
Ayu sakit parah saat usianya 12 tahun, dia tak mengingat apa pun pun setelah sadar, banyak kenangan yang terhapus dari memorinya. Pernah mencoba untuk bertanya kepada sang kakek, mengapa ingatannya di masa kecil dia tidak mengingatnya sama sekali? Dan dimana orang tuanya saat ini.
Pertanyaan yang sama terus dia lontarkan kepada kakeknya, menanyakan masa kecil saat bersama orang tuanya. Tirta terdiam sejenak, menatap cucunya yang kehilangan sebagian memori. Hanya memberitahu bahwa orang tua Ayu meninggal di saat dia masih kecil dan tidak mengatakan apapun lagi. Ayu saat itu sangat kesal, karena jawaban sang kakek tidak memuaskan.
Ayu terus memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, bagai di pukul dengan kayu. Semakin sering dia mencoba untuk mengingat masa lalu, maka kepalanya akan terasa sakit.
"Aargh…kenapa aku tidak mengingat masa kecilku sama sekali?" pekiknya yang sangat putus asa, mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela nafas panjang.
"Apa yang terjadi padaku di waktu kecil? Kenapa aku tidak mengingatnya?" serentetan pertanyaan terus menghantuinya, dia tidak tahu apapun mengenai masa lalu.
Hari semakin malam dan mulai larut, entah berapa jam dia duduk di taman itu. Berharap ada keajaiban, dan mengingat kenangan bersama orang tuanya di tempat itu. Kerinduan yang mendalam menyelinap di pikiran juga hatinya, cairan bening di pelupuk mata mulai menetes membasahi kedua pipi. Saat ini Ayu sangat rapuh, membutuhkan sandaran untuk mencurahkan segala isi hati, ingin rasanya membagi beban dengan orang lain.
Malam semakin larut, rintik-rintik hujan turun dan mulai membasahi tubuhnya. Pandangan kedepan dengan tatapan kosong, memikirkan masa lalu bagai sebuah misteri. Merasakan rintik air hujan yang menyejukkan tubuh, hawa yang dingin semakin terasa sampai ke tulang.
Seseorang datang dan memegangi payung, Ayu menoleh dan melihat Farhan. Dia sangat terharu melihat kedatangan pria itu yang datang di waktu dia memerlukan seseorang tempat bersandar. "Kau akan sakit jika tidak berteduh!"
"Kau menemukanku." Lirih Ayu dengan sendu.
"Sesuai yang kau inginkan, kita bertemu dan itu artinya kau adalah jodohku."
Ayu tak bisa membendung perasaannya, memeluk tubuh pria itu dengan sangat erat, membenamkan wajah di dada bidang Farhan. Tangisannya pecah seketika, karena tidak bisa mengingat kenangannya bersama kedua orang tua.
Farhan sangat terkejut, namun membiarkan calon tunangannya mengeksplor tindakan. Kesedihan wanita itu yang teramat dalam, bisa dirasakan. Dia membalas pelukan dan membelai rambut Ayu dengan lembut, bersedia menjadi tempat sandaran untuk mengurangi beban pikiran.
Setelah beberapa saat, Ayu melepaskan pelukannya, menatap sendu pria tampan di hadapannya. "Kau selalu datang di saat aku membutuhkan seseorang, terima kasih."
"Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih, sudah tanggung jawabku untuk melindungimu."
__ADS_1
Kedua manik mata yang terpancar kesedihan, hati yang sangat rapuh tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain. Farhan bisa merasakan kesedihan yang berbekas di hati calon tunangannya. Dia menarik Ayu untuk masuk ke dalam mobil dan menyuruh untuk mengganti pakaian. "Ada pakaian ku di dalam mobil, kau bisa mengganti pakaianmu yang basah itu. Aku tidak ingin jika wanita yang aku cintai sakit!"
"Baiklah, setelah selesai aku akan mengetuk jendelanya." Ayu mengangguk setuju, dan masuk ke dalam. Melihat di kursi belakang ada sebuah paper bag yang berisi jaket dan juga celana pendek dan kecil. Kondisi tidak memungkinkan untuk mengeluh, Ayu memakai pakaian Farhan yang terasa sedikit aneh.
Setelah selesai, Ayu mengetuk jendela memberikan isyarat agar pria yang menunggu di luar mobil segera masuk. Farhan duduk di sebelahnya, dan mengatur rambutnya yang berantakan.
"Sekarang kau bisa membaginya dengan ku. Keluarkan saja isi hatimu, pasti kau akan merasa lega." tutur pria itu serius.
"Aku merindukan kedua orang tuaku, entah mengapa taman itu terasa tidak asing dan aku pernah kesana bersama mereka." Terangnya yang membuat Farhan berusaha mencerna perkataan Ayu.
"Itu cukup sulit, aku juga berada di posisimu. Aku merindukan papa!" ungkap Farhan yang sama-sama merindukan orang tua. "Bagaimana jika aku membawamu ke place de la concorde, taman hiburan dan menaiki kincir putar. Aku sangat yakin, jika kesedihan mu akan menghilang dengan cepat." Sarannya yang sangat bersemangat untuk menghibur dan mengurangi kesedihan.
"Tapi ini sudah larut malam."
"Tidak masalah."
Farhan yang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, menuju taman hiburan. Tak butuh waktu lama, hingga keduanya sampai di destinasi indah. "Apa kau suka?"
"Ini sangat indah."
"Aku akan mengajakmu naik ke kincir putar, dan melihat pemandangan dari atas."
"Aku tak ingin naik kincir itu, karena aku phobia ketinggian." Ayu ketakutan saat melirik kincir putar yang tak berada jauh darinya.
Farhan tersenyum dan menggenggam erat tangan wanita di sebelahnya. "Jangan takut, aku berada di sampingmu."
"Tapi__."
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu."
Ayu mengangguk dengan pelan, melirik kiri dan kanan. Tubuh gemetaran tak bisa di hindari saat kaki melangkah masuk ke dalam. Farhan yang mengerti terus berada di samping, menggenggam erat tangan lentik itu dan merangkulnya. "Aku ada disini!"
Kata yang diucapkan Farhan memberikannya semangat untuk melawan ketakutan akan ketinggian. Kincir itu berputar membuat ayu sangat takut dan menutup kedua mata dan berteriak.
Farhan dengan sigap memeluk tubuh Ayu, memberikan rasa kenyamanan. "Jangan takut! Buka matamu secara perlahan, dan lihatlah pemandangan indah dari atas sini. Ayu mengikuti perkataannya dan mulai melawan ketakutannya sendiri, mencoba hingga beberapa kali untuk menaklukkan rasa takut.
Pemandangan kota yang terlihat dari atas sangatlah indah, suasana sepi dan romantis dapat dirasakan keduanya. "Kau tidak perlu bersedih, karena orang tuamu memantau anaknya dari atas sana." Farhan mulai menghibur dan menunjuk bintang yang terlihat. "Dua bintang yang diam-diam melihatmu dan juga melindungimu."
Ayu sangat terharu, dan tak terasa kesedihannya berkurang berkat pria di sebelahnya.
Posisi mereka tepat berada di jam dua belas, Farhan mencium kening Ayu dengan sangat lembut. "Kau tahu, jika pasangan yang berciuman dari atas sini tak akan terpisahkan."
"Kau percaya itu?"
"Apa salahnya untuk mencoba!"
"Tidak, kita bukanlah pasangan." Lirih Ayu yang tampak malu-malu, memalingkan wajahnya agar Farhan tidak bisa membaca ekspresinya.
"Sebaiknya kita mencoba hal ini, jika gagal kita akan mengulanginya lagi." Kekeh Farhan yang membuat Ayu mencubitnya, dan ikut tertawa bersama.
"Aku akan menunggu jawabanmu, Ayu."
Ayu merasakan jantungnya berdebar kencang, kalimat sederhana yang mampu menggetarkan hati. Namun, bayangan Kira selalu saja menghantuinya, seakan dewi penolong itu merebut Farhan darinya. "Jika kau dihadapkan denganku dan Kira, siapa yang akan kau pilih?" menatap dalam pria di sebelahnya, ingin mendengar jawaban yang nantinya berpengaruh untuk kedepannya.
Bersambung..
__ADS_1