
Farhan dan asisten Heri sangat terkejut dengan tindakan Ayu yang sangat tak terduga, mereka mengira jika wanita itu akan melakukan cara yang tak melanggar ilmu medis.
Sementara Kira kesakitan, memegang dadanya karena sangat terkejut dengan perlakuan rivalnya. Hingga tak bisa berpura-pura membuatnya membuka kedua mata dengan terpaksa. "Sial, siapa yang memukulku? Pasti Ayu, aku sangat yakin itu," batinnya yang begitu geram, namun hanya bisa terdiam untuk mendalami perannya. "Dadaku sakit siapa yang berani memukulku?" rengeknya disertai dengan tetesan air mata buaya yang selalu diperlihatkannya.
Asisten Heri sangat antusias dengan apa yang terjadi, mendapat tontonan yang menarik dan mendukung Ayu sebagai kubu nya. "Rasakan, itu akibatnya jika bermain-main dengan calon istri tuan Farhan, tapi aku sedikit kecewa kenapa nona Ayu hanya memukulnya sekali saja, ingin rasanya aku mencekik wanita itu." gumamnya yang mengumpati wanita seperti Kira.
"Ayo jawab, siapa yang memukulku?" Kira menatap Farhan dan melirik Ayu dengan sinis yang tengah tersenyum kemenangan kearahnya. Dia terbatuk, pukulan sekali yang terasa sangat kuat masih membekas. "Apa kau yang melakukannya? Tapi mengapa kau selalu membenciku? Apa kesalahanku padamu?"
Farhan linglung dengan situasi yang terjadi di hadapannya, dia begitu bingung untuk langkah berikutnya. Melirik Ayu dengan kerutan di dahi, ingin meminta penjelasan kenapa wanita itu melakukan tindakan yang sedikit berbahaya. "Kenapa kau memukulnya?"
Tidak ada rasa bersalah di wajah Ayu, dia berpura-pura polos di hadapan semua orang. "Aku melakukan pertolongan kepadanya, sekarang kalian tidak perlu mencemaskan keadaannya dengan membawa ke rumah sakit. Dia ia sudah sadar sekarang, lihatlah!" jelasnya yang begitu antusias.
"Wah…aku tidak menyangka jika Nona Ayu mengatasi masalah ini dengan sangat mudah. Aku menjadi salah satu fans terberatmu, Nona!" celetuk asisten hari yang mendukung tindakan dari calon istri dari atasannya.
"Apa tidak ada cara yang lain, sehingga dia harus memukul dadaku dengan keras?" kesal Kira.
"Begitu banyak metode, hanya saja yang terpikir di otakku itu adalah metode cepat, sangat berguna di saat darurat seperti tadi."
"Farhan, lihatlah Apa yang dilakukan olehnya." Tak menghiraukan perkataan dari Ayu, dia menoleh menatap pria tampan untuk mendapatkan keadilan yang pantas.
"Nona Ayu hanya ingin menyelamatkan nona Kira, Tuan." Ujar asisten Heri membela.
"Apa itu pantas disebut dengan penyelamatan, dia memukul dadaku dengan begitu keras."
"Lupakan itu! Ayu sudah menolongmu seharusnya kau berterima kasih karena sudah menyelamatkan nyawamu."
"Tapi Farhan__"
"Sudahlah, yang terpenting kau sekarang sudah sadar." Tegas Farhan yang tak ingin jika masalah itu semakin luas.
"Ucapkan sesuatu untuk apa yang aku lakukan," cetus Ayu yang tersenyum sangat tipis.
"Terima kasih." Kira yang sangat enggan mengucapkan kata itu, tapi dia harus melakukannya demi citra di hadapan Farhan.
Ayu berdiri dan menepuk kedua telapak tangannya yang sedikit berdebu, menyelesaikan misi.
"Kau mau kemana?" Farhan mencekal tangan Ayu, tak akan membiarkan wanita itu pergi sendirian.
"Aku harus mencari dokter Zaki, kakek membutuhkan pertolongan secepat mungkin."
__ADS_1
"Darimana kau mengetahuinya?" Farhan mengerutkan keningnya, melirik sang asisten sebagai tersangka.
"Aku tidak mengatakan apapun, Tuan. Sungguh, aku bersumpah atas nama ibuku." Asisten Heri mengerti dan tak ingin di sangkut pautkan dengan apa yang tidak dia lakukan.
Farhan kembali menatap Ayu untuk meminta jawaban. "Siapa yang mengatakannya padamu, mengenai kondisi kakek."
"Itu tidak penting, tapi menemukan petunjuk mengenai keberadaan dokter jenius itu.
"Kau membuatku penasaran," gerutu Farhan.
Ayu bersiap-siap pergi mencari keberadaan dokter Zaki, hanya membutuhkan waktu sebentar untuk memulihkan semua rasa ketegangan yang baru dia lewati.
"Kau mau kemana?"
"Mencari dokter Zaki, menurut informasi yang aku dapatkan, dokter jenius itu berada di tengah hutan."
"Itu sangat berbahaya, kau baru saja kembali. Beristirahatlah untuk memulihkan tenaga."
"Aku sudah baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskan keadaanku."
"Kenapa kau sangat keras kepala? Biarkan asisten Heri yang mencarinya," bujuk Farhan.
"Jika kau bersikukuh, aku akan ikut bersama mu."
"Itu ide yang sangat baik." Senyum di wajah Ayu berubah saat melihat seorang wanita memegang lengan Farhan. "Astaga…dia seperti permen karet yang menempel." Gumamnya di dalam hati.
"Kau pergi saja bersama dengannya, aku akan pergi bersama sang menejer ku."
"Tapi aku__." Belum sempat Farhan mengatakan sesuatu, tiba-tiba tangannya ditarik untuk meninggalkan tempat itu.
Kira tersenyum cerah, karena Farhan bersama dengannya untuk sepanjang perjalanan menuju hutan. "Hah, untung saja aku bergerak cepat." Batinnya penuh kemenangan, berhasil menjauhkan dua sejoli yang jatuh cinta, berhasil membuat hubungan keduanya renggang.
Farhan menyingkirkan dua tangan yang bergelayutan, dia sangat risih dengan posisi itu. "Apa kau akan selalu menempel padaku?"
"Memangnya kenapa? Bukankah kita saling mencintai?" yakin Kira.
"Itu hanya pendapatku saja, jangan menggangguku. Apa kau ingin dipulangkan?" ancam Farhan dengan tegas.
"Baiklah, aku akan menjaga jarak."
__ADS_1
"Hem." Farhan segera bersiap-siap untuk pergi bersama Ayu.
Gabriel tiba-tiba muncul, dia mendengar kabar buruk mengenai kondisi Ayu yang menghilang, sangat mencemaskan wanita itu dan nekad menyusulnya ke pedesaan yang tak jauh dari hutan.
"Hai!" sapanya yang membuat sang manajer dan Ayu terlonjak kaget.
"Kau disini? Tapi bagaimana kau__."
Gabriel hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal, karena kabar keberadaan wanita sang pujaan hati yang didapatkan dari sumber terpercaya, membuatnya sampai ke sini. "Apa kau baik-baik saja?"
Dengan cepat, Farhan menganggukkan kepala. "Aku baik, ini semua berkat kerja keras dari Farhan."
"Selalu saja aku datang terlambat, kenapa harus Farhan?" batinnya yang tidak bisa membohongi perasaannya, walau dia sudah mencoba untuk merelakan wanita itu. "Itu bagus, aku akan pergi bersama mu!"
"Terserah kau saja."
Hal itu membuat Gabriel sangat bersemangat, sedangkan sang manajer menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Dia menghampiri atasannya, untuk meyakinkam Ayu. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu!" tegasnya yang menyeret sang atasan dari tempat itu.
"Kenapa kau menyeretku?"
"Apa kau lupa, bagaimana Farhan menyelamatkanmu. Dia berkorban banyak agar kau di temukan, tapi kau malah membuka jlaan untuk Gabriel. Apa yang sebenarnya kau inginkan?" ucap sang manajer, dia memarahi Ayu seperti seorang ibu.
"Apa kau tidak lihat tadi? Dia pergi bersama dengan Kira, lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Dengar Ayu, Farhan mencintaimu! Kau bahkan tidak melihat wajah kepanikan saat kau menghilang, semua tim sudah berputus asa, tapi pria itu bersikeras untuk mencarimu. Jangan mengalah dengan mudah, seperti yang kita ketahui, jika dia hanyalah Kira palsu." Sang meneger terus menyuntikkan semangat untuk berjuang, dia tidak ingin jika cinta sang atasannya terputus hanya wanita lain yang mengaku sebagai masa lalu Farhan.
"Hah, aku tidak tahu apapun lagi. Kecemburuanku membuatku hilang akal, tapi kau berkata benar."
"Raih cintamu, jangan biarkan wanita itu menguasai Farhan, rebut dia dengan permainan cantikmu."
"Kau berkata benar, aku sangat beruntung memilikimu, sudah seperti saudara ku sendiri."
"Hem, lakukan apa yang aku katakan."
"Siap komandan!"
Gabriel sangat gugup, menghampiri dua orang wanita yang sengaja menjauh darinya, mendengar samar apa yang obrolkan. "Aku sudah mengatakannya padamu, jika Farhan hanya mencintai Kira."
__ADS_1