
Menikmati perjalanan menuju kantor, dan memandang jalanan yang mulai padat kendaraan yang berlalu lalang. Dia sangat bahagia mendapatkan ciuman pagi yang membuat semangatnya membara, membayangkan jika dia akan segera bertunangan. "Aku sudah tidak sabar untuk memilikinya, dia wanita yang sempurna." Gumamnya sembari tersenyum karena dilanda mabuk asmara.
Kecepatan mobil bertambah, dia ingin segera sampai ke kantor dan menyelesaikan urusannya dengan sangat cepat. Bayang-bayang sang sekretaris masih saja mempengaruhi fokusnya dalam mengemudikan mobil. Kedua mata yang terbelalak, terkejut saat melihat seorang wanita berlari di hadapan mobil yang hampir saja tertabrak. Farhan buru-buru menginjak rem, tapi terlambat saat wanita itu di tabrak olehnya. Terdengar suara jeritan sebelum wanita malang itu terjatuh di aspal, dan menyebabkan siku dan lututnya terluka cukup dalam.
"Astaga…semoga dia tidak apa-apa." Monolog Farhan yang bergegas turun dari mobilnya, berlari menghampiri seorang wanita yang terduduk sembari memegang siku dan lutut yang terluka cukup dalam, akibat menjadi tumpuan saat tertabrak mobil. "Maaf, aku tidak sengaja." Ucapnya tulus dan terlihat panik.
Wanita itu menatap penabraknya, baru saja dia ingin menjawab, tiba-tiba dua orang datang dan tertawa melihat nasibnya. Memandang wanita itu dengan murahan, sembari memegang kedua tangannya. "Mau lari kemana kau, hah?" ucap salah satu pria yang tertawa puas.
"Sudah cukup bermain-main, rupanya nyalimu cukup besar juga."
"Jangan sakiti aku!" ucap wanita itu yang terlihat ketakutan, kulit yang pucat pasi, tubuh yang bergetar hebat saat dirinya di temukan oleh dua pria yang hendak melecehkannya.
"Kau tidak bisa lari lagi, dasar wanita murahan!" ucap salah satu pria yang menarik rambut mangsanya dengan sangat erat, membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Ampun…ini sakit!" wanita itu ingin bertindak, namun kedua pria yang mengejar bukanlah tandingannya, pasrah akan nasibnya yang sangat buruk.
"Kenapa kalian sangat kasar?" Farhan mencoba untuk menyelamatkan wanita malang itu, namun menjadi pusat perhatian dari dua orang pria.
"Kau diam saja! Ini tidak ada urusannya denganmu!" tunjuk salah satu pria yang sangat marah.
"Lepaskan wanita itu!" tetas Farhan tanpa ekspresi.
Seakan mendapat secercah harapan, kedua manik mata teduh wanita itu saat menatap Farhan. Dia sangat terharu, dan berniat untuk memberontak. Tapi, cengkraman salah satu pria yang mengejarnya sangatlah kuat, membuatnya kesulitan dan menyebabkan pakaian atasnya robek.
Farhan membesarkan kedua pupilnya saat melihat sebuah tanda yang sangat dikenalnya. "I-itu tahi lalat yang sangat mirip dengan Kira!" batinnya sangat terkejut, namun berusaha menutupi diraut wajahnya yang dingin.
"Tolong, lepaskan aku!" ucap wanita itu yang terus berusaha, menyatukan kedua tangan dan merengek memohon pengampunan.
Kedua pria tertawa melihatnya, sangat senang dengan wanita malang yang memohon. Sedangkan Farhan masih syok dengan apa yang baru saja melihatnya, sebuah tahi lalat sang gadis kecil. "Kira!" ucapnya tanpa sadar.
Wanita itu segera menatap sumber suara, dan terkejut dengan pria yang mengetahui namanya. "Dari mana kau tahu namaku?" tanya nya dengan penuh keheranan juga penasaran, wajah polos yang diselimuti ketakutan.
__ADS_1
Mereka saling berkontak mata beberapa detik, Farhan tidak bisa mengekspresikan dirinya.
"Pergilah dari sini, wanita ini tidak ada urusannya denganmu!" ketus salah satu pria dengan sangar yang membuyarkan lamunan Farhan.
"Kenapa kalian mengejarnya?"
"Wanita ini berhutang banyak pada bos kami, saat di tagih dia malah menghindar dan kabur." Jelas salah satu pria.
"Hanya karena itu? Kalian berbuat kasar padanya?"
"Untuk apa aku menjelaskannya padamu? Itu hanya akan membuang waktuku saja. Hei kau! Ayo ikut bersama kami." Kedua pria itu menarik tangan mangsanya dengan sangat kasar, tak peduli dengan teriakan yang membuat kebisingan di telinga.
Farhan terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkannya. "Tunggu dulu!" ucapnya dengan lantang untuk menghentikan mereka.
Mereka menoleh, dua orang berwajah sangat itu sangat tidak menyukai Farhan yang hanya mengganggu pekerjaan. "Apa lagi? Jangan halangi kami!"
"Aku akan menebus wanita itu!"
"Apa kau yakin?"
Seketika mereka melepaskan cengkraman karena tergiur dengan keyakinan Farhan. "Baiklah, dia akan kami lepaskan. Hanya perlu membayar semua hutang beserta bunganya saja."
"Katakan saja!"
Kedua pria itu sangat senang dan bahagia, tidak mengatakan jumlah nominal yang mereka inginkan, membuat Farhan mengepalkan kedua tangan dengan kuat. "Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu!"
"Lima puluh milyar, itu total keseluruhannya."
Farhan mengambil buku cek dan menulis nominal yang sesuai mengenai perkataan kedua pria itu. Berusaha menyelamatkan wanita malang terjerat hutan yang sangat besar. Dua pria itu mengambil cek dan tertawa senang dan puas, melepaskan tawanannya dengan penuh suka cita. "Lain kali berhutanglah lebih banyak lagi!" ucap mereka sebelum beranjak pergi.
Tinggallah Farhan bersama dengan wanita yang diyakini sebagai Kira, sorot mata nanar dan tak menyangka jika keduanya bertemu dengan cara seperti itu. Dia melihat penampilan wanita yang berada di hadapannya dari atas hingga bawah, sangat lusuh.
__ADS_1
"Kira!"
"Siapa kau? Darimana kau mengetahui namaku?" bingung si wanita.
Suasana hening seketika, cairan bening berhasil mengalir pada dua pipi. Wanita itu menutup mulut menggunakan tangannya, terkejut saat melihat siapa pria yang ada di hadapannya. "Farhan!" lirihnya pelan yang di anggukan kepala sang pemilik nama. Bulir matanya kembali menetes, tak percaya dengan pertemuan mereka.
Di saat hendak menghampiri, tiba-tiba dia memegang kepala karena sangat sakit dan menyebabkan kehilangan keseimbangan.
"Kira!" Farhan segera menangkap tubuh lemah dan membawanya ke rumah sakit.
****
Di ruang riasan, Ayu yang pergi bersama managernya disambut dengan sangat baik dan juga ramah. Pelayanan terbaik mereka dapatkan begitu menginjakkan kaki ke salon terkenal.
Satu jam kemudian, Ayu telah siap di rias untuk hari pertunangannya. Dia sangat cantik dengan gaun indah, dengan beberapa aksen yang mewah namun tidak menghilangkan elegannya. Semua orang menatap takjub, dan mulai memuji dengan penuh kekaguman.
"Wow, Nona terlihat sangat cantik. Aku sangat yakin, jika tuan Farhan akan pangling melihat kecantikan ini." Puji sang manager.
"Benarkah?"
"Tentu saja,aku berkata benar!"
Ayu tersipu malu, tidak sabar menantikan acara pertunangan yang sebentar lagi dimulai. Dia mengambil ponsel yang berada tak juh darinya dan mulai mencari nomor kontak yang tertera di layar pipih itu.
"Wah, sepertinya Nona sangat merindukan tuan. Apa ini yang dinamakan cinta?" goda sang manager membuat Ayu tersenyum.
"Kau selalu menggodaku."
"Mau bagaimana lagi? Aku sangat bahagia karena sebentar lagi kalian akan bertunangan, lalu menikah."
"Ya…ya, terserah kau saja."
__ADS_1
Ayu menelepon Farhan untuk menjemputnya, tapi tidak ada jawaban dan bahkan nomor telepon tidak bisa dihubungi. "Kemana dia? Kenapa dia mematikan ponselnya? Apa telah terjadi sesuatu?" serentetan pertanyaan di otak menandakan jika dia sangat khawatir.