lalu?"


"Hanya kau yang bisa mengobatiku, menikahlah denganku!" Farhan menatap sekretarisnya sangat dalam, itu mengungkapkan keinginannya. Dia menaruh harapan yang sangat besar, mempunyai keluarga kecil bersama dengan wanita dicintainya, rela mempelajari keromantisan lewat buku yang diberikan oleh asisten Heri.


Ayu tersenyum sipu, dua pipih yang merona segera ditutupi agar tidak di ketahui oleh Farhan. 


"Jangan diam saja, katakan!" desak Farhan.


"Kau tidak romantis," ejek Ayu yang berlalu pergi dari tempat itu.


Farhan mengusap wajahnya kesal, karena buku yang diberikan oleh asistennya tidak pernah berhasil.


Di kantor, Farhan tidak bisa konsentrasi seharian karena memikirkan masalahnya dengan Ayu. Dia terlihat sangat gusar, melakukan segala upaya untuk menjadi pria romantis, namun kenyataan tidak seindah yang dibayangkan. 


Perhatian itu tak luput dari pandangan asisten Heri, melihat kegelisahan yang membaluti pikiran bosnya. "Tuan terlihat gelisah, ada apa?" tanyanya yang peduli.


"Aku sangat pusing."


"Apa yang sebenarnya terjadi, Tuan?" tanya asisten Heri.

__ADS_1


"Apa kau tahu cara melamar?" tanya Farhan yang menyembunyikan rasa malu di balik wajahnya yang dingin.


"Baca saya buku tips seribu satu cara meluluhkan wanita yang pernah aku berikan kepada Tuan."


"Ck, buku itu sudah aku buang ke tong sampah!" cetus Farhan jengkel, mengingat tips yang selalu saja gagal.


"Jangan berbohong! Aku melihat dengan jelas saat Tuan menyembunyikan buku itu," cibir asisten Heri yang tersenyum mengejek.


"Itu tidak benar!"


"Aku melihatnya sendiri, tidak perlu mengelak lagi."


"Ya, baiklah. Aku menyimpan buku itu, tapi tips yang ada di dalam buku tidak mempan." Cetus Farhan mendelik seraya mengusap wajahnya.


"Benarkah?"


"Lupakan itu! Apa kau tahu cara melamar seorang wanita?"


"Apa Tuan sedang mengejekku? Aku belum pernah menikah dan bahkan melamar wanita, dan sudah pasti tidak tahu caranya." Ujar asisten Heri tersenyum pongah.


"Dasar tidak berguna!" cibir Farhan membuat asisten Heri mengelus dada dengan sabar, menghadapi bos laknat.


****


Beberapa hari kemudian..


Ayu mengangkat telepon dari bos sekaligus calon tunangannya, Farhan memintanya untuk bersiap untuk pulang bersama dengannya setelah seharian bekerja di kantor. 


Di dalam mobil, suasana menjadi hening. Keseharian yang berkutat pada laptop membuat Ayu merasa letih dan ingin segera sampai ke Mansion. Dia sangat syok saat jalur yang mereka lewati bukanlah ke arah Mansion. "Kita mau kemana?" tanyanya sembari mengerutkan kening, menatap pria di sebelahnya.


"Kau akan tahu setelah kita sampai," sahut Farhan sok misterius, karena dia tidak ingin jika usahanya memberikan kejutan gagal.


"Sangat mencurigakan!" gumamnya sambil menyipitkan kedua mata penuh selidik.


Farhan tersenyum samar, tidak menghiraukan wanita di sebelahnya. Fokus mengemudi mobil hingga sampai ke tempat tujuan.Dia membukakan pintu mobil, membantu calon tunangannya dengan hati-hati. "Kita sudah sampai!"


"Ini dimana?" tanya Ayu penasaran.


"Jangan banyak bertanya!" Tanpa banyak bertanya, Farhan menuntun Ayu, membawanya menuju pantai dan naik ke kapal pesiar untuk menikmati candle light dinner. Suasana sangat romantis, kapal yang dipenuhi dengan lipatan origami berbentuk bangau.


"Begitu banyak origami berbentuk bangau!" seru Ayu yang menyukainya.


"Ambil salah satunya dan bukalah lipatan origami bangau itu!" 


Ayu sangat penasaran dan bersemangat membuka kertas lipatan yang ternyata bertulis "MARRY ME?" 

__ADS_1


    


__ADS_2