
Kedatangan seorang wanita cantik dengan pakaian formal menjadi pusat perhatian semua orang, berjalan dengan penuh keangkuhan dan kesombongan. Menatap semua orang dan tersenyum tipis, melirik Ayu yang berada tak jauh darinya. Sedangkan Ayu juga melakukan hal yang sama, mengingat siapa wanita itu.
"Sepertinya wajah wanita itu familiar, di manna aku bertemu dengannya?" batin Ayu yang berusaha mengingat. "Hah, baru ingat. Wanita itulah yang mengakui hasil rancanganku sebagai miliknya, sepertinya dia mempunyai masalah hidup denganku," gumam Ayu di dalam hati.
Semua orang bertanya-tanya siapa wanita itu, hingga salah satu reporter menyadari, jika wanita yang baru datang adalah desainer dari perusahaan Malhotra. "Ini berita yang sangat bagus, jangan sampai kita melewatkannya." Ucap salah satu reporter kepada rekannya.
Dua desainer dari perusahaan berbeda berada dalam satu tempat yang sama, hal itu pasti memicu kontroversi keduanya. "Sepertinya di antara kalian ada yang belum mengenalku, tapi tenang saja, aku akan memperkenalkan diri. Kalian bisa memanggilku Tiara, desainer dari perusahaan Malhotra. Pasti kalian bertanya kenapa aku berada di sini, aku datang hanya ingin meluruskan masalah yang ada." Jelas Tiara yang tersenyum saat melirik Ayu. Bisa menjatuhkan desainer lain membuatnya terlihat sangat puas.
"Bagaimana tanggapan anda mengenai desain yang sama?" tanya salah satu reporter yang mengarahkan perekam suara.
"Cukup disayangkan jika hasil kerja kerasku di plagiat dari perusahaan lain." Jawab Tiara.
"Dan bagaimana anda menyikapinya?" tanya reporter yang mengarahkan perekam suara ke Ayu.
"Jawaban yang sama oleh nona Tiara."
"Oho, kau bahkan meniru jawabanku. Tapi itu bisa saja terjadi saat kau tidak punya pilihan dan jawaban," sindir Tiara.
"Berhentilah berpura-pura, kaulah yang mengambil hasil karya dari desain ku. Tapi kau malah mengklaim sebagai kerja kerasmu." Lantang Ayu.
"Karena itu desain ku, kau dan perusahaan mu itu telah mencuri karya dari perusahaanku, sangat memalukan!" pekik Tiara.
__ADS_1
"Apa kau mengatakan dirimu sendiri?" ucap Ayu yang berusaha tenang.
"Bisakah kau membuktikannya? Bahwa hasil desain milikmu itu bukan karya plagiat?" ketus Tiara
"Bukti sudah aku perlihatkan kepada semua orang, dan juga ada saksi mengenai kasus ini."
"Alasan yang logis, kau menyelesaikan hasil karya itu bulan lalu. Itu artinya kau sendirilah yang mencoba untuk plagiat," ucap Tiara yang menyimpulkan video tadi.
"Kau tidak bisa menuduhku melakukan plagiarisme, karena adanya bukti dan saksi bersamaku." Ujar Ayu membela diri.
"Dua hari yang lalu, perusahaan kami mengadakan pertemuan dengan konferensi pers, mengumumkan perhiasan itu lebih dulu. Video yang kau perlihatkan dalam kurun waktu satu bulan yang lalu, kau menyelesaikan satu karya pada bulan lalu. Asal kau tahu, jika karya yang aku umumkan di hadapan publik merupakan hasil desain dua bulan sebelumnya." Terang Tiara dengan penuh keyakinan. "Hasil desainku juga masuk ke majalah fashion," sambungnya.
Ayu mendelik kesal, melihat satu persatu wajah reporter yang menuduhnya. "Bahkan video rekaman saat menjalankan syuting iklan di Danau sudah kalian lihat dan ada tanggal di bawah rekamannya, ditambah dengan kesaksian dan bukti lain dari ketiga pria yang bersama ku. Apa kalian tidak memeriksa dengan benar mengenai majalah itu!" jelas Ayu yang berusaha untuk sabar, tidak tingin emosinya meluap dan membuat keuntungan di pihak lawan.
"Tidak mungkin nona Tiara berbohong, mengatakan pasti bisa membuktikannya." Tukas salah satu reporter.
Tiara tersenyum senang, menyukai jika wanita itu tersudutkan. Sementara di sisi lain ada Vanya yang melihat kondisi kejadian dari jauh, dia sangat senang melihat Ayu semakin terpojokkan. "Sepertinya wanita kampung itu akan kalah, walaupun dia membawa bukti dan saksi. Aku akui dia cukup beruntung, di bela oleh para pria tampan dan berkuasa. Tetap saja, dia akan kalah dan namanya akan tercemar!" gumamnya yang tersenyum licik. Sebenarnya Vanya hanya ingin melihat drama dari Tiara dan Ayu, mengira akan terjadi keributan antara sesama desainer, tapi yang membuatnya menarik adalah keributan di konferensi pers yang semakin memanas. "Wah…ini jauh di luar dugaanku, pertikaian mereka semakin memanas, dan wanita kampung itu tidak bisa menghindar." Monolognya yang terus memantau kondisi tanpa ingin terlewatkan.
"Aku bicara bukan asal bicara, tentu saja mempunyai buktinya." Celetuk Tiara yang mengeluarkan sebuah majalah yang berisi hasil desain saat dia mengumumkan dua hari yang lalu. "Kalian lihat majalah ini baik-baik, ada hasil desainku dan juga tertera tanggalnya. Kalian bisa menilai, jika perusahaan inilah yang melakukan plagiarisme." Tuduh Tiara.
Farhan mengepalkan kedua tangannya, emosinya hendak keluar, untung saja asisten Heri mencegahnya. "Jangan bertindak gegabah, Tuan. Itu akan memperburuk keadaan," ucapnya yang memperingatkan sang atasan.
__ADS_1
"Hah, kau benar. Jika aku ikut campur, maka Ayu akan semakin disalahkan." Sahut Farhan.
Farhan, Gabriel, dan Raymond hanya terdiam. Mereka tidak bisa ikut campur dan membuat Ayu semakin disalahkan, melihat kejadian itu dan yakin akan kemampuan Ayu.
"Kalian lihat? Dia hanya terdiam saja, diam menandakan seseorang bersalah." Tuduh Tiara yang menyeringai tipis. "Kau harus meminta maaf padaku dan memberikan uang kompensasi pelanggaran hak sebesar lima ratus juta rupiah." Sambung Tiara yang sangat senang, karena sebentar lagi akan menjadi seorang jutawan.
Ayu dan Farhan saling bertatapan, mereka saling menguatkan satu sama lain dengan tuduhan dan uang kompensasi. Seketika Farhan menganggukkan kepala, memberi isyarat pada sekretarisnya. "Lakukanlah, aku mempercayaimu dan mendukungmu." Seketika Ayu mengerti dengan isyarat dari atasannya, tersenyum tipis saat menemukan sebuah cara untuk membungkam mulut Tiara.
"Aku diam, bukan berarti aku mengalah dan menerima semua perkataanmu."
"Akhirnya kau membuka suara, apa kau berusaha untuk membela dirimu? Dasar plagiat!" ketus Tiara.
"Berhentilah mengatakan aku plagiat, hanya dengan memperlihatkan majalah itu saja kau merasa menang. Satu pertanyaanku untukmu, dari mana asal majalah itu?" ucap Ayu yang membuat Tiara gugup.
"Ini majalah terkenal, kau saja yang ketinggalan berita. Ck, jangan mengalihkan pembahasan saat ini."
Dengan cepat Ayu mengambil majalah itu dari tangan Tiara, memeriksa keseluruhan dan tersenyum tipis. "Jika aku ketinggalan berita, apakah di antara kalian mengenal majalah ini?" pekik Ayu yang mengangkat majalah itu.
Semua orang kembali memperhatikan majalah itu, mereka menggelengkan kepala karena tak pernah melihat majalah yang terlihat asing.
"Bahkan tak seorangpun yang melihat majalah ini, sepertinya ada konspirasi di sini!" lantang Ayu yang tersenyum menemukan sebuah celah untuk melawan Tiara.
__ADS_1