Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 78 ~ Pertarungan Ayu dan Maudi


__ADS_3

Betapa terkejutnya Ayu, membelalakkan kedua matanya yang hampir saja terlepas dari tempatnya saat melihat keberadaan mantan ketua sekretaris ada di hadapannya. "Kau?" tunjukan dengan tatapan menusuk. 


"Sial, lagi-lagi rencanaku gagal!" umpat Maudi yang kesal karena rencananya tidak berjalan dengan mulus, malah sebaliknya keberadaannya malah diketahui Ayu yang mempunyai reflek dan insting sangat kuat. 


"Cukup besar juga nyalimu!" lantang Ayu yang tidak menunjukkan ketakutan di wajahnya saat wanita itu ada di hadapannya. 


"Apa kau mengira aku ini penakut? Ck, hampir saja kau mati tapi instingmu boleh juga." Ujar Maudi yang tersenyum merendahkan seraya berjalan mendekat untuk mencekik sang target. 


"Seharusnya kau di masukkan ke rumah sakit jiwa." Balas Ayu yang menahan tangan wanita itu dengan semua kemampuannya. 


Maudi tersenyum mengerikan, menatap Ayu dengan tatapan membunuh. Tujuannya hanya satu, yaitu menyingkirkan kecoa seperti sekretaris baru itu. "Karena kaulah aku begini, jadi terima saja nasibmu yang mati di tanganku." Maudi memajukan langkah untuk memojokkan Ayu di sebuah pohon besar. 


Ayu berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan dari wanita depresi itu, menoleh sekeliling tak membuatnya berputus asa. Melirik sebuah ranting pohon tak jauh dari jangkauan, dan mengambilnya menggunakan kaki. 


"Aku sangat senang, karena hari ini kau akan tiada dan aku bisa hidup dengan tenang." Tukas Maudi yang tertawa puas. 


"Tidak semudah!" bantah Ayu yang melayangkan pukulan menggunakan ranting pohon. Saat mendapatkan cela, Ayu membogem wajah cantik Maudi sangat keras hingga menimbulkan memar merah. 


"Sialan, berani sekali kau memukulku." Pekik Maudi memegang pipinya yang terasa kaku akibat pukulan itu. Dia melihat punggung Ayu yang mulai menjauh, berhasil kabur di saat dia lengah. Tak ingin melewatkan kesempatan bagus, Maudi mengejar sasaran dan segera membunuhnya. 


Dengan cepat Ayu melarikan diri, membuat Maudi melampiaskan semua ketidakbahagiaan nya pada wanita wanita itu. "Kau tidak akan bisa lolos dariku, sialan!" umpatnya, dan kemudian menggunakan seluruh kekuatannya dalam berlari. 


Setelah beberapa saat terjadi aksi kejar-kejaran, Ayu menghentikan langkahnya di saat melihat jalan buntu. "Jalan buntu, bagaimana ini?" gumamnya yang tampak berpikir, hingga terkejut saat melihat Maudi yang tersenyum mengerikan dengan pisau tajam di tangannya. 


"Kau tidak bisa lari dariku!" Maudi menatap Ayu dengan aura membunuh, berjalan semakin dekat dengan target. 


"Aku peringatkan untuk tidak melangkah maju!" Ayu berusaha menghentikan Maudi yang semakin mendekat, kemudian melirik sebuah jurang yang di bawahnya adalah Danau. 

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau takut?" sahut Maudi di sela-sela tawanya, sangat menyukai ekspresi dari musuhnya. 


"Aku tidak takut denganmu." 


Maudi berlari semakin dekat, berusaha menikam sekretaris baru dengan semua kemampuan dan tenaganya. Tak tinggal diam, Ayu berusaha untuk menangkis serangan, memelintir tangan Maudi dengan teknik kuncian yang dipelajari, berhasil membuat pisau di tangan mantan ketua sekretaris terjatuh. Dengan cepat dia menjatuhkan pisau tajam itu menggunakan kaki hingga terjatuh ke Danau. 


Maudi semakin marah karena ulah Ayu, menyerang musuhnya dengan menjambak rambut. Ayu segera berbalik badan dan menyikut perut mantan ketua sekretaris dengan keras dan terlepas dari cengkraman wanita itu. 


"Brengsek!" umpat Maudi yang segera berdiri dan mulai menyerang musuhnya. 


Pergulatan yang semakin memanas tak bisa di hindari lagi, mereka lupa sedang berada di pinggir jurang. keduanya tidak bisa menyeimbangkan diri saat tak sengaja tergelincir dan jatuh ke jurang. 


Untung saja Ayu dengan cepat memegang akar pohon, mempertahankan dirinya agar tidak terjatuh ke Danau. Namun, Maudi tidak bernasib baik saat dirinya tercebur ke dalam air Danau. 


"Tolong…tolong selamatkan aku!" pekiknya yang meminta bantuan, mengangkat kedua tangan berharap dengan keselamatan hidupnya. 


"Ayu, tolong selamatkan aku." Pekik Maudi yang semakin kesulitan bernafas. 


"Heh, apa kau pikir aku ini bodoh? Setelah aku menyelamatkanmu, malah kau yang akan membunuhku." Jawab Ayu. 


"Tolonglah! Aku tidak bisa berenang." Ungkap Maudi yang berusaha agar mengambang dengan nafas tersenggal-senggal. 


"Tidak, selamatkan diri masing-masing." Tolak Ayu yang memegang akar pohon untuk naik ke atas. Dia tidak menghiraukan teriakan minta tolong dari mantan ketua sekretaris untuk membuat wanita itu jera. Dia hanya ingin Maudi merasakan bagaimana rasanya di jebak, jadi dia sengaja tidak menyelamatkan wanita yang ingin membunuhnya. 


Usaha tidak menghianati hasil, begitulah penggambaran yang pas saat ini. Dimana Ayu berhasil sampai ke atas dengan kerja kerasnya. "Akhirnya, aku selamat!" gumamnya dengan ngos-ngosan, mengatur nafasnya yang tidak beraturan. 


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mengarah ke arahnya, mengagetkan Ayu dan melihat sang pelaku yang tak lain adalah Laras. "Astaga…aku tak menyangka dengan ini, Kau membunuh mantan ketua sekretaris." Ucapnya seraya menutup mulut dan raut wajah terkejut. 

__ADS_1


Ayu mengerutkan kening. "Darimana dia datang?" gumamnya yang terus memandang Laras. "Aku tidak membunuhnya!" bantahnya. 


"Benarkah? Tapi aku melihat sendiri adegan kalian berdua yang sedang menyerang." Tutur Laras memojokkan Ayu dengan tuduhan palsu. 


"Itu benar, aku juga melihatnya." Sahut seseorang yang datang bersama Laras. 


"Kalian hanya bisa menuduhku tanpa bukti, " ujar Ayu yang jengah dengan kedua orang di depannya. 


"Kau berusaha untuk membunuh mantan ketua sekretaris itu dengan kejam." Tuduh Laras yang menunjuk wajah rivalnya seakan jijik. 


"Akulah korbannya disini, Maudi lah yang berusaha untuk membunuhku!" bantah Ayu yang mengatakan sebenarnya, tapi Laras dan juga temannya selalu saja menuduh dan juga memojokkannya. 


"Perkataan mu itu tidak akan berguna sama sekali, kami berdua menjadi saksi dengan tindakan kriminal." 


"Terserah dan aku tidak peduli." Ayu berdiri dan melihat beberapa luka di kakinya yang terjadi saat terjatuh. 


Laras awalnya tidak mengerti dengan pesan singkat yang dikirimkan oleh Vanya kepadanya, ternyata pertunjukan dan drama yang di maksud mengenai Maudi dan juga Ayu saling menyerang. "Sekarang aku mengerti maksud Vanya, ini kesempatan untuk membuat wanita kampung itu masuk ke sel penjara," batinnya yang tersenyum puas. 


"Maudi yang malang, dia berusaha untuk menyelamatkan diri. Semoga dia tenang di alam sana," ucapnya yang berpura-pura simpati atas kepergian mantan ketua sekretaris itu. 


"Kalian berdua tidak tahu apapun dan sebaiknya diam." Ancam Ayu yang memandang kedua orang di depannya, tak ingin memperkeruh suasana semakin buruk. 


"Jangan mengancam kami, sebentar lagi kau akan masuk penjara. Nikmatilah hari-harimu di sel dingin itu," ketus Laras yang menunjuk Ayu. 


Ayu menepis tangan Laras dengan kasar dan membalasnya menunjuk wanita itu. "Jangan coba-coba mengancamku!" tegasnya yang mulai geram. Memutuskan mengabaikan Laras dan berjalan menjauh dari tempat itu. 


Sementara Maudi terus berusaha agar naik ke permukaan air, tidak bisa berenang membuatnya kesulitan dalam mengatur pernapasan. Usaha yang terus dilakukan membuatnya kelelahan untuk bertahan, hingga kedua matanya terkatup dan pasrah dengan nasibnya yang kurang beruntung. 

__ADS_1


__ADS_2