
Farhan terus menatap mata Ayu dalam berusaha untuk mencari jawabannya, karena dia sangat yakin jika itu adalah Gabriel, sahabatnya. "Apa pria itu Gabriel?" Tanya Farhan yang ingin mendengar penjelasan langsung kepada wanita yang ada di hadapannya. "Kenapa kau diam saja, cepat katakan!" Titah Farhan dingin.
"Ada apa dengannya?" Batin Ayu yang berpikir.
"Aku mencarimu di Mansion dan kau tidak ada di sana!" Ungkit Farhan yang kesal karena tak mendapatkan jawabannya.
"Tenangkan dirimu, kau menarikku kesini hanya untuk memarahiku?" Sahut Ayu yang masih berpikir alasan dari Farhan yang masih diragukan.
"Karena kau hanya diam saja!"
"Hah, sikapmu yang terkadang baik padaku, terkadang kau juga menyebalkan seperti sekarang. Apa kau tahu artinya privasi? Itulah yang berusaha aku jelaskan." Ucap Ayu dengan santai sembari menjauhi pria itu.
"Privasi itu tidak berlaku, karena kau adalah calon tunanganku?!" Tekan Farhan yang membalikkan badan menatap wanita cantik nan sederhana itu. "Dan satu lagi, apapun yang berhubungan dengan mu, aku harus mengetahui nya." sambung Farhan dengan sombong.
"Bukankah sudah aku katakan? Itu hanyalah sebuah perjodohan yang aku yakini akan batal, aku tidak tertarik kepadamu dan kau pun begitu."
"Tetap saja, perjodohan itu tidak bisa kau elakkan. Apa sekarang kau menyesal telah terikat denganku?"
"Apa kau lupa? Dengan waktu yang diberikan kakek? Sudahlah, aku tak ingin berdebat lagi." Kesal Ayu.
"Siapa pria itu?" Tanya Farhan yang agresif membuat Ayu semakin merasa terganggu.
"Ck, pertanyaan itu lagi!" gumam Ayu yang masih terdengar di telinga Farhan. "Aku tegaskan agar kau berhenti mencampuri urusan pribadiku, apa yang kau dapatkan dengan itu? Perjodohan ini hanyalah sebuah nama saja, dan kau tidak berhak menanyakannya." Terang Ayu dengan wajah tidak peduli, membuat Farhan semakin bertambah menahan amarah yang seakan ingin meluap, dia tidak menjawab sepatah katapun selain mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna.
__ADS_1
"Kesabaran ku sudah habis," gumam Farhan yang berjalan menghampiri Ayu. Dia sangat terkejut saat melihat dua tangan yang memeluk pinggangnya dari arah belakang, memeluknya seakan tak ingin melepaskan.
"Astaga…apa yang dia lakukan?" Batin Ayu dengan situasi yang ambigu. Berusaha untuk melepaskan pelukan dari pria gila di belakangnya.
Tanpa menunggu waktu, Farhan membalikkan badan Ayu dan menempelkan di dinding, berjaga-jaga jika wanita itu berniat untuk kabur darinya. Memegang tengkuk leher jenjang sedikit kasar dan mencium bibir ranum merah merekah milik sekretaris nya dengan begitu buas. Ayu berusaha mendorong tubuh Farhan, tapi usahanya tidak berhasil.
Farhan semakin memperdalam ciuman yang terkesan sedikit kasar akibat kemarahan yang tidak bisa dicegah lagi, perasaan yang menggebu-gebu ditambah dengan aroma tubuh Ayu semakin menambah gairahnya. Lidah yang mengabsen di setiap baris gigi yang ada di mulut Ayu satu persatu, menyesapnya dan juga me****** nya, menikmati setiap ciuman itu perdetiknya.
Ayu sangat terkejut dengan tindakan Farhan yang menciumnya dengan tiba-tiba, membelalakkan kedua mata yang hampir terlepas dari tempatnya.
Farhan yang mengetahui jika Ayu kekurangan oksigen melepaskan ciuman itu untuk memberikan wanita itu ruang untuk bernafas. "Bernafaslah?!"
"Apa kau ini gila?" Umpat Ayu menatap Farhan dengan kesal, menghapus bekas ciuman di mulutnya semakin menyulut emosi Farhan yang naik dan turun itu.
Sentuhan Farhan menyalakan seluruh tubuh Ayu dengan hasrat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, keduanya hanyut dalam permainan Farhan. Dengan cepat Ayu tersadar, jika tindakan ini tidaklah benar dan menampar wajah Farhan dengan sangat keras. Suara tamparan yang menggema di seluruh ruangan itu. Farhan sangat terkejut dan melepaskan Ayu, dia tidak menyangka jika perlakuan sekretaris barunya yang mendaratkan tamparan keras di pipinya, hingga meninggalkan bekas yang memerah.
"Berani sekali kau menamparku?" Ucap Farhan dingin dengan tatapan tajamnya.
"Dasar brengsek, kau pria kurang ajar yang pernah aku temui." Balas Ayu yang menatap Farhan tajam, menunjuk pria itu tanpa takut sedikitpun.
"Hanya wanita dari kasta rendah membuatmu tinggi hati." Kata Farhan yang membuat Ayu menatapnya seakan tak percaya.
"Oho, sekarang sifat aslimu terlihat. Aku semakin yakin dengan keputusan ku, wow…Tuan, kau telah meletakkanku di posisi yang sebenarnya." Ayu bertepuk tangan seraya tersenyum miring.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kau menyukainya? Kau wanita yang tak tahu diri, dan juga materialistis. Mendekatiku, kedua Zio, ketiga Raymond, dan keempat adalah Gabriel. Siapa lagi pria berikutnya yang menjadi korban selanjutnya?" Ucap Farhan dengan aura yang mencengkam, seakan ingin menelan mangsanya hidup-hidup.
"Tunggu dulu, kau mengatakan jika aku materialistis? Kapan aku meminta uang darimu, hah? Dan aku tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan itu, kau pria yang sangat rendahan dan terbukti dengan apa yang kau bicarakan." Protes Ayu yang tak terima.
"Aku sangat yakin, apalagi pria-pria yang menjadi incaran mu itu sangatlah kaya dan juga terpandang. Kau memanfaatkan wajah polosmu yang sebenarnya sangatlah licik, hatimu dipenuhi oleh harta."
"Hentikan! Jangan katakan apapun lagi, jika kau tidak mengetahui apapun." Pekik Ayu yang sudah kehabisan kesabaran saat menghadapi Farhan.
"Kenapa? Apa kau malu?" Cibir Farhan yang tersenyum miring.
"Apa kau cemburu? Itu bagus. Tapi jangan lupakan gadis kecilmu yang selalu kau mimpikan itu, dewi penyelamat mu dan segala-galanya bagimu. Apa kau lupa dengan Kira, Farhan?" Ucap Ayu yang tersenyum sinis.
"Tidak, di hatiku hanya ada Kira!"
"Benarkah? Sayang sekali, pasti wanita malang itu sangat sedih denganmu yang mulai menyukaiku." Ayu terus memprovokasi Farhan dan tersenyum samar, berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah besar, menutup pintu dengan kasar karena hatinya yang badmood. Ayu sangat marah, mengumpat di sepanjang perjalanan.
"Dia pikir, dia itu siapa? Bukan hanya gila, dia juga pria brengsek yang pernah aku temui." Umpat Ayu.
Farhan menatap kepergian Ayu yang menghilang dari balik pintu, melampiaskan kebodohan nya dengan memukul dinding dengan keras. Mengusap wajahnya dengan kasar karena menyesali ucapannya yang baru saja dia lontarkan. Disisi lain, dia hampir saja melupakan Kira, gadis penyelamatnya yang membuat hatinya menjadi bimbang.
Ayu kembali ke departemen sekretaris, tapi pikirannya masih terngiang maksud tadi tindakan Farhan kepadanya. "Apa dia menyukaiku? Bagaimana itu mungkin, jika pria itu selalu memikirkan cinta monyetnya hingga sekarang?!"
__ADS_1