
Ayu pergi dari tempat itu dengan guratan kesedihan tak terbendung, kesedihan dan merasa kecewa kepada calon tunangannya. Di sepanjang perjalanan, dia hanya termenung sambil menatap keluar jendela mobil. Membuka jendela dan membiarkan angin menerpa wajahnya.
Kesedihan mendalam, acara yang akan diadakan malam ini berhasil menimbulkan pikiran untuk mengakhirinya.
"Ini semua salahku, mempercayai pria plin-plan sepertinya. Lalu, apa nama perhatian yang selama ini dia berikan kepadaku? Apa aku memang seorang pengganti Kira. Tapi, dia sudah berjanji saat memilihku sebagai pendamping dan tidak akan terpengaruh dengan kedatangan masa lalunya. Oh ya tuhan…sepertinya engkau menunjukkan di waktu yang tepat. Jika ini terjadi setelah menikah? Apa jadinya aku." Batinnya yang tampak berpikir mengenai begitu banyak pertanyaan mewakili perasaannya.
Segera menyeka air mata yang mengalir deras, tidak ingin orang lain mengetahui kesedihannya. Suara dering ponsel membuatnya tersadar dari lamunan dan segera mengangkat telepon.
"Halo."
"Aku sudah mencari keberadaan tuan Farhan dan tidak menemukannya, aku sekarang ingin menyusulmu."
"Baiklah, aku akan mengirimkanmu alamatku."
Ayu segera mematikan sambungan telepon dengan lemas, tak ada yang membuatnya merasa bersemangat. Mengirimkan lokasinya terkini kepada sang manajer, dan kembali menyimpan ponselnya.
Tak butuh waktu yang lama, mereka akhirnya bertemu. Sang manajer masuk ke dalam taksi yang di tumbangi bosnya setelah membayar lunas taksi yang dia naiki.
Terlihat mata yang sembab seperti baru saja selesai menangis, menatap bosnya dan memperhatikannya. "Apa kau menangis?"
"Mataku hanya kemasukan debu saja, itu sudah biasa."
"Jangan bohong, apa kemasukan debu seperti itu? Mengapa kau menangis?" bentak manager yang tidak mudah ditipu.
Air mata kekecewaan yang merasa dikhianati, merangkul dan memeluk managernya, tak air mata tak dapat dibendung lagi. Tangisan Ayu pecah, dia sangat rapuh hari ini, perasaan yang sakit melihat kedatangan Kira.
"Farhan…Farhan!" ucapnya yang sesenggukan seraya melepaskan pelukan.
"Katakan saja! Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau sedih!" desak managernya khawatir.
"Aku hanya seorang pengganti, dikala dia tak mempunyai tempat bernaung. Cinta masa lalunya hadir, dia bahkan tidak menghiraukanku. Aku melihat dengan jelas, mereka sangat mesrah saat berpelukan." Ungkap Ayu yang menangis sesenggukan, mengeluarkan semua kerapuhan nya kepada manager.
__ADS_1
Sang manager mengerti dan memahaminya, kembali memeluk bosnya, mengelus punggung dengan lembut. "Tenangkan pikiranmu! ucapnya yang melepaskan pelukan itu, memegang kedua bahu dan menatapnya dengan sangat serius.
"Aku ingin kau membatalkan pertunangannya!" titah Ayu tegas, menyeka air mata dan merasa lebih lega dan plong setelah mengeluarkan kepedihan hati.
Sontak, membuat manager terkejut, merasa keputusan itu harus dibicarakan dengan baik-baik. "Apa kau yakin? Dan membiarkan wanita dari masa lalunya merebut cintamu?"
"Apa dayaku saat itu? Dia lebih peduli pada wanita itu dan melupakan aku. Apa yang harus dipertahankan, batalkan saja pertunangannya!"
"Kau tidak bisa mengambil keputusan dalam kemarahan."
"Apa sekarang itu penting? Apa yang harus aku pertahankan? Cinta? Semua hanya omong kosong. Buktinya dia bermesraan dengan Kira di rumah petani."
"Jangan mengambil keputusan gegabah,, itu tidak akan berjalan baik." Sang manajer mencoba untuk menjelaskan, tapi Ayu seakan tuli karena hati yang terluka.
"Aku tetap pada pilihanku, batalkan pertunangan!" titah Ayu yang tak ingin berdebat dalam keputusan final.
"Baiklah, jika itu maumu. Jangan pernah kau menyesal dengan keputusan yang telah kau buat!"
"Hem." Sang manajer tak melakukannya, menatap bosnya sekali lagi. Bisakah kau
menceritakannya padaku?"
Perasaanku yang tak tenang ternyata benar, saat itu aku melihat Farhan dan wanita yang aku yakini sebagai kira saling berpelukan, dia juga peduli pada wanita itu. Lebih parahnya lagi, dia memintaku untuk segera pulang dan akan menyusulku. Tapi saat ini, dia masih berada di rumah itu." Jelaskan secara lengkap.
Sang manajer terdiam, mencerna perkataan yang keluar dari mulut bosnya. "Ini sangat aneh, apa wanita dari masa lalu? Kenapa wanita itu bisa bertemu dengan tuan Farhan? Yang aku dengar dia mencari keberadaan dari dewi penolongnya. Kenapa sebelumnya tidak terlihat? Muncul di saat Ayu dan tuan Farhan bertunangan sebentar lagi." Batinnya yang menyimpulkan perkataan wanita di sebelahnya, dia sangat penasaran. Kenapa wanita itu baru muncul di saat Ayu dan Farhan sebentar lagi akan terikat dalam pertunangan.
Manajer hanya terdiam, dia tidak tahu cara menghibur Ayu yang sangat kecewa pada calon tunangannya nya. "Kuatkan dirimu!"
"Hem." Ayu mengangguk dan melihat ke arah luar jendela, melihat sebuah danau dan menghentikan mobil. Dia segera turun membuat wanita di samping terus mengikutinya."Kau pergilah! Aku ingin menenangkan diriku."
"Apa kau yakin?"
__ADS_1
Ayu mengangguk dengan cepat, membuat sang manajer menghela nafas berat. "Tidak, aku sangat mencemaskanmu."
"Pergilah!" usir Ayu sarkas, dia ingin menyendiri dan menenangkan pikirannya di tempat itu.
"Baiklah, jaga dirimu. Telepon aku jika kau butuh sesuatu." Manajer tak bisa berbuat banyak, pasrah akan perintah.
Ayu melangkahkan kaki menuju ke sebuah danau, melampiaskan rasa sakitnya dengan berteriak sekuat tenaga. "Aargh…kenapa cinta sangat menyakitkan!" pekiknya menghibur diri.
****
Sementara di hall, acara sudah dipersiapkan dengan matang. Semua dekorasi indah untuk menjalin hubungan Farhan dan Ayu dalam pertunangan.
Begitu banyak reporter yang sudah tak sabar meliput berita yang akan menjadi trending topik, mereka telah mempersiapkan segalanya dengan baik.
Begitu banyak orang terpandang hadir dalam acara suci pertunangan sang pewaris HR Grup. Semua orang sangat menantikan hari ini, dan seseorang menginginkan hal itu tak terjadi. Vanya sangat marah mendengar pria yang dia cintai segera menikah.
"Farhan tidak boleh menikah dengan wanita kampung itu, hanya aku yang pantas menjadi pendampingnya." Kesal Vanya yang sangat sedih, dia tak bisa melakukan apapun untuk saat ini.
"Jangan membebani mu dengan ini, lupakan saja Farhan." Seloroh Jenni berusaha untuk menenangkan sahabatnya yang merasa sakit hati.
"Tidak! Aku tidak rela jika mereka akan bertunangan."
Waktu berlalu dengan cepat, namun Farhan dan Ayu belum tiba di acara pertunangan mereka membuat Hendrawan sangat khawatir. "Kenapa mereka belum kemari? Apa terjadi sesuatu?"
Hendrawan kembali melirik jam yang melingkar di tangannya, dia sudah mempersiapkan segalanya untuk sang cucu yang akan terikat. Raut wajah yang kesal tak bisa lagi di sembunyikan, sangat terlihat jelas. Menunggu terlalu lama, membuat beberapa tamu dan reporter tampak gelisah.
Seorang wanita paruh baya menghampiri Hendrawan, guratan kebahagiaan terpancar di wajahnya, senang dengan keadaan yang saat ini terjadi. "Sepertinya mereka berdua tidak ingin bertunangan, kenapa Ayah memaksa mereka?" cibir Wina yang senyum sumringah.
Hendrawan menatap menantunya dengan sarkas, dia tidak menyukai Wina yang hanya bisa menghasut orang lain. "Masih bisa menunjukkan muka? Di saat kau telah mengkhianati putramu sendiri, dasar wanita serakah!" baliknya yang mencibir membuat Wina bungkam.
Semua orang mengalihkan perhatiannya, saat seorang wanita yang mengenakan gaun yang sangat indah dan elegan datang, dengan polesan wajah yang sedikit berantakan. Ayu datang dan menatap semua orang, menguatkan hati mengenai keputusan yang akan disampaikan.
__ADS_1