Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 52 ~ Kecemburuan yang berimbas


__ADS_3

Farhan yang sangat antusias melangkahkan kakinya terpaksa berhenti saat tak sengaja mendengar perkataan Ayu yang membuatnya terkejut. Seketika raut wajahnya berubah menjadi merah padam, mengepalkan kedua tangan dan rahang yang mengeras, berusaha menahan amarahnya. Manik mata Laras menangkap sosok pria yang sangat dia kenali, kedatangan Farhan, membuatnya menyeringai.


Laras menghampiri Farhan dan memegang lengan Farhan, sesekali mengayunkan dengan manja. "Kakak melihatnya sendiri, wanita kampung itu telah kurang ajar kepada tante Wina." Laras mengadu dengan mengatakan separuh dari kebenarannya, sedangkan Ayu hanya bersikap santai. 


Tatapan Farhan terus menatap Ayu, perkataan dari wanita itu masih terngiang di telinganya. 


"Kak, kenapa diam saja. Pecat saja wanita kampung itu!" rengek Laras dengan manja. Merasa terganggu, Farhan mengalihkan perhatiannya menatap adik sepupunya itu dengan tajam, aura yang sangat kuat membuat Laras menggeletar dan membuatnya melepaskan tangan yang bergelayut di lengan Farhan, seketika Laras terdiam. 


Wina menghampiri putranya dengan sangat antusias. "Wanita itu sudah kurang ajar, dia bahkan menutup pintu dengan kasar. Apa sifatnya selalu begitu? Bahkan dia tidak menghormatiku sebagai ibumu, apa jadinya jika kalian akan menikah." Ucap Wina yang menjelekkan Ayu kepada Farhan. 


"Tapi ini adalah keputusan kakek, dan aku tidak bisa berbuat apapun," jawab Farhan yang menggunakan kakeknya sebagai perisai untuk menghentikan kekacauan yang telah dibuat oleh ibu dan juga adik sepupunya. 


"Aku menghargai dan bertindak sopan jika orang itu juga melakukan hal yang sama, dan kalian berdua hanya datang untuk melabrak. Keuntungan apa yang kalian dapatkan? Aku sudah menolak tawaran kalian dengan merobek cek itu." Ejek Ayu berlalu pergi meninggalkan mereka yang menatap kepergiannya. 


Perhatian Wina terpecah belah saat melihat tangan putranya yang terluka cukup parah dan di balut dengan perban, memegang tangan kiri Farhan dengan perasaan sedih dan juga marah. "Apa ini karena kau menyelamatkan wanita itu?" Tanyanya dengan nanar. 


"Itu benar Tan, aku sudah mengatakannya. Tangan kak Farhan terluka akibat menyelamatkan wanita itu." Sela Laras yang semakin memperkeruh keadaan. 


"Sudahlah, ini hanya luka kecil saja dan Mama tidak perlu mengkhawatirkan nya." Dengan cepat Farhan menyembunyikan tangan kirinya ke belakang punggung. 


"Apa Kakak akan melanjutkan perjodohan itu? Aku bahkan mengetahui jika Ayu berhubungan dekat dengan aktor terkenal yang bernama Zio." Tak lupa Laras semakin menambah masalah yang membuat Farhan merasa cemburu, Laras tersenyum tipis saat melihat reaksi di wajah Farhan. "Sebaiknya Kakak batalkan saja perjodohan konyol yang dilakukan oleh kakek."


"Apa kau sudah selesai?" Sahut Farhan dingin. 


"Sungguh, aku mengatakan hal yang sebenarnya," ujar Laras yang berakting untuk menjalankan rencananya. 

__ADS_1


"SUDAH CUKUP! aku tak ingin mendengar satu kata pun dari mulutmu itu, sebaiknya kalian pergi dari sini." Farhan pergi meninggalkan kedua orang wanita yang terkejut dengan perkataan yang keluar dari mulut Farhan. 


"Kenapa Farhan berubah?" Gumam Wina yang sangat terkejut, mata yang tak berkedip dan wajah yang melongo tak percaya. 


"Wanita kampung itu membawa pengaruh buruk kepada kak Farhan," celetuk Laras yang memegang kedua pundak Wina agar tidak terjatuh. 


"Aku membenci wanita itu," cetus Wina yang meremas kedua tangannya dengan perasaan kesal, dongkol, dan di selimuti kemarahan. 


Sementara Farhan menjadi kesal dengan ucapan Laras dan mulai memikirkan hubungan Ayu dan juga Zio. Dia berjalan menuju ruangannya dan duduk di kursi kebanggaannya, berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi pikirannya selalu tertuju kepada wanita yang akan dijodohkan dengannya. 


Tiba-tiba Farhan menjadi emosional saat termakan ucapan dari Laras. Dengan cepat dia mengalihkan perhatiannya kepada dokumen yang ada di atas meja kerja tepat di hadapannya. Membuka lembaran dokumen, ucapan Laras masih terngiang di telinga membuatnya mencari kesalahan dari dokumen itu. 


"Apa mereka hanya bersantai saja, bahkan dokumen ini banyak sekali kesalahan. Para karyawan itu benar-benar sangat ceroboh dan tidak teliti, harusnya mereka memeriksa terlebih dahulu sebelum menyerahkannya kepadaku," ucap Farhan yang memijat pelipisnya. 


Tak lama, terdengar suara ketukan pintu membuat Farhan mengalihkan perhatian dan mempersilahkan untuk masuk. Angela datang dengan senyum khas di wajahnya saat melihat bosnya itu, membawa beberapa berkas untuk diserahkan kepada Farhan. 


Farhan mengambil berkas itu dengan kasar dan melihat isi berkas itu, dengan cepat dia melemparkannya ke lantai dan membuat Manajer departemen tersentak kaget. "Astaga…apa yang terjadi kepada tuan Farhan? Tidak biasanya dia seperti ini!" Batin Angela yang mengelus dadanya untuk menormalkan jantungnya. 


"Apa begini laporan yang kau serahkan, hah? Banyak laporan dari berkas itu yang salah, apa kau hanya bersantai saja? Apa kau bosan bekerja di sini?" Ucap Farhan yang meninggikan suaranya. 


"Saya sudah mengeceknya dengan benar dan juga teliti, Tuan." Jawab Angela yang menelan saliva dengan susah payah. 


"Apa kau pikir aku ini salah? Lihat dengan baik berkas-berkas itu." Farhan menunjuk berkas laporan yang tergeletak diatas lantai. Tak ingin bermasalah, Angela segera mengambil berkas itu dan kembali mengecek laporan yang ternyata hanya ada beberapa yang salah ketik. 


"Bagaimana hasilnya?" Cetus Farhan tajam. 

__ADS_1


"Maaf Tuan, ternyata ada beberapa yang salah ketik." Angela menundukkan kepala karena takut melihat mata bosnya yang sedang badmood. 


"Kau melakukan kesalahan yang sangat fatal, aku tak ingin jika ini terjadi lagi atau kau akan dipecat," ucap Farhan dengan penuh ancaman, tatapan elang selalu tertuju kepada sang manajer yang terdiam dan menerima kemarahan dari Farhan selama lebih dari setengah jam hanya karena salah ketik. Tak lama kemudian, Farhan memanggil asistennya yang bernama Heri untuk datang menemuinya. 


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sahut asisten Heri yang masuk ke dalam ruangan atasannya. 


"Kenapa pekerjaan mu sekarang tidak becus, hah? Apa kau ingin dipecat?" Lantang Farhan dengan suara yang menggema. 


"Saya tidak mengerti apa yang Tuan maksud."


"Seharusnya kau memantau seluruh karyawan, tapi kau hanya tahu bersantai saja. Aku menghukummu untuk lembur selama tiga hari." Ucap Farhan yang membuat Heri terkena imbas dari kemarahannya dan membuat asisten Heri menderita.


"Saya selalu memantau, Tuan."


"Benarkah? Kenapa kau tidak mengeceknya berkas yang berisi laporan terlebih dahulu?! Ada beberapa yang salah ketik." Farhan menatap tajam asisten nya tanpa ampun. 


"Hanya salah ketik saja, tapi ekspresi nya itu seperti orang yang tidak kebagian sembako. Jika aku bosnya, sudah lama aku ingin melemparnya ke jurang." Umpat asisten Heri di dalam hati. 


"Saya akan memperbaikinya, dan tidak akan membuat kesalahan lagi." Jawab asisten Heri. 


"Kenapa kalian masih disini, cepat keluar dari ruanganku. SEKARANG?!" Tekan Farhan dengan tatapan tajamnya. Tanpa menunggu waktu lagi, Angela dan asisten Heri keluar dengan cepat sebelum berakibat buruk akibat bosnya yang sedang badmood. 


"Hei, kau mau kemana?" Farhan menunjuk asisten nya yang berada di pintu, Heri menoleh. 


"Keluar dari ruangan sesuai dengan permintaanmu, Tuan."

__ADS_1


"Yah, bagus! Akhirnya kau sadar diri juga, tapi sebelum itu, kau panggil Ayu untuk datang keruangan ku."


"Baik Tuan." Asisten Heri tersenyum paksa saat menghadapi atasannya, hanya bisa mengumpat di dalam hati. 


__ADS_2