Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 194 ~ Meminta hak


__ADS_3

Ayu tak bisa merasakan apapun selain rasa kecewa dari Farhan, dia tak tahu obrolan apa yang membuat pria itu meninggalkannya begitu mendadak. "Dia selalu cemburu tanpa alasan, tapi tak pernah memperdulikan rasa cemburuku. Dia berubah banyak setelah Kira hadir," gumamnya yang menutup pintu, guratan kekecewaan dan rasa sakit di hati kembali membuatnya bersedih. 


Farhan sangat khawatir saat ada telepon masuk dari Kira, berpikir jika wanita itu sangat membutuhkan bantuan darinya. Dia datang ke lokasi dan mengemudikan mobil dalam kecepatan penuh laju kendaraan dengan menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi. Begitu banyak pengendara lain yang menyumpah serapah, tapi hal itu tak perlu diambil pusing baginya, yang paling utama adalah menyelamatkan wanita itu dari kekejaman preman yang menjadi rentenir waktu itu. 


Akhirnya dia sampai ke kediaman Kira yang baru, segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam. Terlihat dua orang preman yang pernah menagih hutang datang kembali, hal itu membuatnya sangat geram. "Lepaskan dia, lancang sekali kalian datang kemari!" tegasnya menunjuk dua orang preman yang salah satunya memegang tangan tawanannya, sorot mata tajam, rahang yang mengeras, dan juga menggertakkan gigi. 


Mendengar nada ancaman membuat dua preman itu gentar ketakutan, mereka tak ingin lagi berurusan dengan pria seperti Farhan yang hanya membuat mereka dalam masalah. Keduanya saling melirik satu sama lain, memberikan kode agar meninggalkan tempat itu. Mereka tahu dengan identitas pria yang mengenakan setelan jas dan tak ingin macam-macam, berhenti untuk mengganggu Kira tapi belum melepaskannya. 


"Apa kalian tidak dengar? Lepaskan dia!" ulang Farhan sekali lagi.


"Ba-baik Tuan, tolong ampuni kami." Sahut salah satu preman yang mewakili teman di sebelahnya 


"Bukankah aku sudah membayar seluruh hutang beserta bunganya? Lalu, mengapa kalian masih mengganggunya?" bela Farhan bak pahlawan kesiangan, mengerutkan dahi karena tak mengerti, seperti ada sesuatu yang dia lewati. "Jika kalian tidak melepaskannya? Jangan salahkan aku untuk membuat nyawa kalian terancam bahaya.


Dua preman itu menelan saliva dengan susah payah, menundukkan kepala karena takut melawan Farhan yang merupakan pria berpengaruh di kota karena kesuksesan dan juga kekayaannya. Nama yang begitu tersohor membuat mereka tak bisa berkutik, tapi ada satu jalan lain, yaitu kabur setelah meminta maaf.


"Bawa wanita itu kesini!" 


Salah satu preman itu menyeret Kira dan mendorong tubuh wanita itu, masuk dalam pelukan Farhan, sang pria tersohor di kota.

__ADS_1


Kedua preman itu tertawa untuk mencairkan suasana yang begitu tegang, mendekati Farhan untuk mendapatkan kesempatan melarikan diri. "Tuan, maafkan kami yang hanya suruhan bos rentenir. Kami hanya menjalankan tugas saja," bujuk sang preman berwajah manis.


"Ck, bahkan gigimu terlihat lebih lembut dibandingkan lidahmu. Baru sekarang kalian menyadari perbuatan kalian?"


Kedua preman itu segera berlutut memohon ampun, dan mengatakan alasan mereka hanya menjalankan perintah. "Maafkan kami, berikan ampunan untuk kami, Tuan."


"Baiklah, ini kali terakhir aku melihat wajah kalian, pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran." 


kedua preman itu sangat senang mendengar Farhan yang melepaskan mereka, dan berjanji tidak akan mengganggu Kira lagi. Sebelum pergi, mereka mencium tangan pria yang bermurah hati untuk memaafkan kesalahan fatal.


Farhan melihat kepergian dua preman yang terkocar-kacir, hanya dengan mendengar deheman saja membuat para preman itu sangat ketakutan. Kira masih memeluknya dengan begitu erat, si ratu drama membuatnya kembali percaya dengan apa yang baru saja menimpanya. "Kau datang…aku sangat ketakutan," ucapnya pelan seraya mengeratkan pelukan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi aku sangat ketakutan, untung saja kau datang menolongku. Terima kasih!" ucap Kira yang kembali memeluk Farhan, tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menciptakan drama untuk mendapatkan simpati dan perhatian. "Bagus, ternyata akting ku tidaklah sia-sia. Aku memenangkan penghargaan bergengsi dalam akting dan juga menyingkirkan hubungan orang lain. Suatu kebanggaan yang harus aku rayakan, tapi tunggu semuanya berakhir." Gumamnya di dalam hati.


Farhan melepaskan pelukan itu dan menyeka air mata yang berlinang di pipi Kira, dia tak ingin jika wanita itu terus saja menangis ketakutan. "Mereka sudah pergi dan tak akan pernah kembali, berhentilah menangis."


Kira mendekatkan dirinya dan bahkan sengaja menabrakkan dua gunung kembar miliknya di dada pria itu, dan bertingkah genit. Dia mengusap dada bidang yang berbentuk seperti seorang atlet, merasakan sesuatu yang tertahankan. 


Farhan merasa risih dan segera menghempaskan kedua tangan yang bermain di atas dadanya. Hal itu tak membuat Kira bersedih, malah sebaliknya yang bersemangat untuk membuat pria itu menjadi miliknya. "Tubuhku gerah, aku ingin mandi. Kau tunggulah di sini!"

__ADS_1


"Hem." Sahut Farhan dengan singkat, karena dia baru saja ingat dengan Ayu karena pergi tanpa berpamitan dengan benar. "Astaga…apa yang aku lakukan? Aku pergi terlalu tergesa-gesa dan pergi meninggalkannya, apa yang akan dipikirkannya?" gumamnya yang menarik rambut karena menyesali tindakan gegabah yang hanya kembali menciptakan masalah dan masalah. "Sial!" umpatnya saat tak ada seorangpun disana, meluapkan kekesalan pada dirinya sendiri.


Farhan segera mengeluarkan ponselnya, berniat untuk menghubungi Ayu dan meminta maaf dengan rasa penyesalan di hati. Baru saja dia menghubungi, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi. Dengan cepat dia berlari kesana dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. "Mengapa kau berteriak? Apa yang terjadi?" tanyanya saat melihat seorang wanita yang di lilit handuk berwarna putih, dia sangat ketakutan dan melompat geli.


"Disana…disana."


"Apa?"


"Ada kecoa di kamar mandi!" pekiknya yang ketakutan. "Bantu aku untuk menemukan kecoa itu, aku sangat takut." Rengek Kira.


Farhan berpikir berulang kali, karena itu kamar mandi dan mereka hanya berdua saja di tempat itu. "Aku tidak melihat kecoa. Sudah, lupakan itu!"


"Ta-tapi__."


"Lupakan saja, itu hanya kecoa dan bukan tikus. Jika kau bertemu dengannya, tinggal menginjaknya saja." Uajr Farhan yang menolak dengan alasan logis.


Di malam hari, Kira memutuskan untuk mendapatkan Farhan, berhasil menahan pria itu untuk tetap berada di tempat itu. "Hanya perlu sentuhan akhir, dan semua rencanaku akan selesai dengan sempurna." Batinnya seraya keluar dari kamar dan menghampiri Farhan, setelah menyemprotkan parfum untuk menggoda pria itu, tak lupa memakai pakaian tipis untuk merangsang mangsa. Sebuah misi yang di rencanakannya akan tuntas begitu pria itu tidur dengannya


Kira menggunakan akal bulusnya untuk mencari alasan untuk rencana yang terlihat mulus. Dia menyeret Farhan ketempat tidur, dan menindihnya. "Kau sudah berjanji, dan aku ingin kau menepati janjimu dulu." Ucapnya yang tersenyum penuh arti.

__ADS_1


 


__ADS_2