Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 145 ~ Perjuangan


__ADS_3

Ayu semakin menangis mendengar perkataan yang membuat hatinya tergores, perkataan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. "Berhentilah mengatakan kalimat buruk itu, aku sangat yakin jika kita berdua akan selamat." Perkataan yang sangat membuatnya tak bisa mengatakan apapun lagi, cairan bening yang keluar dari pelupuk mata menjadi saksi kepedihan hati. 


"Tidak perlu mengasihani pria sekarat sepertiku, jangan habiskan waktumu hanya karena masalah ini. Pergilah ke tepian!" Farhan mencoba untuk memberikan pengertian, dia tak ingin menyusahkan siapapun di saat nyawanya sedang sekarat. Mengusap air mata yang di pipi mulus itu dengan sangat lembut. 


"Kau mengatakan aku keras kepala, tapi apa ini? Kau juga sama keras kepalanya dengan ku." Ayu memarahi Farhan layaknya seorang anak kecil yang tidak patuh, keinginannya saat ini untuk bertahan hidup bersama dengan pria yang dia cintai. 


Farhan tersenyum, dia bisa merasakan kekhawatiran dan rasa cinta yang tumbuh untuknya. Tapi, itu semua tidaklah cukup, karena saat ini dia tidak mempunyai tenaga untuk mencapai tujuan. "Setidaknya sebelum aku mati bisa merasakan rasa cinta dari Ayu Kirana." Batinnya yang sangat terharu. Dengan cepat, dia ingin melepaskan jaket pelampungnya karena tak ingin menjadi beban. Ayu sangat terkejut mengenai tindakan nekat pria itu, pengorbanan hanya untuk menyelamatkan dirinya.


 "A-apa yang kau lakukan?" Ayu sangat marah dan kembali menghentikan tindakan bodoh dari pria tampan itu. "Apa kau merasa lebih hebat dengan pembuktian ini?" ketusnya tak bisa menahan diri lagi, mengingat pria yang menolongnya berputus asa. 


"Aku tidak ingin menjadi bebanmu." Jawab Farhan yang ingin mengurangi kesulitan dari wanita cantik, dia tak menyukai jika hanya membuat orang lain kesulitan.


Hanya itulah perkataan yang menjadi pemicu percikan api di hati wanita cantik itu. "Beban? Apa kau ini seorang peramal yang bisa membaca isi hatiku? Kekuasaan mu tidak akan berfungsi di sini." Ayu mendelik kesal saat melihat Farhan yang tersenyum pasrah, dan sangat membenci situasi ini. 


Ayu tak ingin mendengar perkataan Farhan yang hanya akan semakin memperburuk suasana hatinya. Tanpa menunggu waktu lagi, dia kembali memasangkan jaket pelampung dan mengikatnya. "Aku ingin kau selamat, setuju ataupun tidak! Kali ini kau tidak bisa membantah perkataan ku!" ucapnya yang tegas. 

__ADS_1


Setelah memulihkan tenaga yang cukup untuk sampai ke daratan, Ayu ingin kembali berenang, mengikat pria itu untuk membawanya hingga ke bibir pantai. Perjuangan dan tekad yang dimilikinya, membuat Farhan terhenyu dan tersentuh. Dia sangat terharu dengan semangat yang dimiliki oleh sekretaris sekaligus calon tunangannya. Kobaran api semangat dari wanita itu juga bisa dirasakan dengan sangat jelas, hal itulah yang membuat Farhan kembali bersemangat. 


"Aku percaya dengan semangatmu! Ayo, kita berjuang bersama!" 


"Itulah perkataan yang ingin aku dengar, ayo!" Ayu tersenyum dan berenang sekuat tenaga, tujuan pertamanya untuk sampai ke bibir pantai. 


Farhan tak bisa melakukan banyak pergerakan, tidak ada tenaga. Luka di pergelangan tangan yang terbuka lebar, air laut yang sangat asin itu membuat rasa perih yang menusuk seperti kulit yang digores dengan silet, dan tak pernah dibayangkan sebelumnya. "Ya tuhan…luka ini sangat perih, apa aku sanggup untuk sampai ke daratan?" batinnya yang sangat ragu dengan kemampuannya sendiri. Melihat perjuangan Ayu, hatinya sangat terharu. "Wanita yang sangat keras kepala dan juga tangguh, aku salut dengan perjuangannya yang berusaha keras." batinnya mengagumi sosok Ayu Kirana, wanita yang menjadi calon tunangannya. 


Farhan merasakan sakit tapi dia tak ingin menambah kekhawatiran dari wanita yang berjuang di hadapannya, bahkan dia semakin menguatkan tekad untuk tak menyerah dengan sangat mudah. 


Sementara Ayu terus berusaha sebisanya, hingga buah kesabaran dan ketulusan membawa mereka hingga ke bibir pantai. Tersenyum lega dan melihat pemandangan hutan terbentang di hadapannya, pasir putih yang menjadi panorama dan matahari mulai tenggelam membuat tempat itu sangat indah dengan kekayaan dan juga keasriannya. 


Dia sangat terkejut dengan wajah pucat dan kedua mata yang terpejam, kepanikan mulai menyelimuti hati juga pikirannya. 


"Farhan…Farhan, kita sudah sampai. Cepat, buka matamu!" Ayu sangat panik dan juga gelisah, segera dia membantu untuk melepaskan jaket yang menempel di tubuh pria itu dan kembali menyadarkannya. Menepuk pipi pria itu bahkan memompa dada, berasumsi jika Farhan meneguk air laut. 

__ADS_1


Tidak ada respon yang diterima, semakin membuat perasaan di hati semakin kalut, rasa takut kehilangan menyeruak di benaknya. 


Ayu menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, mengontrol agar dirinya tetap tenang dan mengatasi masalah dengan pikiran jernih. Tak lama, Farhan menyemburkan air dari dalam mulutnya, hal itu membuat Ayu tersenyum lega. Melakukan penanganan kedua dan memeriksa isi ransel yang berada di punggung calon tunangannya. 


Ayu segera membalut luka di pergelangan tangan Farhan dengan penuh telaten, bagai seorang dokter profesional, menggunakan barang seadanya untuk menutupi luka itu. Dia juga menemukan sebuah botol kecil, berisi air mineral yang tersisa sedikit. "Ini akan membantunya dari dehidrasi," racau nya. 


Melihat kondisi Farhan yang tidak memungkinkan untuk meminum air mineral, Ayu berinisiatif untuk membantu, yaitu dengan cara memasukkan air mineral ke dalam mulut pria itu dengan bantuan lewat mulutnya, belum menyadari, jika mereka berciuman. 


Ayu menyeret tubuh yang hampir dua kali lipat darinya, membawanya menuju bawah pohon. Menyusuri pemandangan sekitar dan memikirkan cara untuk langkah apa yang akan digunakan selanjutnya. "Semoga saja, kalung pemberian kakek berfungsi, atau ada kapal yang lewat di sekitar sini." Gumamnya penuh harap. Dia tidak tahu yang akan dia lakukan selanjutnya, mengingat Farhan tidak sadarkan diri. Keterbatasan pengobatan di kotak P3K dan alat di dalam ransel, membuatnya tak bisa melakukan pergerakan untuk mengobati lebih luas. 


Dia sedikit berputus asa, menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Kejadian dari pesawat yang mengalami masalah, hingga serangan hiu, dan sekarang mereka terdampar di pulau kecil yang tidak tahu di mana lokasi mereka berada. 


Lamunannya pecah saat mendengar sayup suara, segera dia menghampiri Farhan dan meletakkan kepala pria itu di pahanya. "Akhirnya kau bangun!" ucapnya bersemangat, terkejut sekaligus bahagia. Tapi kebahagiaannya memudar, ternyata pria itu hanya mengigau dan masih pingsan. 


"Hah, aku pikir dia sudah sadar. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ungkap Ayu yang kecewa, karena sang penyelamatnya belum sadarkan diri. 

__ADS_1


Ayu kembali memasukkan air mineral ke dalam mulut Farhan dengan bantuan mulutnya, ciuman tak sengaja kembali terjadi, saat kedua bibir saling bertemu dan menyatu.


   


__ADS_2