Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Apartemen Leon


__ADS_3

Kini saatnya Abi dan Adit dititipkan kepada paman mereka sebagai syarat, jika dirinya sanggup untuk merawat keponakan kembarnya itu demi perjodohan konyol sang kakek dibatalkan. Begitu sulit yang diberikan oleh Tirta kepada Leon tidak sebanding dengan Ayu yang hanya menetap dan membuat keputusan selama 3 bulan. Dia tidak tahu, merawat kedua keponakan nakalnya itu akan membawakan bencana yang tentu saja membuat rencana pria rambut perak berhasil.


"Jaga dirimu Sayang, jangan nakal dan juga jangan menyusahkan paman Leon. Mama tidak ingin jika kalian jahil dan menyusahkan orang lain, dan jangan membuat nasib Paman kalian seperti papa, apa kalian mengerti?" tanya Ayu yang berjongkok menyamakan tingginya dengan kedua putra kembarnya, tentu saja memberikan petuah berharap jika kedua putra kembarnya itu tidak melakukan kenakalan lagi. 


"Kami sangat menyayangi paman Leon, dan berjanji tidak akan nakal," sahut Abi yang begitu bersemangat, meraih jari kelingking Ayu dan menggerakkannya sedikit sebagai perjanjian, hal itu juga dilakukan oleh Adit namun senyumannya mengandung arti yang berbeda. 


"Baiklah, Mama percaya kepada kalian."


"Apa Flo tidak ikut?" tawar Farhan yang menginginkan ketiga anaknya untuk dirawat oleh Leon, dengan begitu dia bisa menghabiskan waktu bersama sang istri tercinta.


"Tidak ada yang menarik di apartemen milik paman Leon, lebih baik aku diMension dan juga menemani kedua kakek buyut bermain catur, tentu saja dengan stoples keripik pisang." Sahut Flo yang tidak tertarik.


"Bukankah kita membutuhkan suasana baru, sebaiknya kamu ikut dengan paman Leon," bujuk Farhan yang sudah merencanakan hal apa saja yang akan dia dan istri akan lakukan.


"Tolong Papa, jangan bujuk aku." Cetus Flo yang menatap papanya dengan kesal, sementara Farhan hanya menghela nafas panjangnya. 


"Kenapa kau memaksa cicitku? Jika dia menginginkan untuk menemani kami bermain catur, lalu apa masalahmu sebenarnya?" ketus Hendrawan yang sangat kesal dengan cucunya itu.


"Kenapa Kakek salah paham padaku, Flo selalu saja berada di Mansion dan membuatnya kurang pergaulan. Bukankah dia membutuhkan suasana yang baru agar tidak jengah." Jelas Farhan yang menutupi jika dirinya ingin berduaan dengan Ayu, seraya mengelus rambut pendek dari putrinya. 


"Ini sangat mencurigakan." Sela Tirta yang menyipitkan kedua matanya, menatap Farhan sebagai sang tersangka dia tahu maksud dari cucu menantunya itu. 


"Ck, sudahlah! Kenapa kalian selalu saja berpikiran negatif mengenai aku. Jika Flo tidak setuju, aku juga tidak mempermasalahkannya," tutur Farhan yang menghampiri Abi dan Adit, dia berjongkok menyamakan tinggi dari dua putranya kembarnya. "Jangan nakal dan jangan menyusahkan orang lain, makanlah tepat waktu!" 

__ADS_1


"Papa tidak kreatif, mengulang perkataan dari mama," ujar Adit dengan santai.


"Kami pergi dulu!" pamit Leon yang membawa kedua keponakannya ke apartemen, mulai sekarang dia akan merawat keduanya dan dibantu oleh asisten pribadi yang sudah dipersiapkan oleh Tirta, sebuah kejutan yang akan diberikan tanpa sepengetahuan sang cucu.. 


"Ingat perjanjian yang kau tandatangani itu di atas materai, kalau kamu tidak sanggup maka lambaikan tangan ke kamera." Tekan Tirta yang menunjuk sepasang mata miliknya menggunakan dua jarinya dan mengarahkan kepada Leon, sebagai peringatan jika dirinya selalu mengawasi gerak-gerik dari cucunya itu.


Leon menghela nafas panjang, dia segera berlalu pergi meninggalkan Mansion Hendrawan dan menuju ke apartemen berharap jika rencana yang dimiliki oleh kakek tidak melampaui batas, rela jika kedua keponakannya dirawat. Sedangkan Adit dan Abi saling melirik satu sama lain, tersenyum dengan penuh makna yang tidak bisa dibaca oleh orang dewasa selain Flo, kembarannya mereka.


"Sepertinya mereka merencanakan sesuatu, tapi lebih baik aku tidak peduli dan memikirkan makanan yang ada di kulkas." Batin Flo yang beranjak mencari makanan ringan di gudang persediaan makanan dan juga cemilan.


Lain halnya dengan Farhan, tidak ada ekspresi sedih yang ditunjukkan berbanding terbalik dengan apa yang Ayu rasakan karena pertama kali akan berpisah dengan putra-putranya. Dia merasa merdeka dan terbebas dari penjara, mengingat perlakuan si kembar yang selalu saja menyulitkan paginya. "Aku sangat mengetahui karakter mereka, tidak lama lagi Leon akan merasakan apa yang aku rasakan. Bukankah itu sangat menyenangkan?" gumamnya di dalam hati yang menutupi rasa senang dan bahagia.


Di dalam mobil Abi dan juga Adit sangat bersemangat, mereka sangat antusias melihat jalanan ibukota yang begitu padat akan lalu lintas begitu banyak kendaraan yang membuat jalan sedikit macet. "Aku tidak pernah main ke apartemen Paman, apa ruangannya cukup besar?" 


"Bukan apa-apa, hanya bertanya saja. Apa yang akan kami lakukan setelah berada di sana?" tanya Abi yang mewakili pertanyaan dari Adit. 


"Mana aku tahu, lakukan sesuai apa yang ingin kalian lakukan. Tapi jangan merusak barang-barang yang ada di sana, butuh waktu untukku mengoleksi benda-benda unik yang hampir menguras kantong." Leon memberi peringatan, tidak ingin kedua bocah itu merusak koleksi miliknya.


"Apa Paman bisa membuat susu kocok untuk kami di malam hari?" 


"Ada pelayan di sana, minta saja mereka membuatkan," sahur Leon dengan santai.


"Apa bisa membacakan cerita dongeng sebelum tidur?" tanya Adit yang begitu cerewet mulai mengikis kesabaran Leon.

__ADS_1


"Paman tidak bisa bercerita dongeng, hanya cerita investasi yang bisa Paman katakan." 


"Bagaimana jika kami takut tidur di kamar? Apa kita bisa tidur bersama?"


"Ya, asal kalian tidak mengompol di ranjangku, dan juga untuk mengikuti semua peraturan ku selama sebulan. Kalian akan menjadi tanggung jawab paman, apa ada pertanyaan lagi? Paman tidak bisa jika konsentrasi dalam mengemudi diganggu."


"Tidak, cukup sekian dan terima kasih," ujar Adit yang cekikikan menutup mulutnya. 


Sampailah mereka ke apartemen memasukkan kata sandi yang tidak orang lain ketahui, Leon masuk ke dalam apartemen dan membawa dua koper besar dari keponakannya. "Kalian beristirahatlah, kalian tidur di kamar atas dan Paman akan tidur di kamar bawah."


"Baik, Paman," sahut twins A yang menganggukkan kepala dengan cepat.


"Wah, kalian sampai juga," ucap seseorang yang duduk di sofa tak jauh dari mereka, hal itu menarik perhatian ketika pria tampan ke sumber suara.


"Aluna? Mengapa kau ada di sini? Jangan katakan kalau kau dapat password apartemen ku dari kakek" Leon meyakini ada sangkut pautnya dengan kakek Tirta.


"Tuan besar memintaku untuk menjadi asisten pribadimu, dan juga akan melayanimu bukan hanya di kantor saja tetapi di apartemen ini. Mengenai keahlian ataupun skill jangan ragukan itu, aku bisa melakukan apapun. Mulai memasak mencuci merapikan sesuatu dan juga menyiapkan kebutuhan kalian," terang Aluna yang sangat antusias karena dia sangat menyukai Leon sedari dulu, tapi pria itu tidak pernah peka akan perasaannya dan dianggap lelucon saja. "Tuan bisa memerintahku sekarang, apa yang Tuan inginkan?" 


"Singkirkan wajahmu dari pandanganku!" ketus Leon yang segera pergi meninggalkan asisten pribadinya itu, menarik dua koper menuju lantai atas dan diikuti oleh Adi dan juga Adit.


"Buatkan dua susu kocok untuk kami!" titah Abi yang tersenyum ke arah Aluna.


"Baik, Tuan." Aluna melambaikan kedua tangannya ke arah dua bocah yang sangat tampan, hasil copyan wajah dari Farhan. Dia sangat mengagumi keluarga Hendrawan dan juga Tirta, terutama Leon karena pria dingin dan arogan itu telah menarik hatinya. "Dia selalu saja cuek kepadaku, bukan Aluna namanya jika tidak berhasil menaklukkan gurun es itu." Gumamnya yang segera menuju ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2