Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 105 ~ Salah paham


__ADS_3

Farhan dengan sopan mengajak dansa langsung di setujui oleh Ayu membuatnya sangat senang, sebelah tangannya dilingkarkan di pinggang wanita  di hadapannya, tangan sebelahnya lagi memegang tangan Ayu. Keduanya saling menatap satu sama lain, suasana romantis membuat orang sekitar menjadi iri. 


"Astaga…mereka benar-benar sangat serasi," bisik salah satu tamu undangan. 


"Benar, aku sangat iri dengan mereka." Balas teman di sebelahnya, menatap Ayu dan Farhan sebagai sepasang kekasih. 


Farhan mulai menuntun langkah dansa sesuai irama musik dan diikuti oleh Ayu, menjadi pusat perhatian membuat keduanya semakin dekat. "Kau terlihat sangat cantik memakai gaun itu," pujinya sembari tersenyum. 


"Dan kau juga sangat tampan dengan setelan jas itu, tapi kenapa kita bisa memakai warna yang senada?" ujar Ayu yang penasaran. 


"Karena dua hati saling menyatu," jawab Farhan dengan tatapan penuh cinta. 


"Dari mana kau mempelajari kata-kata itu?" 


"Bagaimana menurutmu?" ucap Farhan yang balik bertanya. 


"Entahlah, terasa sedikit kaku. Sepertinya aku harus membiasakan ini, jika terulang kembali." Seloroh Ayu yang tertawa. 


Bagai magnet yang membuatnya terpikat, tak melewatkan satu detik pun saat melihat senyum indah yang membuatnya terpana. "Andai aku bisa menghentikan waktu, senyum yang terukir di wajahnya membuat aku terpesona." Batinnya. 


Sontak Ayu menyadari jika sedari tadi bos sekaligus calon tunangannya melihat ekspresi dari wajahnya, dengan cepat di menjentikkan jari di hadapan Farhan. "Apa aku sangat cantik? Sehingga kau menatapku begitu." Tebak Ayu. 


"Perkataan sangat benar, aku sangat kagum sekaligus terpukau denganmu, kau sungguh luar biasa! Dulu aku berpikir jika kau tidak bisa melakukan apapun selain memasak di dapur." Ungkap Farhan. 


"Jangan terlalu memujiku, aku tidak bisa menerima hal itu!"


"Kenapa? Aku mengatakan sebenarnya."


"Baiklah, terima kasih atas pujiannya." Ucap Ayu yang tersenyum. 


Farhan terdiam sejenak, berfokus pada dansa dengan mengikuti iringan musik. "Ayu," panggilnya dengan sorot mata melembut. 


"Iya, ada apa?" sahut Ayu yang mendongakkan kepala. 

__ADS_1


Farhan menarik nafas dalam, menatap mata indah dari teman dansanya. "Apa kita boleh melanjutkan hubungan perjodohan ini?" ucapnya sangat yakin. 


"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan?" Ayu balik bertanya berupaya agar pria tampan itu kembali berpikir. 


"Aku sangat yakin dengan perjodohan ini, dan ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya."


"Tapi, aku belum siap untuk hubungan ini!" tolak Ayu, seketika harapan di mata Farhan memudar mendengar perkataan itu. 


"Bukankah kita sudah saling mengenal?" 


"Mengenal saja tidak akan cukup." Ayu sangat sedih dengan ucapan yang baru saja dia katakan, sebenarnya dia sangat senang untuk melanjutkan hubungan mereka ke tahap selanjutnya. Hanya saja, Ayu tak terima jika hati pria tampan itu terbagi dengan Kira. "Jujur saja aku mencintaimu, Farhan. Tapi aku tak bisa berbagi hati dan dirimu pada dewi penolongmu." Batin Ayu yang juga terluka. 


"Apa itu artinya kau menolak hubungan ini?" yanga Farhan yang dengan sorot mata kekecewaan. 


"A-aku tidak tahu," jawab Ayu asal sembari memalingkan wajah ke samping, dia tak sanggup untuk menatap mata Farhan untuk waktu yang lama. 


Raut wajah Farhan berubah murung, terdiam dan tak ingin melanjutkan obrolan itu. Keduanya fokus dalam berdansa, hanya saja suasananya sedikit berbeda. 


Di sisi lain, Vanya melihat dengan jelas kedekatan Ayu dan Farhan berdansa dengan sangat romantis. Sorot mata tajam, meremas pakaiannya akibat hati yang terluka. Dia sangat cemburu pada wanita kampung seperti Ayu, mendapatkan perhatian dari pria dingin juga arogan dengan sangat mudah. "Wanita itu membuat mataku sakit, apa hebatnya dia? Bahkan aku lebih sempurna dibandingkan Ayu." Gerutunya kesal. 


"Bagaimana aku bisa tenang dengan semua yang aku lihat," cetus Vanya yang menahan amarah. 


"Tenangkan dirimu! Apa yang kau dapatkan dengan bertingkah seperti ini? Biarkan saja dia menikmati waktunya dan ambil celah saat dia lengah," nasehat Jenni membuat Vanya menghentikan tingkah bodohnya. 


"Kau benar, sebaiknya aku menyerang dengan cara elegan."


"Nah, itu baru Vanya!" puji Jenni yang tersenyum. 


Setelah dansa telah selesai, tibalah saatnya perayaan resmi dimulai. Farhan dikelilingi orang-orang penting, beberapa kolega dan rekan bisnisnya. Karena tak mempunyai sangkut paut dari pembicaraan itu, Ayu memutuskan untuk pergi dari keramaian itu. 


"Kau mau kemana?" tanya Farhan yang mengerutkan keningnya. 


"Aku sedikit lelah, kau lanjutkan saja!"

__ADS_1


"Baiklah, terserah kau saja." 


Ayu melangkahkan kakinya mencari tempat duduk paling sudut, dan memainkan ponselnya. "Hai, apa aku boleh duduk di sini?" ucap seseorang yang tersenyum cerah. 


Ayu mendongakkan kepala melihat ke asal suara. "Tidak perlu meminta izin, jika kau ingin duduk, silahkan saja." 


"Kau sendirian saja?" tanya Gabriel yang celingukan. 


"Seperti yang kau lihat."


"Sepertinya kau sangat sibuk ya!" ledek Gabriel yang melirik ponsel wanita di hadapannya. 


Ayu menghela nafas jengah, meletakkan ponselnya dan memfokuskan pandangannya ke arah Gabriel. "Katakan saja jika kau sedang menyindirku!" cetusnya. 


"Karena ponselmu lebih berharga dibandingkan aku, apa aku boleh bertanya?"


"Katakan saja." Sahut Ayu santai. 


"Bagaimana kontrak mu dengan Farhan? Apa kau ingin melanjutkan perjodohan dengan pria itu?" tanya Gabriel dengan sangat antusias, dia ingin mengambil celah itu untuk mendapatkan Ayu, sang gadis pujaan. 


Ayu terdiam dan memalingkan wajah, seakan enggan untuk menjawab pertanyaan dari pria tampan di hadapannya. "Tidak ada kontrak seperti itu," jawabnya yang berusaha untuk menghindar. 


"Apa kau mencintai Farhan?" tanya Gabriel dengan nanar, hatinya sudah siap menerima penolakan untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini dia ingin mengetahui bagaimana perasaan sang pujaan kepada sahabatnya. 


"Ti-tidak, aku tidak mencintainya!" ucap Ayu dengan pelan sembari memalingkan wajahnya. 


Farhan melihat Ayu dan Gabriel duduk di sudut, segera menyelesaikan obrolan dengan beberapa orang yang mengelilinginya, menghampiri dua objek yang menarik perhatiannya. Namun, dia menghentikan langkahnya saat tak sengaja mendengar perkataan Ayu berterus terang dengan rivalnya, jika tak mencintainya. 


Farhan menurunkan pandangannya, memundurkan langkah kebelakang dan bergegas pergi dari tempat itu. "Pantas saja dia tidak ingin melanjutkan perjodohan itu, dan inilah alasannya," batinnya yang sangat sedih. 


Dia sangat kecewa dengan perasaan tak terbalaskan, namun tak memperlihatkan kepada orang lain. Vanya yang mendapatkan celah tersenyum cerah, memanfaatkan situasi saat Farhan sendiri. "Ini kesempatanku," gumamnya segera menghampiri sang target. 


"Sepertinya kau terlihat sedih? Bagaimana jika kau berdansa denganku?" tawar Vanya dengan manja. 

__ADS_1


Farhan menatap wanita itu, dia ingin mengusir Vanya yang hanya menganggunya saja. Tapi, mencoba untuk memanfaatkan hal itu dan menerima tawaran Vanya. Farhan berniat untuk membuat Ayu cemburu dan membuktikannya sendiri. 


__ADS_2