
Ayu merasa sangat lelah dan jenuh, pertanyaan yang datang silih berganti membuatnya bosan. Namun dia tetap bersabar mengenai apa yang dialami, menjawab satu persatu pertanyaan dari para wartawan yang ingin mengetahui siapa dia dan mengapa dia ada di perusahaan HR grup padahal dirinya adalah bos besar dan sekaligus investor X entertainment.
Farhan yang tadinya berdiri ingin menghampiri memundurkan langkahnya untuk segera keluar dari tempat itu, menunggu jika semuanya telah selesai dan ingin membicarakan masalahnya kepada Ayu. perasaannya begitu gusar apalagi identitas wanita itu yang bukanlah seorang wanita sederhana yang diremehkan oleh orang lain melainkan bos besar. "apalagi yang disembunyikan olehnya dariku?"gumamnya yang tidak mengerti mengenai kejadian yang dia dengarkan.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama untuk memberikan jawaban atas pertanyaan kalian, ada begitu banyak yang harus saya urus." kata kata Ayu membuat para wartawan terlihat kecewa, kesedihan akan berita yang belum puas mereka liput dan hasil wawancara yang belum sepenuhnya terjawab.
Ayu melirik Gabriel dan dia berjalan keluar dari acara, seakan mengerti pria itu segera mengejar setelah mengucapkan kata pamit terhadap semua orang. "Baiklah, terima kasih atas penghargaan yang sudah kalian percayakan kepadaku."
Gabriel mengejar Ayu dan mengikuti wanita itu. "Apa kau marah padaku?"
"Ya, aku marah padamu. karena ulahmu aku terpaksa membongkar identitasku yang sebenarnya, apa yang kau inginkan sebenarnya, hah? Mengungkapkan perasaan cinta di hadapan semua orang. Aku tahu niatmu, yang mengatakannya di depan semua orang agar aku tidak bisa menolakmu. Aku berkata benar?" Ayu sangat kesal, dia tak mengerti pria yang ada di sebelahnya selalu saja mengungkapkan perasaan walau ditolak berkali-kali.
"Tapi, aku hanya menyatakan perasaanku saja!"
"Apa kau ingin mempermalukan dirimu sendiri, di hadapan semua orang? Kau sudah pasti mengetahui jawabanku, tapi hanya memanfaatkan kesempatan dan membuatku tak berdaya, dan hal itu malah mengungkap identitasku yang sebenarnya! Apa kau tahu itu?" Ayu sangat marah bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.
"Aku minta maaf, tidak bisa mengendalikan diriku. Tolong maafkan aku!" yang memperlihatkan puppy eyes, berusaha meruntuhkan kemarahan dari wanita cantik di hadapannya.
Ayu mendelik kesal tatapan jengah menatap pria itu yang berusaha untuk menghibur dirinya. "Hentikan ekspresi wajahmu, itu sangat tidak cocok." Ejeknya membuat Gabriel sedikit tenang.
"Apa itu artinya kau memaafkanku?" Gabriel menatap Ayu dengan mata yang berbinar cerah, terdapat harapan yang dia inginkan.
"Entahlah, aku tidak yakin itu. Tapi, aku akan mencobanya dan tidak terlihat buruk."
__ADS_1
Gabriel tersenyum senang jika wanita itu memaafkannya walau masih ada sedikit amarah. "Sebagai permintaan maafku, aku ingin mengantarmu pulang, bagaimana?" tawarnya yang sangat antusias.
"Baiklah," Ayu segera masuk ke dalam mobil Gabriel, sang empunya tersenyum dan segera masuk.
Di sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam, dan tidak ada obrolan di antara mereka yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Ayu hanya menatap keluar jendela, dia masih saja kesal dengan apa yang menimpanya tadi. "Ini seperti ujian saja, apapun yang aku lakukan selalu saja mendapat rintangan yang menguras perasaan. Oh astaga…aku bisa gila memikirkan ini!" dia menjerit di dalam hati sangat frustasi, menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Ya, sedikit membantunya walau masalah tetap ada. "Hah, setidaknya ini bisa membantu." Gumamnya yang terdengar sayup.
"Bagaimana caraku mengungkapkan semua ini?" batin Gabriel yang sudah tak bisa menyimpan perasaannya yang mencintai wanita di sebelahnya.
Hingga mobil berhenti di sebuah bangunan yang masih terlihat sederhana, di tempati oleh Ayu sekaligus bosnya dan juga partner nya. "Kita sudah sampai!" ucapnya yang segera menoleh, memposisikan tubuhnya ingin berbicara hal yang penting. "Ada yang ingin aku sampaikan!"
"Hah, kita sudah sampai? Cepat sekali, dan aku tidak menyadarinya." Ujar Ayu yang segera melepaskan sabuk pengaman, membuka pintu dan turun dari mobil. Terpaksa bertindak cepat agar bisa terhindar dari ucapan Gabriel yang berujung ke mana.
Ayu segera membuka pintu, tapi di tahan oleh Gabriel yang berhasil mengejar langkahnya. "Mengapa kau menghindariku?"
"Menghindar? Setelah mengetahui niatmu itu?" tukas Ayu yang mendongakkan kepala menatap wajah tampan sahabatnya.
Ayu segera melepaskan tangannya dari pria itu, raut wajah sedih dan menggelengkan kepala. "Jangan hancurkan persahabatan kita dengan perasaanmu yang tidak akan pernah aku berikan. Kau tahu apa jawabannya, dan aku pertegas sekali lagi, jika kita tak mungkin menjadi sepasang kekasih!"
"Tapi…aku hanya__."
"Pulanglah! Terima kasih tumpangannya, dan aku mohon untuk tidak membahas ini lagi." Tegas Ayu yang kembali membuat Gabriel kecewa dan segera mematuhi perintah.
"Baiklah."
__ADS_1
Seseorang yang melihat hal itu menyunggingkan senyuman, hatinya lega jika Ayu menolak Gabriel. Setelah kepergian pria itu, dia memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Ya, sedari tadi menunggu sang pujaan hati, terpaksa menunggu kepulangan wanita itu. "Akhirnya aku bisa tidur nyenyak dan mulai aman," gumannya senang.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Sudah aku katakan, kita tak mungkin bersama!" tegas Ayu yang menoleh, berpikir jika itu adalah Gabriel. Sedikit terkejut dengan kedatangan Farhan sekaligus mantan calon tunangannya. "Kau di sini?" tanyanya yang mengerutkan kening.
"Seperti yang kau lihat!"
"Ada apa?" tanya Ayu yang memikirkan kasur empuknya, ingin merebahkan diri setelah seharian beraktivitas.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat!"
"Sekarang? Aku bahkan tak ingin kemanapun," sahuy Ayu tak bersemangat.
Farhan melihat wajah lelah yang di perlihatkan Ayu, dan mengerti. "Tidak sekarang, bagaimana jika besok?" ucapnya antusias yang ingin menyatakan perasaannya.
"Hem, tidak buruk. Aku setuju!" Ayu ingin masuk ke dalam dan ingin istirahat, tapi menunggu pria itu pergi terlebih dulu.
Tiba-tiba Farhan memegang dadanya, raut wajah kesakitan membuat Ayu melebarkan kedua matanya. "Auh sakit!" rintihnya yang ingin pingsan, memegang body mobil untuk menopang tubuhnya yang berat memundurkan langka karena tak bisa menahan lebih lama lagi.
"Farhan," pekik Ayu yang berlari mengejar pria itu dan ingin menolongnya. "Dimana yang sakit, katakan padaku!" dia sangat cemas dan mengkhawatirkan kondisi bosnya, berusaha untuk membantu.
Farhan melihat kekhawatiran dari wanita yang dicintainya, sangat senang jika Ayu begitu peduli kepadanya. "Aku merasakan sakitnya di sini," jawabnya yang menunjuk dadanya.
__ADS_1
Ayu yang terlanjur begitu mengkhawatirkan pria itu, memukul keras bahu Farhan sangat kesal jika hanya mempermainkannya saja. "Kau membohongiku, dasar pembohong!"